Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Biasa Saja


__ADS_3

"Kenapa perasaanku tidak bahagia mendengar Anggia hamil, padahal momen-momen seperti ini yang justru aku nantikan?"


"Dan pastinya seorang suami justru akan merasa sangat bahagia setelah mendengar istrinya hamil. Tapi aku?"


Daffa mendesah. Beberapa kali ia mengusap wajahnya frustasi.


"Padahal Aina bilang kalau orang yang minum obat tidur, senjatanya tidak bisa hidup."


Menggaruk kepalanya sekali lagi.


Daffa menghentikan pikirannya saat pintu ruang kerjanya terbuka. Anggia berdiri di depannya dengan secangkir kopi di tangannya.


"Mas, kerjanya jangan terlalu capek dan juga terlalu malam."


Meletakkan kopi di atas meja kerja Daffa.


"Iya sayang. Sebaiknya kamu tidur duluan saja. Kamu juga tidak boleh capek karena ada dia di dalam sini."


Daffa membelai perut datar Anggia. Ia benar-benar tidak merasakan euforia. Dan ini menurutnya sangat aneh.


"Ya sudah kalau begitu aku duluan ya, sayang!"


Anggia meraih wajah Daffa dan mengecupnya di pipi.


Daffa meneruskan pekerjaannya hingga ia tidak menyadari kalau dirinya ketiduran di ruang kerja.


Keesokan paginya Anggia bangun dan melihat sisi tempat tidur disebelahnya kosong. Matanya menatap kearah kamar mandi, tetapi tidak terdengar bunyi percikan air dari kamar mandi.


"Apa sepagi ini mas Daffa berangkat kerja? Tidak biasanya?" gumam Anggia.


Ia segera turun dari ranjangnya dan mencuci muka, menyikat gigi, serta mengganti bajunya. Entah kenapa ia begitu malas untuk mandi pagi hari ini.


"Sayang! Kamu kemana saja semalam. Kok tidak tidur di kamar?"


Sesampainya di ruang makan Anggia melihat keberadaan Daffa yang sudah duduk di meja makan.


"Ma'afkan aku sayang, tadi malam aku ketiduran di ruang kerja!" sahut Daffa.


Ia meraih kepala Anggia dan memberikan kecupan di dahinya.


"Hari ini aku berangkatnya lebih awal karena di kantor ada meeting!"


"Baiklah kalau begitu." Anggia menarik napas.


"Sayang. Hari ini aku ingin jalan-jalan keluar. Apakah boleh?" tanya Anggia dengan manja.


Cukup lama Daffa menatap Anggia yang membelai perut ratanya. Akhirnya ia mengiyakan saja.


"Tapi kamu harus janji padaku. Jangan terlalu capek!"


"Iya sayang, aku janji!" sahut Anggia.


Selepas Daffa pergi, Anggia bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan. Ia pergi ke taman kota. Sudah sangat lama sekali ia tidak menghabiskan waktunya dengan duduk-duduk di taman sambil menghirup udara pagi yang masih segar.


"Anggia! Kamu disini?"


Anggia menatap kearah sumber suara, Alfa sedang berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Alfa."


Anggia menatap kesekelilingnya dengan perasaan gelisah.


"Kamu kenapa gelisah seperti itu?" tanya Alfa.


"Fa, sebaiknya kita jangan terlalu sering bertemu. Aku tidak ingin Daffa curiga dan salah paham!"


"Apa kamu bilang?" Daffa tertawa. "Kamu lucu sayang!" tambahnya lagi.


Anggia menggelang. "Fa, aku serius. Sebaiknya kita kurangi saja pertemuan kita. Aku benar-benar tidak mau Daffa mencurigaiku."


"Sayang. Aku ini pacar kamu. Orang yang memiliki kamu lebih dulu dari pada dirinya. Lalu sekarang ada apa denganmu, sehingga kamu terlalu takut seperti itu padanya?"


"Bukan itu maksudku Alfa, aku hanya tidak ingin Daffa marah padaku. Kamu tahukan sekarang kalau aku sedang hamil."


Alfa menatap perut Anggia disertai anggukkan.


"Aku tahu itu."


"Kamu juga tahukan kalau keluarga Daffa adalah keluarga terpandang, mereka tidak pernah lepas dari para pemburu berita. Aku hanya tidak ingin ada romur diantara kita."


"Apalagi berita itu memojokkan kamu!" ucap Anggia lagi.


"Kamu sangat perduli padaku, sayang!"


Daffa meraih tangan Anggia dan mengecupnya singkat.


"Anggia! Apa yang kamu lakukan disini?"


"Sedang apa aku disini? Itu bukan urusanmu!!" sahut Anggia ketus.


"Tentu saja aku perduli padamu, karena kamu adalah saudaraku!"


Anggia melirik sinis.


"Tapi aku tidak menganggap dirimu sebagai saudaraku!" sahut Anggia.


"Itu terserah kamu, tapi aku tetap menganggapmu sebagai adikku!!"


"Tunggu-tunggu!!" sela Alfa. "Jadi kamu anak dari wanita yang sudah merebut ayahnya Anggia dari tante Ra?" tunjuk Alfa pada Akhmar.


Akhmar menatap sinis kearah Alfa. Ia sudah tahu kalau Anggia dan Alfa mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar sepupu.


"Iya. Sama seperti dirimu yang merebut Anggia dari Daffa!" sahut Akhmar asal.


Alfa mengepalkan kedua belah tangannya, giginya gemelatuk. Ia geram pada lelaki yang tidak tahu malu di depannya ini.


"Jaga bicaramu. Aku tidak serendah ibumu yang hanya bisa mengambil orang yang bukan haknya!"


"Dan harus kamu tahu, Anggia sudah menjadi milikku terlebih dahulu dari pada Daffa, suaminya!" tekan Alfa.


"Iya. Sama seperti kamu!!" sahut Akhmar dengan keras. Ia benar-benar geram dengan Alfa yang selalu memojokkan ibunya padahal dirinya juga sama seperti ibunya.


Ia sudah tahu kebenarannya tentang masa lalu orang tuanya dan ia ingin memperbaiki kesalahan ibunya dengan cara memperbaiki hubungan dengan Anggia dan tante Ra.


"Anggia! Lebih baik kamu pulang sekarang. Aku tidak ingin kamu mendapat malu saat ada wartawan yang meliput keberadaan kalian disini!" ucap Akhmar.

__ADS_1


"Aku tidak mau. Jangan menggangguku. Ini hidupku, bukan hidupmu. Jadi, apapun yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu!"


Mata Anggia menatap tajam Akhmar yang berdiri terpaku menatap Anggia yang pergi meninggalkannya.


"Ternyata kamu perempuan tidak sebaik yang aku pikirkan!" gumam Akhmar.


Anggia dan Alfa berjalan kearah mobil milik Alfa meninggalkan Akhmar yang menatap sendu Anggia.


"Sekarang kita mau kemana?" tanya Anggia.


"Sayang, kita sudah lama tidak bersama. Bagaimana kalau kita ke kediamanku saja!"


"Aku tidak mau ke kediamanmu, lebih baik kita ke tempat lain saja!" sahut Anggia dengan tersenyum manis.


***


"Daffa, kamu kenapa lagi? Hari ini aku lihat kamu lebih kusut dari hari kemarin."


Zainal mengikuti langkah Daffa memasuki ruangannya.


"Anggia hamil!" sahut Daffa. Ia meletakkan tasnya diatas meja.


"Hamil?"


Daffa mengangguk.


"Harusnya kamu senang Daff mendengar kabar gembira ini, bukannya berwajah muram dan kusam seperti itu."


"Itulah masalahnya, entah kenapa aku merasa biasa saja saat mendapat kabar gembira ini," mendesah.


"Bukannya orang yang dalam pengaruh obat tidur berbeda dari orang yang dalam pengaruh alkohol," sahut Daffa.


"Apa maksudmu?" tanya Zainal.


"Bukankah kemarin dr Aina mengatakan kalau benda pusaka orang yang dalam pengaruh obat tidur tidak pernah bisa hidup dan digunakan."


Zainal mengangguk.


"Lalu bagaimana dia bisa hamil?" tanya Daffa.


"Bukankah kamu mengatakan kalau malam pertama kalian ada bercak darah di tempat tidur. Apakah memang benar kamu tidak sadar saat melakukannya?"


"Aku tidak yakin!" sahut Daffa.


"Aku tidak paham juga mengenai ini. Tapi sebaiknya kamu selidiki saja istrimu dari pada kamu terus-menerus bersikap seperti ini di depannya. Dan itu akan berefek buruk pada hubungan kalian berdua."


"Aku tidak bermaksud mencurigai istrimu, dan aku akui kalau aku juga tidak terlalu mengenal dia. Tapi keadaanmu lebih dari segalanya untukku karena kamu sahabatku, Daff!"


Daffa terdiam mendengarnya.





*****

__ADS_1


__ADS_2