Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Berubah


__ADS_3

"Sayang, kamu sudah pulang?"


Anggia berjalan cepat menghampiri Daffa yang tampak sangat berantakan. Ia meraih tas kerja milik Daffa.


"Apa pekerjaanmu sangat banyak sehingga kamu pulang selarut ini?" memperhatikan penampilan suaminya.


"Aku lelah Anggia dan aku ingin istirahat!" sahut Daffa sambil berjalan meninggalkan Anggia yang terpaku menatapnya.


Sama seperti pagi tadi, tidak ada ucapan manis dan juga kecupan hangat.


Anggia bergegas mengiringi langkah Daffa yang sudah berjalan kearah kamar mereka.


"Sepertinya kamu sedang banyak masalah sehingga kamu terlihat sangat kacau."


Daffa menghentikan gerakannya yang melepaskan kancing kemejanya. Ia berbalik dan menatap Anggia dengan sinis.


"Iya. Aku sedang banyak masalah hingga aku terlalu sibuk hari ini," sahut Daffa. "Bahkan masalahnya berasal darimu, Anggia," sambung Daffa dalam hati.


"Sayang, kamu ingin membersihkan badanmu, biar aku yang menyiapkan air hangat untukmu."


"Tidak usah Anggia, aku bisa sendiri. Sebaiknya kamu istirahat saja terlebih dahulu!"


Anggia menghentikan langkahnya saat Daffa menolaknya. Benar-benar tidak biasa ia di perlakukan dingin seperti ini.


"Ya sudah kalau begitu, aku akan istirahat!" sahut Anggia.


Ia berjalan kearah ranjang mereka, naik dengan perlahan tetapi matanya tidak pernah lepas dari pergerakan Daffa hingga suaminya menghilang di balik kamar mandi.


Setelah beberapa menit lamanya, Daffa keluar dalam keadaan yang terlihat lebih baik dari sebelumnya bahkan lebih segar.


"Sayang, ayo kita istirahat." Anggia menepuk-nepuk sisi tempat tidur.


"Kamu tidur lebih dulu. Aku masih ada banyak pekerjaan." Sahutnya sambil berjalan keluar kamar tanpa menghiraukan Anggia yang merasa kesal padanya.


"Kenapa sikapnya sangat menyebalkan hari ini. Bahkan ia tidak sehangat biasanya." Anggia mengepalkan tangannya.


Daffa berjalan kearah ruang kerjanya. Ia sengaja menghindar dari Anggia apalagi untuk tidur satu ranjang dengannya, rasanya ia sudah tidak sudi lagi setelah tahu apa yang di perbuat Anggia di luar sana.


Di ruang kerjanya Daffa sudah mempersiapkan kasur lipat miliknya. Dengan cepat ia menggelarnya dan duduk di atasnya.


Tangannya bergerak meraih laptop miliknya dan kembali membuka file tentang kebejatannya. Gadis itu terlihat sangat manis sebelumnya bahkan dengan senyumnya.


Tetapi apakah ia tetap akan berwajah manis seperti itu setelah apa yang terjadi dengannya. Daffa kembali membayangkan gadis gembel yang sedang duduk di resto kemarin.


Penampilannya jauh sangat berantakan dari sebelumnya. Senyum manisnya menghilang, sudah tergantikan dengan tatapan kosong.


"Aaarrrrgggghhhh... apa yang sudah merasukiku hari itu sehingga aku menodainya!" teriak Daffa kesal, marah dan juga frustasi.


"Aku harus menemukannya sebelum dia kenapa-kenapa. Aku tidak ingin dia melakukan hal yang buruk di dalam hidupnya. Apalagi akulah tersangka utamanya." Mendesah frustasi.


Handphone Daffa bergetar, nama Zainal tertera di layarnya. Dengan segera ia mengangkatnya.


"Apakah kamu sudah menemukannya?" tanya Daffa begitu sambungan telpon tersambung.


"Aku tidak bisa menemukan alamatnya karena dia sudah pindah rumah beberapa minggu yang lalu tanpa mengkonfirmasi pada pemilik toko tempatnya bekerja."


"Bagaimana dengan keterangan yang lainnya, seperti nomor handphone atau teman-temannya."


"Daff, tidak ada nomor handphone. Dia gadis yang sederhana, bahkan kata pemilik toko kalau dirinya sama sekali tidak memiliki handphone."


Daffa mendesah mendengarnya. Ia tampak kesal.dan juga marah. Apa benar di zaman secanggih ini seorang gadis lajang sama sekali tidak memiliki handphone. Kedengarannya sangat mustahil.


"Besok di kantor ada hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan padamu!"


"Kenapa tidak disini saja?" tanya Daffa.

__ADS_1


"Aku tidak bisa Daff, ada istrimu disana. Takut dia menguping!" ucap Zainal terkekeh.


"Aku sekarang berada di ruang kerja. Tidak akan ada yang mendengar walaupun kamu berteriak sekalipun."


"Tetap tidak bisa Daff, ini sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa sembarangan di bicarakan di telpon."


"Baiklah!" sahut Daffa. Ia mengakhiri panggilan telponnya.


"Apa yang ingin Zainal bicarakan denganku, apakah ini memgenai hal serius tentang gadis itu?"


Semalaman Daffa hampir tidak bisa tidur karena semua masalah terus-menerus berseliweran di benaknya.


Keesokan paginya, Daffa sudah duduk di ruang makan dengan pakaian yang sangat rapi. Anggia datang menghampirinya.


"Sayang, tadi malam kamu tidur dimana? Apakah tertidur di ruang kerja lagi?"


Daffa meraih roti dan mengolesinya dengan selai yang ada di hadapannya. Menatap sebentar kearah Anggia yang sudah duduk di hadapannya.


"Iya. Sepertinya aku harus lembur kerja malam ini. Dan tidak pulang ke rumah!" sahut Daffa mencari alasan.


Anggia tampak berpikir. "Apa yang sudah mama lakukan pada Daffa sehimgga ia sesibuk ini?" gumam Anggia di dalam hati.


"Aku pergi dulu!"


Daffa berjalan kearah Anggia, tangannya terulur dan mengacak lembut kepala Anggia.


"Ini kali kedua dia tidak memberikanku kecupan selamat pagi!" ucap Anggia sambil memperhatikan kepergian Daffa.


"Dan juga sepertinya ia sedang menghindariku. Ada apa dengannya?" gumamnya lagi.


Anggia bergegas mengakhiri makannya. Hari ini ia kembali ingin bertemu dengan Alfa.


***


"Apa kamu sudah lama menungguku?" tanya Anggia.


"Iya. Sangat lama. Bahkan bertahun-tahun aku menunggumu tapi kamu selalu memberiku harapan palsu."


Senyum Anggia menghilang.


"Alfa. Jangan membicarakan itu lagi. Percaya sama aku kalau aku hanya milikmu seorang. Dan aku hanya menyerahkan diri padamu bahkan sebelum Daffa menikahiku. Dan ini sudah kita sepakati sebelumnya kan?"


"Iya. Tapi itu dulu Gia. Sekarang aku berubah pikiran."


"Kenapa?" Suara Anggia terdengar bergetar.


"Karena sejak dulu kamu selalu menyuruhku untuk percaya dan menunggumu. Tapi hingga hari ini kepastian itu tidak aku dapatkan sama sekali. Mau sampai kapan aku terus menunggumu? Apakah kepalaku harus memutih dahulu baru kamu mau bersamaku? Atau sampai kamu bosan dengan suamimu."


Anggia menggenggam tangannya erat, menatap tenang kearah Alfa. Padahal dadanya sedang bergejolak hebat.


"Kenapa kamu berubah secepat ini setelah apa yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan?" masih berusaha bersikap tenang.


"Aku hanya manusia biasa Anggia, punya batas sabar."


"Berikan aku satu kali kesempatan. Aku pasti akan mengakhiri semua ini! Percaya sama aku!"


"Sampai kapan??"


Anggia terdiam ia tampak berpikir.


"Tidak perlu di jawab, kelambananmu dalam menjawab pertanyaanku sudah cukup aku mengerti."


"Apa kamu begitu senang tidur bersamanya hingga tidak ingin berpisah darinya dan menikah denganku?"


Mata Anggia melebar. Sehina itukah dirinya di mata Alfa. Padahal lelaki di hadapannya ini tau betul kalau mereka sudah melakukannya sejak lama.

__ADS_1


"Alfa. Percaya padaku kalau aku tidak pernah tidur dengannya."


"Tapi kamu satu selimut dengannya!" Alfa merasa begitu cemburu.


"Percaya sama aku, Fa. Hanya kamu yang memilikiku bukan dia!" Anggia menahan kesalnya.


"Bagaimana mungkin aku mempercayaimu lagi, sedangkan kamu adalah istrinya Daffa. Tidak mungkin kamu tidak melakukan hal itu dengannya apalagi status kalian adalah suami istri."


Anggia terhenyak mendengarnya.


"Fa, ada apa denganmu? Kenapa kamu bicara seperti itu padaku?"


"Iya Anggia. Kamu bisa saja membohongiku selama ini tentang kebenaran status anak ini!"


Anggia menggelang. "Fa, aku tidak seperti itu! Selama ini aku tidak pernah menghianatimu! Dan jangan katakan kalau anak ini bukan anakmu karena aku melakukannya sejak awal hanya denganmu. Dan kamu tau itu, bahkan kita melakukannya sebulan sebelum aku menikah."


Bibir Anggia bergetar, ia semakin menggenggam erat tangannya.


"Iya. Aku tahu. Tapi kalaupun benar kamu sudah melakukannya dengannya maka tetap saja tidak berbekas dan tentu saja tidak terlihat."


"Bagaimana mungkin kamu begitu tidak mempercayaiku sekarang?"


"Bagaimana tidak katamu? Pada suamimu sendiri kamu selalu membohonginya, menipunya. Apalagi denganku yang hanya berstatus sebagai kekasih gelapmu!"


Luruh airmata Anggia, ia merasa di campakkan oleh kekasih yang selama ini sangat di cintai olehnya. Bagimana mungkin Alfa tiba-tiba tidak mempercayainya lagi sedangkan hubungan mereka selama ini baik-baik saja.


"Kenapa kamu tiba-tiba berbicara seperti itu? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja."


Menghapus airmatanya.


"Baik-baik saja kamu bilang! Aku lelah menunggumu terus Gia. Aku lelah," Alfa melemah.


"Apalagi sekarang kamu sedang hamil, itu tidak mungkin kalian akan terpisah dan memberiku ruang."


"Fa, jangan berkata begitu. Aku akan meninggalkan Daffa demi kamu." Mohon Anggia.


"Aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur kecewa padamu. Kamu juga sedang hamil sekarang, tidak mungkin Daffa mau melepaskanmu begitu saja, apalagi dia begitu tergila-gila padamu!"


Anggia menggeleng, ingatannya kembali pada sikap daffa yang akhir-akhir ini berubah dingin padanya.


"Dan minggu depan aku akan pindah keluar negri sesuai seperti apa yang eyang minta padaku."


Bagai di sambar petir di siang hari, Anggia begitu terkejut mendengarnya. Ingin rasanya dia pingsan saja sekarang agar Alfa kembali memperhatikannya.


"Fa kenapa kamu meninggalkanku disaat seperti ini? Disaat aku sedang hamil anakmu!" ucap Anggia dengan sedikit emosi.


"Dia membutuhkanmu sebagai ayah biologisnya."


Ia tidak terima dengan keputusan Alfa padanya.


"Aku tidak akan di akui sebagai ayahnya karena aku hanya berstatus kekasih gelapmu. Dia. Dia yang bestatus sebagai suamimu lah yang nantinya di panggil ayah olehnya!" Daffa menarik napasnya sejenak, tatapannya meredup. Ada kegelisahan yang tidak dapat di ungkapkannya.


"Gia. Ma'afkan aku. Aku tidak bisa menuruti kemauanmu untuk selalu bertahan di sisimu. Rasanya sakit menjadi seperti diriku, mencintaimu, memilikimu tetapi tidak dapat merengkuhmu dan jauh dari jangkauan mata."


"Aku pergi sekarang dan jaga dirimu dan dia dengan baik!" Mata Alfa menatap kearah perut rata Anggia.


Sedangkan Anggia masih pada posisinya, berusaha bersikap tenang dan biasa saja karena ia tidak mau membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Walaupun tadinya ia sempat emosi dan menangis.





*****

__ADS_1


__ADS_2