Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
bab 2


__ADS_3

Tidak menunggu waktu lama. Seminggu setelahnya dilaksanakan acara adat baretong . Segala ***** bengek diperbincangkan dalam rapat keluarga, sampai ke mufakat suku. Bagaimana bentuk baralek -nya nanti. Apa pakai nasi jujung 5 gantang 'kah, atau 7 gantang.


Akhirnya diputuskan pakai nasi 7 gantang. Tentunya baralek yang lumayan besar. Setidaknya dalam acara tersebut harus mengorbankan seekor sapi untuk sanak kerabat serta tamu dan undangan.


Tapi, tidak mengapa bagi Khaula. Setidaknya rencana untuk membalas sakit hati pada Khalid akan terlaksana. Begitu juga kepada Nazima yang telah menghancurkan hari-harinya. Selain sahabat kecilnya, Nazima adalah bako⁴ Khaula. Anak Etek Syofia adik almarhum ayahnya. Nantinya Khaula akan memakai suntiang di rumah Nazima. Kemudian dia akan diarak dari sana bersama Khalid menuju rumah Khaula.


Khaula mulai membayangkan wajah Nazima. Bagaimana keadaannya sekarang? Pasti ia sedang menangisi nasib, sama seperti dirinya yang dulu ia tikam dari belakang.


“Bagaimana Khaula, kamu mau memakai pelaminan dan sunting siapa?” tanya Etek Syofia yang memang harus hadir dalam acara baretong ini.


Karena dalam adat Minang, ketika baralek, bako yang menyediakan suntiang dan nasi jujuang.


“Maaf, Tek. Sebenarnya sampai bulan depan itu, Khaula masih harus mengerjakan tender perusahaan. Jadi Khaula menyerah saja. Mungkin Nazima bisa bantu mencarikan. Tapi Nazima mau yang warna lembut,” jawabnya sesantun mungkin.


Mendengar jawaban Khaula, sudah pasti Etek Syofia kaget. Meski Khalid tidak pernah datang ke rumahnya, setidaknya Nazima pasti sudah bicara tentang laki-laki itu padanya.


“Bolehkah seperti itu, Nyiak?” tanya Khaula pada tetua suku yang selalu dimintai petuahnya, agar tidak ada kesan lain yang timbul dari permintaannya barusan.


Semua kerabat yang saat itu duduk di lantai beralas tikar pandan, saling berpandangan menunggu jawaban Inyiak Marap. Wanita tua yang mulai bungkuk itu berdeham, lalu menghapus air sirih yang belepotan di bibirnya. Semenjak awal acara Inyiak Marap tidak hentinya memamah sirih.


_____________


4 Keluarga dari pihak ayah


Sebelum perempuan tua itu membuka suara, semua yang hadir seperti sedang menunggu titah raja saja saat itu.


“Hmm, kalau kamu memang sibuk. Tidak apa-apa. Tapi kamu harus ingat Khaula, seminggu sebelum menikah kamu harus sudah dipingit. Kamu tidak bisa sembarangan lagi, dan itu.” Inyiak menunjuk cara duduk Khaula yang bersila. “Kamu tak boleh lagi bersila macam laki-laki. Kamu itu perempuan, pewaris tatanan adat. Belajarlah bersimpuh dan memakai kain samping!” tegurnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Satu pertanyaan, menuai seribu jawaban. Susah memang jadi perempuan di Minang ini. Tapi ada benarnya juga sih, bukankah menyerupai laki-laki itu berdosa bagi seorang perempuan? Seketika itu juga cara duduk Khaula berubah jadi bersimpuh.


Di Minang banyak aturan yang mengikat sebagai seorang perempuan. Kalau tidak bisa, sikap itu sudah dikatakan sumbang. Cara bicara pun sangat di atur sebagai tata krama yang baik, apalagi bicara dengan orang yang lebih tua. Harus banyak mendengar dari pada membantah. Selesaikan dulu lawan bicara berkata, jangan pandangi matanya, karena dianggap kurang etika jika sering menatap lurus.


***


Setelah keputusan diambil pada acara baretong malam itu. Maka sampailah pada acara yang akan segera dilaksanakan, pernikahan dan baralek Khaula sebulan lagi. Acara baralek Khaula tetap seperti yang disampaikannya ketika acara baretong, ia tidak mau mengurus apa pun untuk pernikahannya. Semua sudah diserahkan kepada saudara inti dari pihak ibu dan keluarganya dari pihak ayah yaitu Etek Syofia.


“Tek, Khaula akan berangkat ke Pekanbaru besok. Ini uang untuk semua kebutuhan. Tolong bantu Ibu mengurus semuanya,” ucapnya sambil menyerahkan gepokan uang yang lumayan banyak. Ketika Syofia datang menemui ibunya untuk menanyakan susunan acara baralek Khaula nanti.


Syofia termenung, kenapa Khaula tiba-tiba memintanya mengurus semua itu. Ini bukan ranahnya.


“Tapi, tidak mungkin Etek, Khaula. Soalnya masih ada saudara ibumu yang lain. Etek ini bakomu,” tolak Syofia pelan.


Mendengar penolakan Syofia, Khaula menunduk. Padahal ia sangat berharap eteknya itu mau mengurus persiapan pernikahannya, dan sudah pasti akan melibatkan Nazima. Namun, memang benar apa yang dikatakan Syofia. Tidak mungkin bako yang mengurus perhelatan di rumah anak kakak laki-lakinya. Itu bisa dikatakan melanggar adat. Karena bako hanya tamu dan bisanya cuma menyediakan suntiang dan nasi jujung, itu pun dari uangnya sendiri sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap anak keturunan saudara laki-laki di rumahnya.


“Bagus itu, Uni. Lagian Uni Marsida bisa bawa motor, jadi akan mudah baginya mengurus segala sesuatunya,” jawab Syofia antusias. “Lagian ada Liza yang akan membantu Uni di rumah menjelang hari H,” lanjut Syofia mantap.


Harapan membuat Nazima sakit hati, pupus. Namun, Khaula tidak berhenti sampai di situ.


“Nanti Etek bantu carikan gamis pengantin untuk nikahan, ya. Badanku dan Nazima ‘kan hampir sama. Jadi pasti cocok. Sebab Khaula kemungkinan pulangnya tiga hari sebelum menikah. Itu pun kalau bisa sesuai jadwal cuti,” lanjutnya memohon.


Meski terlihat ragu, Syofia tidak mungkin lagi mengelak. Akhirnya perempuan itu mengangguk.


***


Langit belum lagi terang, ketika Khaula mengemas pakaian ke dalam tas yang akan di bawahnya ke Pekanbaru. Suara ayam jantan masih terdengar sahut-sahutan di ujung kampung. Mungkin ayam itu sedang mengaminkan doa malaikat untuk umat yang menyempurnakan subuh mereka, baik di masjid maupun di rumah.

__ADS_1


Sebenarnya pekerjaan ini sangat melelahkan bagi Khaula. Bolak-balik menggunakan mobil melalui jalan darat dari Batu Sangkar ke Pekanbaru sudah tentu menghabiskan energi. Namun, Khaula tetap semangat karena tujuannya untuk membahagiakan sang ibu ada di proyek yang sedang ia garap dengan timnya.


Tidak lama, Samsiah masuk ke kamar putrinya. Membuka jendela kayu yang menghadap ke timur. Dinginnya embun pag, menerobos melalui kuakan daun jendela yang terdengar berderit.


“Kamu sudah salat?” tanya Samsiah, sembari duduk di kursi kerja Khaula.


“Sudah, Bu.”


“Apa kamu tidak bisa minta cuti lebih cepat?”


“Itu saja tiga hari sudah susah dapat izin, Bu. Tidak mungkin Khaula meminta lebih di saat pekerjaan sedang mendesak seperti sekarang,” jawabnya pelan.


“Kamu berangkat sama siapa?”


“Sama Juki, Bu.”


“Hanya berdua?” Samsiah memberi penekanan terhadap intonasi suaranya. Sejenak menoleh, lantas gadis itu mengangguk. “Tapi, Khaula itu tidak pantas. Sebentar lagi kamu akan menikah. Apa tidak sebaiknya kamu mengajak Nazima menemani?” Mendengar nama Nazima disebut ibunya, Khaula kembalikan badan.


“Khaula bertiga dengan Heru, Bu. Tidak mungkin Juki membawa mobil sendirian. Orang dia kerja nggak pernah berhenti di depan laptop,” terang Khaula, dan itu membuat Samsiah bernapas lega.


Samsiah tidak ingin Khaula menjadi gunjingan orang sekampung. Karena tidak elok jika perempuan yang mau menikah jalan dengan laki-laki lain, meskipun selama ini mereka hanya teman kerja. Tidak ada hubungan khusus.


Setelah selesai berkemas, Khaula mendekati ibunya. Memohon izin serta doa agar perjalanannya lancar dan semua urusan dimudahkan Tuhan. Punggung tangan ibunya dicium takzim. Ada haru setiap kali mau meninggalkan rumah. Namun, semua demi masa depan, pekerjaannya yang mengharuskan semua ini.


Setelah berpamitan, Khaula langsung melepas tangan ibunya. Karena sudah mendengar klakson mobil di depan pekarangan.


“Juki sudah datang, Khaula berangkat ya, Bu.” Samsiah mengangguk, dan membelai lengan anaknya. Senyumnya terlihat sangat terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2