
"Apa? Jadi perempuan yang menikah dengan Daffa kemarin adalah anak Rahiyang denganku?" tanya Emran terkejut.
"Iya Tuan. Kemarin di pernikahan, saya berhasil menemukan faktanya dan mengungkap kebenaran yang selama ini sengaja di sembunyikan," jawab Madi.
"Apakah kamu tahu kenapa Rahiyang begitu dalam menyembunyikan keberadaan anakku?" tanya Emran.
"Sepertinya ini berhubungan dengan masa lalu tuan dan nyonya Rahiyang. Coba tuan ingat saat tuan meninggalkan nyonya. Ucapan tuan sepertinya begitu berbekas di hati nyonya."
Emran termangu, ia kembali mengingat kekhilafannya dulu. Meninggalkan begitu saja Rahiyang yang melahirkan anak perempuan demi menikahi Helena yang mendapat anak lelaki.
"Ma'af tuan kalau saya kembali membuka luka lama!" ucap Madi.
"Kamu siapkan mobil dan kita akan segera pulang!" perintah Emran.
"Baik!" sahut Madi dan segera meninggalkan ruangan tersebut.
Sesampainya di rumah.
"Tuan, nyonya Helena juga mengetahui fakta ini sejak--,"
Belum sempat Madi menyelesaikan ucapannya, Emran sudah membanting pintu dengan keras membuat Madi terdiam.
"Di pernikahan," sambung Madi menatap tuannya yang masuk kedalam rumah dengan wajah emosi.
Emran bergegas menghampiri anak dan istrinya yang sedang bercengkrama di ruang keluarga. Belum sempat ia mendekat kearah mereka, Emran mendengar pembicaraan Helena dan anaknya.
Ia menghentikan langkahnya untuk menguping pembicaraan mereka.
"Dengar ya Akhmar! Kamu tidak boleh mencintai Anggia apalagi mengejar-ngejarnya dan ingin menjadikan dia milikmu!" ucap Helena.
"Kenapa ma? Bukankah selama ini mama selalu mendukung apapun yang aku lakukan. Tapi sekarang, kenapa mama melarangku!?"
Helena terdiam. Tidak mungkin ia mengatakan kalau Anggia adalah saudarinya Akhmar. Bisa-bisa Akhmar tau kalau dirinya adalah wanita yang tidak baik di masa lalu.
"Hanya saja... dia... dia istri orang, sayang. Jadi, kamu cari saja perempuan lain yang lebih baik dari dirinya," ucap Helena gugup dan berusaha meyakinkan.
"Jadi? Kamu sudah tau kebenaraannya!!?" teriak Emran.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak jujur saja padanya Helena? Dan menyembunyikan fakta kebenarannya ini!!"
Emran sudah berdiri di ambang pintu dengan keadaan yang sedikit berantakan. Tadinya ia ingin memberitahukan pada anak istrinya kalau ia sudah menemukan anaknya. Tapi ia begitu kecewa setelah tau istrinya justru menyembunyikan fakta yang sebenarnya dari dirinya.
"Apakah kamu sudah tahu kebenaran ini sejak lama!!?" teriak Emran dengan mata melotot.
Helena menggeleng. "Kebenaran apa yang sedang kamu bicarakan Emran?" tanya Helena.
"Kebenaran tentang dia adalah anakku!!" tekan Emran dengan nada marah.
"Sungguh aku tidak mengetahuinya. Dan aku baru kemarin mengetahui kebenarannya," sahut Helena.
"Kamu bohong!!"
"Kenapa kamu tega menyimpan kebenaran ini selama bertahun-tahun!" menatap dingin Helena yang membisu.
"Pa, apa yang terjadi sebenarnya disini. Kenapa papa marah pada mama?" tanya Akhmar.
__ADS_1
"Karena Anggia adalah saudara kandungmu! Dan mamamu mengetahui fakta ini selama bertahun-tahun."
Akhmar terbelalak mendengarnya. Ia menatap tidak percaya pada ibunya. Rasa kecewanya semakin membesar setelah melihat anggukan kecil dari Helena.
"Ma, apakah yang dikatakan oleh papa itu benar?" dengan nada lemah.
"Kenapa mama tega padaku ma," ucap Akhmar lagi.
"Mama tidak tahu kalau gadis yang kamu cintai itu adalah adikmu sendiri. Mama tahunya di pernikahan kemarin."
"Mas, dengarkan aku. Aku memang tahu kalau dirimu memiliki anak dengan Rahiyang. Tapi sumpah, aku tidak tahu kalau Anggia yang di cintai oleh Akhmar adalah anak kamu juga."
Helena berpaling kearah Akhmar.
"Ma'afkan mama!" meraih kedua belah bahu Akhmar.
"Jadi, mulai sekarang. Lupakan Anggia. Dia adalah adikmu, bukan perempuan yang kamu anggap sebagai lawan jenis!" Emran mulai meredakan emosinya yang sudah meledak-ledak.
"Kenapa kalian memberitahuku sekarang? Ada apa dengan masa lalu kalian?" menatap kecewa pada kedua orang tuanya. Ia merasa tidak terima dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya.
"Ma, pa, ini mimpikan,kalian sedang membuat lelocun untukkukan?" ucap Akhmar.
Helena tersentil saat melihat betapa kecewanya Akhmar padanya. Menyesal ia dulu menyuruh Emran untuk tidak menghiraukan Anggia kalau pada akhirnya seperti ini. Jika saja anak Emran dan Rahiyang di ketahui maka tidak akan ada yang namanya cinta antara Akhmar pada Anggia sebagai cinta lawan jenis.
"Ini kebenarannya. Jadi, mulai sekarang kamu terima saja kenyataan ini," Emran ikut menenangkan Akhmar.
Akhmar tidak menghiraukan ucapan ayah dan ibunya. Ia bergegas mengambil kunci mobil dan segera keluar rumah.
***
Pembantu dan juga satpam serta sopir yang sudah di janjikan oleh Daffa sudah mulai bekerja di rumah mereka.
Ting tong
"Bibi tolong bukakan pintu di depan," ucap Anggia. Ia berjalan dan membawa nampan yang ada di tangannya.
"Baik nyonya!" sahut Nur.
Belum sempat Anggia berjalan ke pintu samping rumahnya, ia sudah mendengar teriakan seseorang diluar sana. Bergegas ia berjalan dan menghampirinya.
"Akhmar! Ada apa kamu kesini!?" tanya Anggia dengan heran.
"Apakah kamu mengetahui sesuatu tentang siapa ayah kandungmu di masa lalu?"
Anggia melirik kearah bi Nur yang masih berdiri disana.
"Bibi, tolong bawakan air minum disana itu untuk tuan!" tunjuk Anggia pada air minum yang di letakkannya di meja ruang tamu.
"Baik, nyonya!" sahut bi Nur sopan.
"Apa maksud pembicaraanmu. Kenapa kamu justru menanyakan hal itu padaku?" tanya Anggia.
"Aku hanya ingin memastikan saja kalau apa yang dikatakan oleh mereka adalah bohong!"
"Mereka siapa dan apa yang mereka katakan. Aku sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan ini!"
__ADS_1
Anggia menatap Akhmar heran, bahkan ia memindai penampilan Akhmar yang sedikit berantakan kali ini. Lelaki di depannya ini seperti sedang mengalami hal buruk saja.
"Orang tuaku. Mereka mengatakan kalau kamu adalah adikku!" ucap Akhmar dengan nada frustasi.
Anggia terbelalak mendengarnya. Ia menatap tidak percaya.
Anggia terdiam setelahnya, ingatannya jatuh pada ibunya yang menceritakan masa kecilnya. Hidupnya begitu memprihatinkan tanpa seorang ayah bahkan ayahnya meninggalkan mereka karena ia terlahir sebagai perempuan.
"Ayahku sudah mati sejak lama. Dan aku sama sekali tidak mengenal ayahmu!" sahut Anggia dingin.
"Dan sekarang. Kamu keluar dari rumahku dan jangan mengganggu hidupku lagi!!" teriak Anggia mengusir Akhmar.
Anggia menutup pintu dengan kasar. Ia berbalik dan meneteskan airmatanya. Luka lama itu kembali di ungkit oleh Akhmar.
Ia tidak ingin tau siapa ayah kandungnya dan ia tidak ingin bertemu lelaki yang tidak bertanggung jawab tersebut. Bahkan meninggalkan ibunya dalam keadaan depresi.
"Sayang! kamu kenapa?" Daffa datang dan menghampiri Anggia.
"Aku tidak apa-apa sayang. Apakah kamu sudah selesai berbicara dengan asistenmu?" tanya Anggia.
"Belum. Aku hanya terkejut saja mendengar teriakan dari arah sini. Aku pikir ada sesuatu yang terjadi denganmu!" sahutnya.
"Aku tidak apa-apa," ucap Anggia mengukir senyum tipis.
"Memangnya siapa yang datang tadi?" selidik Daffa.
"Seseorang yang datang tapi salah alamat. Aku sudah mengusirnya tadi."
Daffa mengangguk walaupun ia tahu kalau Anggia sedang menghindari pertanyaannya. Ia sangat hafal dengan gelagat Anggia kalau sedang berbohong padanya.
"Sebaiknya kamu istirahat saja, kamu kelihatan pucat!"
Daffa meraba kening Anggia yang terlihat berkeringat. Bahkan wajah wanita itu terlihat meringis.
"Baiklah kalau begitu. Kamu teruskan saja urusanmu, aku kekamar dulu," sahut Anggia.
Daffa menatap heran pada Anggia yang terlihat berbeda dari biasanya. Bahkan wanita itu terlihat sepertinya menyembunyikan sesuatu.
Siapa sebenarnya yang datang bertamu tadi hingga membuat wanita yang selalu tenang di matanya tersebut tiba-tiba berteriak marah dan emosi.
Anggia menghempaskan tubuhnya di atas kasur mereka, memejamkan matanya sesaat.
"Siapa sebenarnya ayahnya Akhmar dan darimana ia menyimpulkan kalau diriku adalah saudaranya?"
Anggia menekan kepalanya yang terasa pening. Tadinya ia ingin melupakan sejenak ucapan Akhmar, tapi yang ada justru ia selalu di bayangi oleh ucapannya.
Anggia meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Kamu selidiki orang tuanya Akhmar sertakan juga fotonya dan kirim padaku besok!" perintah Anggia pada seseorang di seberang sana.
•
•
•
__ADS_1
*****