Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 48


__ADS_3

FLASH ON


"Tante, hari ini aku ingin jalan keluar." Ucap Afika membuat Junisah tentunya sangat kaget, namun juga bahagia. Karena setelah beberapa bulan lamanya mengurung diri di dalam rumah, kini Afika meminta dengan sendirinya untuk keluar dari tempat dia bersembunyi.


"Kau yakin?" Tanya Junisah, dan Afika menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian setelah Afika dan Junisah rapi, kini mereka berdua berjalan keluar dari rumah, namun saat Junisah ingin membuka pintu mobil, Afika justru menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin naik mobil sehingga membuat Junisah ikut apa yang Afika inginkan.


"Tante. Lebih baik kita pakai taxi saja." Ucap Afika, lalu kemudian melanjutkan langkahnya menuju gerbang. Hawa udara membuat Afika spontan merentangkan kedua tangannya menghirup udara.


"Apa kau bahagia?" Tanya Junisah.


"Tentu." Jawab Afika, dan kini keduanya berjalan menyusuri blok perumahan untuk mencari taxi.


•••••


Dan, hingga sampai saat ini Adrian belum juga menemukan Afika. Adrian terus menatap gelas mug pemberian Afika yang bergambarkan lion. Sungguh sangat menyesal Adrian, dulu ia menghukum Afika karena hanya persoalan hadiah saja, pikir Adrian Afika membeli barang itu untuk di berikan pada Nadi, namun pikiran Adrian ternyata salah besar.


"Kak, hari ini aku dan Farah ingin berjalan-jalan." Ucap Baby, saar masuk ke dalam kamar Adrian.


"Ya."


"Ouh yah kak. Tadi Nadi menelpon ku. Sekarang posisinya sedang berada di rumah sakit, mencari Afika. Begitupun dengan Rio dan yang lainnya."


"Ya."


"Jangan melamun terus kak, ayo sana mandi. Biar tubuh kak Adrian bisa segar."

__ADS_1


"Ya."


Baby menghembuskan nafas secara kasar melihat ekspresi kakaknya yang begitu tidak bersemangat. Perlahan Baby kembali menutup pintu. Karena percuma berbicara pada Adrian karena jawabannya selalu kata 'Ya'.


"Maafkan aku." Kata yang terus terlontar dari bibir Adrian.


•••••


"Kau ingin membeli apa sayang?" Tanya Junisah saat melihat mata Afika yang berbinar-binar seperti seorang anak yang ingin membeli mainan baru.


"Bi, aku ingin minum itu." Tunjuk Afika pada salah satu cafe yang berada di dalam mall. Cafe yang memperlihatkan minuman segar yang ingin sekali di coba oleh Afika.


"Baiklah. Tunggu di sini, tante akan pesankan. Jangan kemana-mana." Ucap Junisah yang begitu posesif tidak ingin terjadi sesuatu pada Afika. Afika menjawab dengan menganggukkan kepala.


Saat Afika sedang duduk menunggu, tiba-tiba beberapa siswi sekolah lewat sambil tertawa dan memengang ponsel mereka. Di saat itu juga Afika langsung teringat pada Siti dan juga Farah yang saat ini sedang berada di panti.


Spontan siswi itu pun berhenti.


"Ada apa kak?"


"Ouh yah, boleh pinjam ponselmu sebentar? Aku akan bayar" ucap Afika sambil mengeluarkan uangnya. "Jika kau takut, kau boleh pegang ponselku, ini" Kini Afika memberikan ponselnya pada siswi itu. Ya, Afika tahu, jika pasti para siswi itu khawatir jika ponselnya di bawah lari oleh Afika. "Aku sedang mengandung dan tidak akan mungkin kabur. Jika kabur, kau bisa mengambil ponselku. Ini paswoardnya." Terang Afika sehingga membuat siswi itu membuang jauh-jauh keraguannya dan memberikan ponselanya.


Afika tersenyum saat mendapatkan ponsel dari siswi itu.


Lalu Afika mencoba menghubungi panti. Dan tak perlu menunggu waktu lama, panggilan Afika pun langsung terhubung.


"Halo assalamu'alaiku." Ucap Siti dari seberang sana.

__ADS_1


Bukannya menjawab, kini Afika hanya diam saja, sambil menitihkan air mata. Sungguh Afika begitu sangat merindukan suara Siti, yang sudah ia anggap seperti ibu kandung sendiri. Siti merawatnya dengan penuh kasih sampai ia bisa menjadi gadis yang tumbuh menjadi gadis yang baik.


Tidak ada jawaban dari salam yang di berikan oleh Siti. Tapi diamnya sang penelpon membuat Siti yakin jika itu adalah Afika.


"Afika.. Anakku.." Panggil Siti dengan suara lirih sambil menitihkan air matanya. "Bagaimana kabarmu nak. Kau dimana? Bagaimana bayimu? Afika, bicaralah."


"Ibu.. Hiksssss, hikkkssss, hikkkkssss..." Satu kata yang terlontar dari bibir Afika dan di sertai suara tangis.


"Pulang lah nak. Kami semua merindukan mu. Pulanglah."


"Ibu.."


"Afika pulanglah."


"Bu, aku baik-baik saja. Bayiku, dia pun baik-baik saja. Ini sudah bulanku bu, doakan aku semoga bisa melahirkan dengan lancar."


"Pulanglah sayang, pulanglah."


"Ibu.."


Pulsa siswi itu pun habis. Mau tidak mau Afika terpaksa mengembalikan ponsel siswa itu.


"Terima kasih." Ucap Afika sambil menukar ponselnya dengan ponsel siswa itu. "Ini, uang untuk mengganti pulsa mu." Kata Afika.


Selang beberapa saat kemudian Junisah pun datang dan melihat sisa air mata yang masih menempel di pipi Afika.


"Ada apa? Apa yang terjadi? Siapa yang membuat mu menangis."

__ADS_1


"Tante.." Lirih Afika sambil memeluk Junisah. "Kenapa lama sekali, aku sudah sangat haus." Ucap Afika sambil mengusap air matanya.


__ADS_2