Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Kenyataan Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Apa ini?" gumam Alvaro sambil membuka amplop tersebut, begitupun dengan Azza.


Deg


Azza menatap kearah Alvaro dan Nadia dengan pandangan getir, ia ingin berlari dari semua orang. Dia belum sanggup untuk menerima alasan mereka membuangnya. Itukah alasan Daffa mengadakan syukuran hari ini. Bukan karena kehamilannya tapi karena ia sudah mengetahui fakta yang sebenarnya dan sengaja mempertemukan mereka disini.


Azza berbalik dan ingin meninggalkan semua orang yang ada disana tetapi ia sudah di tahan oleh Daffa.


"Daff, biarkan aku pergi. Aku belum siap mendengar alasan mereka membuangku." Menatap Daffa dengan dingin.


"Dan kamu. Sejak kapan kamu memgetahui semua ini dan menyembunyikan dariku," suara Azza masih terdengar dingin.


Daffa terkejut melihatnya, baru kali ini ia di tatap oleh Azza sedingin itu bahkan nada bicaranya juga terasa sangat asing. Matanya beralih menatap Alvaro dan Nadia yang masih mematung.


"Jadi, kamu adalah anakku!" lirih Alvaro menjatuhkan amplop tersebut, berjalan cepat kearah Azza.


"Jangan mendekat! Kamu sudah membuangku, aku tidak ingin melihat kepura-puraan kalian padaku."


Semua penghuni ruangan itu hanya saling pandang dan terdiam memperhatikan pertemuan antara anak dan orang tua tersebut.


Air mata Azza sudah mengalir di pipinya. Begitupun dengan Alvaro yang kembali terpaku di depan Azza. Alvaro menggeleng berulang kali menolak tuduhan Azza padanya. Tuduhan yang begitu hina dan tidak manusiawi.


"Dengar sayang, papa tidak pernah membuangmu. Ada kesalah pahaman disini," lirih Alvaro lagi mencoba menggapai Azza yang berdiri didepannya hanya berjarak setengah meter saja.


"Aku tidak mau mendengar alasan apapun itu. Nyatanya kalian sudah membuangku tanpa memperdulikanku." Langkah Azza mundur kebelakang, gapaian tangan Alvaro menjadi kosong.


Alvaro kembali menggeleng, tangannya kembali tergerak ingin meraih Azza tetapi wanita itu berusaha kembali menghindar.


"Sayang, dengarkan dulu penjelasan orang tuamu. Jangan kamu hanya menatapnya dari sisimu saja," ucap Daffa.


"Lepaskan aku Daff." Azza kembali bersuara dingin. "Tidak ada yang menatap suatu masalah dari satu sisi saja. Aku hanya merasa lelah saja."


"Baiklah kalau itu maumu. Istirahatlah dan ingat, masih ada bayi di dalam perutmu. Dan jangan egois untuk hari ini."


Daffa melepaskan genggaman tangannya.


"Anakku! Biarkan mama dan papa memelukmu untuk yang pertama kalinya setelah kamu dewasa," suara parau Nadia tampak bergetar menolak sikap Azza padanya.


"Biarkan mama memelukmu. Mama begitu menderita tanpamu dan sekarang mama terasa berada di dunia mimpi."


Seketika Azza menghentikan langkahnya.


"Biarkan aku menenangkan diriku dulu. Ma'af!" Azza kembali melangkah tanpa membalikkan badannya.


"Azza! Kamu jangan salah paham pada kedua orang tua kita. Dia tidak membuangmu. Mereka selalu mencarimu! Ada cerita pilu di balik semua ini."


Langkah Azza kembali terhenti setelah mendengar teriakan Aina.


"Benarkah?" Azza terkekeh mendengarnya. "Selama 18 tahun ini kalian kemana saja. Apakah mencari seorang anak yang hilang harus selama itu dan apakah aku sangat menyusahkan kalian dahulu sehingga kalian membiarkanku terus-menerus berganti-ganti orang tua angkat? Aku seperti benda yang hanyut di lautan, terombang-ambing karena gelombang yang tidak pernah berhenti, bahkan sesekali ditiup angin.. Tidak ada tujuan dan tidak ada pegangan." Air mata Azza kembali menetes.


Aina menggeleng. "Dengarkan dulu cerita dan penjelasan mama dan papa. Maka kamu akan tahu kebenarannya. Jangan bersikap seperti ini, akan melukai dirimu dan juga perasaan mama dan papa."


"Kebenaran apa? Kebenaran kalau mereka sebenarnya tidak mencariku dan kebenaran kalau mereka tidak perduli padaku."


Aina dan Alvaro kembali menggeleng sedangkan Nadia sudah di peluk oleh Rika karena tidak mampu berdiri lagi.


"Selama ini aku sudah cukup terluka setelah mengetahui kalau yang mengasuhku sekarang bukanlah orang tua kandungku. Dan lukaku semakin pedih saat kembali tahu bahwa wanita yang mengasuhku sebelumnya juga adalah orang tua angkatku. Dan lebih sakitnya lagi saat aku bertemu dengan keluarganya, aku dikatakan sebagai anak pungut yang tidak jelas asal-usulnya."


Azza menengadah untuk menghalau air matanya yang semakin banyak dan basah.


"Tapi kamu akan tenang kalau kamu tahu kebenarannya bahwa papa dan mama tidak pernah membuangmu, nak!" Alvaro ikut bersuara.


Azza kembali menggeleng dan kembali berbalik meneruskan langkahnya yang sempat tertunda.


"Kami hanya terlambat menyadarinya. Apakah semua ini juga terlambat untuk di ma'afkan." Alvaro terisak.


"Sudahlah. Aku lelah dengan semua ini." Azza masih meneruskan langkahnya. Andai ia tidak hamil, ia akan berlari sejak tadi.


"Kamu sewaktu bayi di tukar oleh dokter palsu itu dengan bayi laki-laki yang sudah meninggal dan kamu di jual oleh mereka tanpa sepengetahuan papa dan mama. Apakah kamu tetap mengatakan kalau mereka membuangmu?"

__ADS_1


Aina kembali berteriak membuat langkah Azza kembali terhenti pada anak tangga pertama.


Dengan tangan bergetar Azza menahan dirinya yang sudah oleng dan pandangannya terasa berputar.


"Kalian ingin memelukku. Maka peluklah aku sekarang!"


Azza menyerah dengan semua keegoisannya. Ia yakin semua orang pastilah memandangnya dengan kecewa. Ia merasakan tubuhnya seketika terasa hangat. Dua pasang tangan yang melingkari tubuhnya. Matanya menatap samar Alvaro dan Nadia yang memeluknya dengan isakan yang lirih. Kemudian ia hanya merasakan kegelapan setelahnya.


"Azza?" Alvaro dan Nadia bersamaan melepaskan pelukan mereka setelah merasakan Azza yang terkulai lemah.


"Panggil dokter kandungan kesini!" teriak Alvaro begitu panik hingga membuat suasana kembali semakin tegang.


Daffa segera berlari menghampiri mereka.


Angga sibuk melakukan panggilan di telpon sedangkan Rika dan Ambar berlari memghambur kearah Azza.


"Kalian membuatnya pingsan. Dia bahkan begitu kelelahan berpikir beberapa hari ini," ucap Rika.


"Ma'afkan aku," sahut Alvaro merasa bersalah.


"Aku akan membawanya ke kamar kami!" Daffa meraih tubuh Azza dan menggendongnya. Matanya menatap sendu kearah Azza yang begitu terluka hari ini.


"Papa mertua tenang saja, setelah ini Azza pasti akan bisa menerima semuanya. Ia hanya syok saja mendengar kabar ini."


Daffa kembali meneruskan langkahnya.


***


"Papa mertua bisa menemuinya sekarang. Dia sudah sadar dan sedikit tenang. Dan papa pasti tahu kondisi wanita hamilkan?" Daffa berusaha memberikan ruang untuk mereka antara orang tua dan anak.


Alvaro mengangguk dan segera menemui Azza.


"Ma'afkan papa karena baru tahu kebenarannya. Papa menyesal tidak pernah tahu kenyataan yang dahulu," lirih Alvaro setelah ia berada di depan Azza.


Azza hanya diam saja menatap kearah Alvaro dan Nadia yang berada di depannya.


"Lalu, darimana papa tahu kalau aku di tukar?" Nada suara Azza terdengar melunak.


Deg.


Azza menggenggam tangannya erat. Apakah ia tadi terlalu bersikap kasar pada mereka. Benar kata Aina kalau dirinya hanya memandang dari satu sisi saja.


"Maukah kamu menganggap kami sebagai orang tuamu. Setidaknya kami bisa tenang karenanya."


Alvaro menatap harap-harap kearah Azza.


Wanita muda itu terdiam dan tampak berpikir, terdengar desahan dari mulutnya yang mungil.


"Mau bagaimana lagi, aku tidak mengakui kalian sebagai orang tuaku juga percuma. Karena aku lahir dari rahim mama juga," sahut Azza terdengar pasrah.


"Benarkah kamu mau menerima kami lagi?" Alvaro terlihat begitu senang.


"Tentu saja. Dan apakah kalian hanya ingin memandangku seperti itu saja tanpa ingin memelukku."


Azza merentangkan tangannya di iringi dengan sebuah senyum ringan darinya.


Alvaro dan Nadia langsung menghambur kepelukan Azza hingga membuat wanita muda itu terhuyung kebelakang dan terkekeh senang.


"Ma'afkan ucapanku sebelumnya pa, ma. Aku hanya syok saja mendapat kejutan besar ini."


Mata Azza beralih menatap kearah pintu. Daffa berdiri disana sambil mengintip kearahnya.


"Makasih, sayang. Aku sangat mencintaimu," ucap Azza dengan bahasa bibir.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Alvaro melepaskan putrinya.


"Lebih baik dari sebelumnya pa, aku merasa lebih tenang sekarang walaupun aku merasa semua ini hanyalah settingan saja," ucap Azza di iringi tawa ringan.


"Baguslah kalau begitu. Papa akan tenang mendengarnya. Dan ingat! Ini bukan settingan tapi mimpi papa yang menjadi nyata."

__ADS_1


"Daff, masuklah. Papa sudah selesai!" Alvaro berbalik menatap kearah Daffa.


"Ma'afkan papa yang tidak sempat untuk menjadi walimu saat kamu menikah." Alvaro terlihat menyesal.


"Tidak apa-apa pa, semuanya sudah terjadi dan sudah berlalu juga. Sebaiknya kita menatap kedepan saja untuk menjadikan di masa lalu sebagai kenangan dan pelajaran," sahut Azza.


"Kamu benar!" tangan Alvaro tergerak membelai kepala Azza dengan lembut.


"Istirahatlah. Wanita hamil tidak baik kalau terlalu lelah."


Azza mengangguk.


"Bulan depan papa yang akan mengadakan resepsi pernikahan kalian sekaligus memperkenalkanmu pada khalayak ramai mengenai kembalinya putri kedua papa."


"Terima kasih, pa," sahut Daffa.


"Jangan berterima kasih pada papa. Tetapi papa lah yang seharusnya berterima kasih padamu karena kamu sudah menjaga putri papa dengan sangat baik. Juga sudah memberikan kejutan besar ini pada papa."


Menepuk pundak Daffa dan melewatinya setelahnya.


"Papa kebawah dulu untuk berbicara dengan besan. Setidaknya aku tidak merasakan cintaku dulu hilang karena putriku sudah menggantikannya." Alvaro terkekeh membuat Daffa mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan Alvaro.


"Bagaimana keadaan Azza?" Rika bergegas menghampiri Alvaro.


"Kalian tenang saja. Dia sudah lebih baik dari sebelumnya bahkan ia juga sudah lebih tenang."


"Baguslah kalau begitu," sahut Ambar.


"Aku tidak menyangka kalau kita sudah menjadi besan. Aku pikir cintaku selamanya akan bertepuk sebelah tangan tapi ternyata putriku menggantikannya." Alvaro terkekeh setelah berbisik di telinga Angga.


"Apa kamu bilang? Kamu tidak dapat melupakan masa lalu. Tapi tidak apa karena aku lebih beruntung darimu sudah memenangkan hati istriku sepenuhnya. Jadi nikmatilah kekalahanmu dengan menjadi besanku saja," ejek Angga di sertai dengan kekehan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Rika datang menghampiri.


"Bukan apa-apa sayang." Angga meraih pinggang Rika dan memeluknya posesif.


"Ingat kalau nanti malam kamu harus di hukum."


"Karena apa? Aku tidak melakukan kesalahan hari ini," sahut Rika.


"Karena kamu sudah membuatku cemburu!" bisik Angga.


Sedangkan di kamarnya. Azza tampak bergelayut manja dalam pelukan Daffa. Sesekali ia membuat lingkaran abstrak di dada Daffa.


"Hentikan sayang, kamu sudah membangunkannya," Daffa meraih tangan Azza.


"Kenapa kalau dia bangun. Tinggal kamu keluarkan saja, kan beres," sahut Azza enteng.


"Tapi kamu sedang hamil sayang," Daffa tampak greget dengan sikap Azza yang menggodanya.


"Aku tidak bilang begitukan? Kamu bisa bermain solo."


Daffa seketika membelalakkan matanya mendengar ucapan istrinya yang polos.


"Darimana kamu belajar mengenai ini, hmm?"


Daffa menggoda Azza dengan meniup daun telinganya lembut.


"Hentikan Daff, aku geli!" Azza menggeliat.


"Semakin kamu bergerak semakin dia tidak tahan, sayang!"


Daffa merebahkan Azza dengan hati-hati melancarkan aksinya menggoda Azza hingga mereka mereguk pulau impian bersama dan melupakan sejenak kehiruk pirukan keadaan ruang tamu yang tampak semakin seru.




__ADS_1


****


__ADS_2