
Langkah Aina terhenti saat mendapati kalau bukan Daffian yang sedang menunggunya di depan rumah sakit. Ia memutar tubuhnya ingin meninggalkan lelaki tersebut. Tetapi tangannya sudah di cekal oleh Rendy terlebih dahulu.
"Kamu? Mau apa lagi kamu kesini?" Aina berusaha melepaskan cekalan tangannya.
"Tentu saja ingin bertemu dengan istriku. Memangnya aku mau apalagi? Lagi pula bukankah aku sudah mengirimkan pesan dan bunga untukmu. Apakah kamu tidak menerimanya?" Rendy menatap Aina dengan sendu.
Wanita ini selalu menghindarinya, apakah benar kalau dia sudah melupakannya. Begitu cepatkah?
"Jadi, bunga itu dari kamu?" Aina terlihat melemah dan menunduk.
"Tentu saja dariku. Apapun yang kamu sukai, aku masih mengingatnya dan sangat hapal. Memangnya kamu mengharapkan bunga itu dari siapa?" Lirihnya dengan tatapan terluka.
Aina terdiam mendengarnya, ada rasa sesak di dadanya saat melihat wajah Rendy yang terluka.
"Aina. Berikan aku waktu untuk berbicara denganmu. Menjelaskan masalah yang dulu, agar kesalah pahaman di antara kita tidak ada lagi. Dan aku bisa tenang setelahnya."
"Penjelasan apalagi, Ren. Semuanya sudah jelas kalau kamu tidak pernah kembali lagi untukku waktu itu." Mata Aina kembali memerah.
"Dan apakah kamu tahu bagaimana rasanya menunggu seseorang dalam ketidak pastian. Sakit Ren, sangat sakit."
Aina menengadah menghalau air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya.
"Aku tahu itu karena aku juga merasakannya." Rendy membatin.
"Ai... ma'afkan aku," lirih Rendy dengan penuh penyesalan.
"Jangan sebut namaku seperti itu. Karena hanya dia seorang yang boleh memanggilku seperti itu!" kesal Aina.
"Siapa? Apakah dia orang yang mengisi hatimu saat ini?" Rendy menatap Aina begitu dekat. Tetapi ia merasakan kalau jarak dan hati mereka sangatlah jauh. Tidak melekat seperti dulu lagi. Apakah dia harus melepaskan Aina untuk kebahagiaannya.
"Ai... aku akan melepaskanmu pada orang yang tepat agar aku bisa tenang dan kamu harus bahagia bersamanya."
Deg.
"Ucapan ini. Kenapa Rendy mengatakan ucapan yang penuh dengan keputusasaan? Ucapan yang persis di ucapkannya saat mereka hampir berpisah dulu."
Aina berbalik dan menatap Rendy, ada perasaan tidak rela saat Rendy sudah berpaling membelakanginya.
"Baiklah. Aku akan menerima ajakanmu!"
Langkah Rendy terhenti, ia berbalik dan menatap Aina dengan senyum manis yang menawan.
"Senyum itu, kenapa ia memperlihatkan senyum bahagia dan rasa senangnya hanya karena aku mengiyakan ucapannya?" Aina kembali membatin.
"Kita mau kemana?"
"Kafe Pp, tempat kita jadian untuk pertama kalinya."
Deg.
"Tempat itu. Kenapa aku melupakannya dan berusaha membangun kenangan yang baru?" Aina memalingkan wajahnya menatap kearah luar jendela.
__ADS_1
"Ai... ma'afkan aku. Ada banyak hal yang harus kujelaskan padamu mengenai keberadaanku di luar negri."
Aina masih diam mencernanya.
"Dan aku datang kesini berniat ingin meresmikan hubungan kita agar sah di mata hukum dan negara."
Deg.
"Janji itu, dia bahkan masih mengingatnya. Tapi kenapa hatiku sangat sedih saat mendengarnya?" Aina kembali membatin.
"Kita sudah sampai. Turunlah!" Rendy membukakan pintu mobil untuk Aina tetapi wanita itu terlihat acuh saja.
"Kita pesan ruang privat saja."
"Tidak perlu. Aku lebih suka ruangan yang terbuka dengan banyak orang," sahut Aina cepat.
"Baiklah kalau begitu," Rendy mengangguk.
Mereka duduk di pojokan ruangan yang dekat dengan jendela besar yang menghadap kearah jalan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" ucap Aina tanpa berbasa-basi.
Rendy tersenyum menatap Aina, ada rasa sedih saat Aina seolah menolak keberadaannya di hadapannya.
"Pesan makanan dulu baru kita bicara."
"Jangan mengulur waktu Ren. Aku sangat sibuk di rumah sakit."
"Kenapa kamu kelihatannya tidak suka saat bersama diriku? Seperti apa lelaki yang bersamamu selama ini?" Sakit, rasanya saat Rendy mengucapkannya.
"Itu bukan urusanmu lagi, Ren. Kita sudah putus hubungan sejak kamu tidak pernah kembali waktu itu dan sejak itu juga aku menganggap kalau kamu sudah mengingkari janjimu."
Aina berpaling menatap kearah jalan raya, hatinya berdenyut saat melihat kesedihan yang terpancar dari wajah Rendy. Jangan katakan kalau hati ini belum bisa melupakannya.
"Itu akan jadi urusanku, Ai.... Aku hanya ingin tahu, apakah pantas dia bersamamu agar hatiku bisa ikhlas melepaskanmu dengan orang yang tepat."
"Kata-kata ini lagi." Aina membatin dan menatap Rendy sekilas.
Pesanan mereka datang.
"Makanlah. Setelah makan aku akan banyak bicara!" gurau Rendy.
Aina hanya terdiam saja.
***
Daffian dan Asra sudah berada di depan kafe yang sama dengan kafe yang di tempati oleh Aina dan Rendy.
"Carilah tempat duduk. Aku akan menyusul kemudian," ucap Asra.
"Memangnya kamu mau kemana?" heran Daffian.
__ADS_1
"Ayahmu menelponku!" tunjuk Asra pada telpon genggam yang berada di tangannya.
"Baiklah. Cepatlah kembali setelah itu."
"Siap, Bos kecil!" sahut Asra.
Daffian menatap kearah sekelilingnya untuk mencari tempat duduk. Hingga matanya tanpa sengaja menatap keberadaan Aina bersama lelaki asing dan sama sekali tidak di kenalinya.
"Siapa lelaki itu dan apa yang mereka bicarakan? Dan kenapa wajah Aina terlihat sesedih itu, apakah lelaki itu telah menyakitinya?"
Tanpa sadar Daffian berjalan kearah meja Aina dan Rendy. Langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Rendy. Ia berbalik dan bermaksud untuk meninggalkan kafe tersebut tetapi sudah di tahan oleh Asra terlebih dahulu.
"Daffian, mau kemana? Apakah kamu tidak menemukan tempat duduk untuk kita berdua?" Asra melongok kedalam ruangan kafe. Masih ada beberapa meja yang tampak kosong.
"Emm. Aku mau ke toilet sebentar," sahut Daffian.
"Toilet?" heran Asra.
Daffian mengangguk.
"Toilet bukan disini, tapi disana!" tunjuk Asra kearah dalam kafe dengan dagunya.
"Disini tempat untuk menuju keluar. Apa yang terjadi denganmu dan kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini?" selidik Asra.
"Tempat ini sepertinya membosankan dan makanannya juga membuat aku bosan," sahut Daffian kembali beralasan.
"Jangan membohongi pria tua ini Daffian, pernyataanmu bukan tidak senang pada kafe ini tetapi pernyataanmu sedang menghindari seseorang yang membuatmu cemburu. Apakah itu benar, Bos kecil?" Asra terkekeh dengan tingkah Daffian.
Daffian kembali terdiam di buatnya. Lelaki tua ini benar-benar tidak bisa diremehkan.
"Ya sudah. Kalau kamu tidak sanggup melihatnya, lebih baik kita cari tempat lain saja."
Asra sudah berbalik dan ingin melangkah keluar kafe.
"Tidak. Aku bukan pengecut seperti yang kamu katakan itu. Aku akan buktikan kalau aku tidak akan cemburu melihat kebersamaannya dengan orang lain. Karena aku percaya kalau cintanya hanya untukku," sahut Daffian tegas.
"Bagus. Itu yang aku mau. Daffian yang berani menghadapi kenyataan dan Daffian yang sudah dewasa." Asra menepuk pundak Daffian dan masuk kedalam kafe terlebih dahulu.
"Hei. Kenapa kamu memilih duduk disini. Disini terlalu dekat dengan mereka," bisik Daffian sambil sesekali melirik kearah meja yang di tempati Aina.
"Daffian yang dewasa akan menghadapi semua tantangan. Apapun itu ia pasti sanggup mendengar dan melihatnya."
Asra tersenyum miring menatap Daffian, membuat Daffian bergidik melihatnya.
•
•
•
*****
__ADS_1