Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Berita Buruk


__ADS_3

Ujian cinta selalu datang dan menerpa, hanya orang-orang yang kuat sajalah yang mampu bertahan sebagai bukti kekuatan cinta mereka


______________________________________


"Apa-apaan ini!?" Angga membanting koran yang ada di tangannya. Ia menatap tidak percaya pada berita yang baru saja di bacanya. Mereka mengatakan kalau Rika adalah selingkuhan Angga dan perusak hubungannya dengan Helena dulu. Bahkan disana terpampang jelas kalau pihak entertainment mengatakan kalau Rika hanyalah teman tidurnya saja dengan foto kebersamaan mereka di rumah sakit.


Bodohnya Angga tidak menyadari ada oknum yang sengaja memanfaatkan kepopularitasannya sebagai berita konsumsi publik. Tidak akan dia biarkan si pembuat onar hidup tenang.


Ia menatap gusar dan mengusap wajahnya sejenak. Pandangannya kembali menajam menatap kearah Asra.


"Kenapa kamu belum juga membereskan kekacauan yang ada!?" Dengan kesal dan sedikit ketus.


"Cukup sulit, Bos. Karena ada orang besar yang melindunginya di balik semua berita ini." Asra menatap takut-takut kearah Angga. Baru kali ini ia mendapati kemarahan dan rasa frustasi bosnya setelah beberapa lama.


"Aku tidak mau tau. Pokoknya sebelum pagi besok kamu harus membereskannya. Kalau mereka orang besar dan memiliki perusahaan, kacaukan perusahaannya dan buat dia terkejut karena sudah salah memilih lawan." Angga terlihat mengetikan dengan tatapan mengintimidasi.


Ia benar-benar gusar dengan berita tersebut. Tidak ingin berita tersebut sampai ke telinga Rika. Terlebih lagi Rika sekarang sedang hamil, Rika tidak boleh banyak pikiran dan kelelahan. Apalagi sampai dia stress, pemicu keguguran bagi kandungannya.


"Bos, bagaimana kalau Bos mengklarifikasi beritanya dengan mengumumkan mengenai pernikahan bos ke tengah publik. Beri tahu mereka tentang pernikahan bos yang sudah berjalan lebih dari setahun."


Angga tampak berpikir sambil menatap kearah kaca besar yang ada di ruangannya. Ia memijat pelipisnya berulang kali. Memikirkan saran yang baru saja di beritahukan oleh Asra. Benar juga, tidak ada yang mengetahui kalau Rika istrinya selain Asra, Alvaro dan seluruh penghuni mansionnya.


Mereka juga sangat terkejut saat Angga pertama kali datang kesana dengan membawa Rika dan memperkenalkan Rika kepada mereka sebagai istrinya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah pernikahan mereka berjalan lebih dari setahun tanpa diketahui oleh orang lain.


Rumah tangganya sedang manis-manisnya justru diterpa berita yang kurang penting dan sangat merugikan mereka. Semoga saja Rika tidak melihat berita sama sekali.


"Apa beritanya juga di siarkan di televisi?" Angga berbalik dan menatap Asra yang masih pada posisinya.


"Iya. Bahkan berita tentang Bos dan Rika mendapatkan rating teratas. Banyak netizen yang menghujat Bos." Asra kembali menunduk setelah mendengar Angga yang menggebrak mejanya.


"Kalau dibiarkan terus-menerus, maka berita ini akan menurunkan nilai saham perusahaan kita. Efeknya berpengaruh sangat besar."


Angga hanya mengangguk saja. Pikirannya masih tertuju kearah Rika yang berada di rumah. Semoga saja dia tidak keluar kamar.


Dengan cepat Angga mengambil handphonenya untuk menghubungi pembantunya. Ia menyuruh mereka semua untuk tidak melihat berita yang ada di televisi dan jangan mengungkitnya di hadapan istrinya apabila mengetahui berita buruk tersebut.


"Kamu benar. Aku harus mengklarifikasi berita ini dan mengatakan tentang kebenarannya. Kalau tidak, maka Rika akan merasa sakit hati dan tidak tenang." Berkata dengan inotasi normal setelah ia berhasil meredakan kemarahannya.


"Panggil Selvy ke ruanganku sekarang juga!"


Asra mengangguk dan bergegas berjalan keluar ruangan yang ditempati oleh Angga.


Angga kembali membuka handphonenya. Ia kembali melihat berita yang membuat darahnya mendidih dan naik ke ubun-ubun. Bagaimana tidak, di berita itu mereka mengatakan kalau 'Rika adalah pelampiasan Angga karena gagal menikah dengan Helena, bahkan sampai hamil'. Tapi disana mereka masih tidak mengetahui identitas Rika yang sebenarnya.

__ADS_1


Dan Angga yakin kalau mereka pasti akan memburunya, menambah pundi-pundi rupiah mereka.


Hampir saja ia membanting handphonenya kalau saja dering telponnya tidak berbunyi menginterupsinyaz. Ia merasakan laju detak jantungnya yang menggila saat nama Rika terpampang disana. Apakah istrinya sudah mengetahui berita tersebut.


Dengan tangan yang dibaluti keringat dingin Angga menekan tombol hijau disana.


"Sayang, kamu lagi dimana?" Terdengar pertanyaan dari Rika.


Fiuh... akhirnya Angga bisa bernapas lega karena bukan mengenai berita tersebut yang pertama kali ditanyakannya.


"Lagi di kantor sayang," tersenyum sambil mengetuk-ngetukkan pulpen keatas meja.


"Memangnya kenapa? Apa sudah merindukanku?" Goda Angga lagi. Ia terkekeh setelahnya. Pastilah wajah Rika sekarang sedang mayun dan minta di cium.


"Iya. Dedeknya yang merindukan papanya." Terdengar suara malu-malu dari seberang sana.


Angga kembali terkekeh senang mendengarnya. "Hanya dedek sajakah yang kangen sama papanya? Apa mamanya tidak kangeennn." Angga kembali menggoda istrinya.


Ada perasaan senang tidak terkira saat ia mendengat suara Rika yang hangat dan ceria. Kenapa tidak sejak dulu ia memberikan cintanya untuk Rika saja.


"Mamanya juga kangenn pada papanya." Kembali terdengar suara lirih Rika yang malu-malu. Angga kembali terkekeh dan merasa gemas dibuatnya.


"Sayang, belikan aku kepala ikan patin dan juga kepala ikan tongkol," rengekan manja Rika menggelitik gendang telinga Angga. Rupanya istrinya kembali mengidam tentang makanan. Ia bernapas lega setelahnya.


"Hanya itu? Pasti akan aku belikan yang banyak," sahut Angga.


"Iya, sayang." Angga mengakhiri panggilannya dan memberikan kecupan diakhir. Ia mematikan handphonenya dan menatap kedepan.


Angga tidak menyadari kalau sejak tadi Selvy sudah berdiri dihadapannya. Wanita itu terlihat gugup saat kedapatan tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.


"Kamu chancel ulang jadwalku. Kosongkan jadwalku hari ini dan besok. Atur ulang!" Angga mengusir Selvy dengan tangannya. Ia berdiri dan bergegas meraih kunci mobilnya. Ia harus menemukan ikan yang dicari oleh istrinya tersebut.


***


Angga bergidik ngeri saat sopir pribadinya membawanya kepasar tradisional yang keadaannya terlihat jorok walaupun tidak becek. Rasanya ia tidak ingin berjalan kearah penjual ikan yang tentu saja tercium aroma anyir dan penuh lalat. Kenapa juga Rika memintanya membeli di pasar tradisional, bukannya di supermarket.


"Kamu saja yang membelinya. Aku akan menunggu di dalam mobil saja." Angga menyerahkan sejumlah uang yang banyak kearah sopirnya.


Baru saja sopirnya ingin turun, handphone milik Angga kembali berdering. Rupanya Rika yang kembali menelponnya.


"Sayang, ada apa?" Angga bertanya dengan lembut.


"Tidak mau pilihan orang lain dalam memilih kepalanya. Harus papanya." Rengek Rika lagi.

__ADS_1


Angga mendesah pasrah. Dan menyetujui untuk membelinya setelah ia mematikan panggilannya.


Dengan perasaan campur aduk, Angga berjalan menghampiri penjual ikan yang kumisnya terlihat tebal. Lelaki itu kelihatannya tidak cocok sebagai penjual ikan namun lebih cocok sebagai bodyguard.


"Mas, ikannya mas. Masih segar dan besar-besar." Menawarkan pada Angga yang menatap ikan patin yang klepek-klepek didalam air. Bahkan airnya sampai muncrat mengenai wajah dan pakaiannya. Tercium aroma anyir yang sangat pekat.


"Beli semua kepala ikan patinnya, Mang." Tunjuk Angga pada ikan patin yang sangat banyak. Bahkan kalau di timbang bisa mencapai 10 kg.


"Kepalanya saja, mas?" Ulang penjual menatap tidak percaya kearah Angga. Ia melongo sesaat dan memperhatikan penampilan lelaki yang ada dihadapannya.


"Iya. Kepalanya saja!" Angga melirik kearah sopirnya yang berdiri sedikit di belakangnya.


"Ma'af, mas. Kepalanya dijual beserta badannya. Kasian ikannya kalau diambil kepalanya, dia akan buntung dan mati."


Angga menggaruk tengkuknya, ia merasa malu dengan ucapannya barusan. Ia tidak tahu kalau membeli ikan tidak boleh kepalanya saja sesuai dengan permintaan istrinya.


"Bagaimana Mang, istri saya hanya ingin kepalanya saja," kembali menatap kearah penjual ikan tersebut.


"Istrinya lagi ngidam ya, Mas. Permintaan orang hamil memang aneh-aneh tapi harus dikabulkan. Kalau tidak maka anaknya nanti ileran," ucap penjual ikan.


"Aku bukannya menakut-nakuti loh mas." Kembali bersuara setelah melihat Angga yang terdiam.


"Ya sudah. Timbang semua ikan itu dan kirimkan ke alamat ini!" Angga meraih kertas dan pulpen yang di berikan oleh sopirnya. Ia tidak mungkin membawa ikan sebanyak itu di mobilnya, tidak akan muat.


Sedangkan penjual ikan tersebut kembali melongo atas perintah Angga untuk menimbang semua ikannya. Ini bukan jumlah yang sedikit menurutnya. Bahkan bisa membuat makanan untuk jatah yasinan istrinya.


"Apa tidak kebanyakan, mas?" Kembali bersuara sambil meraih kertas yang di serahkan oleh Angga.


"Timbang saja dan antarkan segera ke alamat itu. Urusan uang, akan aku selesaikan bayaran di muka." Angga meraih dompetnya yang tidak begitu tebal. Namun banyak kartu kredit yang ada disana.


"Jangan lupa, timbangkan juga semua ikan tongkol itu untukku."


Penjual ikan tersebut hanya mengangguk dan ia terlihat sangat senang dan sumringah.


"Berapa semuanya?"


"Rp 600 ribu, Mas. Memangnya ini alamat restoran ya?" tanya penjual ikan tersebut sambil memperhatikan alamat tersebut dengan seksama.


"Bukan. Itu alamat rumahku. Sudah kubilang kalau istriku sedang ngidam ingin makan kepala ikan." Angga terlihat kesal karena penjual ikan tersebut kebanyakan bicara. Rasanya telinganya mau putus saja.


"Oh ma'af mas, saya lupa. Saya pikir kalau istri Mas adalah pemilik dan pengelola restoran." Penjual ikan merasa tidak nyaman. Seharusnya ia senang bukannya banyak tanya seperti itu.


"Tapi apakah tidak kebanyakan?" terlihat ragu untuk mengucapkannya, terlebih lagi, wajah Angga terlihat tidak terlalu baik.

__ADS_1


"Tidak!" Angga berusaha untuk bersikap ramah setelah mengingat calon anaknya lah yang ingin memakannya. Ia menormalkan emosinya.


Setelah Angga membayar harga ikan beserta dengan upahnya, Angga segera meninggalkan pasar ikan tersebut. Ia ingin cepat pulang dan segera mandi. Rasanya ia seperti ikan duyung saja dengan aroma anyir di sekelilingnya.


__ADS_2