Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Pertahanan


__ADS_3

"Sayang, kenapa kamu melamun disini hemm?"


Daffa menghampiri Azza yang duduk termenung di kolam ikan yang ada di samping kediaman Angga. Menatap ikan yang berenang hilir mudik.


"Tidak. Aku hanya menatap ikan-ikan ini saja," sahut Azza. Merubah raut wajahnya menjadi tersenyum.


"Apakah ikan itu lebih menarik dari diriku?" Merangkul Azza dan mencium pelipisnya.


Azza menunduk malu menahan panas di wajahnya.


"Bagaimana kalau kita ke kamar saja!" pinta Daffa.


Azza semakin menunduk dalam, menahan malu dan debaran dadanya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kalau ia mengiyakan permintaan Daffa.


"Baiklah kalau kamu tidak menjawab, jangan salahkan aku kalau kamu aku gendong!"


Daffa langsung meraih tubuh Azza dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Ck ck ck masih sore juga sudah main gendong-gendongan. Ini belum malam Daffa!" ucap Daffi saat Daffa melewati mereka di ruang keluarga.


"Kamu tenang saja. Kecerewetanmu akan kalah nantinya dengan keponakanmu!" sahut Daffa masih meneruskan langkahnya.


Sedangkan Azza menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, ia begitu malu karena sikap Daffa padanya.


"Iya, bikin yang banyak keponakan untukku!" teriak Daffi.


"Memangnya anak ayam!" gerutu Daffa. Ia tidak menghiraukan Daffi lagi dan meneruskan langkahnya menuju kearah kamarnya.


Membukanya dengan perlahan dan meletakkan Azza dengan lembut diatas tempat tidur.


"Sayang. Jangan terus menunduk dong!"


Azza melirik sesaat kearah Daffa, ia kembali menunduk.


"Aku malu Daff!" sahut Azza.


"Tidak apa-apa. Tidak perlu malu, semuanya sudah pernah aku lihat dan aku jamah!" sahut Daffa berbisik.


Azza langsung melotot menatap kearah Daffa.


"Bukan itu..., maksudku adalah...."


"Aku tau kamu malu soal itu tetapi itu hal yang biasa sayang!" Daffa meraih bibir Azza dan menciumnya lembut.


Mereka kembali mengelilingi pulau impian bersama.


***


Drt drt drt


Daffa meraih handphone yang ada di nakasnya, mengangkat panggilan dari Zainal.


Matanya menatap sesaat kearah Azza yang tampak tertidur pulas. Wanita itu terlihat sangat kelelahan setelah melayani nafsu Daffa yang luar biasa.


"Ma'afkan aku karena selalu membuatmu kelelahan akhir-akhir ini. Tapi aku akan tetap selalu begitu karena kamu segalanya untukku sekarang!" Daffa mengecup dahi Azza singkat.


Berjalan kearah gorden kamar dan membuka tirainya.


"Ada apa Zai kamu menelponku?"


Zainal tampak mendesah.


"Apa kamu sangat sibuk sehingga begitu lama baru mengangkat telponku?"


Daffa terkekeh, matanya kembali menatap kearah Azza.


"Tentu saja aku sangat sibuk, Daffi memesan banyak keponakan padaku. Tidak mungkin aku bisa menolaknya!"


"Sepertinya kalian perlu berbulan madu, Daff!" sahut Zainal.


"Iya. Kamu benar. Tapi aku akan mengurus beberapa masalah terlebih dahulu baru akan melakukan perjalanan bulan madu!"


"Nanti aku akan mengagendakannya untukmu. Tetapi aku menelponmu bukan membicarakan soal itu," ucap Zainal.


"Soal apa?" tanya Daffa.


"Alfa ingin bertemu denganmu malam ini dan tempatnya sudah di tentukan olehnya. Apakah kamu bisa menemuinya kalau melihat dari kesibukanmu?" Zainal terkekeh.


"Tentu saja aku akan menemuinya."


"Baiklah kalau begitu, nanti aku akan menjemputmu jam 7 malam!"


Daffa mematikan telponnya dan kembali berjalan kearah Azza yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


Ia menatap wajah Azza dengan intens. Tangannya bergerak membelai kepala Azza, kemudian beralih ke hidungnya dan juga bibirnya.


"Kamu sangat cantik dan manis dengan keadaan seperti ini," gumam Daffa sembari terkekeh.


Ia menunduk dan menghujami kecupan di seluruh wajah Azza. Menggodanya dengan belaian tangannya yang bergerilya kesana-kemari. Mencoba membangunkan Azza untuk kembali mengulang meminum madunya.


Azza membuka matanya dengan perlahan, ia merasakan kalau bibirnya sedang di cium oleh Daffa.


"Sayang, kita lakukan sekali lagi!" pinta Daffa dengan parau.


Azza melotot tetapi ia hanya mengangguk samar setelah Daffa sudah memasuki dirinya terlebih dahulu. Ia juga merasakan gelenyar aneh setiap kali Daffa menyentuhnya.


Mereka kembali melakukan hal yang selalu di lakukan oleh suami istri pada semestinya.


***


"Kenapa baru turun?" tanya Daffi saat Daffa dan Azza berjalan di tangga.


"Itu, Zainal sudah menunggumu hampir 1 jam lamanya!" tambah Daffi lagi.


"Bukankah kamu sedang memesan banyak keponakan padaku. Jadi wajar saja Daffi kalau aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar dan berlama-lama di sana," sahut Daffa.


"Iya. Yang lagi sayang-sayangnya!" goda Daffi.


"Terus saja erami telur-telurmu itu, mungkin saja pecahnya ada 4 atau 5," tambah Daffi.


Daffa menatap horor kearah Daffi yang terkekeh setelahnya.


"Menikah dong Daffi biar kamu tahu bagaimana rasanya mengisi telur-telur kosong itu!"


Daffi hanya menaikkan alisnya saja.


"Aku berangkat dulu ya, sayang!" Daffa meraih kepala Azza dan mengecup dahinya sekilas.


Azza mengangguk.


"Sebaiknya kalian makan malam saja tanpa menunggu diriku. Sepertinya aku akan makan malam di luar!"


"Dan kamu. Tunggu aku di dalam kamar saja selepas makan!" bisik Daffa di telinga istrinya.


Azza tersipu malu, ia menunduk sesaat.


Daffa segera berangkat menuju kearah tempat pertemuan ia dan Alfa.


Zainal terkekeh.


"Tenang saja. Kita bertemu dengannya jam 8 malam. Hanya aku yang mengatakan padamu jam 7 malam."


Daffa berdecak kesal.


"Aku tahu kalau kamu akan sangat sulit keluar kamar kalau sudah menempel dengan istrimu, makanya aku mendesakmu terlebih dahulu," Zainal terkekeh.


"Lupakan saja masalah itu. Dan ada apa dengan Alfa hingga ia memintaku untuk menemuinya?" tanya Daffa.


"Aku juga kurang tahu. Tetapi menurutku ini berkenaan dengan masalah Anggia."


Daffa hanya mengangguk saja. Matanya beralih menatap jalanan malam.


"Besok kamu belikan buat Azza handphone terbaru. Aku sulit menghubunginya karena dia tidak punya handphone sama sekali."


"Bukankah itu bagus Daff kalau dia tidak punya handphone, kamu bisa langsung bertemu dengannya tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Yah... semacam kejutan."


"Kamu tidak tahu saja, aku terkadang juga merindukan suaranya. Tidak mungkin kan dia setiap saat harus berada disisiku terus dan menempel padaku layaknya baju."


"Apakah kamu sangat mencintainya?" tanya Zainal.


"Aku rasa aku sudah mencintainya sejak awal. Walaupun orang bilang melupakan cinta pertama itu sulit. Tapi bagiku, melupakan Anggia sangatlah mudah. Karena perlakuannya padaku, sebab itu juga rasa cintaku lekas lenyap."


"Itu kabar yang sangat bagus. Aku harap cintamu tidak bertepuk sebelah tangan lagi," sahut Zainal.


Daffa terdiam mendengarnya. Pikirannya kembali berkelana pada Azza. Apakah wanita itu sudah mulai menyukainya ataukah ia masih menyimpan rasa benci pada Daffa.


"Jangan di pikirkan Daff, kamu harus memastikan perasaannya padamu. Kalaupun dia menolakmu maka usahamu harus maksimal untuk mendapatkan hatinya."


Zainal melirik kearah Daffa yang termenung.


"Iya. Kamu benar. Selama ini aku tidak pernah tahu perasaannya padaku. Aku hanya menyatakan perasaanku sendiri. Sementara perasaan dirinya, aku tidak tahu sama sekali."


"Kamu harus bisa membuktikan padanya bahwa kamu benar-benar mencintainya dan menginginkan dia bertahan disisimu."


Zainal membukakan pintu mobil untuk Daffa setibanya mereka di tempat yang sudah di janjikan.


Alfa melambai saat Daffa memasuki restoran. Matanya tidak pernah lepas dari langkah Daffa yang menghampirinya.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu?" tanya Alfa sembari menyodorkan tangannya.


"Baik. Bagaimana dengan dirimu?" balas Daffa menyambut uluran tangan Alfa.


"Seperti yang kamu lihat, aku selalu terlihat baik."


Daffa tersenyum kemudian duduk di hadapan Alfa.


"Kamu memang baik di luar tetapi berantakan di dalam. Sebaiknya kamu benahi dirimu terlebih dahulu!" sahut Daffa.


Alfa terkekeh mendengarnya.


"Kamu memang pintar membaca situasi. Tetapi kamu tidak pintar dalam menganalisa sesuatu."


"Yah, semua itu terjadi karena aku sangat mempercayai dirinya. Tapi kamu tenang saja, beberapa hari kemudian surat cerai kami akan segera terbit."


"Apakah ini kabar baik untukku ataukah kabar buruk untukmu?"


Daffa terkekeh mendengarnya.


"Tentu saja ini kabar baik untuk kita berdua. Aku bahagia setelah melepas Anggia dan kamu bahagia setelah mendapatkan dirinya. Adil bukan?" sahut Daffa.


"Bagaimana dengan hatimu? Apakah kamu ikhlas menerima semua ini?"


Daffa kembali terkekeh mendengar pertanyaan Alfa yang meragukan dirinya.


"Aku akan katakan satu hal padamu. Dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya sekali lagi," Daffa menarik napas.


"Sebenarnya aku juga sudah menikah dengan seorang gadis, dia gadis yang sederhana. Dan sekarang aku sudah mulai mencintainya."


Alfa terkejut mendengarnya.


"Secepat itu kamu berputar haluan?" melongo, menatap tidak percaya pada Daffa.


"Kamu sedang tidak bercandakan? Bagaimana mungkin perasaanmu bisa berpaling secepat itu padahal aku sangat tahu perasaanmu pada Anggia." Alfa menarik napasnya, menatap intens Daffa.


"Apa yang tidak mungkin?" Daffa menghela napas.


"Kau tentu tahu, kalau orang yang sangat kita cintai tega mengkhianati kita sampai tahap level yang dalam. Perasaan cinta itu akan sirna, lenyap. Dan beruntungnya aku mampu menahan egoku agar tidak membenci kalian berdua."


Alfa berdehem sesaat. Ia merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini.


"Ma'afkan aku karena sudah menjadi aral rintangan dalam rumah tangga kalian berdua."


"Itu tidak masalah. Lupakan saja karena sekarang kita punya tujuan dan hidup masing-masing bersama orang yang kita cintai," ucap Daffa enteng.


"Itu benar!" sahut Alfa.


"Dan bolehkah aku tahu bagaimana tanggapan Anggia saat dia tahu kamu menikah lagi?" tanya Alfa.


"Tidak ada yang membuatnya cemburu karena sejak awal dia memang tidak mencintai diriku. Hanya aku yang egois karean setiap perhatian dan cintaku harus terbalas."


"Dan kini aku sadar kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan. Tetapi aku bisa berjuang untuk mendapatkan hatinya." Daffa menerawang pada Azza yang saat ini sedang berada di rumahnya.


"Semoga saja dia juga bisa membalas cintamu. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi pada kalian tetapi aku berharap kamu juga mendapatkan cintamu seperti yang kamu harapkan."


Daffa mengangguk.


"Aku penasaran dengan wanita yang mampu membuatmu berpaling dengan mudahnya. Bahkan ia mampu mematahkan perasaanmu pada Anggia."


Daffa terkekeh mendengarnya.


"Aku tidak akan melepaskannya lagi untukmu. Cukup Anggia saja yang kuberikan padamu, tidak dengan dia."


Alfa terkekeh mendengarnya.


"Leluconmu terdengar sangat lucu!" sahutnya.


"Aku hanya waspada saja siapa tahu kamu ingin kembali merebutnya dariku!"


Alfa kembali terkekeh.


"Itu tidak akan terjadi setelah aku memiliki Anggia sepenuhnya. Lagipula kami juga sudah hampir memiliki anak bersama."


Daffa mengangguk. Dan mereka mengakhiri pembicaraan mereka dan kembali mengisinya dengan urusan bisnis dan kerjasama yang sedang mereka jalin.





******

__ADS_1


__ADS_2