
Anggia melepaskan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan baginya. Bahkan hari yang sebenarnya sangat tidak di inginkan olehnya.
Bagaimanapun ia hanya terpaksa saja menikah dengan Daffa demi sebuah dendam ibunya yang harus terbalaskan. Dan demi rencana untuk merebut perusahaan 'Galuh Sari' milik Angga.
Pintu hotel yang ditempatinya tampak terbuka. Anggia berpaling dan mendapati Daffa yang memasuki kamar hotel tersebut.
Senyumnya mengembang menatap kedatangan lelaki yang mulai detik ini akan selalu berada di sampingnya.
"Sayang, aku bantu kamu melepaskan gaunmu," ucap Daffa sambil berjalan mendekat kearah Anggia.
Anggia mengangguk dengan senyum manisnya. Ia bergerak membelakangi Daffa.
Dengan gerakan lembut, Daffa menurunkan resleting gaun yang melekat di tubuh Anggia hingga menampakkan punggung mulus Anggia.
Ia meneguk ludahnya kasar, tanpa sadar tangan tel*njangnya sudah menelusuri punggung mulus istrinya. Membuat Anggia bergerak gelisah setelahnya.
"Umm sayang, sebaiknya kamu mandi dulu sebelum kita memulai ritual malam pertama kita." Anggia berbalik dan mengerling kearah Daffa.
"Baiklah. Sebaiknya kamu yang mandi terlebih dahulu. Karena aku masih ada keperluan dengan asistenku selama 15 menit," jawab Daffa terkekeh. Ia meraih kepala Anggia dan mencium keningnya sesaat.
Dengan langkah lebar Daffa segera keluar kamar hotelnya menghampiri Zainal yang sudah menunggunya sejak 5 menit yang lalu.
Sedangkan Anggia segera bergegas masuk kedalam kamar mandi. Bukannya mandi, ia justru bolak-balik dengan perasaan gelisah.
Tidak mungkin ia mau menyerahkan keperawanannya pada lelaki yang jelas-jelas di bencinya seumur hidupnya.
"Aku harus apa!?" Anggia berteriak frustasi sambil menggigit kuku telunjuknya. Ia msih belum mengguyur badannya dengan air.
Senyumnya mengembang saat ia mendapati sebuah ide yang muncul di benaknya. Bergegas ia berendam di bathub setelah air hangat di sediakan olehnya.
Setelah 15 menit kemudian, ia keluar dengan menggunakan pakaian tidur lengkap miliknya. Tidak ada lingeria baginya di malam pertama mereka karena malam pertama baginya hanyalah petaka.
"Sayang, kamu sudah selesai?" Daffa menatap Anggia tanpa berkedip sedikitpun saat Anggia keluar dari kamar mandi. Ia sudah tidak sabar lagi untuk mereguk madu yang sudah di siapkan oleh istrinya tersebut.
"Mandilah. Aku akan menunggumu disini!" sahut Anggia sambil ia meraih hairdrayer yang ada di sana.
Daffa mengangguk dengan cepat. Ia bergegas berlari kearah kamar mandi. Bahkan ia mandi dengan cepat hingga menimbulakn kernyitan didahi Anggia.
"Kamu mandi secepat itu sayang?" tanya Anggia sambil matanya memindai Daffa dari ujung kepala hingga keujung kaki.
"Kenapa? Apa aku terlihat jorok dengan mandi cepat?" sahut Daffa sambil sesekali membaui tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Aku sudah wangi sayang!" ucap Daffa lagi sambil berjalan cepat menghampiri Anggia yang sedang berada di atas ranjang.
Bahkan Daffa sudah melupakan keadaan tubuhnya yang hanya di baluti handuk kecil di pinggangnya. Gerakan cepatnya membuat Daffa hampir terpeleset kedepan tapi ia mampu menahannya.
Rasa gengsinya membuatnya pura-pura kuat didepan istrinya, padahal kaki kirinya terasa pegal karena tendangan kakinya yang sebelah kanan.
"Sayang!!" teriak Anggia sambil menutupi kedua belah matanya. Ia berpaling menatap kekanan dan membelakangi Daffa.
Daffa terpaku melihat respon istrinya. Sampai sebegitu malunya kah dia hingga menutup wajahnya melihat dirinya yang bertelanjang dada. Ia masih berjalan mendekat kearah tanjang.
"Sayang. Tutup dulu burungmu!" teriak Anggia saat ia masih mendengar langkah suaminya yang semakin mendekat.
Daffa menghentikan langkahnya. Ia menunduk dan menatap kearah bawah. Kearah yang dimaksud oleh istrinya. Matanya seketika langsung melotot menatap horor saat mendapati miliknya tanpa tertutupi sehelai benang pun. Bahkan burungnya tampak berdiri tegak dan tersenyum kearahnya. Seolah meledek kebodohannya.
Daffa memalingkan kepalanya dan menatap handuk yang tampak teronggok di lantai. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Karena terlalu percaya diri, pada akhirnya ia terlihat lebih murahan di mata istrinya.
Dengan cepat ia berlari dan meraih handuk tersebut. Menatap kearah Anggia dengan perasaan campur aduk.
Apakah istrinya takut setelah melihat barang miliknya karena sejak tadi wanita itu masih menutupi wajahnya dengan tangannya.
"Sayang. Jangan tutupi wajahmu. Semua ini juga akan kamu nikmati sebentar lagi," ucap Daffa menggoda saat ia sudah berada disamping Anggia.
"Apa kamu sudah menutupinya?" Anggia masih tidak ingin membuka tangannya.
Ia meraih tangan istrinya dan memeluknya dengan erat.
"Tenang saja. Kita tidak akan melakukannya malam ini kalau kamu masih takut."
Melerai pelukannya sambil menatap wajah istrinya dengan intens. Dengan perlahan Daffa mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Ia mmejamkan matanya, saat hidumg mereka hampir bersentuhan, Anggia menghentikan semuanya.
"Sayang. Aku sudah siap kok malam ini sebagai malam pertama kita. Tapi kamu harus minum dulu jamu buatanku ini!"
Anggia meraih secangkur jamu yang ada di nakas samping ranjang yang mereka tempati.
"Jamu apa ini?" tanya Angga mengernyitkan dahinya.
Anggia tersenyum malu-malu, pipinya tampak merona bahkan ia menundukkan kepalanya serta memilin ujung bajunya.
"Apa aku harus meminumnya?" Daffa kembali menatap Anggia setelah ia membaui jamu tersebut.
"Tentu saja sayang, itu jamu kuat khusus untuk pria," sahut Anggia masih menudukkan kepalanya.
__ADS_1
Daffa terkekeh senang mendengarnya. Rupanya istrinya begitu siap menghadapi malam pertama mereka sehingga ia sudah menyiapkan semuanya dengan baik.
Dengan gerakan cepat ia meneguk minuman tersebut, walaupun rasanya pahut dan sangat tidak enak. Ia tidak ingin membuat istrinya kecewa malam ini.
Sedangkan Anggia tampak meringis melihat Daffa yang meneguk sekaligus minuman tersebut. Senyumnya mengembang saat melihat Daffa yang menghabiskan minuman tersebut hingga tidak tertinggal setetes pun.
"Kita lihat seberapa lama dirimu bertahan," gumam Anggia didalam hatinya sambil mengukir senyum manisnya. Ia menyambut gelas yang diserahkan oleh Daffa padanya.
Ia menerima uluran tangan Daffa saat Daffa meraih tubuhnya, kembali mendekatkan wajahnya kearah Anggia, tetapi Anggia sudah mengajaknya berbaring terlebih dahulu.
Tepat dugaannya, hanya dalam hitungan detik saja Daffa sudah tertidur pulas karenanya.
Bukan jamu kuat yang di maksud olehnya tapi hanya obat tidur yang sengaja di raciknya dengan minuman lainnya sehingga tidak memicu bau yang mencurigakan.
Anggia bisa bernapas dengan lega setelah ia berhasil menidurkan singa yang sudah bangun. Tangannya bergerak meraih handphone yang ada di nakas samping ranjangnya. Menelpon seseorang yang selama ini selalu membantunya.
Setelah 5 menit berlalu. Ketokan pintu terdengar dari luar. Bergegas Anggia berjalan kearah pintu dan membukanya. Ia menatap lelaki yang berdiri tepat di depannya. Matanya mengedar menatap sekelilingnya, mungkin saja ada orang lain yang sedang melihat mereka.
Aman.
Dengan cepat ia menarik tangan Alfa, lelaki yang selama ini selalu membantu kesulitannya dan orang yang juga di anggapnya sebagai kekasihnya.
"Apa semuanya aman sayang?" Alfa mengintip kearah ranjang. Menatap keberadaan Daffa yang tertidur pulas pada tempatnya.
"Tentu saja aman sayang. Obat yang kamu berikan padaku ternyata sangat ampuh bahkan membuatnya cepat tertidur."
Alfa mengangguk senang. "Tentu saja. Aku tidak rela kekasih yang aku sayangi harus menghabiskan malam pertamanya dengan lelaki yang tidak disukainya."
"Siapapun pasti bermimpi pada malam pertamanya ingin berakhir bahagia bersama dengan orang yang di cintainya. Dan tidak mungkin aku mau menyerahkan keperawananku pada lelaki yang sebenarnya aku benci," sahut Anggia.
"Aku mengerti sayang dengan keadaanmu. Kamu tenang saja, aku akan selalu berada disisimu," sahutnya lagi.
"Ayo kita lakukan seperti rencana kita kemarin."
Alfa mengangguk sambil menuntun tangan kekasihnya menuju kearah ranjang yang terdapat Daffa yang tertidur pulas diatasnya.
•
•
•
__ADS_1
*****