
Kini pria yang sudah memberikan beberapa tusukan di perut Adrian sudah di tangkap dan di tangani langsung oleh Rio dan juga Nadi. Pria tersebut di bawah ke mension hutan, dan di berikan pelajaran yang bisa membuat pria itu sadar, jika apa yang di lakukan itu salah, dan juga yang ia lukai itu bukan sama sekali tandingannya.
BUKKKHHHH, BUKKKKHHH,,, BUKKKHHHH..
Pukulan demi pukulan di berikan oleh Rio, hingga membuat wajah Rangga kini sudah tak terbentuk lagi. Ya, Rangga adalah pelaku utama yang membuat Adrian hingga sampai saat ini belum sadarkan diri. Dan jangan tanya mengapa ia melakukan hal demikian, karena jawabannya adalah jika dia tidak bisa memiliki Afika maka pria lain pun juga tidak boleh memiliki Afika termaksud Adrian. Dan itu lah sebabnya Rangga nekat melukai Adrian, agar Adrian tidak bisa memiliki Afika.
Kini Rangga terbaring lemas, dengan kedua tangan dan kaki yang terikat. Namun, Rio sama sekali tidak memberikan ampun mengingat apa yang Rangga lakukan pada tuannya.
Lagi, BUKHHHHH.. ,BUKHHHHHH, BUKKKHHHH..
Rio menendang tubuh Rangga, menginjak tubuh Rangga sehingga Rangga batuk dan mengeluarkan darah lalu kemudian Rangga tidak sadarkan diri.
"Nadi." Panggil Rio. "Siram air tubuhnya agar dia sadar.' Titah Rio dan Nadi pun langsung mengguyur tubuh Rangga dengan air sehingga Rangga kembali tersadar.
"Ini baru seberapa Rangga. Aku pastikan kau akan bersujud memohon kematian padaku." Ucap Rio sambil mencengkram kera baju Rangga. Tentu saja Rio akan memberikan pelajaran yang setimpal pada Rangga. Dan Rio pun bahkan sudah berniat untuk membunuh Rangga, hanya saja Rio tidak ingin kematian Rangga menjadi muda. Rio ingin menyiksa Rangga secara perlahan agar Rangga senditi memohon untuk cepat di bunuh. Rangga harus menyadari apa yang ia lakukan adalah kesalahan yang amat fatal. Karena berurusan dengan Adrian sama saja dengan suka rela menawarkan nyawa.
"Membusuklah sampai dewa maut datang membawa mu." Kini Rio menghempaskan tubuh Rangga, lalu berdiri dan keluar dari ruangan di mana Rangga di sekap.
Sedangkan Nadi, ia tersenyum dengan puas melihat Rangga yang saat ini menderita.
BUKKKHHH....
__ADS_1
Satu tendangan Nadi mendarat di perut Rangga. "Itu untuk tuan Adrian."
BUKKKHHH... "Itu untuk tuan muda Lion."
Dan BUKKKHHHHHH, BUKKKHHH, BUKKKHH. "Itu untuk nyonya Afika, sahabatku."
Setelah puas memberikan tendangan maut pada Rangga, kini Nadi pun keluar dan langsung mengunci pintu dengan rapat. Agar di pastikan Rangga tidak bisa bebas dari ruangan tersebut.
•••••
Lima bulan berlalu.
Rumah sakit di atur sedemikian rupa, di buat menjadi sangat nyaman. Dan bahkan satu lorong penuh telah di bayar oleh Rio, dan juga di sterilkan agar tuan muda Lion bisa datang melihat daddy nya yang saat ini sedang terbaring koma.
Tidak mendapat jawaban dari Adrian, kini Afika membawa Lion ke dalam box bayi, meletakkan Lion di dalam sana. Lalu Afika kembali duduk di samping brangkar Adrian dan menggenggam kedua tangan Adrian.
"Sadarlah. Jujur, aku tidak sanggup jika harus membesarkan Lion seorang diri. Lion butuh kamu Adrian. Lion butuh daddy yang bisa di andalkan. Aku tidak bisa dan tidak sanggup Adrian. Sadarlah, ayo panggil aku sayang. Aku janji tidak akan marah, ayo Adrian panggil aku sayang, sadarlah."
Afika kembali menitihkan air matanya, karena hingga sampai detik ini Adrian belum sadarkan diri..
"Jika memang kau mencintaiku, harusnya kau bisa membuktikannya Adrian, ayo buktikan, sadarlah dan katakan jika kau mencintaiku. Ayolah Adrian."
__ADS_1
Kini Afika mengusap air matanya dan mengatur nafasnya.
"Kau tahu, aku sudah lelah Adrian. Aku capek, harus melihatmu terus terbaring. Kau jahat Adrian, dari awal sampai sekarang kau jahat. Kau membiarkan aku mengurus Lion seorang diri, sedangkan kau! Kau malah keenakan tidur. Kau egois Adrian, kau tidak mencintaiku. Kau hanya mencintai dirimu sendiri. Baiklah, jika itu mau mu Adrian, tidurlah. Tidurlah dengan sangat nyenyak. Biarkan aku menderita menguru Lion seorang diri. Tidurlah Adrian, tapi jangan salahkan aku jika kau bangun, aku dan Lion sudah tidak ada di sisimu lagi. Tidurlah... Tidurlah sesuka mu Adrian, sampai kau puas."
Afika meluapkan semua emosinya, dengan memukul lengan Adrian.
"Aku pergi Adrian. Dan jangan harap aku akan memaafkan mu lagi. Sudah cukup kesempatan yang aku berikan padamu. Tapi apa? Kau justru menikmati tidurmu. Aku pergi." Ucap Afika, dengan sangat menyayat hati. Walau bibir berkata demikian tapi hatinya tentu tidak.
Saat Afika berdiri dan hendak pergi, tiba-tiba jari jemari Adrian bergerak, dan spontan Afika kembali duduk.
"Hanya itu? Hanya gerakan jari? Ayo sadar Adrian. Sadarlah, dan katakan padaku jika kau mencintaiku. Ayo sadarlah." Namun, jari yang semula bergerak kini kembali seperti semula.
"Percuka berbicara padamu Adrian, kau egois. Hanya memikirkan dirimu saja. Tidurlah sesukamu."
Kini Afika berdiri dan melihat Lion yang saat ini berada di box bayi, dengan mata yang terbuka lebar dan senyum yang mengembang di wajah. "Ayo sayang kita pergi. Daddy mu tidak membutuhkan kita, dia lebih nyaman dengan tidurnya." Kata Afika lalu menggendong Lion.
Langkah kaki Afika terhenti tepat di depan pintu saat mendegar suara yang begitu sangat ia rindukan selama beberapa bulan ini.
"Aku mencintaimu Afika, hari ini dan selamanya." Ucap Adrian dan mampu membuat Afika menitihkan air matanya. "Jangan pergi, jangan pernah tinggalkan aku sendiri. Aku menyayangi kalian berdua."
...TAMAT...
__ADS_1
Terima kasih untuk semua reader setia yang sudah sabar menunggu part demi part dari novel MKD ini.
Love-love untuk kalian semua🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘