
"Aku lihat akhir-akhir ini kamu sangat berbeda Daffian, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Daffa meraih segelas kopi yang ada dihadapannya.
"Tidak ada yang kupikirkan. Itu hanya perasaanmu saja."
Daffian terkekeh mendengarnya dengan kekehan yang justru terdengar menyedihkan di telinga Daffa.
"Kamu tidak dapat membohongiku, kita terikat secara batin. Kita juga selalu bersama sejak dalam kandungan bahkan kita juga menopang di satu ari-ari yang sama."
Daffian menghela napas sejenak. Menatap Daffa yang tampak duduk tenang di hadapannya.
"Baiklah. Aku akan sedikit membaginya padamu karena kamu yang memintanya." Kembali mendesah.
"Aku merasa kalau dirinya sampai sekarang masih tidak mempercayaiku. Karena ia begitu rapat menyembunyikan masalahnya dariku. Padahal kenyataannya aku sudah tahu semuanya tetapi aku hanya berpura-pura tidak tahu saja, sekedar menguji kejujurannya. Dan tidak mungkin aku mengungkitnya terlebih dahulu, kalau dirinya tidak menceritakannya padaku. Itu sama saja aku terlalu ikut campur urusannya."
Daffa tampak menerawang kearah jendela menatap dedaunan yang tampak gelap di telan malam.
"Pasti yang kamu bicarakan ini mengenai Aina, bukan?"
Daffi tersenyum simpul. Senyum yang penuh dengan kesakitan.
"Iya. Masalah Aina yang ingin di jodohkan oleh Om Alvaro dengan lelaki lainnya. Aku mendengar semua pembicaraan mereka pagi itu."
"Dan kamu tidak mengungkitnya terlebih dahulu, dengan memancing Aina atau dengan berkata jujur bahwa kamu tidak sengaja mendengarnya."
Daffian menggeleng.
"Daffian, aku memang tidak tahu apa yang membuat papa mertua menjadikan hubungan kalian menjadi rumit. Tetapi aku dapat berkesimpulan bahwa kamu tidak cukup dewasa dalam pandangan mereka. Apalagi usia kalian yang terpaut jauh dari pasangan kebanyakan."
Deg.
Kata sensitif ini, haruskah di ucapkan sebagai bom waktu bagi Daffian. Tangannya tergenggam erat.
"Aku tidak sekekanakan yang kamu kira. Aku sudah dewasa. Dan apakah usia harus menjadi bahan pernyataan kalau seseorang bisa dikatakan dewasa atau tidaknya. Tidakkan?" Daffian tidak terima dan menatap kecewa saudaranya.
"Daffian. Dengar dulu. Bukan itu maksudku. Maksudku adalah sikapmu yang kekanakan setiap kali kamu bertemu dengan gadis lain. Kalian bahkan berdebat layaknya anak kecil. Dan orang-orang melihat kalian bersikap seperti itu, apakah itu tidak dikatakan kekanakan?"
Daffian terdiam mendengarnya. Ia tampak terlihat frustasi.
"Aku hanya melakukannya pada gadis itu, karena dia memiliki dendam padaku karena perbuatanmu dulu pada Azza."
"Hei. Gadis itu punya nama. Dan namanya adalah Febry," sahut Daffa santai.
"Dan aku tidak paham dengan ucapanmu barusan. Kamu mengatas namakan diriku untuk perdebatan kalian. Itu tidak benar Daffian." Daffa terkekeh.
__ADS_1
"Jangan terkekeh Daff, kamu mengejekku." Wajah Daffian memerah.
"Tidak Daffian. Kalian terlihat lucu dan menggemaskan. Bahkan sangat perhatian satu sama lainnya."
Daffian menyipitkan matanya.
"Aku tidak seperti itu. Tidak ada rasa ketertarikan diantara kami. Apalagi untuk saling memperhatikan," Daffian kembali mengelak.
"Aku tidak yakin," sahut Daffa.
"Apa yang membuatmu tidak yakin?" tanya Daffian. Daffa seolah menguji kesabaran Daffian.
"Orang yang telah jatuh cinta tanpa kamu sadari adalah orang yang sangat tahu kekurangan pasangannya. Nyatanya kamu selalu menyebut-nyebut kejelekan Febry, begitupun dengan gadis itu. Itu artinya kalau kalian saling mengenal lebih dari yang sebenarnya."
Daffa kembali terkekeh melihat ekspresi diam Daffian.
Daffian berdehem untuk menetralkan suasana yang terasa canggung baginya.
"Aku rasa pembicaraan kita cukup sampai disini saja. Karena tidak seharusnya kamu membicarakan orang lain dalam hubunganku bersama Aina."
Daffian berdiri dan ingin meninggalkan Daffa. Tetapi di cegat olehnya.
"Daffian. Ma'af kalau tadi aku berbicara sedikit melenceng. Tetapi harus kamu ketahui bahwa yang aku katakan itu adalah benar. Kamu tidak meyakini perasaanmu sendiri pada Aina sehingga kamu tidak berani untuk menanyakan kebenarannya."
"Apakah benar yang dikatakan oleh Daffa bahwa aku tidak mencintai Aina sedalam dugaanku selama ini sehingga aku hanya diam saja saat itu, padahal aku tahu persis masalah apa yang dia hadapi." Daffian membatin.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Menerawang kearah langit-langit kamar. Memikirkan Aina dengan segala masalah yang dihadapinya.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi buta Daffian sudah berdiri didepan pintu rumah Alvaro.
Tok tok tok
Hanya dalam hitungan detik, pintu tampak terbuka. Aina melongo melihat Daffian yang sudah berdiri dihadapannya dengan pakaian yang sangat rapi bahkan lebih awal dari hari sebelumnya.
"Daffian. Apa kamu sedang mengigau dan tidur sambil berjalan kesini hingga sepagi ini sudah mengetok pintu," menatap heran Daffian.
"Ai, aku sudah bangun sejak subuh tadi bahkan aku juga sudah mandi. Masihkah kamu mengatakan kalau aku sedang mengigau?"
Bohong yang dikatakan oleh Daffian, bahkan semalaman ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya karena teringat dengan masalah Aina dan juga kata-kata Daffa kemarin.
"Ya sudah. Kamu masuk dulu. Papa sedang duduk di ruang keluarga. Temani papa dulu. Aku mau siap-siap." Aina menatap jam yang menempel di dinding. Masih jam 5 pagi, apa yang harus di lakukannya seandainya berangkat sepagi ini di rumah sakit.
Aina membuka lebih lebar pintu rumahnya untuk mempersilahkan Daffian masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Pa, tolong temani Daffian dulu. Aku mau bersiap-siap dulu ke atas."
Alvaro menatap Daffian yang berdiri tidak jauh darinya dengan heran.
"Kemarilah. Duduklah di samping Om. Ada sesuatu yang ingin Om bicarakan denganmu."
Daffian mengangguk dan segera duduk berhadapan dengan Alvaro.
"Mengenai apa, Om?" tanya Daffian hati-hati.
"Mengenai hubunganmu dengan Aina."
Daffian meneguk ludahnya kasar. Entah aura darimana, yang jelas ia merasa kalau ruangan yang di tempatinya sekarang begitu dingin hingga beberapa bulir keringat bermunculan di jidatnya.
"Om tahu kalau kamu dan Aina sedang menjalin hubungan percintaan. Tetapi coba kamu lihat perbedaan usia yang jauh diantara kalian. Tidakkah kamu menyesal nantinya setelah kamu menikahi Aina? Aina menua dan keriput sedangkan kamu masih segar-bugar"
Alvaro menatap serius kearah Daffian.
"Aku serius Om. Dan aku memang mencintai Aina sejak dulu. Hanya saja dia tidak pernah meresponku dan menganggap diriku sebagai lelaki yang terobsesi padanya. Lagi pula, aku tidak akan melihat Aina secara fisik. Setiap manusia itu memang lumrah mereka menua dan keriput."
Alvaro mengangguk.
"Itu artinya kamu mengerti maksud Om.
"Apa maksud Om?Apakah Om benar-benar akan memisahkan kita dan menjodohkan Aina dengan lelaki pilihan Om? Apakah Om pernah berpikir bagaimana sakitnya saat aku di tinggalkan di saat lagi sayang-sayangnya?" Daffian tampak emosi.
"Anak muda, tenangkan dirimu. Kamu masih labil dan perlu berpikir cukup panjang kedepannya. Om sama sekali tidak menghalangi hubungan kalian. Tapi coba kalian dalami perasaan kalian masing-masing, apakah benar kalian memang saling jatuh cinta." Alvaro masih terlihat tenang.
"Apa Om meragukan perasaanku? Aku sudah dewasa Om, sudah dapat membedakan mana perasaan jatuh cinta dan mana perasaan terobsesi."
Daffian menekan kata-katanya. Biarlah ia dikatakan tidak sopan oleh Alvaro.
"Kamu persis seperti ayahmu." Alvaro terkekeh mendengarnya.
"Om ada kesibukan,sebaiknya kamu tunggu disini sendirian saja."
Daffian tertegun dengan sikap Alvaro barusan. Ia merasa kalau Alvaro menganggap kata-katanya sebagai lelucon.
•
•
•
*****
__ADS_1