
Azza membalikkan kepalanya saat Alvaro dan keluarganya memasuki ruang tamu. Ia tidak pernah melihat mereka sebelumnya karena mereka juga tidak pernah mengunjungi kediaman keluarga Angga sebelumnya.
Sedangkan Nadia langsung membeku menatap wajah Azza, tatapannya terpaku bahkan tangannya bergetar karena tidak percaya dengan sosok wanita muda di depannya.
"Tante, ayo masuk kedalam. Acara syukurannya sebentar lagi akan kita mulai."
Daffian menghampiri Nadia dan mengalihkan perhatian wanita tersebut dari sosok Azza.
Begitupun dengan Azza, ia juga tampak terpaku melihat wajah wanita itu. Bahkan sejak mereka duduk di hadapannya, Azza selalu memperhatikannya dengan lekat tanpa mengalihkan tatapannya sedetikpun.
"Sayang, aku perkenalkan padamu. Mereka adalah ayahnya Aina, om Alvaro dan istrinya, tante Nadia," ucap Daffa membuat Azza terkejut. "Dan mereka juga orang tua kandungmu," tambah Daffa dalam hati.
"Om dan tante, ini adalah istriku, Azza," tambah Daffa.
Nadia semakin terpaku melihatnya, ia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Rasanya ruangan ini seperti ruangan pendingin, suhu yang terasa kental dan menusuk.
Begitu juga dengan Alvaro yang menatap wajah istrinya dan Azza berulang kali, ia seperti membandingkannya. Bahkan mereka juga tampak tidak mampu untuk saling mengulurkan tangan satu sama lainnya untuk saling menjabat.
"Ada apa dengan wajah wanita ini? Kenapa sangat mirip dengan wajah Nadia. Bahkan mereka hampir serupa? Dan siapa dia?" Alvaro membatin.
"Oh jadi ini istrimu yang baru Daff, om baru tahu kalau kamu menikah lagi dan om dengar kalau kamu baru saja pulang dari bulan madu. Kebetulan juga om baru mendapat kabar dari ibumu."
"Iya, Om."
"Ngomong-ngomong dimana orang tua nak Azza?" kepala Alvaro celingak-celinguk mencari keberadaan orang tua Azza.
"Apakah mereka tidak bisa datang ke acara ini karena suatu halangan ataukah jarak mereka yang jauh?"
Azza beralih menatap Daffa saat Daffa menggenggam tangannya erat. Seolah mengatakan kalau ia selalu ada untuk Azza.
"Kebetulan orang tua Azza sudah meninggal. Azza tinggal bersama tante Ambar dan sudah menganggapnya sebagai orang tuanya," sahut Daffa.
Azza menunduk, ia kembali merasa sedih saat di tanyakan perihal orang tuanya yang entah siapa dan dimana keberadaannya.
Alvaro mengerutkan dahinya. "Memangnya orang tuamu meninggal karena apa?"
"Mereka meninggal karena sakit, om. Ayah sakit liver dan mama sakit kanker!"
Alvaro terbelalak mendengarnya. "Ma'afkan Om, bukan maksud Om membuka luka lamamu."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Om. Aku baik-baik saja," sahut Azza tersenyum getir.
"Baiklah. Karena semuanya sudah berkumpul di ruangan ini, acara akan kita mulai dari sekarang." Daffa menatap kearah seluruh anggota keluarganya. Membuat perhatian sepenuhnya teralihkan kearahnya.
"Selain mengadakan syukuran hari ini, aku juga ingin memperkenalkan istriku pada semua kerabat dan tetangga, khususnya kepada keluarga om Alvaro yang belum mengenalnya. Walaupun tadi sudah ada berbincang sedikit dengan Azza tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mereka menjadi lebih akrab lagi. Dan sekaligus memberikan kejutan besar untuk kalian pada hari ini." Mata Daffa berhenti tepat pada sosok Alvaro.
"Ma'af karena hingga sampai saat ini aku belum mengadakan resepsi untuk istriku. Tapi kedepannya, aku berharap kalian bisa membantuku untuk mengadakan resepsi sebelum bayi kami lahir." Memeluk Azza dengan erat membuat wanita itu tersenyum senang mendengarnya.
Aina tampak terharu mendengarnya, beberapa jam lagi akhirnya akan tiba juga kejutan yang akan mengubah ibunya kembali ke sifatnya yang semula dan ceria. Juga membuat Azza tidak merasa kesepian dan yatim piatu lagi.
"Setelah syukuran akan aku umumkan mengenai kejutan ini!"
Semua yang ada disana hanya tersenyum mendengarnya. Syukuranpun segera di gelar dengan pembacaan doa oleh seorang ustad yang sengaja di undang oleh mereka. Selesai acara, mereka masih berkumpul, hanya beberapa tetangga saja yang sudah meninggalkan kediaman mereka.
"Kejutan yang aku siapkan sudah ada," Daffa menarik Azza kedalam pelukannya.
"Kejutan apa, Daff?" Febry sudah tidak sabar lagi.
"Ini bukan untukmu! Tapi untuk mereka," tunjuk Daffian dengan dagunya kearah Aina dan keluarganya.
"Benarkah? Apakah kejutannya berupa lamaranmu padanya? Bukankah akhir-akhir ini kalian sudah menjadi pasangan yang romantis. Dan aku ingin lihat seperti apa lelaki sepertimu melamar seorang wanita," Febry tersenyum miring.
Febry langsung melotot mendengarnya dan memukul refleks tangan Daffian.
"Aduh... kenapa kamu memukulku?"
"Kamu sendiri yang minta!" sahut Febry berjalan meninggalkan Daffian yang melongo.
"Kapan aku minta?" gumam Daffian. "Sikapnya seperti seorang gadis yang ingin di cium saja," gerutunya lirih.
"Kalian seperti pasangan yang romantis saja," Eland terkekeh melihat Daffian dan Febry.
"Kami bukan pasangan kek, kami tadi hanya bercanda saja!" sahut Febry salah tingkah.
"Tidak apa-apa, kakek juga bercanda!" sahut Eland.
"Yang ini pasanganku kek, jangan salah orang lagi dan jangan sebut itu lagi!" tekan Daffian meraih Aina ke sampingnya.
"Sayang, jangan diambil hati ucapan kakek tadi, dia hanya asal bicara saja!" Daffian menatap Aina sendu, tetapi wanita itu hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Daffian, aku maklum kok dengan semua itu dan aku percaya padamu kalau hanya aku satu-satunya wanita yang ada di hatimu selain ibumu. Lagi pula suasana hatiku sedang sangat bahagia hari ini, kuharap kamu tidak merusaknya dengan rayuan gombalmu."
Aina mencubit hidung Daffian lembut, membuat Daffian terkekeh senang karenanya.
"Suit suit!! Lamarankah atau rayuankah?" ledek Febry membuat yang ada di sana tertawa secara bersamaan.
"Daff, mana kejutan untuk kami seperti yang kamu katakan tadi," Angga turut bicara.
"Ada. Tunggu sebentar. Zainal akan memgambilkan berkasnya."
Angga mengerutkan dahinya. "Berkas? Berkas apa maksudnya? Sepertinya papa benar-benar ketinggalan berita kali ini," Angga terkekeh.
"Nanti papa akan tahu sendiri."
Daffa mengambil berkas tersebut dari tangan Zainal dan membagikan 2 buah amplop kepada Alvaro dan Azza.
"Ini untuk om Alvaro dan ini untuk Azza. Nanti pada hitungan ketiga, aku ingin kalian membukanya secara bersamaan."
"Lalu, untuk papa mana?" tanya Angga.
"Kejutan untuk papa menyusul kemudian!" Daffa tersenyum miring kearah Angga membuat Angga menaikkan sebelah alisnya.
"Anak nakal ini sekarang benar-benar melupakan papa dan kakeknya," Angga berdecak.
"Sayang, kenapa hanya kami saja yang dapat sedangkan yang lain tidak?" Azza juga merasa keheranan.
"Sudah aku bilang padamu, kejutan untuk yang lainnya akan menyusul setelah tahu kejutan apa yang aku berikan padamu dan Om Alvaro."
Azza merasa desiran yang berbeda, perasaannya semakin berkecamuk ditambah lagi dengan tatapan Nadia padanya seolah sedang mengulitinya.
"Bersiap-siaplah untuk membukanya. Pada hitungan ketiga, aku harap kalian akan membukanya dan mengetahui isinya."
Tepat pada hitungan ketiga, Azza dan Alvaro membuka amplop secara bersamaan. Mata mereka terpaku, bahkan Azza sudah menjatuhkan kertas yang ada di tangannya tanpa mampu berkata-kata. Langkahnya mundur dan menjauhi Daffa yang berada disisinya.
•
•
•
__ADS_1
*****