Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 53


__ADS_3

Baby dan Farah sangat bahagia, dan setelah Afika di pindahkan ke ruang inapnya, Baby dan Afika langsung masuk ke dalam. Perlahan, Baby dan Farah mendenkat,


"Afika." Ucap Baby dan Farah serentak. Sehingga membuat Afika menoleh ke arah mereka. Ya, kini Afika sibuk berbaring menghadap ke samping karena ada sang buah hati yang menemaninya, jadi sehingga dirinya tidak menyadari jika ada yang masuk ke dalam ruangannya.


"Farah, Baby." Ucap Afika yang sontak kaget melihat keduanya berada di dalam ruangan.


Baby dan Farah pun, sontak langsung memeluk Afika, lalu kemudian Baby mengambil alih bayi yang belum memiliki nama itu.


"Afika, dia cowok?" Tanya Baby sambil terus tersenyum melihat baby mungil yang berada dalam dekapannya.


"Ya."


"Pantas saja, wajahnya mirip dengan Adrian." Kata Baby dengan spontan sehingga membuat Farah langsung mencubit pinggang Baby. "Maaf, aku keceplosan." Kata Baby.


Afika hanya tersenyum getir. Memang siapa saja yang melihat bayinya pasti akan berkata demikian, wajah sang bayi sangat mirip dengan wajah Adrian, bagaikan pinang yang di bela dua. Kini, bayi yang lahir yang dulu sempat mendapatkan siksaan saat masih berada di dalam kandungan, seakan memberikan kabar kebenaran jika ayahnya memang Adrian bukan Nadi.


Sesekali Afika menoleh ke arah pintu, dan mere*mas kedua tangannya. Afika takut, jika Adrian tiba-tiba saja muncul dan menemukan dirinya.


"Kak Adrian tidak tahu, jika aku dan Farah ada di sini." Ucap Baby yang seakan tahu tentang apa yang saat ini di pikirkan oleh Afika.


"Ya, kau tidak usah takut. Hanya ada aku, Baby dan juga Nadi yang sedang menjaga di luar sana."


"Nadi?"

__ADS_1


"Iya."


Kini Baby meletakkan bayi mungil itu di dalam box bayi, lalu Baby menarik kursi dan duduk tepat di samping brangkar Afika, begitu pun dengan Farah, jika Baby duduk di samping kiri, maka Farah duduk di samping kanan. Baby dan Farah sama-sama menggenggam tangan Afika.


"Afika. Maaf, aku yang salah karena cemburu dan keegoisan ku sehingga, aku memaksa kak Adrian untuk menikahimu. Maaf, aku salah." Ucap Baby sambil menundukkan kepalanya. Tadi Baby yang ceria kini berubah menjadi Baby yang sendu, matanya kini tidak dapat menampung air mata, yang terus berjatuhan membasahi pipi mulusnya. "Aku salah"


"Baby.." Panggil Afika.


"Aku tahu, kau tidak bisa memaafkan ku. Tapi setidaknya, tolong. Tolong Afika berikan kesempatan pada kak Adrian. Tolong." Pinta Baby, lalu Baby melepas genggaman tangannya dan mendorong kursi, kini Baby berlutut di lantai memohon ampun pada Afika. Karena Baby sadar betul, jika sumber masalah adalah dirinya. Andai saja dulu dia tidak cemburu, pernikahan Adrian dan Afika pasti tidak akan pernah terjadi.


"Afika." Ucap Farah yang sejak tadi diam. "Selama beberapa bulan ini, aku melihat ketulusan dari Adrian. Di benar-benar menyesal, dan selalu hidup dengan rasa bersalah. Beri Adrian satu kesempatan Afika." Kata Farah, yang juga sudah melihat ketulusan dari Adrian. Awalnya Farah memang sangat marah dan menetang habis hubungan Adrian dengan Afika, saat tahu jika Adrian berlaku kasar pada Afika, namun dengan seiring berjalannya waktu, rasa marah itu hilang, terkikis dan kini berganti dengan rasa iba.


Afika yang awalnya berbaring, langsung pemperbaiki posisinya, dan duduk di atas brangkar. Untung saja Afika melahirkan dengan cara normal yang tidak terasa sakit saat ini.


"Afika.." Lirih Baby, "Aku tetap merasa sangat bersalah. Maafkan aku, beri kesempatan pada Adrian." Kata Baby kembali dan masih tetap duduk di tantai.


"Berdiri lah, jangan menangis di sini. Aku tidak mau Lion mendengar suara tangismu." Ucap Baby.


"Lion? Jadi namanya Lion?" Tanya Farah.


"Ya, Lion Junior."


Afika lalu turun dari tempat tidur dan membantu Baby berdiri, lalu Baby langsung memeluk tubuh Afika. "Maafkan aku." Ucapnya kembali dengan menitihkan air mata.

__ADS_1


"Sudah cukup, jangan menangis di hari bahagia ini. Ayo tertawalah, agar Lion merasa bahagia bisa terlahir di dunia ini." Ucap Afika sambil mengusap pundak belakang Baby.


Farah begitu kagum dengan Afika yang selalu muda memaafkan orang dan selalu memiliki sifat yang begitu dewasa. Selalu bersifat tenang.


••••


Di luar sana Junisah, melihat dan mendengar semua percakapan yang ada di dalam ruangan. Tadi Junisah ingin masuk, namun saat melihat Baby yang terduduk bersujud, Junisah langsung mengurungkan niatnya.


"Jelaskan padaku apa yang terjadi selama Afika tinggal bersama ku." Kata Junisah sambil melihat Nadi. "Jelaskan semua apa yang Adrian lakukan selama Afika tidak berada di sisinya."


Sebelum menceritakan semuanya pada Junisah, Nadi terlebih dahulu melihat Rangga yang juga masih terus berada di depan ruang inap Afika. Junisah yang mengerti langsung dengan sopan menyuruh Rangga untuk pergi.


"Terima kasih sebelumnya sudah mengantar Afika, dan aku ke rumah sakit ini. Tante tidak tahu apa yang terjadi jika tidak bertemu dengan mu. Tapi, maaf. Apakah boleh kau memberikan aku waktu dan Nadi berbicara berdua?"


"Tentu." Ucap Rangga dengan cepat, padahal Rangga ingin sekali masuk ke dalam namun, ia tidak ingin membuat kesan yang tidak baik di depan tante Afika.


Lalu setelah Rangga pergi, Nadi pun langsung menceritakan semuanya pada Junisah.


••••


Ponsel Adrian berdering, terdengar bunyi notif pesan sehingga Adria meraih ponselnya, dan melihat pesan yang di kirim oleh Baby.


"Cakep kan?" Caption Baby pada foto yang di kirim ke Adrian. Bukan hanya satu, tapi ada sepuluh foto yang di kirim Baby untuk Adrian.

__ADS_1


"Bayi? Bayi siapa ini?" Batin Adrian.


__ADS_2