Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 38


__ADS_3

Baby langsung duduk di kursi di samping brangkar tempat Afika berbaring. Baby menggenggam tangan Afika. Baby dapat melihat luka di bagian lengan Afika. Luka akibat bekas pukulan ikat pinggang yang di layangkan oleh Adrian. Dan mungkin masih banyak lagi luka di sekujur tubuh Afika yang tidak terlihat oleh Baby. Karena tertutupi oleh pakaian.


"Maaf Afika." Ucap Baby lirih, dan sungguh menyesali apa yang telah terjadi. Baby tidak menyangkah jika karena keegoisan dirinya yang membuat seorang gadis cantik yang memiliki hati yang luar biasa lapang dan sabar, harus terkurung di mension dan juga mendapatkan perilaku yang sangat kejam. Dari dirinya dan juga dari kakaknya.


"Buktikan ucapan mu. Aku sudah menang." Kata Afika tanpa menggubris sama sekali ucapan permintaa maaf'an dari Baby. Afika menangis janji yang jika Adrian jatuh cinta padanya, maka Baby akan melepaskan Afika dengan tanpa ada satupun lagi orang yang mencari dirinya.


Baby mengusap air matanya. Tentu Baby ingat akan janji yang sudah ia buat dahulu. "Maafkan aku." Ucap kembali Baby dengan kepala yang menunduk.


"Sudah terjadi. Aku baik-baik saja. Jadi tidak usah menangis. Mungkin lebih baik air mata mu di simpan saja." Kata Afika.


"Afika." Panggil Baby sambil mentap wajah Afika.


"Aku baik-baik saja Baby. Lihat lah. Aku hanya ingin minta bukti ucapanmu. Jadi berhentilah merasa bersalah. Bagaimana pun, semua tidak akan bisa kembali seperti awal. Ini sudah takdir ku. Aku sudah ikhlas."


Baby yang tak kuasa menahan tangisnya. Air mata terus saja mengalir membasahi pipinya. Malaikat yang menjelmah menjadi manusia yang ada di hadapannya ini benar-benar sungguh sangat luar biasa. Mungkin jika Baby yang menjalani takdir seperti Afika, Baby tidak akan sanggup dan tidak akan bisa seikhlas apa yang Afika katakan.


"Baby Maganta. Kenapa kau begitu lucu. Dari dulu, sampai sekarang kau selalu saja imut." Perkataan Afika mampu membuat Baby terdiak sejenak. 'Baby Maganta' hanya ada dua orang saja yang memanggil Baby dengan sebutan itu. Yang pertama Adrian sang kakak, dan kedua Afika teman masa kecilnya yang dulu sempat di jodohkan dengan Adrian. Namun naasnya Afika saat itu mengalami kecelakaan bersama dengan orang taunya. Dan di nyatakan meninggal dunia. Tapi Baby masih memungkiri jika yang di hadapannya ini adalah sosok Afika teman masa kecilnya. Karena Afika yang dulu jelas-jelas sudah meninggal.


"Baby. Aku Afika, kau tidak ingat?" Tanya Afika. Lalu Afika bangun dari tidurnya di bantu dari Baby. Kini Afika duduk di atas brangkar. Lalu Afika menepuk tempat tepat di sisinya agar Baby naik ke atas. "Ini lihatlah." Kata Afika sambil memperlihatkan foto di mana ada dirinya di dalam foto tersebut. Lalu Afika menceritakan jika foto tersebut ia dapat di dalam ruangan rahasia di mension. Baby masih diam. Mendengarkan penjelasan Afika.

__ADS_1


"A-apa kak Adrian tahu?" Tanya Baby setelah Afika telah selesai menjelaskan, jika dia tiba-tiba teringat sesuatu saat tersadar tadi.


"Tidak. Hanya kau saja. Aku pun baru ingat semuanya tadi."


"Berarti aku harus memberitahukan semua ini pada kak Adrian."


"Jangan. Tidak ada gunanya. Lagian setelah keadaan ku benar-benar pulih aku akan kembali ke panti."


"Kalau begitu, apa boleh aku memastikan apa benar kau Afika teman masa kecil ku atau bukan?"


"Kau mau apa?" Tanya Afika.


•••••


Baby keluar dari ruangan Afika saat sudah memastikan apa yang Afika katakan. Terlepas dari siapa pun Afika, Baby tetap merasa bersalah karena keegoisannya.


Adrian yang berada di luar sana, langsung menghampiri Baby saat melihat Baby keluar dari ruang inap Afika. "Bagaimana keadaan Afika? Apa yang dia katakan? Baby, ayo jawab?" Tanya Adrian dengan memegang kedua bahu Baby.


"Kak tolong lepaskan Afika." Jawaban Baby mampu membuat Adrian memundurkan langkahnya. Ia tidak menyangkah jika dalam keadaan seperti ini sang adik mengatakan hal yang menurutnya sangat tidak masuk di akal.

__ADS_1


"Baby, aku menanyakan kepadamu keadaan Afika, bukan hal yang lain Baby." Sentak Adrian. Namun kali ini jawaban Baby tetap sama. Bahkan reaksi Baby mampu membuat Adrian membulatkan matanya. Baby berlutut di hadapan Adrian dengan kedua tangan yang mengatup di depan da*danya.


"Tolong lepaskan Afika. Dia berhak atas hidupnya." Kata Baby dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Sedangkan Rangga yang juga berada di sana, langsung membuat seutas senyum. Ya, Rangga tahu jika Adrian begitu sangat menyayangi sang adik. Dan bahkan karena sangat menyayangi, Adrian rela melakukan apa pun asal Baby bisa bahagia. Seperti contohnya, membuat dirinya batal menikah dengan Afika. Dan kali ini pun Rangga yakin jika Adrian pasti akan mengikuti permintaan adiknya. Rangga tidak perlu lagi repot-repot untuk berurusan langsung dengan Adrian. Karena kini sudah ada Baby yang akan terus memohon sampai keinginannya terpenuhi.


"Baby apa yang kau lakukan? Cepat berdiri." Ucap Adrian, namun bukan Baby namanya jika dia harus menyerah dengan sangat mudanya.


"Lepaskan Afika." Lanjut Baby, membuat Adrian gusar dan mengusap wajah tampannya.


Dan kini Rangga pun langsung maju dan juga memberikan cek yang seperti nominal yang di berikan dulu padanya. "Ini, aku kembalikan semua uang yang dulu kau berikan padaku. Aku sadar uang ini sama sekali tidak berarti." Kata Rangga dengan senyum mengembang di wajahnya. Adrian pun langsung mengambil cek tersebut dan di robek kecil-kecil dan di buang tepat di hadapan Rangga.


"Aku tidak butuh uang itu. Dan ingat! Apa yang sudah menjadi milik ku tidak satupun orang yang bisa menyentuh atau mengambilnya, termaksud kau!" Kata Adrian dengan nada tajam dan menatap tajam pada Rangga yang saat ini ada di hadapannya. Tidak mungkin bagi Adrian untuk melepaskan Afika, apalagi saat ini Afika sedang mengandung darah dagingnya. "Rio." Teriak Adrian. "Bawah Baby pulang, dan juga jangan biarkan pria ini mendekat ke rumah sakit ini. Kerahkan semua pengawal agar dia menampakkam batang hidungnya." Titah Adrian yang tidak ingin terbantahkan lagi.


Rangga pun langsung di seret hingga keluar dari rumah sakit. Namun Baby, dia tetap bersikeras tidak ingin pergi jauh dari Afika.


"Kalau aku pulang, siapa yang akan menemani Afika? Sedangkan Afika hanya ingin melihat aku saja, bukan kak Adrian ataupun Nadi." Kata Baby menatap Nadi dam Adrian silih berganti. "Aku akan tetap di sini, terserah kak Adrian setuju atau tidak." Kata Baby dan ingin masuk kembali ke dalam ruang inap Afika, namun langkahnya terhenti kala Adrian berkata.


"Baiklah. Tapi ingat, jangan pernah meminta padaku untuk melepaskan Afika." Baby kembali menolehkan badannya dan menatap wajah sang kakak. Namun setelah itu Baby kembali masuk ke dalam ruang inap Afika. Karena percuma bagi Baby jika berdebat dengan Adrian dengan keadaan yang emosi.

__ADS_1


__ADS_2