Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Rahiyang 2


__ADS_3

"Ma. Apa ada sesuatu yang mama sembunyikan dariku?"


Rahiyang terkejut tapi ekspresinya dibuatnya sedatar mungkin.


"Tidak ada. Semuanya sudah mama beberkan padamu."


"Aku rasa mama menyembunyikan sesuatu dariku," ucap Anggia lagi.


Rahiyang meraih segelas air yang ada didepannya dan meneguknya dengan perlahan. Semua tidak pernah luput dari pengamatan Anggia. Ibunya terlihat gelisah walaupun luarnya terlihat tenang.


"Apakah yang mama sembunyikan ini mengenai om Angga lagi?"


Rahiyang mengangguk samar. Ia menyerah untuk menyembunyikan fakta lagi kalau dirinya dulu pernah di siksa oleh Angga sebagai pelampiasannya pada Rika, istrinya.


"Mama masih mengingatnya, saat itu profesi mama masih sebagai pelayan restoran." Mendesah.


"Lalu?" Anggia memperhatikan ibunya dengan intens.


"Lalu mama bertemu dengan Angga di sebuah restoran. Saat itu dia menginginkan mama. Mama pikir dia benar-benar menginginkan layaknya seorang pria terhadap wanita."


"Tapi yang ada dia justru memukul mama dan melampiaskan semua kemarahannya pada mama dengan pukulan gesper. Bahkan mama mengalami sakit hingga seminggu lamanya."


"Mama menjadi seorang wanita malam!?" Anggia terkejut menatap ibunya.


"Tidak. Bukan. Bukan wanita malam. Mama pikir dia hanya tertarik pada mama sebagai sepasang kekasih. Tapi ia melampiaskan semuanya. Dia lelaki gila!"


Rahiyang tidak ingin dicap anaknya sebagai wanita malam. Saat itu dia memang tergiur dengan uang ditambah lagi paksaan dari manejer tempatnya bekerja di sertai dengan sebuah ancaman.


"Sejak itu mama mengubah penampilan mama agar hidup mama tidak dilecehkan lagi dan tidak menyerupai orang lain."


Anggia hanya diam saja, ia tampak berpikir.


"Anggia, jangan memikirkan masalah itu lagi."


"Kenapa mama tidak langsung membalasnya waktu itu dan kenapa mama hanya memendamnya saja karena di lecehkan sampai sebegitunya!? Atau mama bisa lapor polisi." Anggia tidak menghiraukan ucapan Rahiyang sebelumnya. Ia begitu ingin tahu semua masa lalu mamanya dan mengupasnya sampai habis.


Anggia juga merasa tidak terima dengan perlakuan Angga terhadap wanita. Terlebih lagi perlakuannya yang melecehkan ibunya.


"Sayang, dia orang kaya dan mama hanya gadis miskin dan yatim piatu. Lalu apa yang akan dilakukan polisi-polisi itu jika mama melapor. Yang ada justru mama yang tertangkap karena mereka mengkatergorikan termasuk pencemaran nama baik."


"Di dunia ini uang selalu berkuasa dan bisa membeli apa saja!"


"Lagi pula orang seperti dia hanya bisa dibalas dengan cara hukum alam saja tanpa campur hukum negara." Rahiyang menatap Anggia.

__ADS_1


"Apa benar yang dikatakan oleh bi Sum kalau mama sempat depresi dan ingin bunuh diri karena masalah ini?" gumam Anggia dalam hati sambil menatap penuh selidik kearah Rahiyang.


Rahiyang menunduk. Andai saja saat itu ia tidak terdesak keadaan, ia tidak akan mau membuat dirinya sehina itu di hadapan Angga.


"Sudahlah ma, jangan di ingat lagi masa lalu itu. Semua kesakitan itu akan terbalas tidak akan lama lagi." Menatap kasihan pada ibunya.


"Sebaiknya mama segera istirahat saja. Nanti mama kelelahan," bujuk Anggia.


"Baiklah. Mama akan pergi ke kamar terlebih dahulu." Berdiri. "Kamu juga harus istirahat!" sambung Rahiyang.


Anggia mengangguk, ia menatap kepergian ibunya dengan tatapan prihatin. Tapi disisi lain ia tidak dapat menyalahkan keadaan ibunya yang miskin waktu itu.


***


Di rumah Angga


"Sayang. Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan gadis yang sedang kamu kejar?" Rika menatap Daffi. Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga.


Daffi mendesah, menyangga kepalanya dengan kedua belah tangannya.


"Tidak maju dan tidak mau mundur, hanya diam di tempat," sahut Daffi.


"Coba kamu cari gadis yang lebih muda dari dirimu, atau setidaknya yang seumuran. Tentu saja sulit mengejarnya, diakan tua darimu dan pasti menginginkan pria dewasa," Daffa melirik kearah Daffi.


"Lalu, bagaimana dengan calon istrimu, apakah kamu benar-benar yakin ingin menikahinya?" tanya Daffi.


"Kamu meragukan pilihanku?" menatap Daffi intens.


"Tidak. Aku hanya bertanya saja. Menurutku dia gadis yang kurang cocok denganmu," sahut Daffi.


Entah kenapa sejak kecil, Daffi sangat tidak menyukai Anggia. Bahkan ia merasa bahwa Anggia bukanlah gadis yang baik seperti kelihatannya.


"Hei. Kamu merasa iri dengan hubunganku. Kalau kamu merasa frustasi, jangan libatkan hubunganku denganmu," sahut Daffa dengan kesal.


"Aku hanya asal bicara saja. Sudah lupakan saja ucapanku yang tadi!" Daffi berdiri dan berjalan meninggalkan Daffa yang masih menonton tv dengan laptop didepannya, menuju kearah kamarnya.


Sedangkan Angga berada di ruang kerjanya. Ia tampak berpikir mengenai Anggia, gadis itu pembawaannya sangatlah tenang tapi ia tahu kalau itu hanya luarnya saja.


"Sayang. Ini kopimu." Rika meletakkan secangkir kopi dihadapannya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, ceritakan padaku?" Duduk tepat dihadapannya di single sofa.


"Hanya masalah pekerjaan?" sahut Angga. Ia meraih kopi tersebut dan meminumnya.


"Benarkah? Apa kamu yakin hanya memikirkan pekerjaan bukan sesuatu yang lain hingga wajahmu sampai berlipat-lipat begitu?" Menatap Angga yang sudah meletakkan kopinya.

__ADS_1


Angga berjalan dan mendekat kearah istrinya.


"Iya. Tapi aku akan tenang kalau sudah mendapat suplemen dari kamu." Mengangkat tubuh Rika dan membawanya ke sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.


"Kamu masih sekuat ini?" mengalungkan tangannya di leher Angga.


"Buat kamu lebih kuat dari ini," sahut Angga sambil meletakkan Rika dengan perlahan. Kemudian memeluknya dari belakang dengan erat.


"Sudah lama sekali kita tidak melakukan hal mesra seperti ini," ucap Angga lagi sambil mengecup pipi istrinya dan juga lehernya.


"Hei. Bukankah kita selalu melakukannya. Apa kamu sedang bercanda?" menahan geli karena tangan Angga sudah merayap kemana-mana. Bahkan bibirnya selalu mengecup beberapa titik sensitif miliknya.


"Maksudku kita melakukannya disini, di ruangan ini," kembali mengecup pipi Rika kemudian bibirnya, ********** sesaat.


"Papa!! Mama!! Apa-apaan kalian. Kalian sepertinya perlu kamar, bukan disini!" Daffa tiba-tiba membuka pintu.


"Daffa. Kenapa kamu kemari? Kamu mengganggu acara mama dan papa." Angga menghentikan aksinya dan membetulkan baju Rika.


"Hanya ingin membicarakan masalah pekerjaan dengan papa!" sahut Daffa acuh seperti tidak terjadi sesuatu didepannya.


"Seharusnya kita kunci pintunya tadi, sayang!" ucap Angga.


"Pa! Itu kesalahan papa yang membiarkan pintunya terbuka dan ada pengganggu," sahut Daffa.


"Sepertinya papa dan mama perlu bulan madu lagi!" ledek Daffa.


"Iya. Nanti papa akan bulan madu setelah kalian menikah!" sahut Angga.


"Baiklah kalau begitu, mama akan keluar, bicarakan saja dulu urusan kalian berdua," ucap Rika berdiri dan berjalan keluar ruangan.


"Sayang. Siapkan semuanya untuk kita nanti!" ucap Angga.


"Pa, disini masih ada aku yang belum sampai umur," sahut Daffa.


"Belum sampai umur tapi minggu depan sudah ingin menikah," cibir Angga.





********

__ADS_1


__ADS_2