Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 67


__ADS_3

Tiga minggu kemudian.


Setia hari, Adrian membuktikan pada Afika jika ia layak menjadi orang tua yang selalu ada untuk sang anak. Terbukti, segala sesuatu tentang Lion, kini Adrian yang mengambil alih. Bahkan akhir-akhir ini Adrian sudah jarang sekali bekerja di perusahaan, dia menyerahkan segala sesuatu pada Rio, dan hanya mengontrol sebagian dari mensionnya saja.


Adrian benar-benar memperlihatkan pada Afika jika ia sungguh-sungguh dalam mengurus Lion, dan tentunya dalam merebut hati Afika.


Seperti pagi ini,


Adrian langsung bergegas menuju kamar Lion, dan berniat untuk memandikan Lion, sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun, saat masuk ke dalam kamar ternyata Lion sudah rapi dengan setelan yang siap untuk pergi keluar mension.


"Apa ada yang terlewatkan?" Tanya Adrian saat melihat Afika yang juga sudah rapi.


"Aku dan Lion akan berkunjung ke panti. Hari ini ulang tahu ibu Siti, dan aku akan memberikan kejutan." Jelas Afika.


"Tunggu, apa aku boleh ikut? Maksudku, aku yang akan mengantar mu sayang." Ucap Adrian yang selalu saja memanggil Afika dengan sebutan sayang, walau sudah berapa kali Afika menegur jika ia tidak suka.


"Jika ingin ikut, maka cepatlah bergegas."


"Tunggu aku s...."


"Jangan ada kata sayang, karena aku tidak suka." Tegas Afika lalu merapikan barang milik Lion.


"Sayang, kau dengar mommy mu? Dia sengaja marah padahal jelas mommy suka jika panggil sayang." Gumam Adrian yang masih dapat di dengar jelas oleh Afika. Spontan Afika mendekat dan langsung memukul pundak Adrian.


"Aku tunggu sampai sepuluh menit, jika kau masih belum siap. Maka aku akan pergi dengan Nadi."

__ADS_1


"Baik sa....


BUKHHH. Lagi, Afika memukul tubuh Adrian, namun bagi Adrian pukulan yang di berikan oleh Afika adalah pukulan dari bentuk kasih sayang. Jadi mau berapa kali atau sesakit apapun pukulan yang di berikan oleh Afika, maka Adrian hanya bisa pasrah menerimanya.


••••


Adrian kini sudah mengendarai mobilnya keluar dari mension, dan tanpa sepengetahuan Adrian, ada satu mobil yang terus mengikutinya.


Di dalam mobil, Adrian sangat aktif berbicara pada Lion, yang saat ini sedang berada dalam pelukan Afika. Dan sesekali juga Adrian mengajak Afika berbicara, walau Afika membalas seadanya tapi Adrian tidak mempermasalahkan itu.


"Adrian, sebelum ke panti aku ingin mampir ke salah satu toko kue yang berada di jalan x."


"Untuk apa sayang?"


"Ayolah Adrian, jangan selalu memanggil ku dengan sebutan itu. Jujur aku tidak suka. Dan harus aku katakan berapa kali, biar kau mau mendengar perkataanku."


"Kau egois, tidak dulu, tidak sekarang. Kau tidak pernah mendengar perkataanku. Kau hanya selalu mengikuti kemauanmu. Sungguh egois." Kata Afika dengan ketus lalu menatap jalan ke depan. Afika benar-benar geram karena Adrian sangat sulit untuk di tegur dalam memanggil kata sayang padanya.


"Maafkan aku. Oh ya, kita akan memberi kado apa pada bu Siti?" tanya Adrian namun Afika diam, ia sama sekali tidak mau menjawab perkataan Adrian yang menurutnya sangat menyebalkan. "Kau lihat mommy mu sayang? Sepertianya dia sedang ngambek. Tapi wajahnya terlihat sangat cantik jika ngambek." Kali ini Adrian berusaha merayu Afika melalui Lion. Jari telunjuk Adrian di genggam erat oleh Lion, seakan Lion tidak ingin terpisah dari daddy nya.


"Lihat sayang, wajah mommy semakin cantik, ayo lihat wajah mommy."


"Adrian!" Ucap Afika, "Jangan berbicara terus, karena nanti Lion bangun."


Adrian tersenyum memamerkan deretan giginya ke hadapam Afika. Senyum yang lebar yang baru pertama kali Afika lihat. Entah kenapa senyum itu membuat jantung Afika berdetak lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa bisa seperti ini?" Batin Afika. "Lihat ke jalan, jangan lihat ke sini."


"Maaf." Kini Adrian kembali fokus mengendarai mobilnya menuju tempat yang di katakan oleh Afika.


Hening..


Lalu beberapa saat kemudian.


"Maafkan aku. Kau harus tahu, aku sangat mencintaimu. Aku menyesal, sangat-sangat menyesal. Tapi aku janji, apa pun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu dan menyayangimu. Kau dan Lion, adalah kehidupan ku." Kata Adrian yang mampu membuat Afika terdiam.


Lalu mobil yang di kendarai oleh Adrian tiba di salah satu toko kue.


"Adrian, bisa tolong untuk belikan bu Siti kue. Aku tidak bisa turun karena Lion, sedang tidur dan juga matahari sangat terik pagi ini."


"Kau tenang saja sayang. Aku yang akan turun dan kau hanya perlu duduk manis menungguku di sini."


"Makasih."


"Aku mencintai mu Afika." Ucap Adrian dengan tulus dan senyum yang sangat tulus.


Entah kenapa pagi ini Adrian sangat berbeda dari biasanya. Sejak pagi ini Adrian selalu tersenyum, walau tadi meski Afika memukulnya. Afika melihat Adrian yang kini mulai berjalan masuk ke dalam toko kue, dan lagi-lagi Adrian selalu menoleh ke arah mobil dan tersenyum ke arah Afika.


Beberapa saat kemudian.


Saat Adrian keluar dari toko, tiba-tiba ada seseorang pria yang berpakaian serba hitam dengan wajah yang memakai masker. Langsung menghujami Adrian pisau ke arah perut.

__ADS_1


"Adrian!!" Teriak Afika


__ADS_2