
Pesta pernikahan yang di gelar oleh keluarga Daffa sangatlah mewah bahkan mereka memgundang semua pebisnis yang ada di negri ini hingga ke mancanegara.
Senyum manis tidak pernah lekang dari bibir Anggia dan Daffa. Sesekali tangan Daffa merangkul pinggang istrinya. Ia begitu bahagia karena keinginannya untuk menikahi kekasihnya terwujud sudah.
Bahkan kini mereka sudah sah sebagai suami istri. Perasaan Daffa terus membumbung tinggi, berkali-kali ia menatap kearah Anggia dengan penuh cinta.
Berbeda dengan Anggia, ia justru menampilkan senyum palsu. Berkali-kali matanya melirik setiap tamu yang datang berharap agar Alfa juga ada di tempat ramai itu.
Dari kejauhan, tampak Akhmar memasuki ruang aula tempat berlangsungnya pesta pernikahan mereka bersama kedua orang tuanya.
Akhmar berjalan kearah panggung untuk menyapa kedua mempelai yang terlihat sedang berbahagia.
"Amar. Jadi dia gadis yang kamu cintai selama ini?" Emran menghampiri anaknya dan merasa kasihan padanya.
"Pa, jangan menatapku seperti itu. Aku tidak patut mendapat tatapan belas kasihan seperti itu. Aku kuat dan tetap akan berusaha untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku," sahutnya di iringi dengan sebuah seringaian.
Sedangkan Emran, ia sudah tidak mendengar lagi ucapan dari anaknya karena ia terpaku pada seorang wanita yang sempat di tinggalkannya dulu.
Daniyal juga sudah tidak menyadari lagi kepergian Akhmar dari hadapannya. Tanpa ia sadari, ia sudah berjalan mendekat kearah wanita yang tampak sangat berubah di matanya setelah sekian lama ia tidak melihatnya.
"Rahiyang...," gumam Daniyal. Membuat wanita yang berada di depannya berbalik dan menatap dirinya.
"Benar. Kamu Rahiyangkan?" tanya Emran dengan seulas senyum manis di bibirnya dan tatapan sendu. Pada akhirnya kerinduannya dapat terbalaskan walaupun bertemunya harus di tempat seramai ini.
Berbeda dengan Rahiyang, ia hanya melirik sesaat kearah Emran. Bermaksud ingin meninggalkan Daniyal tapi tangannya sudah di tarik oleh Daniyal terlebih dahulu.
"Biarkan aku menjelaskan kesalah pahaman diantara kita dahulu," ucap Emran.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan disini. Kamu meninggalkanku dulu demi wanita itukan? Aku tidak akan mempermasalahkannya!"
Rahiyang menyentak tangannya yang masih di pegang oleh Emran. Berpaling dan bermaksud ingin meninggalkan Emran.
"Aku sama sekali tidak mencintai dirinya, aku baru menyadari kalau hatiku hanya milikmu!" ucap Emran.
Langkah Rahiyang urung. Ia berbalik dan menatap Emran dengan tajam.
"Tapi kamu meninggalkanku karena aku melahirkan anak perempuan. Dan memilih wanita itu karena melahirkan anak laki-laki." Rahiyang menarik napas sesaat.
"Apa bedanya dengan dirimu meninggalkan kami karena cintamu lebih besar pada mereka daripada cintamu pada kami? Dan kamu harus ingat satu hal!" Rahiyang berdesis, menjeda.
"Seumur hidupku aku tidak pernah menyesal kamu tinggalkan karena hatiku hanya milik dia seorang!" ucap Rahiyang.
Emran terpaku mendengarnya, terasa kakinya tidak berpijak lagi di lantai. Secinta itukah Rahiyang pada orang yang sudah mati tersebut, bahkan lelaki yang sepatutnya di panggil sebagai papa ataupun om olehnya karena terpaut usia yang begitu jauh.
"Ra, dimana anakku?"
__ADS_1
"Anakmu sudah mati!" sahut Rahiyang.
Untuk kesekian kalinya Emran kembali terpaku. Ada palu besar menghantam dadanya, sakit luar biasa. Sesalnya sudah dialaminya karena melupakan anaknya dan sekarang saat dirinya ingin melihat anaknya, ia justru sudah tiada.
"Papa!" Emran terhenyak saat mendengar Akhmar memanggilnya. Ia berpaling dan menatap putranya. Ada dua kesakitan yang dirasakannya hari ini.
"Apa papa kenal dekat dengan tante Ra? Kulihat tadi papa terlihat berbicara sangat akrab."
"Jadi kamu juga mengenal Rahiyang?" Daniyal justru balik bertanya. Ia mendapat anggukan dari putranya.
"Tante Ra adalah wanita yang tegas dan sangat kuat. Ia mampu menghidupi anaknya dengan baik walaupun dia seorang singgle mommy."
"Ya. Papa tau itu semua," sahut Emran. Ia masih menatap Rahiyang yang masih menyapa setiap tamunya.
"Apa!? Singgle mommy maksudmu?" tanya Emran setelah menyadari ucapan anaknya barusan.
"Bukankah anakku sudah mati, lalu anak siapa yang dia pelihara? Apakah dia menikah lagi?" Emran membatin.
"Apa papa tidak ingin menyapa pengantin hari ini?" tanya Akhmar lagi.
"Tidak. Nanti saja. Papa pikir papa akan menghampiri ibumu saja," sahut Emran yang langsung mendapatkan anggukan dari anaknya.
Sementara itu di tempat yang sana, Helena dengan langkah mantap menghampiri Angga yang sedang bercengkrama bersama tamunya. Di sampingnya tampak berdiri Rika yang tidak pernah sedikitpun bergeser dari suaminya karena Angga tidsk pernah mau melepaskan tangannya. Mereka layaknya sepasang sejoli yang baru saja jatuh cinta.
Helena menatap kearah Rika dengan tatapan menilai bahkan berulang kali ia memindai tubuh Rika dari atas hingga kebawah.
"Apa istimewanya wanita ini dibandingkan diriku?" celetuknya.
Angga terkekeh mendengarnya, bahkan ia menatap Helena dengan tatapan mengejek.
"Tidakkah kamu pernah bercermin di rumahmu. Cukup kamu tanya cermin, apa yang salah pada dirimu," Angga kembali terkekeh.
Ia merasa lucu dengan lelucon yang dilontarkan oleh wanita ular yang ada dihadapannya ini, sudah merasakan dinginnya dinding penjara, ia masih membandingkan dirinya yang hina dengan istrinya.
"Tidak perlu bercermin pun aku tau kalau aku ini cantik!" sahut Helena dengan sikap percaya dirinya.
Angga mengangguk membenarkan ucapan Helena.
"Tapi tidak lebih cantik dari istriku. Dia mempunyai hati yang putih bersih, seputih salju," sahut Angga.
Helena tampak geram mendengarnya. Apalagi dia selalu dibadingkan dengan Rika yang tak layak sebanding dirinya.
"Coba kamu lihat suamimu. Bukankah dia sangat mencintai mantan istrinya ketimbang dirimu." Angga menunjuk Emran.
Helena berbalik dan menatap Emran yang memegang lengan Rahiyang. Ia tampak memohon-mohon pada wanita tersebut. Bahkan tatapannya penuh kerinduan.
__ADS_1
"Itu artinya kamu masih bukan apa-apa di matanya," ucap Angga lagi.
Helena semakin kesal dibuatnya. Tadinya ia berencana ingin menjatuhkan Rika, tapi justru dirinya yang di pojokkan oleh Angga.
"Tapi buktinya ia tetap meninggalkan wanita itu demi diriku, dan hingga sekarang ia masih bersamaku," Helena kembali merasa angkuh.
Angga berdecih mendengarnya. "Tapi setelah tau kalau kamu mengandung anaknya, bukan? Itu artinya bahwa sebelumnya dirinya hanya menikmati tubuhmu saja."
Mata Helena memerah menahan amarah yang hampir meledak. Bahkan ubun-ubunnya terasa berasap.
"Tapi buktinya ia tetap meninggalkan wanita itu, walaupun kenyataannya wanita itu juga sama mengandung anaknya dan memiliki anak seperti diriku. Artinya kedudukanku lebih tinggi dibandingkan dirinya," masih tidak mau kalah, Helena terus menampik ucapan Angga.
Sedangkan Rika sudah menjauh sejak tadi karena ia sibuk dengan tamu yang lainnya. Bahkan ia juga selalu memperhatikan ibunya yang tua dan sedikit sakit-sakitan.
"Angga. Tidakkah kau lihat seberapa aku masih berharap padamu. Sebab itu aku datang kesini, bukannya untuk berdebat seperti ini."
Angga diam saja mendengarkan celotehan Helena.
"Seandainya anak kamu seorang perempuan, maka pasti yang menikah bukan anak Rahiyang. Tapi anakku dan kita akan menjadi besan!"
Tawa Angga pecah mendengar ucapan mantan kekasihnya tersebut.
"Rupanya mimpimu terlalu tinggi nyonya Emran. Tidakkah kamu sadar bahwa dirimu mempunyai banyak cacat dan sisa di mataku." Angga menjeda.
"Dan orang cacat dan sisa di mataku sudah tidak di perlukan lagi, karena tidak berguna. Yang tidak berguna itu sama dengan sampah!"
Angga melangkah meninggalkan Helena yang semakin memerah menatap dirinya. Ia berpaling dan mendapati suaminya yang sedang menggapai bahunya.
"Sayang! Kenapa wajahmu merah?" Emran menatap wajah istrinya.
"Tadinya aku mengambil makanan yang sangat pedas. Dan akhirnya seperti ini!" sahut Helena asal.
Emran menatap kearah bibir istrinya yang tampak merah, semerah darah. Senyumnya mengembang.
"Bibirmu sangat seksi apabila kamu suka makan yang pedas!"
Helena melotot dan meraba bibirnya. Ia tersenyum masam mendengar penuturan suaminya.
•
•
•
*****
__ADS_1