Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 68


__ADS_3

Afika terus saja menangis menunggu tim dokter yang saat ini sedang melakukan operasi untuk Adrian.


"Kak, apa yang terjadi? Kenapa bisa kak Adrian seperti ini?" Tanya Baby sembari terus saja menangis.


Afika tidak bisa lagi berbicara dia hanya terus menangis merapati apa yang terjadi. Andai saja, hari ini ia tidak mengajak Adrian untuk mengantarnya ke panti, mungkin saja ini semua tidak akan terjadi. Atau, andai saja dirinya yang turun membeli kue tas, maka bukan yang terluka.


Nadi yang berada di sana, mencoba memberikan penjelasan kepada Baby tentang apa yang terjadi. Bukannya tenang, Baby justru memukul-mukul dada bidang Nadi.


"Kenapa kau membiarkan kak Adrian pergi? Harusnya kau selalu berada di dekat kak Adrian. Kenapa?" Teriak Baby, yang sungguh tidak menyangkah jika kakaknya bisa mengalami hal demikian.


"Baby." Kini Afika, mencoba menenangkan Baby.


"Kak Adrian." Lirih Baby. Bukan hanya Baby yang merasakan sedih, tapi juga Afika. Namun, dalam keadaan seperti ini Afika harus mencoba menguatkan Baby.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, operasi telah selesai.


"Operasi berjalan dengan lancar, kita hanya menunggu sampai pasien sadarkan diri." Kata salah satu dokter yang menangani Adrian.


••••


"Adrian." Panggil Afika sambil menitihkan air matanya. Lalu Afika mengusap lembut pipi Adrian dan kemudian menggenggam tangan Adrian. "Maafkan aku." Ucapnya, lalu Afika kembali menangis.


"Kak, ayo bangunlah. Kak Adrian, ayo bangun." Pinta Baby, sambil menangis di sisi kiri Adrian sedangkan Afika berada di sisi kanan. "Kak.."


Dan benar saja, dokter menjelaskan jika saat ini Adrian mengalami syok dan trauma, sehingga ia lebih nyaman berada di dalam tidurnya, bisa di katakan jika saat ini Adrian koma. Tapi, tetap saja, walau mata Adrian terpejam tapi tetap bisa mendengar perkataan orang-orang yang berbicara di sekitarnya.


Mendengar penjelasan dokter, membuat Afika dan Baby kaget, dan tentunya merasa semakin bersedih. Walaupun operasi di nyatakan berhasil, tapi tetap saja Adrian hingga kini belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Adrian." Sapa Afika. Kini setelah mendengar penjelasan dokter, Afika memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit merawat Adrian. "Maafkan aku Adrian, karena ku semua ini terjadi. Sadarlah, ayo sadar. Lion menunggumu di mension."


Satu minggu berlalu.


Setiap harinya, dengan sabar Afika mengurus Adrian dengan sangat baik. Dia tak segan lagi, mengganti baju Adrian, membersihkan badan Adrian dengan tisue basah. Semua di lakukan Afika agar Adrian bisa merasa lebih baik. Dan juga, tak lupa Afika, terus aktif berbicara tentang perkembangan Lion kepada Adrian.


"Sadarlah. Lion rindu, ia ingin melihatmu. Ayo sadar Adrian." Paksa Afika, dan tentunya air mata terus membasahi pipi mulusnya.


"Adrian, aku rindu, rindu mendengar mu memanggil ku sayang. Ayo bangun, dan panggil aku sayang. Sekarang aku tidak akan marah lagi. Ayo Adrian bangunlah. Terserah kau mau bilang sayang sebanyak yang kau suka, aku janji tidak akan marah lagi. Adrian, hikkkkssss, hikkkkkssss."


Baby yang awalnya ingin masuk ke dalam ruang inap, langsung mengurungkan niatnya, kala mendengar isak tangis dari Afika.


"Adrian, aku memaafkan mu, ayo buka matamu Adrian, ayo buka Adrian..."

__ADS_1


Kini Afika mengusap air matanya yang terus saja mengalir di kedua pipinya. "Jangan balas dendam dengan cara seperti ini Adrian. Ayo bangun, aku sudah memaafkan mu Adrian, jadi bangunlah." Dan tetap saja, seberapa banyak Afika berbicara tetap, Adrian tidak membuka matanya.


"Adrian..."


__ADS_2