
Hari ini adalah hari kedua Aina dan Daffian di pingit. Bahkan untuk menelpon pun mereka di larang.
"Ah... kenapa rasanya sangat menyiksa tidak bisa bertemu dengan Daffian sesaat pun."
Aina tampak mondar mandir di kamarnya. Membuka dan menutup gorden menatap pemandangan luar.
"Non! Non! Ada tamu yang mencari Non!" teriak bi Yati di balik pintu.
Aina berbalik dan berlari kearah pintu kamarnya dengan senyum senang yang merekah di bibirnya.
"Siapa, Bi? Apakah Daffian?" Aina membuka pintu kamarnya, Bi Yati menggeleng.
"Lalu siapa kalau bukan Daffian?" Aina mengerutkan dahinya. Ah iya lupa sekarang, kalau mereka sedang di pingit.
"Tidak tahu, Non. Katanya ada yang ingin di bicarakan dengan Non tentang sesuatu yang penting!"
Aina memgangguk dan mengikuti langkah bi Yati menuju kearah bawah, ruang tamu. Langkahnya semakin pelan saat mendapati punggung seseorang yang terasa familiar. Ingin membalik badannya dan kembali ke kamarnya, tetapi suara lelaki itu sudah lebih dulu menginterupsinya.
"Aina. Apa kabar?" sapa Rendy.
Aina kembali berbalik dan menatap Rendy dengan dingin. Ia masih berdiri di hadapan Rendy, melipat tangannya di dada.
"Mau apa kamu kesini? Mau menculik diriku lagikah?"
Rendy terkejut mendengarnya, sedetik kemudian tawanya pecah.
"Ya, aku kesini hanya ingin memberikanmu dua pilihan. Pilihan yang pertama, ikut denganku dan kita menikah. Pilihan kedua, ikut denganku dan kita hidup bersama."
"Pilihan macam apa itu, itu bukan pilihan namanya kalau di suruh memilih hal yang sama!" sahut Aina menatap jengah kearah Rendy.
Tawa Rendy pecah. "Artinya kamu tidak punya pilihan lain dalam hidupmu!"
Aina tampak kesal mendengarnya, berusaha tidak tersulut emosi menghadapi lelaki di depannya ini.
"Aku tidak akan memilih ikut denganmu. Aku sudah menetapkan hatiku disini. Dan beberapa hari lagi aku akan menikah. Jadi, berhentilah berjuang demi sesuatu yang tidak mau di perjuangkan. Usahamu akan sia-sia. Dan aku tetap pada keputusanku."
Rendy mengepalkan tangannya erat. Ini adalah usaha terakhirnya untuk membujuk Aina agar mau ikut dengannya. Tawanya pecah, tapi sedetik kemudian berhenti.
"Sayang. A...."
"Jangan panggil aku seperti itu lagi. Aku bukan milikmu lagi sekarang. Aku sudah bertunangan dengan Daffian dan akan menikah. Tidakkah kamu bisa menerima kenyataan ini?"
Aina memotong cepat ucapan Rendy, berharap lelaki itu mau menyerah dan menyudahi usahanya yang sia-sia.
"Baiklah kalau itu pilihanmu. Aku akan mengakhiri usahaku. Tetapi aku ingin kamu pikirkan sekali lagi keputusanmu itu."
Pada akhirnya, Rendy mengalah. Haruskah ia benar-benar mengalah.
"Keputusanku sudah tepat dan tepat. Aku menjatuhkan hatiku pada orang yang tepat. Dan aku menjalin hubungan ini juga berkaca dari kegagalan kita di masa lalu." Aina mendelik tajam kearah Rendy. Merasa kesal dengan keberadaannya yang mengganggu kerinduan Aina pada Daffian.
Rendy menunduk dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"Ma'afkan aku dan juga ma'afkan kesalahanku kemarin. Aku tidak bermaksud sejahat itu untuk merebut dan menculikmu dari Daffian. Aku hanya ingin kita hidup bersama lagi, memulai semuanya dari awal," menjeda.
"Karena aku sangat mencintaimu dan menyesal sudah memperlakukanmu seperti itu di masa lalu." Menatap Aina dengan sendu.
Aina menggeleng. "Beruntung dirimu tidak aku laporkan ke polisi karena orang suruhanmu hampir mencelakai kami. Dan lebih beruntung lagi dirimu karena Om Angga mau melepaskan dirimu, kalau tidak. Aku tidak tahu kesakitan apa yang kamu terima kalau Om Angga bertindak."
Rendy kembali menunduk. Tadinya ia ingin pamit pada Aina sekaligus membujuknya untuk mengubah keputusannya dan ini yang terakhir ia melihat Aina setelah ia benar-benar melepasnya. Namun, siapa sangka, kalau hati gadis ini sudah begitu jauh darinya. Menyesal dia dulu meninggalkan Aina di saat Aina begitu mencintai dirinya.
"Pulanglah Ren, apapun keputusanmu, itu yang terbaik untukmu. Aku tidak akan pernah ikut denganmu karena hatiku sudah berpenghuni dan aku sangat mencintai Daffian. Aku harap ke depannya kamu juga menemukan pasangan yang kamu inginkan dan hidup bahagia bersamanya."
Rendy mengangguk, tangannya terkepal erat. Ada denyut nyata yang terasa sakit di dadanya.
"Ikhlas. Ikhlaskan." Rendy terus menggaungkan kata-kata itu di hatinya. Inikah rasanya di tolak saat keinginan tergigih dan usaha termaksimal sudah di lakukan. Rasanya kecewa luar biasa tetapi apa yang kita bisa.
Rendy mundur selangkah menatap Aina dengan sendu. Kemudian maju selangkah, tangannya terulur mengacak rambut Aina untuk terakhir kali.
"Baik-baiklah hidup disini bersama pasanganmu. Aku akan menuruti semua kemauanmu untuk hidup bersama orang lain. Sekali aku pergi maka saat aku kembali, kamu tidak akan aku perjuangkan lagi."
Aina tersenyum, mengangguk dan menepuk bahu Rendy dengan pelan.
"Aku menunggu kabar bahagia itu darimu."
Rendy mepamgkah meninggalkan Aina yang masih menatapnya hingga menghilang di balik pintu.
"Lega. Pada akhirnya kita meniti jembatan yang kita pilih sendiri-sendiri untuk mencapai hidup masing-masing."
Aina berbalik, ingin kembali ke kamarnya.
"Teman, Bi!" sahut Aina sambil duduk di kursi.
"Benarkah? Tapi aku dengar tadi dia mengatakan memperjuangkan sesuatu, Non."
Aina melotot mendengarnya. "Bi Yati menguping ya. Hati-hati loh, nanti kupingnya lebar kayak kuping gajah."
Yati langsung melotot mendengarnya, meraba kearah kupingnya dan bergidik ngeri saat membayangkannya.
"Ma'af Non, tidak sengaja," bisik Yati keras.
"Ya udah. Aku ke atas dulu, ada beberapa pekerjaan yang harus aku lakukan!"
Aina melenggang meninggalkan Yati yang sedang melap di lantai bawah.
***
Sementara itu, Daffian masih sibuk dengan beberapa pekerjaannya di ruang kerja milik ayahnya. Ia sengaja membawa pekerjaannya ke rumah karena di larang keras untuk keluar rumah.
"Akhirnya kelar juga," Daffian berdiri dan berjalan keluar ruangan. Menatap handphone yang sejak kemarin terlihat tidak berpenghuni. Bahkan tidak ada dering sama sekali.
"Sebaiknya aku menghubungi Aina saja. Aku sudah lama tidak mendengar suaranya."
Daffian menekan nomor telpon miliknya, menekan ikon hijau. Tetapi handphonenya sudah di rebut oleh Rika terlebih dahulu.
__ADS_1
"Tidak boleh menghubunginya Daffian. Kalian sedang di pingit sekarang!"
Rika berkacak pinggang.
"Tapi ma, aku sangat merindukan Aina," Daffian memelas berharap Rika mengembalikan handphone miliknya.
"Tetap tidak bisa. Kamu tahan saja rindumu 2 hari lagi. Setelah itu kalian bisa sepuasnya melakukan apapun juga. Tuangkan semua rindumu pada malam pertama kalian."
Daffian mendelik kearah ibunya yang berbicara frontal seperti ayahnya.
"Mama sekarang ketularan papa ya!" sungutnya.
"Tidak sayang, kami hanya mirip saja," sahut Rika terkekeh. "Handphonemu biar mama yang pegang. Kalau ada yang penting maka akan mama beritahukan padamu."
Daffian mendesah kecewa mendengarnya, melihat Rika membawa pergi handphone miliknya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan dan apa yang sedang di lakukan Aina sekarang?" Daffian mengacak-acak rambutnya frustasi, berjalan kearah ruang keluarga.
"Daff, jangan mesra-mesraan disini. Kalian merusak pemandangan!"
Daffian duduk dan meraih remote televisi, mencari chanel yang menarik untuk di tonton.
"Apaan? Kami hanya duduk berdampingan saja tanpa melakukan apapun juga. Kenapa dengan dirimu?" tanya Daffa heran.
"Oh aku tahu. Pasti kamu merasa frustasi karena tidak bisa bertemu dengan kakak iparkan?" goda Daffa.
Daffian mendesah, menatap kearah Azza dan tersenyum. Baru saja ia ingin membuka mulutnya, Daffa sudah kembali membungkamnya.
"Kami tahu maksud kamu Daffian, tapi Azza tidak akan mau melakukannya untukmu!"
Lagi. Daffian merasa kesal menatap kembarannya. Sungguh kembaran yang menyebalkan, tidak mengerti perasaannya.
"Jangan kusut seperti itu dong mukanya. Nanti keriput loh!"
Lagi, Daffa terus menggoda Daffian yang merasakan suasana hatinya semakin buruk.
"Kamu menyebalkan, Daffa!"
Daffian menyandarkan kepalanya di kepala kursi, memejamkan matanya sesaat. Tetapi bayangan Aina menguasai benaknya.
"Aku ingin mandi dulu, mendinginkan otakku. Dan sepertinya berendam adalah pilihan yang tepat."
Daffa terkekeh senang melihat penderitaan Daffian.
•
•
•
***
__ADS_1