
Beberapa bulan kemudian
Rika sedang berada di dalam ruangan bersalin di sebuah rumah sakit. Ia baru mengalami pembukaan 8 dan masih ada beberapa waktu lagi menunggu sampai pembukaan sempurna.
Angga terlihat sangat gelisah berada di sisinya. Sejak tadi ia tidak pernah meninggalkan Rika barang sedetik pun, bahkan ia rela menunda semua pekerjaan penting miliknya karena ia sudah berjanji untuk menemani istrinya melahirkan walau bagaimanapun keadaannya. Beberapa kali ia menyeka keringat yang membanjiri wajah istrinya. Bahkan wajah Rika tampak memucat dan penuh kesakitan, walaupun di tutupinya dengan senyuman di bibirnya.
"Dokter! Cepat hentikan sakit perut pada istriku!!" teriak Angga yang sudah tidak sanggup lagi menatap Rika yang sejak tadi terus-menerus menarik dan menghembuskan napasnya melalui mulut.
Beberapa perawat bergegas berjalan kearahnya. Mereka tampak ketakutan karena sejak tadi Angga selalu memarahi setiap perawat dan dokter yang ada disana. Ia menganggap mereka terlalu acuh dengan keadaan istrinya. Sedangkan istrinya sedang mengalami kesakitan luar biasa.
"Ma'af pak, pembukaannya belum sempurna sepenuhnya," perawat menjawab takut-takut.
"Apa?!! Kenapa kalian hanya diam saja, sejak tadi dia sakit perut terus-menerus!!" Lagi, sebuah makian berhasil lolos dari mulut Angga.
Ia berpaling saat Rika menarik-narik tangan bajunya, menyimpan kembali kemarahannya yang kembali ingin ia luapkan kepada perawat yang berada di hadapannya. Rika menatap sendu kearah dirinya dan di iringi sebuah senyuman manis.
"Aku tidak-apa-apa," jawab Rika terbata. Sebisa mungkin ia menahan rasa sakitnya dan menyimpan semua rintihannya. Memang ini adalah pilihannya untuk melahirkan secara normal. Ia juga ingin merasakan sakitnya memperjuangkan sebuah kehidupan baru.
"Tapi sayang, aku tidak tega melihat dirimu kesakitan seperti ini," Angga membelai rambut Rika dan mengecup dahinya beberapa kali. Walau bagaimanapun, ada banyak kegelisahan dalam dirinya dan rasa takut kehilangan.
"Bagaimana kalau kita caesar saja, kamu tidak akan merasakan kesakitan seperti ini." Lagi, Angga membujuk Rika untuk yang kesekian kalinya.
Ada rasa ketakutan dalam dirinya saat mendapati keadaan Rika yang sekarang, harus menanggung sakit yang luar biasa demi mengeluarkan sosok baru dalam hidup mereka. Walaupun ia tidak merintih dan selalu tersenyum. Angga yakin dibalik ekspresinya yang terlihat tenang, terasa sangat sulit menanggung rasa sakit sendirian. Andai rasa sakit bisa dibagi, maka ia akan menanggung 3/4 dari rasa sakit istrinya. Bahkan ia rela harus menanggung sepenuhnya, asalkan istrinya selamat.
Rika hanya menggeleng dengan perlahan. Ia kembali merasakan nyeri yang luar biasa pada perutnya. Ia kembali menarik napasnya melalui hidung dan menghembuskannya melalui mulut. Bahkan ia terlihat beristighfar beberapa kali di sertai dengan tangannya yang mencengkram apa saja yang bisa di gapainya.
Perawat dan dokter kembali mendatangi Rika untuk memeriksa keadaannya. Rupanya pembukaannya sudah sempurna.
"Ibu, dengarkan apa yang saya intruksikan dan ikuti semua intruksi saya," ucap dokter Sabilla.
Rika hanya mampu mengangguk lemah saja. Ia sudah merasakan nyeri yang luar biasa, bahkan ia merasakan mulas dan ingin buang air besar. Bahkan jalan lahir miliknya sudah terasa sangat panas.
"Kedua tangan ibu memegang paha ya," intruksi dr Sabilla. Ia kembali memeriksa jalan lahirnya.
"Tarik napas bu, hembuskan!" Lagi, dr Sabilla kembali bersuara.
"Ejan, bu! pelan-pelan!" perintah dr Sabilla.
Sebisa mungkin Rika mengikuti instruksi yang di berikan oleh dr Sabilla. Bahkan ia memejamkan matanya saat dia harus mengejan.
__ADS_1
Sedangkan Angga ia terlihat sangat tegang melihat persalinan istrinya. Bahkan ini adalah yang pertama kalinya ia melihat seorang wanita melahirkan di depan matanya.
Sungguh, ia merasakan gugup dan rasa takut pada dirinya. Bahkan sejak tadi ia tidak mampu bersuara lagi, untuk bernapas pun rasanya ia sudah mulai kesulitan.
Tangan Angga terlihat sibuk membelai kepala Rika bahkan ia mengecup dahinya beberapa kali. Dengan lembut ia selalu membisikkan kata-kata cintanya untuk Rika hingga terdengar suara tangis mengisi ruangan tersebut.
"Oek oek oek," suara bayi pertama mereka telah lahir.
Berselang 5 menit kemudian, bayi kedua berhasil kembali di keluarkan dengan selamat.
Angga begitu terharu dibuatnya, ia menyeka ujung matanya yang sedikit berembun. Ada senyum kegembiraan yang tidak terkira bahkan hatinya begitu berdebar melihat kedua bayi mungil yang sedang di bersihkan oleh kedua perawat tersebut.
"Pak Angga silahkan keluar dulu, kami akan membersihkan ibu Rika terlebih dahulu."
Angga mengangguk, ia menatap Rika sesaat kemudian mengecup dahinya dan berlalu keluar ruangan.
"Bagaimana? Apakah bayi-bayinya sudah keluar?" Eland dan Rani langsung menyerbu Angga.
"Iya pa, ma, keduanya sudah keluar dengan selamat. Dan sekarang keduanya sedang di bersihkan oleh perawat dan dokter."
Eland dan Rani tersenyum senang mendengarnya. Sekarang mereka sudah menjadi seorang nenek dan kakek dari dua orang cucu laki-laki.
"Bagaimana dengan Rika? Dia baik-baik sajakan?" Rani kembali bertanya.
"Selamat Nak, kamu sekarang sudah menjadi seorang ayah. Maka tanggung jawabmu akan semakin besar. Jadi, bijaksanalah dalam mengambil setiap keputusan dan juga didiklah anak-anakmu dengan benar," nasehat Eland. Ia benar-benar terharu dan menepuk-nepuk pundak anaknya.
Andaikan istrinya masih ada disini, pasti ia akan kegirangan luar biasa. Apalagi setelah mengetahui bahwa cucu yang di nantikan ternyata anak kembar.
Angga mengangguk, ia memeluk ayahnya untuk meluapkan rasa gembira dan rasa haru yang bercampur aduk menjadi satu. Kemudian duduk tepat di samping ayahnya, di kursi tunggu yang ada di depan ruangan bersalin. Menatap kearah handphonennya yang sengaja di matikannya tadi saat menemani Rika bersalin. Ia tidak ingin terganggu karena bunyi handphone miliknya. Kembali menghidupkannya dan memeriksa beberapa pesan masuk yang belum sempat di bacanya.
"Bagaimana? Apakah ketiganya selamat dan sehat?"
Angga menegakkan kepalanya saat mendengar suara lain yang terdengar di telinganya. Di hadapannya berdiri sosok Alvaro bersama istrinya. Ia sedang bertugas di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat Rika bersalin.
"Baik. Keduanya sehat dan selamat," sahut Angga. Ia berdiri dan menghampiri Alvaro.
"Selamat, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah," Alvaro menyodorkan tangan kanannya kearah Angga, yang langsung di sambut olehnya.
"Terima kasih," sahut Angga sambil menampakkan sebaris giginya yang putih dan bersih.
__ADS_1
Dokter keluar dari ruangannya dan berjalan kearah Angga.
"Istri bapak akan segera kami bawa ke ruangan, beserta dengan anak bapak."
"Terima kasih, dok!" Sahut Angga lagi yang diangguki oleh dr Sabilla.
"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka berdua?" Eland mendekat kearah Angga.
"Sudah pa, namanya juga sudah kami diskusikan bersama Rika. Dia juga turut andil dalam pemberian namanya," sahut Angga.
"Itu bagus! Kalian pasangan yang cocok dan serasi. Ini akan menjadi contoh yang baik dalam mendidik anak-anak kalian kelak," Eland menepuk pundak Angga.
"Benar itu Angga, kalian adalah figur orang tua, jadi kalian harus mencontohkan sesuatu yang baik di mata anak-anak kalian. Pendidikan tidak hanya sebatas lingkungan sekolah tapi lingkungan keluargalah yang pertama dalam membentuk karakternya." Rani ikut membuka suara.
"Iya, ma. Bimbing Angga dalam mendidik mereka," sahutnya.
"Pasti!" Rani dan Eland mengangguk bersamaan.
Setelah Rika memasuki ruangan perawatan, seluruh keluarga Angga datang menjengoknya, termasuk Alvaro beserta istrinya. Mereka silih berganti melihat bayi kembar yang tampan menyerupai ibu dan ayah tersebut. Perpaduan wajah Angga dan Rika.
Bayi kembar mereka juga sudah di letakkan didalam box yang ada di samping ranjang Rika.
"Tampan sekali anak kalian, hidung dan mulutnya seperti milik istrimu," Eland menatap kedua buah cinta Rika dan Angga.
"Siapa nama mereka?" tanya Eland kemudian.
Angga berjalan mendekat, menatap dengan lekat kedua bayi kembarnya. Kemudian berpaling menatap kearah Rika yang sudah mengangguk terhadapnya.
"Anak pertama, namanya Daffa Ramdan dan yang kedua adalah Daffian Hamizan," sahut Angga.
"Rahadian! Jangan lupakan marga keluarga kita," sahut Eland menambahkan.
"Iya pa, namanya Daffa Ramdan Rahadian dan Daffian Hamizan Rahadian."
•
•
•
__ADS_1
*******
Season 2 nya akan segera terbit dengan judul yang sama "Menikah Karena Dendam" dan menceritakan tentang pernikahan anak Rika dan Angga yang pertama, Daffa. Bersama seorang gadis yang bernama Anggia.