
Helena menatap kearah luar jendela. Sekarang ia sedang berada di ruang pemeriksaan, lebih tepatnya di pemeriksaan ibu hamil dan balita.
Matanya beralih pada perut besarnya, membelainya dengan penuh kepedihan. Ia harus menjalani masa kehamilannya dalam jeruji besi. Tidak ada penyesalan di matanya, yang ada hanyalah dendam membara yang semakin mengakar kuat dan mendarah daging. Ia begitu benci pada sosok Angga hingga membuat keadaannya bertambah runyam. Seandainya waktu itu Angga mau di ajak berhubungan, ia tidak akan melampiaskannya pada laki-laki lain yang berakibat fatal seperti ini. Ia yakin, pasti benih Angga lah yang tumbuh di dalam perutnya bukan milik lelaki asing tersebut.
Tadinya ia pikir dengan menikahi Angga maka status anak di dalam perutnya sudah diakui sebagai keturunan Rahadian. Dengan berpura-pura hamil setelah menikah dengan Angga.
Bahkan Helena juga tidak tahu dimana keberadaan ayah biologisnya karena pertemuan mereka hanya semalam saja. Setelah itu ia memutuskan untuk melupakan kejadian malam itu.
Namun siapa sangka, kejadian itu justru meninggalkan seorang janin yang berada di dalam perutnya dan sekarang sudah hampir melihat dunia. Ia juga tidak berkesempatan untuk mencari keberadaan pria tersebut, ia sama sekali tidak mengenal identitasnya, bahkan namanya saja ia tidak tahu.
Tangannya masih membelai perutnya dengan sayang, senyum miring tersungging di bibirnya setelah ingatannya kembali pada sosok Angga. Lelaki yang sekarang sangat di benci olehnya, bahkan mengalahkan bencinya pada apapun juga yang ada di dunia ini.
Apapun akan ia lakukan kelak di masa depan demi menuntaskan hasrat dan dendamnya yang semakin memuncak setiap harinya. Ia tidak akan membiarkan Angga hidup bahagia bersama istrinya setelah ia mengkhianati cinta mereka yang terjalin lebih lama dari pernikahannya bersama wanita kampungan itu, dan lebih memilih hidup bersama wanita yang bukan apa-apa di matanya. Bahkan Angga rela memasukkan dirinya kedalam penjara yang dingin dan kejam saat dirinya dalam keadaan hamil. Padahal mereka sudah bertahun-tahun menjalin hubungan asmara. Dan yang lebih menyakitkan lagi baginya, keburukannya di beberkan pada setiap orang di hari acara pernikahan mereka. Seolah-olah dunia sekarang sedang mencemooh dan membencinya.
Tangannya terkepal erat dengan jari jemari yang memutih, bahkan tatapannya datar dan dingin.
"Nona, ayo kita ke ruang isolasi!" salah seorang sipir wanita kembali menggiring Helena.
Sedangkan Helena hanya diam saja tanpa bicara sepatah katapun. Ia mengikuti sipir tersebut, menggiring langkahnya yang terasa berat.
Selama di ruang tahanan, ia berusaha menulikan telinganya dari ejekan-ejekan para tahanan wanita lainnya. Yang menjadikan kehamilannya sebagai bahan olokan, padahal mereka juga seorang kriminal. Munafik memang, mengolok orang lain demi menutupi aib diri sendiri.
"Elen, bagaimana keadaannya di dalam sana?" tanya salah seorang tahanan yang lainnya sambil menunjuk perut besar Helena dengan ujung matanya.
"Dia baik Bella, bahkan dalam sebulan lagi aku akan melahirkan," tersenyum miris saat melihat keadaannya yang masih di dalam penjara. Dan masa tahanannya masih sangat panjang. Ia divonis selama 5 tahun kurungan penjara, dan sekarang hampir menjalani setahun masa tahanan.
"Tidak apa-apa. Kamu harus yakin kalau kalian pasti akan baik-baik saja," sahut Bella. Dia adalah seorang tahanan dengan kasus penipuan. Walaupun begitu, ia sudah tobat selama menjalani masa hukumannya, bahkan ia menjadi seorang penasehat di dalam jeruji besi tersebut.
"Bukan itu masalahnya," sahut Helena gamang. Ia kembali tersenyum getir.
__ADS_1
"Lalu apa?" Bella menatap intens Helena.
"Statusnya sebagai anak haram lah yang aku khawatirkan. Bagaimana ia nantinya harus menghadapi dunia di tengah cemoohan dan kebencian orang." Menatap Bella dengan sendu.
"Ditambah lagi diriku adalah seorang penjahat. Apakah mungkin bagiku membesarkan anak di dalam penjara." sambung Helena. Ia menarik napas dalam.
"Sedangkan disini lingkungannya sangat tidak baik bagi perkembangan seorang anak," sambungnya lagi.
"Aku akan membantumu nantinya dalam mengasuh dia, sebentar lagi aku juga akan bebas," sahut Bella.
Helena kembali menatap Bella dengan tatapan dalam. Bola mata hitam miliknya tampak berpendar, ada sedikit kelegaan di dalam hatinya.
"Percayalah padaku. Aku akan memelihara dan menjaganya dengan baik sampai kamu keluar dari sini." Bella meyakinkan.
"Terima kasih," lirih Helena sambil merangkul Bella.
Helena melepaskan pelukannya, menyeka ujung matanya yang tampak berembun. Baru kali ini ia melihat ada orang yang benar-benar tulus untuk membantunya.
"Kalau aku keluar nanti, aku akan sering menjengukmu kesini," sahut Bella.
"Jangan ajak dia. Aku tidak mau dia tahu kalau diriku seorang kriminal," Helena kembali menatap kearah perut besarnya. Membelainya dan memejamkan mata, ia merasakan gerakan janin tersebut menendang-nendang perutnya.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit perut?" panik Bella saat ia mendengar ringisan yang keluar dari mulut Helena.
"Tidak! Hanya saja dia sedang senang di dalam sana dan menendang perutku." Helena masih memperhatikan perutnya yang tampak bergerak.
"Coba kamu lihat!" tunjuknya pada perutnya yang bergerak dan sesekali menonjol.
"Heh. Anak haram seperti itu kamu bangga." Tiba-tiba seorang wanita yang seumuran Helena datang menghampiri mereka. Dia adalah seorang mantan perampok dan ia merasa sangat berkuasa di dalam blok tahanan tersebut. Bahkan, apapun keinginannya harus di layani oleh tahanan yang lainnya, kecuali Helena. Entah kenapa ia sangat tidak menyukai Helena di tambah lagi dengan keadaan Helena yang hamil di luar nikah.
__ADS_1
"Dia punya bapak. Seandainya tidak punya bapak, dia tidak akan ada di dalam sini!" sahut Bella membela Helena.
"Bapak?" Erni menatap sinis pada Helena. "Bapak di luar nikah," sahutnya lagi.
"Itu sama saja dengan anak haram. Laki-laki hanya bisa menyumbangkan spermanya dan kamu keenakan menerimanya, hingga kekenyangan selama 9 bulan lebih," ucapnya dengan tatapan mengejek disertai sebuah seringaian.
Helena berusaha menahan gejolak di dadanya, ingin rasanya ia membungkam mulut Erni yang tidak pernah diam tersebut. Entah kenapa wanita itu selalu saja menghina dirinya, padahal ia tidak pernah mencari perkara dengannya.
"Kenapa? Kamu malu dengan keadaanmu sekarang? Menyesal pun juga percuma!" ketusnya lagi. Ia masih menatap Helena dengan sinis. Entah kenapa ia sangat membenci wanita yang murahan dan merelakan tubuhnya untuk di nikmati lelaki hidung belang. Sebab itulah ia lebih memilih menjadi seorang perampok daripada menjadi seorang wanita malam yang bisanya hanya mengangkang saja hanya demi uang. Pekerjaan yang benar-benar hina di matanya.
"Elen. Sudah, jangan hiraukan dia. Lebih baik kamu istirahat saja, nanti perutmu kenapa-kenapa," Bella mengajak Helena bicara untuk melupakan amarahnya. Ia tahu kalau wanita hamil tidaklah baik apabila selalu emosian.
Helena mengangguk. Baru saja ia berpaling, Erni kembali bersuara membuat pergerakan Helena terhenti.
"Apa kamu tidak kasihan pada dia!" tunjuk Erni pada perut Helena dengan dagunya. "Lahir dalam keadan tanpa ayah dan aib bagi dirimu," Erni menatap dingin Helena.
Senyum miring terbit di bibir Helena. "Rupanya kamu sangat perhatian padanya. Apa kamu pernah mengalami hal yang serupa sebelumnya?" Helena menatap Erni dengan tatapan dingin.
"Hhaha... aku bukan wanita semurahan kamu. Bahkan rela tidur dengan lelaki lain hanya demi sebuah kepuasan!" ejek Erni yang langsung membuat Helena terdiam.
Tangannya kembali terkepal dan meninggalkan Erni yang tersenyum senang karena berhasil menjatuhkan harga diri Helena.
•
•
•
*******
__ADS_1