Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 75


__ADS_3

Afika duduk di tangga sambil menangis. Menangis sesegukan, untung saja tidak ada satupun karyawan atau karyawati yang melewati tangga, jadi dirinya bisa meluapkan emosi dalam dirinya. Perlahan, Afika mengatur nafas, lalu mengusap air matanya. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Afika menoleh dan matanya langsung tertuju pada pria yang membuat dirinya menangis. Beberapa menit mata mereka saling berpandangan, lalu kemudian Adrian langsung melangkah lebar menuju Afika dan memeluk tubuh Afika.


"Lepaskan aku Adrian." Kata Afika sambil mencoba melepaskan dirinya. Namun, semakin Afika mencoba melepas, semakin erat pula pelukan yang di berikan oleh Adrian. "Kau jahat Adrian. Kau jahat." Lanjut Afika, namun Adrian masih tetap tenang membiarkan Afika yang terus saja berbicara mengatakan dirinya jahat. Dan, saat pukulan Afika semakin melemah, dan juga ucapan Afika kini mulai berhenti, lalu Adrian perlahan mengusap pucuk kepala Afika.


"Maafkan aku sayang. Ini semua salah paham." Kata Adrian. Namun Afika yang sudah lelah menangis dan memberontak di dalam pelukan Adrian, tidak menggubris sama sekali ucapan Adrian. "Aku hanya mencintaimu, tidak ada yang lain. Semua ini salah paham." Kini Adrian kembali mengusap pundak belakang Afika. "Banyak ucapan yang tidak kau dengarkan tadi. Aku punya bukti, jika kau mau melihat dan mendengarnya maka ikutlah ke ruanganku." Pintanya, lalu Adrian melepaskan pelukannya, dan menatap wajah Afika, yang kini matanya mulai bengkak akibat menangis. Adrian lalu mengusap sisa air mata yang masih membekas di pipi Afika. "Maaf."


Kini Adrian menuntun Afika untuk masuk ke dalam ruangannya. Baby, Rio yang berada di depan ruangan Adrian, hanya diam saat melihat Afika yang berjalan beriringan dengan Adrian.


"Jangan merusak suasana nona." Kata Rio, saat melihat Baby yang juga ingin masuk ke dalam ruangan Adrian.


"Rio, lepaskan tanganmu. Jangan memeganku seperti itu." Kesal Baby, karena Rio memegang tangannya.


"Maaf nona." Dengan segera Rio melepaskan tangannya sebelum terjadi masalah yang akan membuatnya repot.


"Baiklah, aku tidak akan masuk. Kalau begitu hubungi Nadi dan suruh dia ke ruanganku sekarang juga. Ingat! Sekarang! Bukan nanti."


••••

__ADS_1


Afika tersenyum malu saat melihat dan mendengar ucapan Adrian. Afika pun refleks menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Sudah cukup Adrian, aku sudah percaya." Kata Afika. Lalu Afika mencoba berdiri, tapi dengan cepat Adrian menahan tubuh Afika hingga membuat Afika kembali duduk di kursi kebesaran Adrian.


"Sudah percayakan? Laki-laki yang di pegang adalah ucapannya sayang. Jadi percayalah padaku, jika aku hanya mencintaimu saja. Tidak ada yang lain."


Kini Afika membuka matanya, dan mata Afika tertuju pada bingkai foto, dimana di bingkai itu terdapat foto dirinya. Foto yang entah sejak kapan Adrian ambil. Afika mengingat jika tidak salah foto ini di ambil saat dirinya sedang berada di taman mension hutan.


"Ini.?" Afika mengambil foto tersebut lalu memperlihatkan pada Adrian. Dengan posisi Afika yang kini berdiri.


"Itu foto istriku."


"Kau lihat sendiri sayang." Ucap Adrian. Lalu Adrian duduk di kursi kebesarannya dan menuntun Afika agar duduk di atas pangkuannya. "Ini foto yang aku ambil saat kita masih di mension hutan. Dan maaf karena mengambil fotomu secara sembunyi-sembunyi." Adrian memeluk tubuh Afika dari arah belakang. Dan sampai saat ini Afika belum menyadari itu, padahal beberapa hari yang lalu dia masih trauma dengan pelukan Adrian. Afika masih trauma dengan kejadian yang membuatnya bisa mengandung.


"Aku tahu ini di mension Adrian. Tapi untuk apa? Kenapa foto ku berada di sini?"


Adrian menghembuskan nafas secara perlahan

__ADS_1


"Aku lambat menyadari jika aku telah mencintaimu Afika. Melihat fotomu saja bisa membuat ku senyum dan marah secara bersamaan."


"Maksudnya?"


"Sayang,. Egoku dulu terlalu tinggi sampai aku tidak menyadari jika aku mencintaimu. Dulu, saat melihat fotomu selalu membuatku tersenyum. Tapi, secara bersamaan aku juga marah karena tahu kau dekat dengan Nadi. Belum lagi, Baby selalu saja memaksa ku untuk membencimu." Jelas Adrian. Ya, memang Ego yang terlalu tinggi membuatnya tidak menyadari jika nama Afika sudah bertahta di dalam hatinya.


Afika menoleh, dan kini kedua mata itu saling bertatapan.


Beberapa saat kemudian, Adrian langsung mendaratkan satu kecupan di bibir Afika.


"Aku mencintaimu istriku."


Spontan Afika langsung berdiri karena baru menyadari jika dirinya saat ini sedang berada di atas pangkuan Adrian dan juga Adrian memeluknya.


"Aku pulang dulu. Lion sudah menungguku." Dengan segera Afika keluar dari ruangan Adrian, membuat Adrian tersenyum.


Adrian merasa sangar bahagia dengan kejadian ini. Karena setidaknya kini Adrian tahu, jika memang benar Afika juga mencintai dirinya. Hanya saja, Afika mungkin belum bisa lepas dari ingatan masa kelam yang Adrian berikan.

__ADS_1


"Aku akan sabar menunggumu sayang."


__ADS_2