
"Papa pasti akan membantumu mengklarifikasi semuanya," sahut Eland lagi.
"Terima kasih, pa," sahut Angga.
Eland mengangguk dan menepuk-nepuk bahu anaknya. "Pergilah temui istrimu, barangkali ada sesuatu yang dia inginkan.
"Seorang istri akan sangat memerlukan dukungan suaminya disaat ia hamil, melahirkan dan juga mengasuh dan mendidik anak. Jadi, jangan lupakan itu," ucap Eland lagi.
Angga mengangguk, kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan ayahnya seorang diri.
Baru saja ia masuk kamar dan duduk di tepi ranjang untuk melihat keadaan istrinya, pintu kamarnya sudah di ketok terlebih dahulu. Dengan perlahan ia berjalan kearah pintu untuk membukakan.
Tampak seorang perempuan berusia 40 tahun dengan jas putih di badannya berdiri dihadapannya.
"Angga, dia adalah dokter yang akan memeriksa istrimu," ucap Eland setelah melihat keterdiaman anaknya.
Angga mengangguk dan membukakan pintu kamarnya lebar-lebar, mempersilahkan dokter wanita tersebut masuk.
"Silahkan masuk dr Sabilla!" Angga mempersilahkan. Ia berjalan mengekori dokter tersebut menuju kearah istrinya yang terbungkus selimut.
"Bagaimana kondisi terakhirnya?" tanya dr Sabilla.
Angga menatap kearah Rika yang masih memejamkan mata, dia seperti enggan untuk membuka matanya.
"Dia selalu muntah dan selalu tidur sepanjang hari seperti ini. Bahkan setiap kali mencium aroma masakan, dia juga akan mual dan muntah," jelas Angga.
Dr Sabilla hanya mengangguk paham dengan kondisi pasiennya tersebut.
"Berapa kali dia muntah dalam sehari, ataukah dia terus-menerus muntah sepanjang hari?"
Angga hanya mengangguk saja, ia rasa lebih dari 5 kali.
"Mungkin lebih dari 5 kali atau juga setiap kali ia mencium bau yang tidak di sukainya."
"Sebenarnya istri anda sedang mengalami kondisi, dimana dia mengalami muntah berlebih, hingga membuat dirinya lemas atau bahkan berat badannya menurun. Kondisi ini biasa di sebut dengan Hyperemis grividarum."
"Apa berbahaya?"
Dr Sabilla mengangguk, "Sangat berbahaya kalau tidak di tangani. Bisa menyebabkan keguguran, kelahiran bayi prematur dan ibu yang mengalami dehidrasi."
"Sebaiknya dia kita beri cairan infus saja untuk memasukkan nutrisi kedalam tubuhnya," jelas dr Sabilla.
"Baiklah. Apapun itu asalkan terbaik untuk istri dan bayiku maka lakukanlah," sahut Angga.
__ADS_1
Dokter Sabilla tampak sibuk memasang infus pada lengan kiri Rika. Setelah selesai, ia berdiri dan kembali menghampiri Angga.
"Aku akan mengirim perawat kesini untuk mengecek kondisi istrimu dan juga memeriksa infusnya."
"Terima-kasih, Dok," sahut Angga.
"Setelah istrimu lebih baik nanti, srbaiknya bawa kembali ke rumah sakit. Aku ingin melihat kemungkinan yang sebenarnya terjadi."
Angga terdiam, ia merasa khawatir mendengarnya. Menatap dokter Sabilla cukup lama.
"Bukan sesuatu yang perlu di khawatirkan. Istrimu mengalami hal semacam ini karena di picu oleh asam lambungnya yang berlebih dan sepertinya ada lagi pemicu yang lainnya. Tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang, apabila tidak di lihat menggunakan USG."
"Baiklah, aku akan membawanya ke tempat prakter dokter nantinya," sahut Angga.
Ia menjabat tangan dokter tersebut dan mengucapkan terima-kasih. Eland mengantarkannya hingga ke pintu utama, ia tidak membiarkan Angga meninggalkan istrinya dalam kondisi seperti itu.
***
Sudah dua hari Rika hanya terbaring di ranjangnya. Bahkan kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia juga sudah bisa makan dan minum dengan teratur, walaupun penciumannya sangat tajam, ia masih mampu untuk menghalaunya agar tidak muntah.
Sedangkan Angga, dia membawa pekerjaannya ke rumah. Jadi setiap hari Asra akan datang ke rumah untuk membawakannya berkas dan file.
Rika membuka matanya dan mendapati Angga yang sudah duduk di sampingnya. Menatap dengan hangat sambil membelai kepala istrinya. Senyum mengembang di bibir Rika.
"Sayang, pagi ini aku ingin jalan-jalan di taman. Tolong siapkan pembakaran!" pinta Rika.
"Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu. Sudah 2 hari kamu berada di rumah terus-menerus menemani diriku."
"Kamu tenang saja, semuanya pekerjaanku sudah dibawa oleh Asra ke rumah. Jadi, aku bisa bekerja sambil menemani dirimu."
Rika tersenyum senang mendengarnya, ia bergerak memeluk Angga. Sedangkan Angga tampak terkekeh dibuatnya. Ia merasa senang dengan tingkah istrinya yang sedikit manja.
Mereka segera keluar kamar untuk memenuhi keinginan ngidamnya Rika. Berjalan kebelakang mansion. Disana sudah disiapkan pembakaran daun dan rumput oleh tukang kebun.
Rika sudah duduk beberapa meter darinya, ia hanya akan mencium aromanya saja, bukan menghirup asapnya.
Api sudah menyala, semerbaknya penciuman sudah menyebar kemana-mana. Bahkan asapnya sudah mengepol dan membumbung tinggi. Rika terus saja memejamkan matanya menikmati semuanya.
"Matikan api itu! Asapnya sangat berbahaya!" Eland sudah berdiri tidak jauh dari api tersebut.
"Kenapa kalian pagi-pagi sudah membakar sampah? Bahkan tidak pada tempatnya." Eland masih menatap tajam kearah pekerjanya. Kemudian berpaling kearah Angga yang sudah datang menghampirinya.
Angga menatap kearah pekerja tersebut, tukang kebun tersebut tampak ketakutan dan menunduk, tidak bisa menjawab pertanyaan dari tuannya tersebut.
__ADS_1
"Ayah, ini atas permintaan Rika. Dia sangat menyukai aroma rumput di bakar."
Eland melotot mendengar penjelasan Angga barusan.
"Asap tidak baik bagi kesehatan, terlebih lagi dia sedang hamil. Apa kamu tidak dapat memikirkan alternatif yang lain selain cara ini?" Eland masih menatap tajam Angga.
"Sudah pa, sebentar lagi juga akan keluar produk parfum yang sesuai dengan keinginan Rika. Jadi, dia tidak perlu lagi menatap pembakaran sampah seperti ini," sahut Angga.
"Bagus. Akhirnya kamu sedikit lebih pintar." Eland menepuk-nepuk bahu Angga dan segera masuk kembali kedalam mansion. Meninggalkan sepasang sejoli yang sedang menikmati masa-masa mengidam istrinya.
Angga tersenyum menatap kepergian Eland. Ia kembali menghampiri istrinya. Hari ini ia akan membawa Rika ke tempat praktek dokter Sabilla untuk memeriksa keadaan kehamilan istrinya.
"Sayang, sekarang kita masuk ke mansion dan bersiap-siap untuk ke rumah sakit."
Rika mengangguk mendengar penuturan suaminya. Ia segera berdiri dan berjalan bergandengan tangan.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit tempat dokter Sabilla praktek. Angga segera meraih tangan Rika dan menggandengnya dengan perlahan. Ia ingin memperlihatkan pada semua orang bahea dia memiliki istri yang sempurna.
Setibanya di ruangan dokter Sabilla, wanita berkepala 4 tersebut segera menyambut mereka. Bahkan Rika kembali di periksa keadaannya, tensi darahnya dan juga berat badannya.
"Berat badannya masih normal, tapi usahakan untuk makan makanan bergizi. Sedikit-sedikit saja, tidak perlu banyak tapi sering," ucap dr Sabilla.
Rika mengangguk paham, apapun pasti akan ia lakukan untyk kesehatan janinnya. Ia bersyukur karena pada akhirnya ia hamil walaupun kondisinya sangat melelahkan. Tapi ia selalu menikmati momen-momen kehamilannya setiap detik.
Rika sudah berbaring diatas ranjang, menyingkat bajunya hingga keatas pusar. Perawat mengoleskan jell pada perutnya. Rasa dingin seketika langsung menjalar di perutnya.
"Selamat! ternyata benar dugaanku kalau istrimu sedang mengandung anak kembar," ucap dr Sabilla.
Angga berjalan mendekat dan memperhatikan monitor yang ada di depannya.
"Coba kamu lihat dua kantong tersebut. Itu adalah kantong kehamilan istrimu. Dan janinnya masih sangat kecil," ucap dr Sabilla lagi.
Rika terharu mendengarnya, tanpa sadar ia meneteskan airmata kebahagiaan. Begitupun dengan Angga yang menatap kearah Rika.
"I love you," bisik Angga saat Rika menatap kearahnya.
Rika hanya mengangguk saja. Ia terlihat senang dan merona karena sikap Angga yang luar biasa terhadapnya. Rasa syukur tak terhingga terus ia panjatkan kepada Allah SWT.
•
•
•
__ADS_1
****
Beberapa part lagi in syaa Allah akan tamat, mohon dukungannya biar cepat selesai.