
"Nadi dimana dia?" Gumam Afika sambil mencari keberadaan Nadi. Afika pun, mencoba menghubungi Nadi namun panggilannya tidak terjawab.
Sedangkan orang yang telah di cari saat ini sedang berada di ruangan Baby. Ponsel Nadi di sandra oleh Baby sehingga Nadi tidak bisa menjawab panggilan dari Afika.
"Nona Baby. Kasihan nyonya. Mungkin saja nyonya ingin mengatakan sesuatu yang penting."
"Nadi, kenapa kau mencoba menghindariku? Kau tahu sendiri bukan, apa yang aku katakan sama dengan apa yang Adrian katakan. Jadi harusnya kau dengar aku Nadi."
"Iya nona." Ucap Nadi dengan cepat agar terhindar dari masalah.
"Baiklah kalau begitu, nanti malam antar aku ke acara reuni kampusku. Dan ingat! Kau harus berpura-pura menjadi kekasihku. Ingat itu Nadi!"
Ucapan Baby bagaikan petir di siang hari. Berpura-pura menjadi pasangan kekasih. Sedangkan Nadi sama sekali tidak tahu apa itu pacaran. Dirinya hanya sibuk bekerja, tidak pernah berkenalan dengan orang luar. Sekalinya ingin keluar justru harus berpura-pura menjadi pacar.
"Kenapa diam saja. Ayo jawab!?"
__ADS_1
"Baik nona."
"Ambil ponselmu. Dan juga ini, Baby memberikan kartu atam miliknya pada Nadi. "Gunakan uang ku sebanyak mungkin untuk membeli baju. Ingat! Kau harus tampil keren agar teman ku terkesima dengan pasanganku."
"Baik nona."
Keluar dari ruangan Baby, Nadi langsung bernafas dengan lega. Entah kenapa setiap berurusan dengan Baby, seperti spontan membuat Nadi sesak nafas secara mendadak..
"Semoga saja nanti malam nyonya memberikan perintah padaku agar aku tidak menemani nona Baby ke pesta reuni." Batin Nadi, dan langsung bergegas pergi dari sana sebelum Baby kembali memanggilnya.
"Sayang, biar aku yang mengantarmu." Adrian menghampiri Afika.
"Tidak usah. Aku akan menunggu Nadi."
Adrian menepuk tangan sebanyak tiga kali, sehingga para pengawai yang berada di sana langsung mendekat ke arah Afika dan Adrian..
__ADS_1
"Perkenalkan dia istriku. Afika Maganta. Kenali wajahnya. Perlakukan dia dengan baik. Ucapan istriku sama dengan ucapanku. Aku ingin kalian melayaninya dengan baik jika istriku sedang berada di perusahaan." Umum Adrian membuat semua karyawan menundukkan kepala memberi hormat serta bertepuk tangan. Tidak di sangkah dari semua orang ternyata pemimpin perusahaan mereka sudah menikah dengan wanita yang cantik. Dan jika di lihat dari tampilan, istri dari tuan mereka itu sederhana tapi elegan. "Baiklah kalian bisa kembali bekerja." Titah Adrian
"Kenapa harus di kenalkan. Tidak penting juga."
"Ingat kau istriku, Afika Maganta. Dan siapa pu itu harus tahu kau itu milikku.."
"Itu Nadi. Nadi ayo antar aku pulang, Lion sudah aku tinggal lama." Ucap Afika memotong ucapan Adrian. Karena bagaimana pun Afika masih mempertanyakan dirinya sendiri yang bisa senyaman itu duduk di pangkuan Adrian. Dan juga pelukan Adrian saat berada di tangga benar-benar membuat dirinya merasa tenang. "Adrian, terima kasih. Tapi aku harus pulang dulu."
"Kau tidak ingin di antar oleh suamimu yang tampan ini?"
"Bekerjalah dengan baik. Lion butuh uang untuk beli susu dan juga uang untuk biaya pendidikan yang semakin hari semakin mahal. Kalau begitu aku pulang dulu." Cup, spontan Afika mencium pipi Adrian sehingga membuat Adrian membelalakkan mataya dengan lebar-lebar.
"Ayo Nadi, cepat." Ajak Afika.
"Hahahahah" Adrian tersenyum saat Afika telah pergi. "Bahkan semua susu yang ada di negara ini bisa aku beli tanpa harus bekerja. Dan pendidikan, terserah dari Lion mau dimana, tinggal pilih saja." Gumam Adrian.
__ADS_1