
Selesai acara pernikahan, Khalid dan Khaula segera diboyong ke rumah Nazima. Di sanalah Khaula akan dipasangi suntiang dan diarak bersama iring-iringan untuk kembali ke rumahnya. Sesuai tradisi baralek yang ada di Nagari Kumanis ini.
Niat Khaula membuat Nazima sakit hati, kembali menyentak dalam kepala. Mungkin sudah saatnya ia memulai aksi balas dendam terhadap Khalid dan Nazima.
“Niz. Bolehkah Khalid menemaniku di sini?” tanya Khaula ketika perias pengantin sudah siap memasangkan suntiang.
Mendengar permintaan Khaula, tentu saja Nazima tersenyum. Khaula dibuat semakin tersiksa dengan sikap gadis tersebut. Kenapa ia tidak cemburu? Kenapa ia bersikap seperti tidak ada masalah apa-apa?
“Khaula memintamu masuk,” ujar Nazima ketika Khalid sedang duduk bersama Bako laki-laki Khaula.
Khalid tersenyum, dan mohon diri kepada sauda-saudara Nazima yang duduk di ruang tamu.
Khalid mengikuti langkah Nazima dari belakang, masuk ke kamar di mana Khaula sedang dihias menyerupai ratu, cantik. Dada khalid berdegup semakin cepat. Setelah masuk Khalid mendekati Khaula, diikuti Nazima di belakangnya. Kembali Khaula terlihat heran dengan gesture Nazima, ia seperti tidak merasakan sakit hati atau pun salah tingkah ketika Khalid ada di dekatnya.
“Ada apa, Khaula?” tanya Khalid ketika sudah berdiri di samping istrinya.
“Tidak ada, hanya mau memastikan kamu tidak pergi lagi,” jawabnya cuek.
Khalid tersenyum lebar, sama seperti Nazima.
“Rasain kalian,” rutuk Khaula dalam hati. “Ini baru awal pembalasanku.”
Mungkin Khalid tidak tahu kalau sebenarnya pernikahan mereka tidak diharapkan Khaula. Sehingga laki-laki itu tetap bersikap mesra kepada Khaula. Rindu kepada wanita di sampingnya semakin menggelora. Andai saja tidak ada acara adat, sudah pasti ia akan mengajak Khaula terbang ke langit ke tujuh. Bibirnya membentuk senyum lebar, membayangkan kebersamaan dengab istri tercinta.
“Sudah selesai,” ucap perias pengantin, ketika suntiang besar sudah terpasang di kepala Khaula. “Coba berdiri dulu, ada yang sakit nggak?” tanya Etek Maryam, perias itu.
Perlahan Khaula bangkit, reflek Khalid membantu istrinya berdiri. Khaula meringis ketika ada kawat suntiang menusuk lehernya saat kepalanya benar-benar tegak.
__ADS_1
“Aduh!”
“Khaula?” Khalid sangat kawatir melihat istrinya kesakitan. Ia berusaha mencari kawat yang tidak tepat melekat ke kepala Khaula.
Khaula sebenarnya risih ketika Khalid menyentuh tengkuknya, meski tertutup jilbab. Tujuan Khaula hanya ingin membuat Nazima sakit hati dan salah tingkah. Karena dengan demikian ia memiliki cara untuk mencari kesalahan Khalid suatu hari nanti.
Sayang, bukannya cemburu. Nazima malah tertawa renyah dan memberi mereka candaan ringan.
“Cie cie … yang lengketnya kayak perangko. Semoga pernikahan kalian abadi dan samawa,” ucapnya dari dekat jendela kamar.
Senyum Nazima terlihat sangat tulus. Membuat hati Khaula kecut. Sementara Khalid terlihat tersipu. Ketika keadaan Khaula sudah baikan, Khalid dan Nazima membantunya berdiri. Mengapit Khaula dengan memegang lengan wanita cantik dan tinggi tersebut berjalan ke luar kamar.
Khaula terlihat sangat cantik. Meskipun bibirnya berat membentuk garis senyum. Dengan balutan baju kebesaran Minangkabau, Khaula terlihat seperti ratu. Baju berwarna merah, berumbai-rumbai warna emas. Serta suntiang besar yang tertonggok di kepala membuat Khaula semakin anggun.
Sedang Khalid, memakai baju senada dengan saluak warna hitam menutup kepalanya. Sebilah keris terselip di pinggang. Pasangan yang membuat orang berdecak kagum. Satu cantik, satu rupawan, benar-benar serasi.
“Ondeh! Iyo sabana rancak Khaula ko. Patuiklah Khalid berbahagia!” celetuk seorang induk bako Khaula.
“Iyo, Ni. Nan ciek rancak, nan ciek gagah! Padan sekali!” timpal yang lainnya.
Meski suasana dalam rumah Nazima dipenuhi gurauan. Khaula masih sulit untuk tersenyum. Bayangan Juki masih mengganggu pikiran.
Khalid sepertinya paham dengan perasaan Khaula.
“Aku tidak akan pernah membiarkan hatimu diambil orang lain Khaula,” bisik hatinya yakin.
Setelah acara malapeh anak daro selesai, yang ditutup dengan doa bersama. Khalid dan Khaula diarak dari rumah Nazima ke rumahnya. Iring-iringan pengantin beserta bunyi-bunyian seperti talempong mengiringi langkah ke dua insan tersebut.
__ADS_1
“Kamu nggak mau berpegangan di lenganku?” tanya Khalid berbisik.
Sejenak Khaula hanya diam, kemudian menggeleng.
“Aku bisa jalan sendiri,” bantahnya ketus.
“Tapi tidak elok Anak Daro jalan tanpa berpegangan kepada Marapulai. Bukankah aku adalah tongkatmu, akulah payungmu yang akan menuntun dan melindungimu ke surga Allah kelak, Insyaallah,” ujarnya sambil menatap Khaula.
Wanita itu tetap bergeming. Kemudian dia melipat sapu tangan yang dari tadi dipegang untuk menghapus keringat, melipatnya hingga membentuk segitiga. Salah satu ujungnya ia serahkan ke tangan Khalid.
“Pegang ini!” perintah Khaula.
Khalid menatap heran. Aneh … lalu dia mengulum senyum.
Melihat tingkah Khaula tentu saja semua orang yang di dekat mereka tertawa. Di zaman modern ini, kok masih ada perempuan yang enggan bergenggaman tangan. Masa iya Khaula berbuat seperti wanita pada masa lima puluhan tahun yang lalu. Bergandengan menggunakan selembar sapu tangan.
Suara tawa terdengar riuh, namun Khaula tetap cuek. Berjalan di samping Khalid yang mulai berkeringat. Tak peduli langkah mereka yang tidak sejajar.
Matahari yang mulai beranjak ke pusar-pusar langit, membuat udara terasa semakin panas. Apalagi jalan yang mereka lewati belum semulus wajah Khaula. Khalid menghapus keringat di dahinya yang mulai mengucur. Tiba-tiba saja Khaula oleng, karena tumit selopnya terjepit kerekel. Untung Khalid ada tepat di sampingnya. Lelaki itu langsung menangkap tubuh Khaula yang hampir saja jatuh.
“Nah, ‘kan … makanya berpegangan,” kata Khalid, setelah posisi Khaula benar-benar tepat.
“Nggak mau,” tolak Khaula berbisik.
“Nggak mau melepaskan lagi,” timpal Khalid.
“Apaan, sih?” tanya Khaula datar.
__ADS_1
Khaula segera menepis tangan Khalid, berjalan kembali sendiri. Khalid sebenarnya bingung dengan sikap Khaula yang kadang baik, kadang jutek. Benar-benar seperti mengejar merpati saja.