Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Extra Part : Akhir Yang Bahagia (The End)


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian


"Sayang! Jangan lari-lari!" Rika bergerak cepat mengejar anak pertamanya yang berjalan melewati pagar sekolah TK, bahkan ia berlari cukup kencang kearah jalanan. Entah apa yang tiba-tiba membuat Daffa berlari.


Rika berhenti saat mendapati Daffa yang sedang menghampiri seorang gadis yang seumuran dengannya. Gadis itu tampak menangis dan matanya memerah.


Dengan perlahan Rika kembali masuk kedalam sekolahan saat mendapati Daffa yang menuntun gadis belia tersebut masuk kedalam kelas.


Ia menggeleng beberapa kali saat mendapati Daffa yang begitu perhatian pada gadis itu.


"Gia, nanti kalau ada apa-apa kamu bilang aku ya. Aku pasti akan melindungimu, seperti ayah yang selalu melindungi mamaku!" ucap Daffa sambil kembali menuntun Anggia untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya.


"Kenapa begitu?" beo Anggia polos.


"Karena kelak suatu hari nanti kita akan sama seperti ayah dan ibuku!" sahut Daffa.


Anggia hanya mengangguk saja, ia tidak mengerti dengan ucapan Daffa. Tapi ia senang karena Daffa selalu ada untuknya disaat dirinya dalam masa-masa sulit.


"Apa Gia mau menikah denganku suatu hari nanti, saat kita sudah besar," celoteh Daffa lagi.


Anggia mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan Daffa.


"Menikah itu apa? Apakah sama dengan kita main rumah-rumahan dan masak-masakan?" tanya Anggia dengan polos. Membuat Daffa gemas dan mencubit pipi Anggia dengan lembut.


"Kenapa dicubit?" tanya Anggia dengan matanya yang melotot.


Daffa tertawa kencang dan membuat Anggia kesal.


"Aku benar-benar tidak tahu apa itu menikah. Nanti di rumah aku tanya sama mama saja!" Anggia masih kesal dan berdiri. Ia bermaksud untuk menjauh dari Daffa.


Belum ada selangkah, tangannya sudah kembali ditarik oleh Daffa.


"Kamu jangan bilang-bilang sama ibumu dan juga orang lain. Ini adalah rahasia kita berdua," ucap Daffa.


"Kenapa begitu?" beo Anggia. Ia masih tidak mengerti dengan maksud Daffa.


"Ini rahasia kita berdua dan janji kita berdua!" Daffa mengarahkan jari kelingkingnya yang di sambut oleh Anggia dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Daffa.


Anggia mengangguk walaupun sebenarnya ia tidak mengerti dengan ucapan Daffa.


"Anggia, ayo main!" Tiba-tiba Daffian datang dan menghampiri mereka.


"Jangan ajak Anggia, dia sedang main bersamaku!" sahut Daffa.


"Main apa? Aku ikut!" Daffian bersorak gembira setelahnya.

__ADS_1


"Tidak bisa. Hanya kami berdua yang boleh main. Kamu main sama yang lain saja!" sahut Daffa, membuat Daffian langsung kecewa.


"Aku bilang mama loh kalau kak Daffa tidak mau main sama aku." Ancam Daffian.


"Eh tunggu! Nanti kita main di rumah," bujuk Daffa. Ia tidak suka kalau Daffian mengadu pada orang tuanya, bisa-bisa dirinya di ceramahi oleh neneknya.


"Janji?" Daffian tersenyum kearah Daffa.


"Iya. Janji!" sahut Daffa dengan senyumnya.


Daffian mengangguk dan segera menjauh dari mereka berdua.


***


"Sayang! Papa pulang!" teriak Angga saat ia sudah membuka pintu mansionnya.


Terdengar langkah kaki yang tampak berlomba dan berlarian semakin mendekat kearahnya.


"Hore!!! Papa sudah pulang!" sambut Daffa dan Daffian dengan sorakan senang yang terlontar dari mulut keduanya.


"Iya dong. Coba tebak papa bawa apa?" Angga menatap satu-persatu wajah polos anaknya yang menggeleng dan menatap penuh tanya pada ayahnya.


"Taraaaa!!" Angga meraih kantong kresek yang ada di tangan Asra. Ia membukanya dan memperlihatkan makanan yang di bawanya.


"Horeee!!! Coklat dan es krim!!" Daffa dan Daffian tampak kegirangan. Mereka begitu senang saat dibawakan coklat dan es krim yang banyak oleh ayahnya. Tangan mungil tersebut ingin meraih kantong kresek tersebut.


"Harus rajin gosok gigi dan juga cuci tangannya!"


Angga menyerahkan kantong kresek tersebut pada mereka berdua setelah kembali mendapat anggukan dari keduanya.


"Sayang! Ini bukan waktu yang tepat memberi mereka cemilan!" Rika sudah berdiri dihadapan Angga sambil meraih tangan kanan suaminya dan menciumnya takzim.


"Tidak apa-apa sayang, hanya sekali!" sahut Angga dengan kerlingan matanya.


"Iya. Tapi tetap saja tidak baik. Cemilan di waktu yang tidak tepat membuat nafsu makan anak menghilang. Bahkan minatnya untuk makan pun juga bisa hilang," ucap Rika dengan lembut.


"Iya sayang. Lain kali tidak akan lagi deh," jawab Angga sambil meraih kepala istrinya dan mengecup dahinya singkat. Matanya beralih mendelik kearah Asra yang sedikit menunduk.


"Makanya cepat nikah dong!" ucap Angga membuat Asra membuka lebar matanya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat mendapat sindiran langsung dari Tuannya.


"Sejak tadi aku perhatikan kamu terlihat iri dengan kehidupanku," ucap Angga setelah Rika pergi ke dapur.


"Siapa yang tidak iri bos kalau hidup setenang dan sesenang kehidupan bos," sahut Asra.


"Kamu beruntung memiliki istri sebaik Rika." Asra tampak menerawang.

__ADS_1


"Hei! Dia istriku!" Angga mendelik kearah Asra. Ia kesal saat mendapati Asra yang tersenyum dan membayangkan sesuatu.


"Iya. Tau, bos. Tapi stok seperti istri bos masih adakan?" tanya Asra dengan menaik turunkan alisnya.


Angga hanya mendesah sambil memijat pelipisnya. Rupanya Asra sangat mengagumi istrinya.


"Tenang saja bos, pesona bos di mata istri bos sempurna. Bahkan di adalah wanita yang setia luar biasa," jawab Asra lagi membuat Angga mengangguk dan bangga.


Angga akui, tidak ada yang sempurna kehidupan di dunia ini kecuali memiliki keluarga yang lengkap dan penuh cinta. Walaupun ia mempunyai kesalahan yang besar di masa lalu, tapi ia selalu belajar dan berusaha untuk memperbaiki diri di masa sekarang dan masa mendatang.


Karena sejatinya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sesempurna apapun mereka, pasti tidak pernah lepas dari yang namanya salah dan khilaf.


Angga meraih secangkir teh yang sudah di hidangkan oleh Rika di hadapannya. Menghirupnya dan memejamkan matanya sesaat untuk menikmati teh buatan istrinya dengan rasa cinta. Rasa nikmat menjalar di seluruh tubuhnya, rasa hangat juga menjalar di aliran perutnya dan ususnya.


"Sayang, terima kasih karena kamu masih bertahan hingga saat ini, hidup bersamaku," ucap Angga menatap Rika dengan penuh cinta.


"Dan terima kasih juga karena kamu sudah memberikan segalanya untukku, bahkan melalui pengorbanan yang luar biasa," ucap Angga kembali.


"Sudah seharusnya aku melakukan semua yang terbaik untukmu, karena kamu adalah imamku dan juga pendampingku," sahut Rika.


"Dan juga kamu adalah orang yang aku cintai, jadi sudah sepantasnya kamu menerima semua ini," sahut Rika lagi.


Angga meraih tangan Rika dan menggenggamnya dengan hangat. Ia menatap Rika dengan intens dan mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Saat jarak yang tersisa beberapa centi saja, suara deheman menghentikan segalanya.


"Hemmm!"


Angga membuka matanya dan mendelik kearah Asra yang mengganggu momennya, ia menatap Rika yang menunduk dengan pipi yang merona.


"Itu bos, ada bos kecil!" tunjuk Asra dengan dagunya kearah anak kembar mereka yang berdiri tidak jauh dari mereka dan menatap kedua orang tuanya dengan intens dan melongo.


"Sepertinya bos perlu kamar," tambah Asra lagi. Membuat Rika menunduk semakin dalam.


Untuk yang kedua kalinya Angga mendesah dan segera melepaskan genggaman tangannya. Ia tidak ingin anak-anaknya meniru hal-hal yang seharusnya belum boleh untuk ditiru di usianya yang sekarang.


"Papa!!!" teriak keduanya menyerbu kearah Angga yang sudah membentangkan kedua belah tangannya, senyum mengembang di bibirnya. Menyambut kedua anaknya yang datang dan merangkul dirinya.


Tidak ada lagi perasaan bahagia di dunia ini selain kebersamaannya dengan orang-orang yang ia cintai.


"Iya sayang!" Sahut Angga lagi. Ia menciumi kedua pipi anaknya bergantian.


Tawa mereka pecah membahana mengisi setiap aliran udara di mansion yang luas tersebut.



__ADS_1



******


__ADS_2