
Daffa membuka matanya dengan perlahan, ia merasakan kantuk masih melekat di matanya. Bahkan badannya terasa remuk karena tadi malam. Ia berusaha mengingat kejadian semalam tadi tidak satupun kejadian yang bisa di ingatnya.
Matanya beralih kearah samping kirinya setelah ia merasakan pergerakan ranjang. Anggia tampak meringkuk disebelahnya dengan bahu tel*njangnya yang tertutupi oleh selimut.
Daffa turut memperhatikan keadaan dirinya, rupanya ia juga tidak menggunakan sehelai benangpun.
Matanya kembali mengedar kesekelilingnya, tampak pakaian Anggia yang di pakainya semalam tercecer berantakan di lantai.
Sekali lagi Daffa berusaha mengingat malam pertamanya, tapi ia sama sekali tidak berkesan. Seingatnya ia hanya tertidur, lalu kenapa sekarang ia tanpa busana.
"Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam dan kenapa aku tidak mengingat sedikitpun kejadian semalam? Apa karena aku terlalu terbuai sehingga aku merasa hanya sebagai mimpi?" gumam Daffa di dalam hatinya.
"Sayang! Kamu sudah bangun?" terdengar suara serak milik Anggia yang berada tepat di sampingnya. Membuat lamunan Daffa tampak buyar.
"Iya." Daffa mendekat kearah Anggia dan mengecup dahinya dengan sayang.
"Tadi malam apa yang terjadi?" tanya Daffa dengan hati-hati.
Anggia mengerutkan dahinya bingung, ia mendudukkan dirinya dan menarik selimut hingga menutupi dada tel*njangnya.
"Apa kamu tidak mengingat semuanya tadi malam?" tanya Anggia dengan pipi merona.
Daffa kembali menatap kearah Anggia. Matanya beralih ke leher Anggia yang di penuhi dengan kissmark.
"Sayang. Bukan itu maksudku. Maksudku adalah apa kita benar-benar sudah melakukannya?" tanya Daffa masih dengan hati-hati, merasa tidak yakin4q.
Anggia tampak merajuk dibuatnya. Ia menggeser tubuhnya sedikit kesamping ranjang, menjauhi Daffa.
"Aduuhh," Anggia meringis saat ia menggerakkan kakinya.
"Sayang kamu kenapa? Apa sesakit itu? Apa aku terlalu kasar melakukannya semalam?" tanya Daffa khawatir walaupun ia tidak mengingat semuanya.
"Tidak sayang. Kamu melakukannya dengan sangat lembut. Bahkan dengan berhati-hati," jawab Anggia. Ia semakin mengeratkan selimut ke tubuhnya. Masih dengan pipi yang merona.
Sedangkan Daffa bergegas meraih handuk yang ada di samping ranjangnya. Saat ia menunduk, matanya tidak sengaja melihat bercak darah yang ada di atas ranjang mereka.
Sekali lagi ia menatap kearah Anggia yang tampak memejamkan matanya kembali.
"Aku akan mandi terlebih dahulu. Kamu diam saja disitu, aku akan segera memesankan makanan untuk kita."
Anggia membuka matanya dan menatap Daffa sesaat disertai dengan anggukan samar darinya.
Setelah 10 menit, Daffa keluar dengan badan yang segar sehabis mandi. Ia menelpon asistennya untuk segera memesankan makanan mereka berdua.
Tidak lama setelahnya, pintu hotelnya di ketok dari luar. Daffa bergegas membukanya.
"Ini makanannya!" ucap Zainal. Ia melongok kedalam kamar tapi Daffa menghalangi pandangannya.
"Jangan lihat kedalam! Istriku masih tidur!"
"Bagaimana rasanya malam pertama Daff, apakah begitu berkesan?" goda Zainal.
Daffa terdiam mendengar penuturan Zainal. Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Menikah sana biar kamu tahu seperti apa rasanya malam pertama dan memecah gelembung!"
Daffa menutup pintu didepannya membuat asistennya hampir mengumpat. Ia berbalik dan mendapati Anggia yang sudah tidak berada di atas ranjangnya lagi. Terdengar guyuran air dari kamar mandi.
"Sayang. Ayo kita makan!" ucap Daffa setelah melihat Anggia keluar dari kamar mandi.
Ia menyiapkan seluruh makanan yang dibawa oleh Zainal tadi.
"Baiklah!" Anggia berjalan mendekat.
Daffa memperhatikan dirinya. "Apa masih sakit?" tanya Daffa saat melihat Anggia yang berjalan sedikit berbeda dari biasanya.
Wajah Anggia tampak merona.
"Kalau kamu masih merasa sakit, bagaimana kalau kita tinggal disini semalam lagi?"
Mata Anggia membulat mendengarnya.
"Tidak usah sayang, kita pulang saja!" sahut Anggia dengan cepat.
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi kita pulang ke rumah papa dan mama dulu."
"Baiklah." Mendudukkan dirinya. "Apakah mereka semua sudah pulang?" tanya Anggia.
"Ya, semuanya sudah pulang pagi tadi," sahut Daffa.
"Pagi tadi?" tanya Anggia.
Anggia kembali membulatkan matanya. Baru kali ini ia bangun sesiang ini.
"Setelah ini kita bersiap, akan ada kejutan untukmu nanti sesampainya di rumah papa," ucap Daffa.
Anggia mempercepat makannya. Rasanya perutnya begitu meronta-ronta kelaparan.
Selesai makan mereka segera bergegas menuju kearah kediaman Angga. Disana keluarga Angga dan juga Rahiyang sudah berkumpul.
"Ternyata pengantin baru sudah datang!" Rika berjalan menghampiri kedua anaknya. Menggiringnya menuju kearah ruang keluarga tempat mereka berkumpul.
"Iya ma!" sahut Daffa.
"Duh, wajahnya terlalu kemilau!" ledek Aina. Ia juga berada di kediaman Angga untuk menyambut anggota baru keluarga Angga.
"Kakak apaan sih," Daffa memdelik kearah Anggia yang kembali merona.
"Ya sudah, sekarang kita duduk dulu!" ucap Angga.
"Iya, kasian pengantin baru sejak tadi berdiri saja, bahkan tadi malam mereka juga sudah kurang tidur!" ledek Aina lagi.
"Aina, sudah. Kasian mereka berdua di ledek seperti itu!" sahut Eland.
"Sebaiknya kalian duduk dulu, kakek akan memberikan kalian berdua hadiah!"
Daffa dan Anggia segera duduk dan saling menatap, kemudian menatap kearah Eland yang mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
__ADS_1
"Ini tiket bulan madu untuk kalian berdua ke Maldives!"
Eland menyerahkan tiket tersebut yang langsung di sambut oleh Daffa.
Anggia terkejut melihat tiket tersebut, tidak mungkin ia mau pergi berbulan madu dengan Daffa, apalagi melakukannya bersama Daffa.
"Tapi kek, ini terlalu cepat. Aku masih ada banyak pekerjaan di kantor," sahut Daffa sedikit keberatan.
Anggia bernafas lega setelah mendengar penolakan Daffa.
"Lupakan sejenak pekerjaan, nak. Pergilah besok. Kapan lagi kalian akan berbulan madu. Kalau kalian sibuk dengan pekerjaan, yang adanya nanti justru kalian tidak ada waktu untuk berbuoan madu," Rika menimpali.
"Apa yang dikatakan oleh ibumu itu benar, kakek juga ingin cepat-cepat menimang seorang cicit sebelum waktunya kakek habis," sahut Eland.
"Sebaiknya kalian turuti saja apa yang di ucapkan oleh para orang tua. Kami juga ingin menimang seorang cucu," sahut Rahiyang.
"Tapi ma, apa yang dikatakan oleh Daffa benar, bulan madunya di tunda dulu. Menunggu waktu yang tepat!" sahut Anggia.
"Waktu yang tepat itu sekarang loh sayang, kalau nanti-nanti di khawatirkan Daffa terlalu sibuk dengan pekerjaannya." Rika melirik kearah Angga.
"Apa yang dikatakan oleh mamamu itu benar, jangan di tunda bulan madunya. Sekalian saja kalian berdua liburan," sahut Angga.
"Kami bulan madunya di rumah saja ma, pa," sahut Daffa.
"Karena Daffa sudah menyiapkan rumah untuk kita tempati berdua," ucapnya lagi.
Tangan Daffa meraih tangsn Anggia, memegangnya erat.
Mereka semua yang ada disana saling menatap.
"Baiklah kalau itu mau kalian berdua. Kami akan setuju saja!" sahut Rika.
"Kapan kalian akan pindahan?" tanya Rahiyang.
"Besok ma!" sahut Daffa.
Anggia mengulas senyum samarnya, ada rasa senang yang tidak terkira dengan kejutan yang di berikan oleh Daffa.
"Apa itu tidak terlalu cepat?" sahut Rika, ia merasa sendu.
"Tidak ma. Besok kami ingin pindahan sekaligus bulan madu," sahut Daffa sambil mengeratkan tangannya.
"Mama dan papa akan selalu mendukung apapun keputusan kalian selagi itu yang terbaik untuk kalian," ucap Rika.
Daffa dan Anggia hanya mengangguk saja.
•
•
•
******
__ADS_1