Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Hamil


__ADS_3

Siang ini Azza sudah berada di sebuah kafe seorang diri. Ia ingin menghibur hatinya dengan suasana ramai di luar rumah. Walaupun ia merasa tidak enak badan tetapi ia tetap memaksa agar terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang. Ia juga merasa bersalah karena membuat semua orang khawatir karenanya.


"Kita bertemu lagi Mahya!"


Anan duduk tepat dihadapan Azza tetapi wanita itu sama sekali tidak ingin mengalihkan pandangannya dari arah kaca besar yang menghadap jalan raya.


"Bagaimana penawaranku kemarin? Apakah kamu tertarik?"


Azza berbalik dan menatap Anan sekilas kemudian kembali menatap jalanan yang ramai.


"Aku tidak memaksamu, lagi pula mungkin kamu tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Makanya kamu bersikap seperti ini padaku."


Anan ingin meninggalkan Azza.


"Tunggu. Aku sudah mengetahui semuanya. Bisakah kamu ceritakan padaku siapa orang tuaku."


Anan tersenyum miring mendengarnya. Ia kembali duduk di hadapan Azza.


"Aku akan mengatakan kenyataannya padamu tetapi kamu harus memenuhi permintaanku terlebih dahulu." Menatap serius.


"Apa permintaanmu. Katakan saja. Aku akan menyanggupinya kalau aku bisa melakukannya!" Masih menatap jendela.


Anan terkekeh mendengarnya.


"Gadis pintar. Ini pekerjaan yang sangat mudah untuk kamu lakukan. Kamu tinggal menandatangani surat ini." Mengeluarkan sebuah surat di balik jas miliknya.


"Apa isi surat ini?" tanya Azza. Ia berbalik dan menatap sebuah kertas di hadapannya.


"Bukalah dan bacalah. Setelah kamu menandatanginya maka aku akan membeberkan semuanya tanpa tertinggal sedikitpun." Masih dengan senyum miringnya.


Dengan ragu Azza meraih kertas tersebut dan membukanya. Matanya langsung melotot melihatnya.


"Apa-apaan ini! Kamu ingin memerasku!" ucap Azza agak keras.


"Pelankan suaramu, aku tidak ingin di pandang orang lain sebagai penindas wanita lemah sepertimu."


"Apa maksudmu dengan surat pengalihan harta ini? Aku hidup begitu miskin dan tidak punya harta sama sekali. Apa yang kamu inginkan sebenarnya dariku?" Azza menatap dingin Anan. Ia berusaha mempertahankan keadaannya yang sebenarnya merasa pusing.


"Cukup kamu ikuti kata-kataku untuk menandatanginya. Maka urusan orang tuamu akan segera beres," sahut Anan tegas.


Azza tampak berpikir, ia merasa lelaki di depannya terlihat serius. Tetapi ia tidak tahu harta apa yang di maksud oleh Anan tersebut.


"Apakah kamu tidak percaya padaku?" tanya Anan setelah melihat Azza yang terus menatapnya penuh selidik.


"Dan jangan menatapku seperti itu seolah-olah aku orang jahat disini."


"Akh... rasanya kepalaku sangat pusing!" Azza membatin.


"Cepat kamu tandatangan disini. Aku tidak punya waktu banyak hari ini. Besok aku akan membawamu ke rumah orang tuamu!" ucap Anan.


Azza tampak pucat, ia juga sangat ragu tetapi setelah mendengar ucapan Anan barusan, tangannya tergerak juga untuk meraih bolpoin yang di berikan oleh Anan. Dengan tangan gemetar, ia mengarahkan bolpoin tersebut dan ingin menandatanginya.


"Akh... kepalaku!"


Brukkk


Azza langsung tersungkur karena pingsan.


"Hei! Apa yang kamu lakukan padanya? Apakah kamu sudah menyakitinya?" Anggia berlari kearah Azza yang sudah pingsan.


Ia secara tidak sengaja melihat Azza berbicara dengan lelaki yang tidak di kenalnya tersebut. Bahkan ia juga melihat wajah Azza yang terlihat pucat dengan ekspresi seperti di tindas oleh lelaki muda tersebut.


"Aku tidak melakukan apa-apa dengannya. Aku hanya sedikit bicara padabya tetapi dia tiba-tiba pingsan," ucap Anan. "Dasar wanita merepotkan," gerutunya lagi.


Anan sudah kembali menyimpan surat pengalihan harta miliknya.


"Apa kamu bilang? Apakah kamu tidak tahu kalau dia sudah punya suami. Kenapa kamu masih merayunya? Apakah kamu kekurangan wanita lajang di dunia ini?" Anggia menatap dengan tajam.


"Apa kamu bilang? Aku merayunya?" terkekeh.


"Aku sudah katakan padamu kalau aku hanya berbicara sedikit dengannya dan aku tidak merayunya. Apakah kamu mendengarku wanita bunting!" sahut Anan lagi.

__ADS_1


"Dari kata-katamu saja aku sudah tahu kalau kamu bukanlah orang baik!" ucap Anggia menohok.


"Tolong angkat dia ke mobilku, aku akan membawanya ke rumah sakit!"


Beberapa orang yang ada di sana segera mengiyakan ucapan Anggia. Menolong Azza agar di bawa ke mobil milik Anggia.


"Kamu! Berhutang sesuatu padaku. Kalau terjadi apa-apa dengannya, maka kamu adalah orang pertama yang harus di salahkan!"


Anggia berbalik meninggalkan Anan yang yang menggenggam tangannya erat.


"Wanita itu, beraninya dia menyusahkanku hari ini! Dia ingin bermain-main denganku rupanya," gumam Anan dengan tatapan tajamnya.


***


Daffa berlari di koridor rumah sakit dengan kencang. Bahkan ia hampir menabrak beberapa orang yang di temuinya.


"Apa yang terjadi dengan Azza?" tanya Daffa setelah bertemu Anggia di depan UGD.


"Dia pingsan dan kebetulan aku melihatnya. Dokter sedang memeriksanya di dalam!" ucap Anggia.


"Terima kasih Gia. Kalau tidak ada kamu, entah apa yang terjadi dengannya. Aku sangat khawatir mendengarnya."


"Bukan apa-apa Daff. Kita adalah saudara, jadi wajar saja kita saling menolong." Menepuk bahu Daffa sekali. "Kamu sudah ada disini jadi aku akan pergi. Aku ada urusan!"


Daffa mengagguk. "Sekali lagi terima kasih."


"Bukan apa-apa Daff. Cukup kamu katakan padaku keadaan Azza nanti sebagai ungkapan terima kasihmu."


"Baiklah!" sahut Daffa dengan tersenyum tipis.


Tidak lama setelahnya, dokter keluar dari ruangan UGD. Daffa menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?"


Dokter tersebut menatap kearah Daffa dengan tersenyum tipis.


"Keadaannya baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan banyak pikiran sehingga membuatnya pingsan. Tetapi setelah ini sebaiknya kita bawa dia keruangan dokter Ani untuk di periksa lebih detail."


"Ini bukan hal yang patut kamu takuti. Hanya kecurigaanku saja. Tetapi untuk lebih detailnya maka kita akan membawanya ke tempat dokter Ani."


"Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuk istriku."


"Pasti!"


Setelah berbincang dengan dokter muda tersebut. Daffa segera mengikuti suster yang membawa Azza kearah dokter Ani.


"Ruangan ini...," gumam Daffa.


"Masuklah dan temani istri Anda untuk di periksa," ucap suster tadi.


"Baik. Terima kasih, sus!"


Suster tersebut mengangguk.


Bagaimana dok hasil pemeriksaannya?" tanya Daffa setelah wanita muda bernama Ani tersebut selesai memeriksa.


"Selamat! Istri anda sedang hamil. Usia kandungannya saat ini sudah berusia 5 minggu."


Daffa terkejut mendengarnya begitupun dengan Azza. Ada binar kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka.


"Aku akan memberikan beberapa vitamin dan penguat kandungan. Sebaiknya kamu jangan terlalu lelah dan jangan terlalu banyak pikiran. Itu akan mempengaruhi perkembangan janinmu. Juga, jaga pola makanmu karena berat badanmu tidak mencapai standar."


"Baik. Terima kasih dok!" sahut Daffa sambil meraih resep obat tersebut.


"Mulai besok, setiap kamu ingin keluar rumah maka kamu akan di temani oleh dua orang bodyguard." Ucap Daffa membuat azza memberengut.


"Aku tidak nyaman Daff, akan menjadi pusat perhatian orang banyak. Mereka pikir aku adalah wanita yang sangat penting."


"Kamu memang sangat penting bagi hidupku. Ingat! Kamu sedang mengandung anakku. Jadi, apapun yang terjadi padamu maka itu adalah resiko yang harus aku tanggung."


"Tapi...."

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian, sayang. Itu demi keselamatanmu. Aku tidak ingin hal yang terjadi hari ini terulang lagi di kemudian hari. Seandainya tidak ada Anggia, entah bagaimana nasibmu tadi."


"Anggia?" Azza mengernyitkan dahinya. Bukankah ia sedang bersama Anan untuk membicarakan mengenai orang tuanya. Lalu kenapa bisa Anggia yang menolongnya. Kemana lelaki itu yang mengaku sebagai saudara sepupunya, kenapa tidak menolongnya.


"Kenapa? Apakah kamu tidak tahu kalau Anggia lah yang menolongmu?"


Azza menggeleng.


"Sampaikan terima kasihku padanya," sahut Azza.


"Jangan pikirkan itu. Kita pulang sekarang, kamu istirahat saja di rumah!"


Azza mengangguk, ia brrsandar pada bahu Daffa dan memejamkan matanya sesaat untuk menghirup aroma tubuh suaminya yang terasa sangat nyaman untuk di nikmati.


"Zainal. Bagaimana hasil yang aku minta kemarin? Apakah kamu sudah mendapatkan hasilnya?"


"Kamu tenang saja Daff, aku sudah mendapatkan semuanya. Setelah ini aku akan menyerahkan semua berkasnya padamu!" sahut Zainal yang sedang duduk di samping sopir.


"Selamat ya kamu sekarang akan menjadi seorang ayah!" Melirik kearah Azza yang sudah mendengkur halus.


Daffa terkekeh mendengarnya.


"Sebaiknya kamu segera menikah agar bisa menikmati hari-hari menyenangkan seperti diriku!"


"Kurang ajar!" sahut Zainal mendengar ledekan Daffian.


"Itu benar Zainal!" kembali terkekeh.


Setelah mengantar Azza pulang sampai kamarnya, Daffian kembali ke kantornya untuk beberapa urusan yang belum di selesaikannya. Ia sedang membaca berkas yang sudah di serahkan Zainal padanya.


"Jadi, Azza juga adalah anak angkat dari mereka?" ucap Daffa.


"Begitulah informasi yang aku dapatkan. Mereka mengadopsi Azza dari salah seorang dokter ternama di zamannya. Dan aku belum mendapatkan petunjuk mengenai dokter tersebut dan keberadaannya."


"Aku tidak tahu kalau selama ini orang tua yang dianggap Azza sebagai orang tua kandungnya adalah seorang pembantu yang bekerja di rumah orang tua angkatnya."


"Ya, kamu benar. Ada konflik di rumah tangga mereka sehingga Azza yang sudah berusia 5 tahun waktu itu harus di bawa oleh pembamtunya dan di sembunyikan," sahut Zainal.


"Konflik apa?"


"Perebutan harta oleh keponakan orang tua angkat Azza. Mereka merasa kalau Azza tidaklah pantas mendapatkan harta tersebut karena dia adalah anak pungut saja tanpa tahu identitas aslinya."


"Sebaliknya, mereka merasa kalau mereka adalah ahli waris yang sebenarnya karena orang tua angkat Azza adalah sepasang suami istri yang mandul tetapi sangat kaya raya."


"Jadi foto itu memang benar kalau mereka adalah orang tua angkat Azza?" tanya Daffa.


"Iya. Mereka hanya orang tua angkatnya yang mengasuhnya selama 5 tahun dan setelahnya mereka di kabarkan meninggal karena suatu kecelakaan."


"Meninggal?"


Zainal mengangguk.


"Aku merasa ada yang tidak beres pada semua ini. Kamu lanjutkan penyelidikan untuk mengetahui orang tua kandungnya!"


"Aku sudah melakukannya sejak kemarin. Kamu tenang saja, sebentar lagi kita akan mengetahui kebenarannya," sahut Zainal.


"Dan kamu selidiki juga siapa lelaki yang menemui Azza siang tadi di kafe. Anggia mengatakan kecurigaannya padaku tadi sewaktu di telpon, kalau lelaki itu terlihat mencurigakan."


Zainal mengerutkan dahinya.


"Kenapa kamu tidak langsung menanyakan pada istrimu saja tadi sewaktu dalam perjalanan?"


"Aku tidak ingin menambah beban pikirannya, itu akan berakibat pada janin yang di kandungnya. Terlebih lagi dia sedang dalam keadaan tidak stabil. Aku takut ia akan menjadi stres."


"Kamu sudah menjadi suami yang bertanggung jawab, Daff. Aku akan menyelidikinya untukmu. Kamu tenang saja. Besok laporannya sudah ada di atas mejamu."




__ADS_1


*****


__ADS_2