
"Kenapa papa merahasiakan hal sebesar ini padaku, pa!?" tanya Aina dingin.
Alvaro mengusap wajahnya gusar menatap kearah anak tertuanya.
"Papa baru tahu kenyataan itu tidak lama dan papa sedang mendalami kasus itu kembali." Menatap Aina.
"Kamu mengetahuinya darimana sehingga kamu berkesimpupan kalau papa merahasiakan hal itu darimu!?" sambung Alvaro.
"Aku melihat seseorang pa, dia begitu mirip dengan mama, bahkan kemiripan mereka hampir 100%, hanya matanya saja yang membedakan. Dan itu menjadi tanda tanya besar di diriku."
"Siapa dia dan dimana dia sekarang!? Bawa papa padanya!!" desak Alvaro.
"Dia sedang keluar pulau pa, jadi aku harap papa bisa menunggunya sebentar lagi sebelum ia kembali."
"Papa akan menyusulnya langsung! Katakan alamatnya pada papa!" Alvaro berdiri.
Aina terkekeh mendengarnya.
"Papa tidak perlu buru-buru kesana. Dia sedang bersenang-senang bersama suaminya."
Alvaro berpaling.
"Dia sudah menikah?"
Aina mengangguk.
"Siapa nama suaminya?" tanya Alvaro.
"Pa. Ini hanya kecurigaanku saja dan belum tentu kebenarannya. Sebaiknya papa selidiki terlebih dahulu apa yang menjadi penyebab sehingga anak papa sampai kecolongan di tukar oleh seseorang di rumah sakit papa sendiri!"
Alvaro terdiam mendengarnya. Ia terlalu lengah dulu hingga tidak menyadari kalau anaknya sudah di tukar oleh seseorang dengan bayi laki-laki yang sudah meninggal. Miris, perawatnya bahkan ikut bersekongkol mengenai itu. Tapi sekarang nasib perawat itu sudah terbayar, dia sudah mendekam di penjara dalam waktu yang panjang.
"Papa sudah menjebloskan orang yang terkait dalam kasus itu. Jadi urusan ini sudah beres, tinggal mencari anak papa yang di tukar itu saja lagi."
"Papa lucu, kenapa papa dulu tidak curiga saat anak papa lahir, jenis kelaminnya tiba-tiba berubah!"
"Sayang. Prediksi antara USG dan setelah lahir kadang memang berbeda. Waktu itu, perawat yang menangani mamamu mengatakan kalau anak papa dan mama adalah lelaki. Bahkan dokter gadungan itu juga membenarkan!"
Alvaro menggenggam tangannya erat, geram pada dokter yang sangat di percaya olehnya tersebut.
"Dan ternyata, mereka adalah komplotan sindikat penjual manusia."
"Papa tidak terlalu perduli mengenai latar belakang mereka waktu itu, papa hanya perduli kalau pekerjaan mereka begitu profesional sehingga papa dengan begitu mudahnya menerima mereka untuk bekerja di rumah sakit milik papa."
"Kalau benar mereka salah satu sindikat penjual manusia, berarti ada banyak bayi yang sudah terjual dan berpindah tangan," sahut Aina.
Alvaro menggeleng.
"Papa sudah memeriksa rekaman CCTV sejak belasan tahun lalu, dimana dokter tersebut mulai bekerja. Bahkan polisi juga susah menyelidikinya. Mereka tidak mengambil bayi dari rumah sakit karena cepat ketahuan. Tetapi mereka membuka praktek di luar jam kerja dan di sanalah pertukaran itu terjadi."
"Lalu, bagaimana dengan kasus papa!"
"Saat itu mereka mendapat pesanan bayi perempuan dari seseorang yang sangat kaya. Tetapi pada beberapa hari itu tidak ada wanita yang melahirkan bayi perempuan di klinik mereka. Hanya ibumu yang melahirkan anak perempuan, sehingga mereka mengatur rencana."
"Rencana untuk mengatur pertukaran itu?" tanya Aina.
Alvaro mengangguk samar, ada luka di matanya.
"Karena itu papa menyerahkan urusan rumah sakit pada wakil papa waktu itu hingga menunggu aku siap untuk menjalankannya?" tanya Aina lagi.
"Papa menyesal karena teledor waktu itu sampai-sampai papa tidak menyadari akan hal itu. Dan rasa bersalah itu terus menghantui papa hingga sekarang."
"Kenapa papa tidak mencari anak papa yang hilang itu!" tanya Aina kembali dingin.
__ADS_1
"Papa sudah berusaha mencarinya Aina. Bahkan papa sudah mendatangi pembeli anak tersebut, tetapi mereka sudah meninggal dan tidak ada petunjuk mengenai bayi papa."
"Bukankah orang tua yang membeli bayi papa sangat kaya. Lalu kenapa Azza hidup begitu memprihatinkan. Bahkan ibu dan ayahnya hanyalah seorang petani dan ibunya pembantu!" Aina membatin.
Ia membelalakkan matanya setelah menyadari sesuatu.
"Orang tuanya meninggal karena apa?" tanya Aina.
"Karena perebutan harta oleh keluarga mereka. Mereka tidak rela kalau harta orang tua angkat bayi papa tersebut jatuh ke tangan anak pungut. Sedangkan mereka adalah suami istri yang mandul. Tetapi di sisi lain mereka masih mempunyai keponakan dan saudara. Walaupun keponakan mereka juga kaya, yang namanya manusia pastilah sangat serakah!"
"Berarti dia di bawa oleh pembantunya dan di asuh olehnya tanpa tahu kenyataannya!" gumam Aina.
"Bagaimana dengan kondisi mama?" tanya Aina memgalihkan topik pembicaraan.
"Mamamu masih terpukul mengingat kejadian itu walaupun sudah belasan tahun lamanya."
"Baiklah kalau begitu, papa jaga mama baik-baik. Aku akan berangkat kerja sekarang!"
Aina berdiri dan melangkah kearah pintu ruang kerja ayahnya.
"Nama wanita itu adalah Azza dan dia adalah istrinya Daffa, anak mama Rika dan Angga!"
Alvaro membelalakkan matanya menatap Aina yang sudah menghilang di balik ruangannya.
"Aku akan menyelidikinya terlebih dahulu. Dan aku harus bertemu dengannya sekarang!"
Alvaro menuju kearah pintu tetapi urung setelah teringat uacpan Aina kalau mereka sedang berbulan madu.
"Bukankah Daffa menikah dengan Anggia? Lalu kenapa dia berbulan madu dengan gadis kecil tersebut?" Alvaro membatin.
"Seharusnya aku bertanya dengan Aina lebih detail tadinya sehingga aku tidak kebingungan seperti ini," gumam Alvaro mengusap wajahnya.
***
Langkah tegapnya berjalan menghampiri mereka, ia hanya ingin tahu apa penyebab Alvaro menemui istrinya.
"Halo sayang!" Angga mencium Rika sekilas dan menatap Alvaro penuh selidik.
Rika terkejut melihatnya tetapi senyum manisnya langsung terbit di bibirnya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan disini hingga tidak melibatkan diriku?" Angga terlihat cemburu.
"Kamu masih seperti dulu, suka cemburu padaku padahal kejadian itu sudah puluhan tahun berlalu," sahut Alvaro.
Angga terkekeh mendengarnya.
"Aku hanya berhati-hati saja. Siapa tahu rasa yang dulu sirna bisa kembali bangkit lagi!"
"Tenang saja Ngga, itu tidak akan terulang lagi!"
"Ya, kamu benar. Itu akan terulang tetapi pada generasi berikutnya!" sahut Angga kembali terkekeh. Membuat Alvaro terdiam.
"Sayang, aku dan Alvaro kebetulan bertemu di luar tadi, jadi dia mengajakku makan siang saja sekalian. Juga ada hal yang ingin dia sampaikan," sahut Rika.
"Mengenai apa? Apakah mengenai hubungan Daffi dan Aina?" tanya Angga di iringi dengan kekehan.
Alvaro mengerutkan dahinya bingung. Aina tidak menceritakan tentang itu tadi pagi padanya. Lalu kenapa Angga mengungkit hal itu. Apakah ada yang terlewat disini?
"Bukan mengenai itu. Soal Aina dan Daffi akan kita bicarakan nanti saja!" sahut Alvaro.
"Apakah ini lebih penting dari hal itu?" tanya Angga. Tangannya bergerak memeluk pinggang Rika.
Alvaro mengangguk.
__ADS_1
"Katakanlah!" Angga mengecup pipi Rika berulang kali di hadapan Alvaro.
"Hei. Hentikan itu! Aku sedang berada di depan kalian, tidakkah kalian kasian melihat diriku yang sendirian."
Angga terkekeh dan segera melepaskan istrinya.
"Kamu masih sama seperti dulu Angga!" Alvaro tersenyum.
"Tentu saja. Aku tidak akan pernah berubah untuk mencintai dia!" Angga melirik kearah Rika.
"Baiklah. Baiklah. Itu terserah kau saja. Tapi ada hal penting lainnya yang ingin kutanyakan padamu."
Angga menatap serius kearah Alvaro.
"Aku sudah lama tidak mengunjungi keluarga kalian sehingga aku tidak mengetahui banyak hal mengenai anak-anakmu. Kudengar Daffa sedang berbulan madu dengan istrinya, apakah benar?"
Angga mengangguk.
"Ya, mereka sebaiknya memang harus berbulan madu agar Daffa cepat mempunyai keturunan, aku sudah ingin merasakan menggendong cucu." Angga kembali terkekeh.
"Bukankah Anggia sudah hamil?" Alvaro memastikan.
Raut wajah Angga seketika berubah.
"Dia sudah bercerai dengan Anggia!" sahut Angga.
"Kapan? Kenapa aku tidak tahu dan apakah perceraian mereka karena orang ketiga, maksudku__."
"Tidak. Bukan karena itu tapi karena Anggia tidak pernah melakukan hal itu dengan Daffa. Ia juga tidak mencintai Daffa!" sahut Angga cepat.
"Kamu jangan bercanda Angga. Mana mumgkin Anggia bisa hamil kalau Daffa tidak menyumbangkan benihnya!"
"Dan bagaimana mungkin Daffa bisa menikah secepat itu dengan wanita lain, padahal setahuku Daffa sangatlah mencintai Anggia."
Angga terkekeh mendengarnya.
"Kamu terlalu banyak bertanya Sam, membuatku sedikit sakit kepala. Katakan saja, disini kamu sedang menyelidiki Daffa atau Daffian?" tanya Angga.
"Sejak tadi kamu terlalu banyak bertanya. Dan hal penting apa yang ingin kamu bicarakan. Jangan katakan kalau alasan kamu untuk bertemu istriku karena kecurigaanku tadi!" selidik Angga.
"Kamu benar-benar masih menyimpan cemburu terhadapku!" sindir Alvaro.
"Bagaimana aku tidak cemburu. Kamu mengajak istriku makan siang berdua dan berkata ada hal penting yang ingin di bicarakan. Tapi sejak tadi kamu hanya membicarakan mengenai Daffa saja." Menatap Alvaro.
"Seharusnya kamu membicarakan mengenai hubungan Aina dan Daffian yang baru berjalan. Tidakkah kamu senang kalau kita benar-benar akan menjadi besan?"
Alvaro terkekeh mendengarnya.
"Ini merupakan kabar gembira dan aku baru saja mengetahuinya. Kebetulan aku juga baru kembali tadi malam dari perjalanan bisnis di luar negri dan aku belum sempat berbicara dengan Aina mengenai itu!" sahut Alvaro.
"Baiklah kalau begitu, kita tidak usah terburu-buru untuk membicarakan hal ini. Karena masih ada banyak waktu. Lagi pula persiapan mereka berdua juga belum ada," sahut Angga.
Alvaro terlihat kecewa karena ia tidak dapat menyelidiki gadis kecil yang menjadi istri Daffa. Haruskah ia menyuruh orang kepercayaannya untuk meyelidikinya. Tetapi ia sangat penasaran dengan wajah gadis kecil tersebut.
Kenapa ia lupa meminta foto pada Aina tadi. Alvaro mendesah, sesekali matanya melirik kearah Rika yang di perlakukan bagai seorang ratu oleh Angga.
•
•
•
*****
__ADS_1