Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 54


__ADS_3

"Terima kasih sebelumnya sudah mengantar Afika, dan aku ke rumah sakit ini. Tante tidak tahu apa yang terjadi jika tidak bertemu dengan mu. Tapi, maaf. Apakah boleh kau memberikan aku waktu dan Nadi berbicara berdua?"


"Tentu." Ucap Rangga dengan cepat, padahal Rangga ingin sekali masuk ke dalam namun, ia tidak ingin membuat kesan yang tidak baik di depan tante Afika.


Lalu setelah Rangga pergi, Nadi pun langsung menceritakan semuanya pada Junisah. Semua yang terjadi, tanpa sedikit yang terlewatkan. Cerita Nadi, sama persis dengan apa yang di ceritakan Afika kepadanya. Lagi, Junisah menitihkan air mata mendengar kisah tantanf Afika. Dan detik berikutnya, Junisah pun membuka suara setelah cukup lama terdiam sambil terisak mendengar cerita dari Nadi.


"Lalu, selama Afika pergi, apa yang Adrian lakukan?"


Nadi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Tuan, terus mencari nyonya, namun sangat sulit, karena tidak ada satupun jejak yang nyonya Afika tinggalkan." Jelas Nadi membuat Junisah bisa menebak kenapa selama ini Afika terus bersembunyi di dalam rumah. "Setiap hari, tuan menyesali perbuatannya. Setiap hari, tak henti-hentinta tuan terus berharap agar bisa menemukan nyonya. Dan setiap hari, tuan selalu memohon ampun." Ucap Nadi lalu kemudian Nadi kembali menceritakan semua apa yang terjadi selama Afika pergi.


Tidak berbeda dengan kisah Afika. Junisah pun juga ikut menitihkan air mata mendengar perjuangan Adria yang tanpa mengenal rasa lelah untuk mencari Afika.


"Apa Adrian sudah tahu jika Afika sudah melahirkan?" Tanya Junisah.


"Untuk saat ini belum, tapi aku tidak bisa menjamin." Jawa Nadi.


•••••

__ADS_1


Ponsel Adrian berdering, terdengar bunyi notif pesan sehingga Adria meraih ponselnya, dan melihat pesan yang di kirim oleh Baby.


"Cakep kan?" Caption Baby pada foto yang di kirim ke Adrian. Bukan hanya satu, tapi ada sepuluh foto yang di kirim Baby untuk Adrian.


"Bayi? Bayi siapa ini?" Batin Adrian.


Lalu kemudian Baby kembali mengirim pesan, foto baby Lion yang sedang menguap. "Dia mirip dengan mu kak., Aku cemburu" Kata Baby.


Pikiran Adrian langsung konek. Karena Adrian tahu, jika Baby tidak memiliki teman di luar sana, hanya ada Inggrid dulu yang pernah menjadi temannya. Adrian langsung menghubungi Baby, namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Rio." Panggil Adrian.


"Cari tahu di mana Baby sekarang!"


"Baik tuan."


Adrian berharap pikirannya saat ini bisa menjadi kenyataan. Ya, Adrian berfikir jika foto bayi yang di kirim oleh Baby adalah putranya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


"Tuan, nona Baby saat ini sedang berada di rumah sakit Permata Bunda. Dan juga, nyonya Afika saat ini berada di san."


Adrian langsung berdiri dan meraih ponselnya.


"Selamat tuan, nyonya sudah melahirkan seorang tuan muda junior." Ucap Rio yang juga baru mendapat kabar dari orang suruhannya jika Afik melahirkan seorang putra.


"Terima kasih Tuhan." Gumam Adrian sambil menitihkan air mata bahagianya. "Sekarang juga kita kerumah sakit. Dan Rio, buka kan aku majala seputar perlengkapan bayi." Titah Adrian.


Rio langsung meraih ponselnya dan mengirimkan gambar ke ponsel Adrian.


"Tuan, semua gambar sudah aku kirim."


Adrian hanya melihat sekilas.


"Belikan semuanya untuk putraku." Ucapnya.

__ADS_1


"Anda yakin tuan?"


"Apa wajahku memperlihatkan raut bermain? Cepat beli semuanya untuk Lion."


__ADS_2