
"Sekarang kamu silahkan keluar dari ruanganku!" Aina memalingkan pandangan dari lelaki tersebut menatap kearah pintu yang terbuka lebar.
"Kamu mengusirku? Aku kesini hanya ingin bertemu denganmu. Sudah sangat lama kita tidak bertemu, bahkan sejak kamu melupakanku saat itu."
Aina menggenggam tangannya erat. Menahan emosi yang bercampur dengan kesedihannya.
"Dan betapa kacaunya diriku sekembalinya aku kesini, tidak dapat menemukan jejakmu sama sekali. Tujuh tahun aku mencarimu dan sekarang aku menemukanmu, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja."
Aina semakin marah mendengarnya. Bukankah lelaki ini yang justru meninggalkannya terlebih dahulu. Lalu sekarang kenapa ia melampiaskan semua kesalahan itu pada Aina.
"Ren tutup mulutmu!!" Aina tampak geram.
"Kenapa? Apakah kamu masih sakit hati atas kejadian dulu yang menimpa kita?" Rendy terkekeh yang terdengar menyedihkan di telinga Aina.
"Dan perlu kamu tahu, aku sama sekali tidak bertunangan. Dan sama sekali tidak menghianati ikatan yang ada diantara kita. Kamu hanya salah menyimpulkan sesuatu."
"Aku bilang tutup mulutmu, Ren. Aku membencimu, Ren. Keluar!!" Aina kembali terlihat gusar dengan wajah yang memerah.
"Aku kesini hanya ingin melihat istriku saja. Dan ingin tahu seperti apa kabarnya!"
"Keluar!! Aku sudah bukan istrimu lagi sejak kamu meninggalkanku waktu itu!!"
Rendy kembali menatap Aina dengan tatapan sendu, betapa sakitnya hatinya melihat wanita yang di cintai oleh dirinya terluka begitu dalam. Dengan perlahan Aina merosot dan terduduk di tempatnya dengan banjir airmata.
"Aku akan lakukan apapun juga untuk membuatmu kembali padaku. Walau bagaimanapun kamu tetaplah istriku! Dan aku belum pernah menceraikanmu!" bisik Rendy tegas.
Aina menutup pintu ruangannya, ia tampak terisak di meja kerjanya, menelungkupkan kepalanya dengan bahu yang bergetar.
"Kamu datang lagi Ren setelah sekian lama aku mengubur tentang kita. Aku mengubur semua harapanku padamu dan aku sudah mulai membuka lembaran baru."
Aina meraih tas miliknya berjalan kearah asistennya yang baru masuk ruangannya.
"Bella. Kamu katakan pada dokter Wati untuk menggantikanku sekarang juga. Aku sedang tidak enak badan." Aina berlalu dari hadapan asistennya dengan tatapan yang kosong.
Itukah yang membuat dirinya selalu menolak setiap lelaki yang pernah menyatakan cinta untuknya. Karena hubungannya dengan Rendy yang berantakan tanpa haluan. Lalu bagaimana dengan Daffian yang sangat menyukainya. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya dan meninggalkan Daffian seperti Rendy meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Tidak. Tidak. Kasus ini sangat berbeda. Rendy meninggalkan dirinya saat dirinya berstatus sebagai istri yang di nikahi secara siri oleh Rendy. Sedangkan Daffian hanya berstatus sebagai kekasihnya.
Aina menghempaskan tubuhnya di atas ranjang di ruang pribadinya. Melepaskan jas putih dan membiarkannya teronggok di sisi tempat tidur miliknya.
Masa silam kembali hadir di benaknya. Saat dia sekolah SMA kelas 11 dan Rendy kelas 12, mereka mengadakan pernikahan siri karena umur mereka yang belum mencapai syarat yang di ajukan oleh kantor agama. Mereka menikah di usia muda karena memang menghindari yang namanya zina, apalagi mereka kerap hanya berdua saja di dalam rumah.
Tapi setahun kemudian Rendy meninggalkannya karena melanjutkan pendidikannya keluar negri. Bertahun-tahun lamanya Aina terus menunggu lelaki itu untuk pulang, tetapi pengharapannya terjawab saat ia mendapati sebuah kartu undangan dari sahabat Rendy mengenai pertunangan lelaki itu.
Dengan tekadnya Aina berusaha mengubur masa-masa itu. Masa-masa indah baginya dan masa-masa yang paling menyakitkan. Melewatinya dengan cara merangkak sekalipun. Begitupun dengan Alvaro yang juga mengetahui hal itu, ia membantu untuk memulihkan Aina agar kembali ceria seperti sedia kala.
Hingga datanglah Daffian yang selalu menghiburnya dan lengket dengannya bahkan Daffian selalu menyatakan cintanya pada Aina. Walaupun Aina selalu menolaknya. Tetapi Daffian tidak pernah pupus harapan untuk mendapatkannya.
Aina meraih handphone miliknya dan menghubungi Alvaro. Pada dering pertama, sambungan telpon langsung terhubung.
"Pa, aku akan mengikuti rencana papa untuk bertemu dengan keluarga sahabat papa!" Aina mengakhiri panggilannya.
Lemah sudah dirinya dan terasa tidak berdaya lagi. Ia meringkuk seperti seekor udang yang baru di angkat dari tempat penggorengan.
"Daffian!" Aina menatap cukup lama nomor Daffian. Tetapi ia kembali menggeleng dan mengurungkannya.
Ingatannya kembali pada sosok Rendy yang muncul secara tiba-tiba di hadapannya.
"Inilah yang aku takutkan selama ini. Aku akan bertemu dengannya lagi setelah apa yang terjadi di masa lalu." Aina mengusap frustasi wajahnya. Bahkan matanya tampak memerah karena air mata.
Tok tok tok
"Siapa?" teriak Aina.
"Ini Bella," sahut wanita di balik pintu tersebut.
"Masuklah! Tidak di kunci!" sahut Aina lagi.
" Dokter Aina. Ada seseorang yang ingin menemuimu di kafe Pp."
Aina berpaling. "Siapa? Daffian kah?" tanya Aina. Setahunya hanya Daffian lah yang selalu mengajaknya makan di kafe tersebut. Karena Daffian sangat menyukai makanan dan suasana yang ada di kafe tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Dia hanya memberikan pesan seperti itu," sahut Bella.
"Dia siapa?" Aina menatap curiga.
"Seseorang yang di suruh oleh orang tersebut. Dia juga mengirimkan sebuket mawar merah untukmu."
Bella menyerahkan mawar tersebut kepala Aina. Senyum Aina mengembang.
"Pasti Daffian. Akhir-akhir ini dia selalu ingin tampil romantis dengan memberikan aku sebuket mawar setiap harinya," gumam Aina sedikit senang.
"Aku senang mendengarnya, dokter Aina. Tadi kulihat dokter kelihatan sangat sedih, mungkin karena kedatangan lelaki asing tadi. Apakah itu mantannya dokter di masa lalu?"
Bella menatap Aina dengan menggoda.
"Dia bukan siapa-siapa. Sudah, kamu keluar sana, lanjutkan kerjaanmu!" usir Aina sambil mencium aroma mawar segar.
"Duh bu dokter tidak ingin berbagi kebahagiaan nih." Goda Bella kembali, ia berlari menjauhi Aina yang ingin melemparnya dengan jas miliknya.
Aina bergegas kearah kamar mandinya. Memncuci wajahnya dan memperbaiki riasannya yang sedikit berantakan. Tidak mungkin ia akan menemui Daffian dalam keadaan yang memprihatinkan.
Kali ini ia akan jujur pada Daffian tentang masa lalunya. Apapun yang akan terjadi, ia siap menghadapinya, termasuk penolakan Daffian padanya. Tetapi mungkin kah lelaki yang bernama Rendy benar-benar akan melepaskan dirinya setelah sekian tahun lamanya mereka tidak bertemu. Dan pernyataannya yang mengatakan bahwa ia masihlah milik Rendy.
Dan bagaimana perasaan Aina sekarang, ia tampak ragu untuk melangkah dari tempatnya berada. Ragu untuk melangkah kedepan dan benci saat melihat kebelakang.
"Bagaimanapun aku harus jujur pada Daffian dan aku akan berusaha melupakan masa lalu yang pahit itu." Aina memeriksa lemari pakaiannya dan mengganti pakaiannya.
"Aku harus cepat, kalau tidak maka Daffian akan kelamaan menungguku."
Aina menepuk-nepuk pipinya berulang kali untuk memberikan efek warna pada wajahnya yang kelihatan memucat.
•
•
•
__ADS_1
*****