Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Ruang Makan


__ADS_3

Azza dan Daffa akhirnya sepakat untuk pulang bersama. Karena setiap kali Azza ingin pulang lebih dahulu, Daffa selalu mampu untuk menahannya dengan berbagai alasan.


"Daffa, kamu sudah pulang?" Anggia berlari kearah Daffa yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.


"Jangan lari, kamu sedang hamil!" ucap Daffa.


Anggia ingin meraih tangan Daffa tetapi Daffa justru mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambut Anggia.


Tanpa sadar tangan kiri Daffa meraih tangan Azza yang berada di sisinya dan menariknya kearah kursi ruang tamu.


Anggia terpaku menatapnya, tetapi ia tidak patah arang. Ia akan berusaha untuk membuat Daffa kembali seperti dulu.


"Mas, hari ini kita pulang kerumah kita ya!" pinta Anggia selepas Daffa duduk di kursi.


"Anggia, aku sedang lelah sekarang!" sahut Daffa. Ia memijat hidungnya lembut.


"Tapi mas, kamu sudah beberapa hari di sini dan malam ini giliranku," sahut Anggia.


Sedangkan Azza, ia berdiri dan menjauh dari mereka berdua. Membuat Daffa menatap kearah dirinya.


"Gia. Kamu pulanglah sendiri. Nanti mang Udin yang akan mengantarkanmu, bagaimana?" sahut Daffa.


"Tapi mas, kamu meninggalkanku terlalu lama. Apa kamu tega padaku di saat aku sedang hamil kamu justru tidak ada di sisiku!" rajuk Anggia.


Daffa mendesah.


"Begini saja. Kamu menginap saja di sini semalaman. Besok kita akan pulang."


"Tapi aku mau sekamar bersamamu malam ini," bujuk Anggia.


"Kita sudah cukup lama tidak tidur satu kamar, mas!" tambah Gia.


Ia masih ingat selama beberapa hari Daffa selalu ketiduran di ruang kerjanya karena kesibukannya ataukah dia memang sengaja menghindarinya.


"Gia, dengar ya. Bagaimanapun manisnya sikapmu padaku, dan bagaimanapun caranya kamu membujukku. Aku tetap pada keputusanku, akan menceraikanmu."


Anggia terkejut mendengarnya. Ia mengepalkan tangannya erat.


"Kamu setega itu padaku, mas! Dimana rasa cintamu yang begitu besar dulu padaku?" Mata Anggia tampak berkaca-kaca.


Daffa mendesah.


"Bukankah kamu tahu penyebabnya kenapa aku lebih memilih mundur dari kehidupanmu."


Anggia terhenyak. Seberat itukah kesalahan yang di perbuatnya hingga Daffa sama sekali tidak ingin mema'afkan kesalahannya.


"Tapi pelampiasanmu bukan dengan cara menikah lagi secara diam-diam. Apa bedanya dirimu dan diriku sekarang!" tanya Anggia emosi.


"Kita berbeda Anggia. Aku melakukannya karena ketidak sengajaan. Sedangkan kamu melakukannya sejak awal bahkan sebelum kita menikah, dan dengan sengaja."


"Kamu selingkuh Anggia, sedangkan aku tidak karena dia adalah istriku juga. Dan tidak ada wanita yang mempunyai dua orang suami!" tekan Daffa.


"Apakah itu artinya kamu sejak awal memang sudah menanam bara api dalam rumah tangga kita?"


Tangan Anggia terkepal.


"Aku sudah ikhlas dan rela berbagi suami dengannya. Lalu sekarang kamu justru memihak padanya. Kenapa kamu lakukan padaku, mas? Kenapa sekarang kamu tidak adil, selalu membela dan melindunginya di depanku."


Air mata mengucur deras di pipi Anggia, ia merasakan perih yang luar biasa di ulu hatinya.


"Kita tidak membicarakan tentang dia Anggia, tetapi kita membicarakan tentang kamu."


"Kenapa?" desak Anggia. "Kenapa hanya aku?"


"Karena aku yakin selamanya kamu tidak akan bisa bahagia hidup bersamaku. Kamu memiliki cinta yang lain. Sudah sepatutnya kamu menghargai cinta itu."


Daffa menyeka air mata Anggia.

__ADS_1


"Aku... aku... tidak bisa lagi...," Anggia terisak keras. Ia memeluk Daffa dan menangis sesenggukan di dadanya.


Tangan Daffa tetap pada posisinya, menggantung di sisi tubuhnya. Ia tidak mampu lagi merengkuh wanita yang pernah sangat ia cintai. Sekarang hatinya sudah mulai berpaling pada wanita lain.


"Ma'afkan aku, Gia!"


Daffa memegang bahu Anggia dan melepaskan Anggia dari pelukannya.


"Aku menyesal sudah menyia-nyiakan kamu yang tulus demi dia yang ternyata hanya menginginkan tubuhku. Aku menyesal!!" Anggia sesenggukan.


"Dia tetap mencintaimu. Jangan membencinya dan jangan juga memfitnahnya. Dia tidak seperti yang kamu pikirkan."


Menatap Anggia dalam.


"Sebaiknya kamu istirahat, bi Mini pasti sudah menyiapkan kamar untukmu!"


Daffa berdiri dan berjalan ke arah tangga. Tetapi sebelum ia mencapai tangga, matanya tidak sengaja menatap Azza yang menyeka air matanya.


"Apakah dia mendengar pembicaraan kami?" gumam Daffa sambil tetap melihat Azza yang memasuki kamarnya.


Daffa meneruskan langkahnya menuju kearah kamarnya. Ia ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu. Rasanya pikirannya sangat lelah saat bertemu Anggia.


Tok tok tok


Daffa berjalan kearah pintu tanpa mengenakan baju. Ia sudah melepasnya dan ingin menuju kearah kamar mandi.


"Azza?" Daffa terkejut melihat keberadaan Azza yang tidak biasanya menghampiri dirinya saat berada di kamarnya.


"Ini minumannya, sebaiknya kamu minum dulu sebelum dingin," ucap Azza menunduk.


"Letakkan di atas nakas sana!" perintah Daffa.


Azza mengangguk. Ia berjalan masuk dan meletakkan secangkir teh buatannya di nakas Daffa.


Sedangkan Daffa menutup dan mengunci pintu kamarnya.


"Aku ingin ke dapur, membantu bi Mini menyiapkan makan malam," sahutnya.


"Tidak usah. Layani saja suamimu ini, pahalanya jauh lebih besar daripada di dapur." Daffa menyeringai.


"Apakah kamu ingin sesuatu yang lain? Biar aku ambilkan," ucap Azza.


"Tidak perlu mengambilnya karena yang aku perlukan sudah ada disini."


Tangan Daffa bergerak meraih wajah Azza dan membelainya dengan perlahan. Bahkan ia sudah melupakan teh hangat yang berada di nakas.


"Mas, sudah. Aku geli." Azza menahan tawanya saat Daffa mengecup lehernya berulang kali.


"Dosa loh menolak suami," bisik Daffa mengan suara serak dan terengah.


Azza terdiam. Ia menatap mata Daffa yang sudah di penuhi oleh kabut gairah.


"Aku ingin kembali melakukannya lagi denganmu. Rasanya kamu bagai candu untukku, begitu nikmat dan manis."


Daffa meraup bibir Azza yang merah muda tanpa memberikan kesempatan pada wanita itu untuk menjawab ucapannya.


Lagi, mereka berlayar menuju pulau impian yang penuh kenikmatan.


Di luar kamar, Anggia tadinya bermaksud ingin kembali berbicara dengan Daffa. Ia urung untuk mengetok pintu kamar Daffa karena ia mendengar suara Daffa yang mengerang nikmat. Ia tahu persis apa yang sedang mereka perbuat di dalam sana.


Air matanya kembali luruh, tangannya terkepal erat. Bergegas ia turun kearah bawah menuju ke kamarnya.


Daffa tidak pernah melakukan hal semanis itu padanya. Anggia kembali menerawang pada masa lalu. Menyesal dirinya selalu menolak Daffa dan memberinya jamu yang berisi obat tidur tersebut. Seharusnya ia juga melayani Daffa waktu itu.


Seandainya ia juga melayani Daffa dengan baik maka sudah pasti dialah wanita satu-satunya yang di miliki oleh Daffa.


Air matanya mengucur deras. Matanya beralih menatap perutnya yang membuncit. Harusnya ia tidak hamil anak Alfa tetapi anak Daffa.

__ADS_1


Beberapa kali ia memukul bantal yang ada di depannya. Ingin rasanya ia berguling-guling untuk membuang rasa sesalnya.


"Anggia! Kita makan malam bersama!"


Rika berteriak dari luar kamar Anggia.


Bergegas wanita itu menyeka matanya dan membasuhnya ke kamar mandi. Ia tidak ingin terlihat berantakan karena suatu kekalahan.


"Anggia!" Lagi, Rika kembali memanggilnya karena tidak ada sahutan dari dalam sama sekali.


Anggia segera membuka pintu.


"Kenapa tidak menyahut? Mama jadi khawatir."


"Aku ketiduran ma," sahut Anggia.


Rika menatap mata Anggia sesaat, ia bukannya tidak tahu apa yang terjadi tetapi ia hanya tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga anak-anaknya.


"Ayo. Kita makan malam bersama. Papa dan Daffi sudah menunggu di ruang makan," ucap Rika.


"Mas Daffa?" tanya Anggia.


"Daffa masih mandi, sebentar lagi dia juga akan turun."


Anggia mengangguk, matanya menatap kearah atas saat melewati tangga.


"Duduklah Anggia!" ucap Angga saat melihat kedatangan Anggia.


"Daffa dan Azza mana ma?" tambah Angga.


"Sedang mandi!" sahut Rika sambil melirik Anggia yang menggenggam sendok nasi dengan kuat.


"Anggia, kamu harus ikhlas berbagi suami dengan wanita lain. Karena ini bukan keinginan kita agar Daffa menikah lagi. Ini sudah menjadi takdirnya."


"Iya pa, Gia mengerti!" sahutnya dengan tersenyum tipis.


Seluruh mata menatap kearah Daffa dan Azza yang baru muncul ke ruang makan. Wajah Daffa terlihat lebih berseri-seri, membuat Daffi terkekeh karenanya.


"Kemarin langit masih mendung dan selalu di gelantungi awan hitam. Eh hari ini cerahnya luar biasa, mengalahkan cuaca di gurun pasir," celetuk Daffi.


"Aku yakin kalau hembusan anginnya sangatlah kencang untuk mengusir awan-awan itu," sindir Daffi lagi.


"Daffi. Kalau memghadapi makanan itu berdo'a bukannya berbicara sembarangan seperti itu layaknya kamu seorang sastrawan," tegur Angga.


Ruang makan mendadak sepi saat Daffa duduk diantara Anggia dan Azza. Anggia di sisi kanannya sedangkan Azza di sisi kirinya.


Azza dan Anggia bergerak secara bersamaan ingin membuatkan nasi untuk Daffa. Mereka saling menatap beberapa detik sebelum Azza mengalah.


"Duh enaknya punya istri dua. Apapun akan di layani secara double," sindir Daffi lagi.


"Makanya nikah dong. Punya istri satu aja boro-boro, apalagi punya istri dua!" sahut Daffa mengejek.


"Nanti kamu jadi brondong tua loh!"


Daffi melotot. "Enak saja. Aku tampan begini mana ada gadis yang menolak pesonaku!" sahut Daffi enteng.


"Lah Aina apa kabar?" sindir Daffa.


"Sudah. Sudah. Sebaiknya kita makan saja dan jangan bicara lagi." Rika menyudahi.


Mereka makan dalam diam.




__ADS_1


*****


__ADS_2