
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Daffi setelah Aina berlalu.
Febry menatap sesaat kearah Daffi, lelaki ini berubah padanya setelah Aina menghilang. Gaya bicaranya tidak semanis tadi.
"Aku ingin bertemu tante Rika, ada sesuatu yang ingin mama sampaikan padanya."
"Apa?" heran Daffi.
Febry mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempangnya. Meletakkannya di hadapan Daffi.
"Kotak?"
Febry mengangguk samar.
"Apa isi kotak itu?" heran Daffi.
"Aku juga tidak tahu, tapi mama bilang kalau kuncinya ada pada kalung Azza."
"Kunci??" Lagi. Daffi kembali heran.
Febry mengangguk.
"Kenapa tidak langsung saja ke rumah dan temui mama?"
"Rumah kalian kosong Daffi, sebab itu aku kesini untuk menemuimu." Febry tampak geram.
"Iya. Aku lupa kalau mama dan juga papa sedang pergi keluar pulau dan sore nanti baru kembali. Bagaimana kalau kamu langsung menyerahkannya besok saja? Besok mereka sudah ada di rumah."
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi aku mau pergi dulu, ada urusan!" Febry berdiri.
"Tunggu! Aku belum mengizinkanmu untuk pergi!"
Febry menaikkan alisnya dan kembali duduk.
"Kenapa harus menyerahkan pada ibuku, padahal Azzanya masih ada dan akan pulang dalam beberapa hari kedepan?"
Febry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Soal itu aku tidak tahu. Mama hanya menyuruhku untuk menyerahkan kotak itu pada tante Rika. Dan aku tidak sekepo kamu soal itu!" tekan Febry.
Daffi mendesah. "Dasar gadis batu," gumamnya.
"Apa kamu bilang tadi!?" melotot. Aku gadis manusia dan bukan batu!" Berdiri dan melangkah meninggalkan Daffi yang berdecak kesal karena tingkah Febry jauh dari kata wanita anggun.
***
Aina mengendarai mobilnya kearah rumah sakit. Pikirannya berkecamuk memikirkan Daffi dan juga Febry.
"Kenapa aku harus gelisah melihat mereka dekat? Bukankah selama ini aku hanya menganggap Daffi sebagai adikku saja," gumam Aina sambil membuka pintu mobilnya.
"Dokter Aina, ada apa? Apa ada masalah?" tanya dokter Nathan saat melintas di dekat Aina.
"Tidak ada dok," tersenyum.
"Tidak ada bukan berarti baik-baik saja ya?" tanya Nathan.
"Kulihat wajahmu menggambarkan kegelisahan, bahkan kamu terlihat mengkhawatirkan sesuatu," ucapnya lagi.
"Dokter Nathan bisa saja. Aku hanya kepikiran sesuatu," sahut Aina dengan ragu.
"Pacar?" sahut Nathan.
Tawa sumbang Aina pecah mengisi kekosongan udara.
"Sayangnya sampai saat ini tidak ada lelaki yang berstatus sebagai pacarku," sahut Aina. Ia merasa geli dengan ucapan dokter Nathan.
"Bagaimana dengan lelaki yang tempo lalu. Kulihat dia adalah lelaki yang baik dan tergila-gila padamu."
__ADS_1
Wajah Aina langsung keruh saat di ingatkan mengenai Daffi.
"Ma'afkan aku, aku tidak bermaksud--."
"Tidak apa-apa dok," sahut Aina cepat.
"Hanya saja, aku menganggapnya sebagai adikku saja!" tambah Aina lagi.
"Benarkah?" Natahan menatap tidak percaya.
"Kulihat wajahmu mengatakan lain."
Aina berpaling kearah Nathan dan terkekeh setelahnya.
"Tidak ada hati yang mampu di bohongi saat kamu tiba-tiba menyukai dirinya. Semakin kamu membohongi hatimu maka semakin kuat ia mencuat dan semakin kuat rasa itu melekat."
Aina terdiam mendengarnya.
"Dokter bisa saja!"
"Aku tidak berbohong loh Aina. Ini fakta kalau hati tidak bisa di bohongi apalagi saat kita melihat dia bersama orang lain, pasti hati merasa berkedut sakit."
Aina terdiam mendengarnya.
"Tetapi aku tidak merasakan hal seperti itu," Aina membatin.
"Selami hatimu, kamu pasti menemukan hal yang tidak terduga!"
Aina kembali terdiam.
"Kalau begitu, aku duluan ya!"
Aina mengangguk menatap kepergian seniornya.
"Apa yang Daffi lakukan sekarang dengan Febry? Apa mereka masih berdebat tetapi kenyataannya mereka saling memperhatikan?" gumam Aina terus melangkah menuju ruangannya.
"Dok, kulihat sejak tadi wajah dokter kusut begitu, tidak biasanya," ucap Bella, asisten Aina.
"Tidak ada Bell, sedang memikirkan hal yang lain," kembali fokus dengan berkas pasiennya.
"Tentang apa? Apa karena dokter di desak untuk menikah?" gurau Bella.
Aina mengangkat kepalanya, menatap kearah Bella.
"Kenapa kamu berkesimpulan seperti itu?" tanya Aina.
"Hanya saja, usia dokter sudah mapan dan pekerjaan juga lebih dari mapan. Hanya satu yang kurangnya, dokter belum punya pasangan."
Aina tertawa sumbang.
"Mereka tidak pernah mendesakku mengenai itu "
"Ma'afkan aku kalau begitu dok, tadinya aku hanya bergurau saja," ucap Bella.
"Bukan masalah. Lagi pula wajar semua orang berkesimpulan begitu, karena wanita yang berumur hampir kepala tiga akan selalu terpojok saat mereka belum menikah."
"Dokter benar. Anggapan mereka selalu negatif mengenai wanita yang jadi perawan tua, terlebih lagi bagi para pendahulu."
"Hahaha...kamu benar. Lalu, bagaimana dengan kamu? Apakah kalian berencana untuk menikah?"
Bella tersipu malu saat di singgung mengenai hubungannya.
"Kami berencana menikah 2 bulan kemudian. Dan sudah satu Minggu lamanya aku di lamar."
"Benarkah?" Aina tampak terkejut.
Bella mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mengundangku saat kalian tunangan?"
"Kami hanya menyelenggarakannya secara sederhana. Hanya di hadiri keluarga inti saja."
Aina mengangguk.
"Apa dokter tidak ingin berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Bella hati-hati.
Aina mendesah.
"Setahuku dokter sangat dekat dengan mas Daffi yang ganteng itu loh!"
Aina melotot mendengarnya.
"Kamu sudah punya tunangan, jangan bicara mengenai lelaki lain. Bisa-bisa kekasihmu nanti cemburu buta."
"Hahaha.... Dia juga tidak ada disini dok, jadi dokter tenang saja!"
"Siapa yang tidak ada?" tanya suara seiring terbukanya pintu ruangan Aina.
"Daffi... kamu... menguping?" tanya Aina terkejut menatap kedatangan Daffi.
"Aku hanya tidak sengaja mendengarnya tadi. Memangnya siapa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Daffi dengan nada terdengar cemburu.
"Bukan siapa-siapa. Kamu, ada apa kesini?"
Daffi menatap Aina dengan tatapan curiga saat Aina mengalihkan pembicaraan.
"Dok, aku mau keluar dulu." Bella segera berdiri dan mengerling nakal kearah Aina yang menatapnya sesaat.
"Aku hanya mau minta ma'af padamu karena tidak bisa mengantarmu tadi," sahut Daffi.
"Hei... Aku tidak apa-apa. Bagaimana urusan kalian berdua? Apakah sudah beres?" Aina mengalihkan tatapannya kembali kearah laporan.
"Urusan apa? Aku merasa tidak ada urusan dengan gadis batu itu!" sahut Daffi tidak suka.
"Kamu punya panggilan khusus nih buat Febry." Aina menarik turunkan alisnya menggoda.
"Hahaha... memang dia batukan, keras dan pemarah."
"Sepertinya kalian sangat kenal dekat hingga mampu menyelami sikap masing-masing," Aina kembali tersenyum.
"Kamu bicara apa Ai.... Aku tidak akan merubah perasaanku padamu Ai, percayalah." Wajah Daffi berubah sendu.
Aina terdiam mendengarnya.
"Kamu berubah pun aku tidak masalah Daff, karena selamanya aku menganggap dirimu adalah adikku saja." Aina menggigit bibirnya.
"Kamu pikirkan sekali lagi Ai, mungkin saja hatimu bisa menerima diriku. Dan jangan memandang usia diantara kita yang membuat jarak."
Aina menatap Daffi dalam. Ada makna tersembunyi di balik pesan yang Daffi sampaikan padanya.
"Aku harap setelah ini kamu bisa membuka hatimu untukku. Karena di luar sana masih banyak pernikahan yang berjalan dengan usia yang terpaut jauh. Dan mereka baik-baik saja."
Daffa menepuk pundak Aina lembut.
"Aku pergi."
Aina hanya mampu menatap kepergian Daffi dari hadapannya. Lelaki itu terlihat sangat serius hari ini bahkan tidak ada nada bercanda dalam setiap ucapannya.
•
•
•
*****
__ADS_1