Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Pindahan


__ADS_3

Keesokan harinya, Daffa dan Anggia benar-benar melakukan pindahan rumah sesuai dengan kesepakatan mereka. Bahkan mereka juga menolak bulan madu ke Maldives.


"Wah... rumahnya sangat besar!" Anggia terkesima dengan pemandangan di depannya.


Sebuah rumah mewah dengan halaman yang luas, taman yang di penuhi dengan bunga mawar kuning dan mawar putih juga beberapa pohon berada disamping rumah dengan air mancur di tengahnya dan juga sebuah kolam buatan di belakang rumah mereka dengan perahu kecil di tengah kolam.


"Bagaimana? Apa kamu suka?" Daffa menatap tidak berkedip pada istrinya.


Anggia mengangguk. "Iya sayang, aku suka sekali!" sahutnya.


"Akan ada seorang asisten rumah tangga yang nantinya yang akan membantu kamu di rumah."


Anggia mengangguk setuju karena ia juga tidak mampu untuk membersihkan rumah seluas ini sendirian.


"Juga akan ada seorang sopir yang khusus untuk mengantarmu pergi kemana saja kamu mau," ucap Daffa lagi.


"Makasih ya sayang," ucap Anggia.


"Iya sayang."


"Ayo kita masuk kedalam!" ajak Daffa.


"Atau kamu mau berkeliling rumah dahulu melihat-lihat sekitar!" tanya Daffa lagi.


"Nanti saja aku jalan-jalannya. Kita istirahat dulu di dalam sekaligus masak buat makan siang!" sahut Anggia.


Daffa mengangguk setuju.


Keduanya memasuki rumah tersebut, berjalan berkeliling rumah sebentar kemudian pergi ke ruang dapur.


Sedangkan barang-barang mereka berdua sudah di antarkan oleh pembantu Angga kemarin.


"Sayang! Aku bantu kamu masak!" ucap Daffa sambil berjalan menghampiri Anggia.


"Tidak usah Daff, kamu duduk disitu saja karena ini adalah yang pertama kalinya aku memasakkan makanan buat kamu selama kita menikah!" sahut Anggia.


Ia sibuk dengan sayur yang ada di tangannya, sesekali berjalan menghampiri kompor yang menyala di belakangnya dengan panci yang bertengger di atasnya.


"Sini aku bantu!"


Daffa meraih pisau yang di pegang oleh Anggia. Ia tidak tega melihat Anggia yang terlalu bekerja keras seperti itu, sedangkan dirinya juga lelah.


"Siang-siang begini enaknya makan yang berkuah sayang!"


Daffa meraih tubuh Anggia dan merangkulnya dari belakang. Meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya. Membuat Anggia bergerak gelisah. Ia merasakan sensasi geli saat merasakan hembusan nafas Daffa yang tidak beraturan.


"Apa masih sakit?" tanya Daffa. Tangannya perlahan bergerak naik keatas.


"Masih sayang!" sahut Anggia.


"Ya sudah, setelah ini kamu istirahat saja. Wajahmu juga pucat!" ucap Daffa.


Ia juga tidak mengerti seperti apa orang yang merasakan nyeri saat datang bulan. Sepertinya sakitnya luar biasa hingga kebanyakan wanita selalu meminum obat atau jamu untuk meredakan sakitnya.


Daffa melepaskan pelukannya saat Anggia kesusahan mengangkat panci yang berisi sayur sop tersebut.


"Sayurnya kita bagi dengan tetangga sebelah sebagai perkenalan!"


"Baiklah. Itu ide yang sangat bagus!" sahut Daffa.


Drt drt drt


Daffa meraih handphone yang bergetar di dalam kantong celananya menatap sesaat. Rupanya Zainal yang menelponnya.


"Dasar pengganggu!" gerutunya.


"Daff aku ingin kerumahmu sebentar, ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani segera!" ucap Zainal.


"Baiklah!" sahut Daffa. Ia mematikan telponnya terlebih dahulu sebelum mulut Zainal meracau tidak jelas.

__ADS_1


"Ayo kita antar sayur ini ketempat tetangga!" ajak Anggia setelah ia selesai memasukkan sayur tersebut kedalam rantang.


Anggia dan Daffa berjalan kearah rumah tetangga yang tidak jauh dari rumah mereka. Rupanya tetangga tersebut adalah seorang ibu muda dengan anaknya yang masih bayi.


"Terima kasih banyak, Anggia Daffa. Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik!" ucap Sarah.


"Sama-sama Sarah. Kalau begitu kami permisi dulu!" ucap Anggia.


"Baiklah. Terima kasih banyak karena sudah mau repot-repot mengantar sayur kemari."


"Tidak apa-apa Sarah. Lain kali kuharap kita bisa berbicara lagi!" jawab Anggia.


Mereka segera pulang kerumah. Anggia mengernyit saat mendapati sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah mereka.


"Wah pengantin baru habis datang darimana?" tanya Zainal dengan senyum sumringahnya.


"Rumah tetangga!" jawab Anggia.


"Itu bagus, kalian berkenalan dengan tetangga. Jadi pergaulan kalian tidak hanya seputar kamar dan ranjang, tetapi juga lingkungan luar rumah."


Daffa melotot mendengar ucapan Zainal yang terlalu frontal.


"Ayo ikuti aku ke ruang kerjaku!" ucap Daffa.


Sesampainya di ruang kerja.


"Mana berkas yang kamu suruh menandatangi!" pinta Daffa.


"Sabar dulu Daffa, aku haus. Masa tamu datang berkunjung tidak dikasih air minum," sahut Zainal.


Daffa melotot mendengar ucapan Zainal. Sudah ia duga kalau Zainal datang kerumahnya pasti ingin mengganggu kegiatannya berdua dengan istrinya.


Mata Daffa beralih menatap Zainal yang menatapnya sambil menaik turunkan alisnya.


Tidak lama pintu terbuka di belakang mereka. Anggia membawakan dua cangkir teh hangat bersama setoples cemilan.


"Ternyata teh buatan istri kamu sangat enak," celetuk Zainal.


"Iya dong, dia memang wanita yang pandai memasak. Cepat habiskan minumanmu, setelah ini kamu cepat pulang. Kamu mengganggu waktuku!" ucap Daffa.


"Iya-iya," sahut Zainal sambil meraih berkas dan memasukkannya kedalam tasnya.


"Kamu jangan mengusirku secara tidak hormat seperti itu dong!" Zainal memelas.


"Lagian aku tidak lama kok. Hanya memastikan saja kalau kamu dan Anggia benar-benar sudah membuatkan keponakan untukku!"


"Aku bahkan belum melakukan apapun padanya, kamu justru sudah datang menggangguku!" sahut Daffa ketus.


"Oke kalau begitu aku pulang. Ingat! Buatkan aku keponakan yang banyak ya!" ucap Zainal setelah ia keluar pintu utama.


"Memangnya anak ayam, buat banyak-banyak," sahut Daffa menggerutu.


Ia bergegas berjalan mencari keberadaan Anggia. Rupanya wanita itu masih berada di dapur. Ia terlihat sibuk dengan cucian pancinya.


"Sayang. Jangan kelelahan, nanti kamu sakit."


"Tidak apa-apa Daffa, hanya beberapa cucian saja dan itu tidak membuatku lelah."


"Ayo kita makan sekarang! Makanan sudah siap di meja makan."


Anggia berbalik saat mendengar langkah Daffa yang mendekat kebelakangnya.


"Ajak sekalian asistenmu tadi," pinta Anggia.


"Dia sudah pulang. Aku mengusirnya karena dia mengganggu waktu kita berdua," jawab Daffa.


Anggia tersenyum mendengarnya.


Mereka makan dengan tenang.

__ADS_1


"Daffa, setelah ini aku ingin mengunjungi mama sebentar. Ingin melihat keadaannya," ucap Anggia.


"Aku akan mengantarmu kesana!" ucap Daffa.


"Apakah itu tidak akan merepotkanmu!" sahut Anggia.


"Tidak sayang, semua akan aku lakukan untukmu, apapun itu!" ucap Daffa.


"Lagi pula apa yang akan aku lakukan saat sendirian disini tanpa kamu!"


"Baiklah. Setelah ini kita bersiap-siap saja!" sahut Anggia.


***


Sesampainya di kediaman Rahiyang, Daffa hanya duduk di ruang tamu dan sesekali berjalan ke taman yang ada di belakang rumah Rahiyang. Sedangkan Anggia berada di dalam kamar ibunya.


"Anggia! Kenapa kamu menggagalkan rencana mama?" Rahiyang menatap Anggia tajam.


"Apa maksud mama?"


"Mama melihat semuanya Anggia. Semua yang sudah kamu lakukan semalam. Kalau saja tidak ada mama, maka kamu sudah ketahuan oleh asistennya Daffa."


"Bukankah mama sebelumnya menyuruh Anggia untuk memikirkan sendiri rencana Anggia. Kenapa setelah Anggia melakukannya, mama justru menentangnya."


Rahiyang terdiam mendengarnya.


"Bukankah sudah Anggia katakan sebelumnya pada mama kalau Anggia tidak ingin melakukan malam pertama dengan lelaki yang tidak Anggia cintai."


"Tapi seharusnya kamu berpikir dulu masak-masak. Seandainya Daffa curiga ataupun mengetahuinya maka apa yang akan terjadi?" geram Rahiyang.


"Sudahlah ma, semua juga tidak ketahuan. Jadi mama tenang saja," balas Anggia.


"Pokoknya setelah ini mama tidak mau tahu. Kamu harus menjaga sikapmu pada Daffa. Ingat! Daffa bukan orang sembarangan."


"Iya, ma!" jawab Anggia.


"Dan juga jangan sia-siakan pengorbananmu selama ini!" ucap Rahiyang.


"Ma, percaya sama aku kalau aku bisa membungkus perbuatanku dengan apik. Lagipula tadi malam aku tidak tidur dengan Alfa. Hanya memintanya sedikit bantuan untuk membelikanku pembalut," sahut Anggia.


"Kamu tidak membohongi mamakan?"


"Tidak ma. Mama sudah tahukan jadwal bulananku, lagi pula perutku sangat nyeti kalau sedang haid."


"Lalu, bagaimana dengan kebiruan di lehermu?" tanya Rahiyang.


"Aku salah minum jamu ma. Jadinya kulitku lebam kebiruan akibat reaksi alergi. Sedangkan Daffa semalam aku kasih obat tidur," sahut Anggia jujur.


"Dan lebamnya tidak hanya di leher ma, bahkan di belakang dan juga kakiku," ucap Anggia lagi.


Rahiyang menatap anaknya. Ia percaya kalau anaknya tidaklah berbohong.


"Tapi aku puas ma, dengan aku tembus saat haid, Daffa pikir kami sudah melakukan malam pertama."


"Padahal keadaanku saat itu hampir tidak tidur semalaman karena perutku luar biasa nyerinya."


Rahiyang hanya diam saja mendengarkan.


Anggia terkekeh. "Sebaiknya mama istirahat saja karena aku ingin pulang. Kasian Daffa terlalu lama menungguku."


"Baiklah. Kamu hati-hati di jalan."





*****

__ADS_1


__ADS_2