
Sesuatu yang harus dikabulkan walaupun sulit adalah keinginan pertamamu saat mengandung benih milikku
______________________________________
Eland melongo saat mendapati banyaknya masakan kepala ikan yang di masak dengan cara berkuah. Saat ini mereka sedang berada di meja makan.
"Kenapa di dalam mangkok ini semuanya kepala ikan?" heran Eland.
"Itu milik Rika, Pa," sahut Angga.
"Kenapa kamu hanya memberinya kepala ikan? Itu akan membuatnya kurus nantinya. Beri dia daging dan juga telor!" Perintah Eland. Ia kesal dengan Angga yang memperlakukan istrinya semaunya saja. Bahkan didepan mertuanya sendiri.
"Pa, itu keinginan Rika, aku hanya menurutinya saja," sahut Angga.
"Dasar anak nakal!" Eland terkekeh setelahnya. "Apa harus keinginan istrimu yang satu itu dipenuhi. Dia terlalu sederhana. Beri dia makanan yang menyehatkan!" Perintah Eland.
Pelayan terdiam dan menunduk, mereka tidak berani membantah, tapi juga tidak berani untuk melaksanakan.
Angga menatap kearah salah seorang pelayannya dan memberi kode untuk membawakan makanan kekamar mereka.
"Hei! Mau dibawa kemana makanan itu!" Eland kembali bersuara dan mencegah Angga yang sudah ingin beranjak dari duduknya.
"Kekamar pa."
"Kenapa tidak makan disini saja, papa sejak tadi tidak melihat keadaan menantu papa," sahut Eland.
"Rika sedang kurang enak badan, pa."
Eland membelalakkan matanya, menatap tajam kearah Angga, membuatnya meringis.
"Sebaiknya papa teruskan saja makan malam papa, aku mau kekamar dulu," Angga berjalan meninggalkan ayahnya bersama ibunya Rika yang hanya diam saja sejak tadi.
"Hey. Bawakan dia daging dan juga telor serta banyak sayuran!" teriak Eland.
Angga hanya mengangguk saja dan meneruskan langkahnya.
Eland sangat merindukan Angga, tapi anak itu terlalu cepat tumbuh besar dan dewasa. Tanpa sadar mata Eland sedikit berembun diujung matanya. Ia begitu terharu dan menyesalkan kejadian masa lalu. Ia tidak sempat mendidik Angga dan terus bersamanya karena keadaannya yang depresi.
Dan beruntungnya sekarang karena ia akhirnya bisa melihat Angga lagi yang sudah menikah dengan wanita yang tepat.
Sedangkan Angga sudah memasuki kamarnya, menatap Rika yang tidak ada di tempatnya. Dengan langkah cepat, ia memasuki kamar mandi dan mendapati Rika yang muntah tanpa suara.
Dengan gerakan lembut ia memijat tengkuk istrinya. Angga benar-benar merasa prihatin melihat keadaan Rika. Benar kata mertuanya, ia harus membawa salah seorang dokter kandungan kerumahnya untuk memeriksakan keadaan istrinya.
__ADS_1
"Sayang, biar aku yang gendong!" Angga meraih tubuh Rika dan menggendongnya kearah ranjang mereka. Rika terlihat lemah dan sangat pucat. Ia membiarkan saja Angga menggendongnya.l
"Kepala ikan milikmu sudah matang." Angga tersenyum dan meraih nampan yang tergeletak di nakas.
Rika hanya menatapnya sesaat, ia mencoba memejamkan matanya sesaat. Kepalanya luar biasa pusingnya dan badannya rasanya tidak bertulang lagi.
Dengan gerakan lambat, Rika membuka mulutnya. Tapi sebelum itu, ia menciumnya terlebih dahulu. Benar-benar harum masakannya, membuat Rika sedikit bergairah.
Rika menggeleng saat Angga memberinya nasi. Tetapi ia akan membuka mulutnya saat Angga menyuapinya kepala ikan tongkol saja. Setelah dirasanya kenyang, Rika menolak untuk kembali di suapi.
"Kamu sangat sedikit makannya, sayang."
Rika hanya memejamkan matanya sesaat untuk menghalau pusingnya. Ia sangat malas membuka suara, ujung-ujungnya ia akan muntah, entah apa sebabnya.
"Kamu mau berbaring lagi?" tanya Angga.
Rika hanya mengangguk saja dan berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya saat ia merasakan rasa mual yang kembali mendera.
"Minum dulu obatnya dan vitaminnya," Angga menyerahkan obat yang tergeletak di dalam laci nakas.
Dengan sekali tegukan, obat tersebut berhasil melewati tenggorokannya. Rika kembali berbaring dan menutup matanya. Ia merasa kalau hari semakin panjang saja dan waktu terasa sangat lama berputar.
Dengan penuh kasih sayang Angga memijat tangan Rika dengan perlahan, hingga membuat Rika kembali terbuai dalam tidurnya. Wanita itu terlihat kurus dan pucat.
Dengan langkah perlahan, Angga berjalan keluar kamar mereka. Membuka pintu dengan hati-hati. Ia berjengit saat mendapati Eland yang sudah berdiri di depan pintu kamar mereka.
"Tentu saja ingin melihat keadaan menantuku. Katamu dia sedang sakit," ucap Eland. Ia terlihat khawatir, sambil sesekali matanya mengintip di balik punggung Angga.
"Pa, Rikanya sedang istirahat," Angga berucap hati-hati agar tidak membangunkan Rika yang sedang tidur.
"Kenapa tidak kamu panggilkan saja seorang dokter kemari," Eland mengekori langkah Angga yang menuruni tangga.
"Dokter sedang menuju kemari, pa. Aku baru saja menghubunginya."
Eland mengangguk. Ia masih mengikuti langkah Angga yang menuju kearah ruang keluarganya. Ibunya Rika sudah memasuki kamarnya, ia sedang shalat isya.
"Sakit apa sebenarnya menantu papa?" Eland duduk dengan hati-hati dihadapan Angga. Matanya menatap pergerakan Angga yang terlihat tenang tapi masih ada sedikit kekhawatiran di matanya.
"Dia sedang hamil pa," sahut Angga.
"Apa!!? Hamil!!?" Eland membelalakkan matanya menatap senang kearah Angga. Ada senyum sumringah disana.
Angga mengangguk samar, senyumnya juga terbit di bibirnya. Ada perasaan senang bercampur haru, bahkan tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bilang sejak awal pada papa?" Eland masih sedikit kesal, karena hal sepenting ini justru baru diberitahukan sekarang.
"Aku lupa pa," Angga tersenyum manis kearah ayahnya.
"Kalau tau papa bakal punya cucu, papa pasti akan membelikan oleh-oleh untuknya." Eland masih terlihat senang.
"Pa, dia masih sangat kecil dan kami belum tahu jenis kelaminnya," sangkal Angga.
"Bukan. Tapi untuk keduanya. Disana sangat banyak buah mangga yang ranum. Biasanya orang hamil selalu menginginkan buah mangga ranum. Begitupun dengan ibumu dulu," senyum Eland sirna saat ia kembali mengingat almarhum istrinya.
Ia menatap Angga yang tertegun, berusaha mengukir senyumnya sendiri dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Sudah sangat lama sekali ia tidak mengunjungi makam istrinya. Entah seperti apa makam itu sekarang sepeninggal dirinya.
"Lalu bagaimana dengan berita yang sudah terbit di media itu?" tanya Eland dengan nada serius.
Angga mendesah, menatap kearah depan sesaat.
"Itulah pa yang ingin aku klarifikasi. Wanita yang ada di foto tersebut adalah Rika, sewaktu kami ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi Rika waktu itu."
Eland mengangguk menatap kearah Angga. Ia semakin bangga terhadap anaknya tersebut, semakin dewasa saja. Dan sudah cocok menyandang gelar seorang ayah.
"Papa akan membantumu mengklarifikasi semuanya," sahut Eland.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Eland lagi.
"Angga kembali mendesah dan tampak berpikir. Ada baiknya ia menerima saran dari asistennya tentang rencana ulang tahun pernikahannya. Sekaligus syukuran kehamilan Rika.
"Aku ingin mengadakan syukuran pernikahan kami yang kedua, sekaligus syukuran kehamilan Rika."
"Itu bagus! Ide yang brilian!" sahut Eland girang. Akhirnya menantunya dapat menemukan kebebasannya dalam statusnya dengan pengakuan yang diberikan oleh Angga ke tengah publik.
"Iya pa, ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah yang lalu, dan Rika adalah guru paling berharga dalam hidupku." Angga menatap Eland.•
"Aku tidak ingin kehilangan arah lagi dalam hidupku dan aku juga tetap ingin pelita dalam hidupku selalu menyala dan bersinar," sambung Angga lagi.
"Seorang lelaki akan sangat beruntung apabila memiliki seorang istri yang selalu mengingatkan suaminya dalam kekhilafannya dan menjadi penerang disaat suaminya berjalan dalam kegelapan." Eland menepuk-nepuk bahu anaknya.
"Tapi jangan pernah kamu melupakan tanggung jawab dan kewajibanmu sebagai suami. Bimbinglah anak istrimu hingga kelak mereka yang akan menjadi penolongmu di akhirat," sambung Eland lagi.
Angga mengangguk mendengarnya, ia akan selalu berusaha untuk menjadi panutan yang baik untuk keluarga kecilnya kelak. Ini bukanlah janjinya, tapi merupakan suatu keharusan baginya.
•
•
__ADS_1
•
********