
"Ai... kamu baik-baik saja?"
Aina tersenyum dan menatap Daffi sekilas, lelaki muda itu masih perhatian padanya.
"Iya. Aku baik-baik saja. Makasih ya untuk semua yang sudah kamu lakukan padaku selama ini. Dan ma'af, aku tidak bisa memberikan apa-apa sebagai balasannya!"
"Ai... kamu bicara apa? Kamu sekarang sedang banyak pikiran, sebaiknya kamu istirahat saja!" sahut Daffi merasa tidak senang dengan sikap Aina yang terlalu sungkan padanya.
"Baiklah. Kalau kita sudah sampai rumah, bangunkan aku!" sahut Aina.
Daffi mengangguk dan kembali fokus dengan jalanan di depannya.
"Ai... bangun.... Kita sudah sampai!" Daffi membangunkan Aina dengan perlahan, membuat gadis itu membuka matanya.
"Kita dimana Daffian?" Mengucek matanya.
"Coba lihat di sekelilingmu, kita sedang berada dimana?" sahut Daffi.
Mata Aina mengedar menatap ke sekelilingnya. Deburan ombak terdengar hingga ke pendengarannya, aroma pasir menyeruak di indra penciumannya.
"Pantai?" menatap Daffi yang menganggukkan kepalanya.
"Kamu perlu liburan Ai, memanjakan mata dan juga menyegarkan otakmu!" ucap Daffi.
"Makasih ya!" Aina tersenyum manis dan menatap Daffi dalam. Membuat pemuda tersebut berdehem dan menjauhkan dirinya.
"Ayo kita keluar!" ajak Daffi.
Mereka berjalan sebentar di pinggir pantai. Suasana pantai tampak sangat ramai apalagi pengunjung ingin melihat matahari terbenam.
"Suasananya sangat nyaman Daff, makasih ya kamu sudah membawaku kesini!" ucap Aina.
"Apa sih yang tidak untuk wanita cantik yang satu ini," sahut Daffi di sertai dengan kerlingan matanya.
Aina terkekeh melihatnya. "Anak kecil yang nakal!" ucap Aina.
Daffi langsung terdiam mendengarnya, begitupun dengan Aina yang merasa bersalah dengan ucapannya.
"Ma'afkan aku Daff, aku tidak bermaksud...."
"Tidak apa-apa Ai, kita mungkin hanya di takdirkan sebagai kakak adik saja!" sahut Daffi. Ia menggenggam tangannya erat, ada segores luka di dadanya.
"Kalau kamu sudah selesai dengan semuanya, sebaiknya kita pulang. Aku menunggumu di mobil."
Daffa berjalan meninggalkan Aina yang berdiri mematung menatapnya. Aina meraba dadanya yang terasa nyeri saat mendengar Daffa yang menyerah dengan semua pengejarannya.
Selama dalam perjalanan pulang, tidak ada percakapan diantara mereka. Daffi dan Aina tampak saling bungkam, bahkan Daffi terlihat acuh dengan wanita yang duduk di sampingnya.
"Kenapa Aina semakin jauh denganku? Apakah benar kalau perasaanku akan terus bertepuk sebelah tangan selamanya?" gumam Daffi membatin.
Ia terkejut saat melihat sebuah motor yang menyelipnya. Daffi tidak fokus hingga ia menyenggol motor yang lainnya yang ingin menyelipnya juga.
Ciiiittttt!!
Aina menahan dirinya saat Daffi mengerem mobil mendadak. Ia mendengar ada benturan keras berbunyi.
"Ada ap...?"
Belum sempat Aina meneruskan ucapannya, Daffi sudah keluar dari mobilnya.
Aina membulatkan matanya saat Daffi berjalan menghampiri seorang gadis yang sangat di kenalinya. Bergegas ia turun dan menghampiri mereka.
"Febry... kamu ...? Daffi menatap tidak percaya pada Febry yang baru saja melepaskan helmnya dengan luka di mata kakinya.
"Apakah kamu terluka parah?" Daffi menghampiri Febry yang terduduk tidak jauh dari motornya.
Febry berbalik dan menatap Daffi dengan kesal.
"Kamu! Kenapa kamu menabrakku!" maki Febry kesal.
"Aku tidak menabrakmu. Aku tidak sengaja menyenggol motormu. Kamu mengenadarainya sambil menyelip mobilku!" sahut Daffi.
"Oh jadi sekarang kamu menyalahkan diriku setelah aku celaka. Ingin lepas tanggung jawab, begitu?" hardik Febry.
Daffi memejamkan matanya sesaat.
"Ma'afkan aku. Aku tidak bermaksud begitu!" sahut Daffi sambil meraih badan Febry dan menggendongnya kearah mobilnya melewati Aina yang semakin terpaku menatap mereka berdua.
__ADS_1
"Hei... lepaskan aku. Kamu tidak sopan sama sekali padaku!" ucap Febry kesal sambil meronta.
"Kamu mengangkatku tanpa izin dariku!" tambah Febry lagi.
"Kamu mau aku lepaskan sekarang dan kakimu yang terluka itu tambah sakit?" tanya Daffi tidak perduli.
Febry terdiam mendengarnya. Ia pasrah saja dengan perlakuan Daffi padanya.
"Ai... ayo naik, kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Daffi melihat keterdiaman Aina.
Aina berbalik dan mengangguk.
Aina menatap kearah Daffi yang terlihat khawatir, sesekali matanya melirik kearah kaca spion yang ada di depannya.
"Hei! Bagaimana dengan motorku!!" teriak Febry keras saat menyadari motornya masih tergeletak di tepi jalan.
"Sudah ada yang urus, jadi kamu tenang saja!" sahut Daffi serius.
"Bagaimana aku mau tenang kalau kakiku terluka begini!" gerutu Febry kesal.
"Kamu tenang saja, lukamu masih ringan dan hanya lecet saja. Jadi kakimu akan sembuh dalam beberapa hari ke depan!" sahut Daffi.
"Iya, memang ringan tapi bagaimana dengan bekasnya!" sahut Febry cerewet.
Daffi mendesah dan kembali fokus dengan mobilnya. Perempuan dimana-mana selalu memperdulikan soal kecantikan.
"Kamu itu tidak cantik, sok perduli pada kecantikanmu. Bahkan sikapmu saja masih jorok!" sahut Daffi.
Febry melotot, tangannya bergerak di udara meninju kearah Daffi.
"Siapa bilang aku jorok! Aku cantik begini kok!" sahut Febry ketus.
"Cantik darimananya, hidung pesek begitu!" balas Daffi.
"Laki-laki menyebalkan, sudah aku terluka karenanya masih saja kata-katanya pedas!" gerutunya.
Pintu mobil di sampingnya terbuka, membuat Febry terlonjak kaget.
"Aaaaa....!!! Kenapa kamu menggendongku lagi? Aku masih bisa memakai kursi roda!" teriak Febry kesal.
"Yang ada justru lama kalau menunggu kursi roda!" sahut Daffi.
"Bukankah aku menganggapnya sebagai adik saja. Lalu kenapa aku tidak suka melihat kemesraan mereka berdua?" Gumam Aina membatin.
"Ai kamu kenapa? Sejak tadi aku lihat hanya melamun saja?" Daffi menghampiri Aina di luar ruangan UGD.
Aina memggeleng samar, mengukir seulas senyum tipis.
"Jangan di pikirkam Ai, semuanya nanti juga akan baik-baik saja!" ucap Daffi.
Aina menatap Daffi sendu.
"Kenapa? Apa aku salah bicara?" Menarik tangan Aina dan mendudukkannya pada bangku kosomg di sisinya.
"Tidak Daff, aku hanya terharu saja melihat sikapmu yang begitu mengkhawatirkan Febry."
Daffi tersenyum mendengarnya, tangannya terulur menyematkan helaian rambut Aina ke belakang telinga.
"Itu wajar Ai dan sudah tanggung jawabku Ai, karena aku sudah membuatnya celaka!"
"Aku yang seharusnya meminta ma'af padamu. Seandainya bukan karena kata-kataku di pantai tadi, kamu tidak akan seceroboh itu dalam menyetir," sahut Aina merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Kita lupakan saja persoalan yang tadi. Sekarang kita tunggu Febry di obati terlebih dahulu!"
Aina mengangguk.
"Daffi, aku mau ke kantin dulu. Apakah kamu mau ikut?"
Daffi menggeleng. "Aku disini saja, menunggu Febry selesai di obati!" sahut Daffi.
"Apa ada yang ingin kamu pesan?" tanya Aina lagi.
Daffi menggeleng.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu."
Aina pergi meninggalkan Daffi. Ia ingin menenangkan dadanya yang terasa sesak. Ia juga tidak ingin lagi melihat perlakuan Daffi yang terlalu manis pada gadis itu.
__ADS_1
"Daffi? Kamu sedang apa disini?" tanya seorang lelaki seusianya.
"Andra?" Daffi menatap terkejut.
"Aku sedang menunggu seseorang yang terluka karena aku tadi di jalan."
"Siapa? Kebetulan aku kesini juga ingin menemui seseorang yang juga tersenggol mobil." Sahut Andra.
"Seorang perempuan?" tanya Daffi. Andra mengangguk. Seingatnya tidak ada yang di obati di ruang UGD selain Febry. Apakah mumgkin gadis yang dimaksud olehnya adalah Febry?
"Siapa namanya Dra? Barangkali sama dengan orang yang aku senggol tadi?" tanya Daffi memastikan.
"Febry!" sahut Andra.
"Febry?" ulang Daffi.
"Iya. Apakah kamu memgenalnya?" tersenyum dan duduk di samping Daffi.
"Iya aku mengenalnya. Dan dia sedang di obati di dalam. Memangnya apa hubunganmu dengannya?"
Andra tersenyum manis, menatap lelaki yang dulu adalah teman sekelasnya sewaktu sekolah SMA.
"Dia pacarku," sahut Andra.
Daffi membulatkan matanya.
"Kenapa? Apakah terdengar aneh?" tanya Andra.
"Tidak. Tidak ada yang aneh sama sekali. Aku hanya terkejut mendengarnya. Karena setahuku dia tidak punya pacar."
"Kami baru jadian tadi pagi!" sahut Andra.
"Kalau begitu selamat untuk kalian berdua!" mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Andra.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Febry? Tidak mungkinkan kalau hanya kenal saat tersenggol tadi?" selidik Andra.
"Aku sudah kenal cukup lama, karena kejadian yang menimpa Daffa dulu!" sahut Daffi.
"Dan juga dia adalah anak sahabat ibuku!" tambah Daffi.
"Berarti kamu sering bertemu dengannya sebelumnya. Apa jangan-jangan kamu adalah lelaki yang sangat menyebalkan yang di maksud olehnya?" sahut Andra.
Daffi mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan Andra.
"Febry sering bercerita padaku mengenai lelaki yang paling tidak di sukainya dan sering di ajaknya berdebat!" tambah Andra.
"Oh itu. Ya, dia sering mendebatku untuk semua hal!" sahut Daffi.
"Jangan diambil hati. Dia memang selalu seperti itu pada setiap orang yang sempat tidak di sukainya. Apalagi orang itu pernah bersinggungan di masa lalunya."
Daffi mengangguk paham.
"Padahal bukan aku yang bersinggungan di masa lalunya," gumam Daffi.
"Hahaha... kalian kembar. Itulah penyebabnya, rupa kalian yang sama di tambah dengan dirimu yang suka mencari celah padanya."
"Hei. Aku tidak pernah mencari celah untuk memojokkannya. Itu hanya anggapannya saja. Jangan dengarkan dia," protes Daffi.
"Iya. Iya aku tahu kok. Kamu tenang saja. Sebentar lagi sikapnya akan biasa ke kamu!" sahut Andra.
"Percaya padaku dia adalah gadis yang baik!" ucap Andra.
"Apakah dia yang menghubungimu?" tanya Daffi.
"Iya. Dia mengirimkan pesan untukku. Kalau kamu ada kesibukan biar aku yang menunggunya dan mengantarnya pulang," ucap Andra.
"Apa tidak merenpotkan?" tanya Daffi.
"Tidak. Aku justru senang bisa bertemu dengan ibunya."
"Kalau begitu, aku titip Febry padamu. Besok aku akan menjenguknya. Dan soal administrasinya akan aku urus!"
Andra mengangguk paham.
•
•
__ADS_1
•
****