Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 40


__ADS_3

"Apa!" Kaget Siti saat Adrian kini tegah duduk di kursi sambil meminta maaf dan juga mengatakan jika saat ini Afika ini sedang berada di rumah sakit. Sedangkan Farah yang sejak tadi menguping pembicaraan antara Siti dan Adrian langsung muncul dari balik pintu.


"Apa yang kau lakukan apda Afika? Kenapa dia sampai masuk rumah sakit?" Bentak Farah. Setelah cukup lama tidak ada kabar dari Afika, kini secara tiba-tiba pria yang berstatus sebagai suami Afika muncul dan mengatakan jika Afika saat ini sedang berada di rumah sakit. "Katakan!" Sentak Farah dengan penuh emosi. Andai tidak ada Siti di sana mungkin saja Farah sudah melempar Adrian dengan vas bunga.


"Farah, tenangkan dirimu." Kata Siti sambil menahan Farah.


"Maaf" Ucap Adrian, seorang pria yang tidak pernah satu kali pun meminta maaf pada orang lain kecuali Afika. Kini sedang meminta maaf pada ibu panti. Ibu yang selama ini yang telah merawat Afika sehingga Afika tumbuh menjadi gadis yang begitu memiliki hati yang luar biasa sabar.


"Kau! Kenapa sekali tidak datang saat Afika meninggal?" Geram Farah. Farah sudah menaruh curiga pada Adrian karena nekat menukar uang untuk Afika. Dan juga, kecurigaan Farah semakin besar karena kenapa seorang pria yang begitu sangata kaya yang sangat sulit untuk di ketahui indentitasnya dan juga alamatnya, sama sekali tidak memberikan ponsel untuk Afika agar Afika bisa memberikan kabar pada panti.


"Farah." Teriak Siti tidak terima dengan ucapan Farah.


"Ibu Farah yakin, pria ini pasti menyiksa Afika dan menjadikan Afika sebagai pembantu."


"Stop Farah, marah mu tidak akan membawa keadaan seperti semula." Kata ibu Siti. "Lebih baik, sekarang bersiaplah kita akan pergi melihat Afika."


Jujur Farah sangat geram sekali melihat pria itu. Pria yang sangat misterius yang telah menjadi suami Afika. Ingin sekali Farah mencabik wajah pria yang saat ini sedang duduk di kursi.


Setelah beberapa lama, kini Farah dan juga Siti telah rapi. Adrian yang sejak tadi di kawal oleh Rio memilih untuk duduk di depan, sedangkan Siti dan Farah duduk di kursi belakang.


"Awas saja. Jika sampai Afika kenapa-kenapa dan mengalami luka fisik. Maka aku tidak akam segan-segan mencungkil kedua bola mata kalian." Ancam Farah sambil mengarahkan jari telunjuk dan tengahnya ke arah matanya sendiri, sebagai bentuk ancaman.

__ADS_1


"Apa yang anda katakan nona. Bersikaplah dengan tenang. Jangan berani mengancam tuanku." Kata Rio yang tidak terima dengan perkataan wanita yang saat ini duduk di belakangnya yang memiliki mulut yang begitu kasar.


"Hey kau!" Ucap Farah sambil menampar tipis kepala Rio sehingga mendadak mobil berhenti karena Rio menginjak rem.


"Auuhh." Ringis Rio. "Kenapa kau menggampar kepalaku lampir?" Bentak Rio yang tidak terima dan langsung ingin membuka septybelnya. Namun dengan cepat Adrian langsung menegur Rio sebelum Rio melakukan hal yang akan membuat Farah menyesal.


"Rio. Lanjutkan perjalanan." Kata Adrian.


"Apa? Kau bilang lampir? Hey, dasar kau pria dingin yang terkutuk."


"Farah sudah." Ucap Siti sambil menarik lengan Farah agar melepaskan jambakannya dari rambut Rio. Ya, begitu lah Farah yang sangat jauh berbeda dengan Afika. Ketika ada yang membuat Afika dulu menangis, maka Farah akan maju menjadi tameng utama bagi Afika. Dan terbukti hingga sampai saat ini Farah masih menjadi perisai utama untuk Afika. "Jangan ribut. Ingat kita ingin pergi melihat Afika, bukan untuk bertengkar dengan sopir."


"Dia duluan bu. Masa ia bilang aku lampir. Enak saja, cantik begini di bilang lampir. Itu mata rabun atau apa yah."


"Itu karena kau tidak duduk Farah. Ayo tenang lah biar sopir bisa konsentrasi." Ucap Siti.


Adrian hanya diam saja. Adrian tahu jika Rio memang sengaja melakukan hal demikian. Rio adalah pria yang sangat tidak suka jika ada seseorang mendekat dan menyentuhnya apalagi berkata kasar dengannya.


"Awas kau pria rabun. Lihat saja pembalasanku nanti." Batin Farah.


•••••

__ADS_1


Rangga terus saja berusaha untuk masuk ke rumah sakit agar bisa menemui Afika. Namun upaya yang ia lakukan selalu saja gagal. Dimana di setiap titik selalu ada penjaga yang menjaga Afika. Begitu sulit bagi Rangga. Namun Rangga tidak habis ide. Dia pun menghubungi Baby dan meminta pada Baby agar Baby mau menemuinya di cefe depan rumah sakit.


"Ada apa? To the poin aja." Kata Baby saat masuk dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Rangga. Dulu Baby begitu sangat jatuh cinta pada sosok Rangga, dan bahkan mungkin sampai saat ini perasaan itu pun masih ada. Namun, Baby berusaha tetap tenang dan menyembunyikan semuanya.


"Baby, tolong bantu aku untuk menemui Afika." Perkataan Rangga sungguh mampu membuat Baby merasakan sakit. Pria yang ada di hadapannya ini masih saja tetap sama. Tetap tidak ingin melihat sama sekali dirinya walau dirinya sudah berada di depan matanya.


"Aku tidak bisa. Dan tidak akan pernah bisa." Ucap Baby dengan ketus. "Oh yah, Afika saat ini baik-baik saja. Dan ingat! Jangan pernah coba mendekati Afika. Dia kakak iparku, istri dari kakakku Adrian." Kata Baby lalu berdiri dari duduknya. Saat Baby ingin melangkah Rangga dengan cepat menahan tangan Baby.


"Baby. Please."


"Kau salah Rangga. Andai dulu kau tidak tergiur dengan uang pasti sekarang Afika sudah menjadi istrimu. Namun semua sudah terlanjur Rangga. Karena Adrian sangat mencintai Afika. Jadi stop untuk berharap." Baby lalu menyentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Rangga.


Rangga mengusap wajahnya dengan kasar. Karena kini Baby pun tidak bisa membantu dirinya.


"Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan pria itu." Batin Baby saat keluar dari pintu cafe.


Lalu mata Baby tertuju pada mobil Adrian.


••••


Siti dan juga Farah langsung berlari ke ruangan Afika. Saat pintu ruangan terbuka, Siti langsung meneteskan air matanya saat melihat Afika yang kini tengah berbaring. Pantas saja malam itu firasat Siti malam itu tentang Afika begitu tidak enak. Ternyata Afika sedang sakit.

__ADS_1


"Afika, anakku." Lirih Siti. Afika yang mendengar suara Siti langsung menoleh dan membuka lebar kedua tangannya agar Siti memeluk tubuhnya.


"Apa yang terjadi? Apa yang sakit? Siapa yang membuat mu seperti ini?" Tanya Farah dengan panik sambil berjalan mendekat ke arah Afika.


__ADS_2