
Anugerah terbesar dalam hidup yang bahkan tidak semua wanita merasakannya adalah kehamilan. Membawa kabar bahagia bagi semua penduduk bumi
______________________________________
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa lebih baik?" Angga memperhatikan Rika dengan seksama, tangannya memberikan pijatan lembut ditengkuk Rika saat ia kembali ingin muntah, namun berusaha ditahannya sedapat mungkin. Ia hanya bisa menggeleng menanggapi pertanyaan suaminya.
Saat ini mereka sudah berada di rumah sakit di kota mereka. Duduk dan sedang menunggu antrian. Rika sibuk mencium minyak kayu putih guna menghalau segala bau yang terciym olehnya di balik masker miliknya.
"Rika... kamu sedang sakit?"
Mereka menoleh kearah sumber suara, tampak Alvaro sedang berdiri dihadapan mereka. Menatap penuh tanya kearah Rika yang terlihat pucat dan lemas.
Angga segera bergerak merangkul Rika, seolah-olah menyatakan bahwa Rika adalah istrinya. Ia menatap tajam kearah Alvaro karena Alvaro adalah saingannya.
"Hmm... dia sedang sakit!" Angga yang menyahut dan berbicara ketus dengan gaya angkuhnya.
"Kalau begitu mari masuk keruanganku saja. Aku akan memeriksa dirimu!" Tersenyum manis sambil menatap kearah Rika disertai sebuah anggukan.
"Tidak bisa. Aku ingin dokter wanita yang memeriksanya. Bukan dokter lelaki seperti dirimu." Angga masih berbicara ketus.
Rika tampak geram mendengarnya, ia merasa kalau Angga tidaklah sopan terhadap lawan bicaranya. Ia mencubit tangan Angga dengan keras karena saking kesalnya.
"Sayang, sakiiittt...," berbisik dan menatap Rika dengan lembut. Membuat Rika terdiam dan menggosok bekas cubitannya tadi.
"Aku sudah tau keadaan istrimu sebelumnya. Karena aku sempat menolongnya dulu saat dirinya pingsan ditengah jalan. Saat itu kondisinya sangat memprihatinkan."
Angga langsung terdiam mendengar penuturan Alvaro. Terlintas penyesalan yang begitu dalam didasar hatinya. Genggaman tangannya semakin dieratkannya sehingga terasa hangat dan nyaman.
Alvaro tersenyum kecut melihat kemesraan mereka. Tidak dapat di pungkiri kalau hatinya masih mencintai Rika. Dan sekarang sedang mencoba untuk melupakannya dan belajar kembali mencintai istrinya walaupun terasa sulit.
"Ayo. Keruanganku sekarang!"
Rika mengangguk dan berjalan mengikuti Alvaro. Tangan Angga masih menggenggam erat tangannya. Beberapa mata tampak melirik kearah mereka dengan penuh tanya bahkan ada yang sengaja memotret mereka. Angga bukanlah orang yang asing di mata setiap orang karena ia selalu wara-wiri di stasion TV. Kepopulerannya dalam bidang bisnis sehingga membuatnya sangat terkenal disemua kalangan masyarakat. Sehingga kebersamaannya dengan Rika menjadi tanda tanya bagi mereka.
__ADS_1
Didalam ruangannya Alvaro memeriksa keadaan Rika. Ia masih merasakan debaran saat bersentuhan dengan Rika. Sedapat mungkin ia bersikap profesional karena tidak seharusnya ia mencintai istri orang lain.
"Bagaimana? Apakah dia mempunyai penyakit aneh atau berbahaya?" Angga menatap serius Alvaro yang sudah duduk dihadapannya.
Alvaro menggeleng menanggapi pertanyaan dari rivalnya tersebut.
"Tidak. Tapi sebaiknya bawa dia berperiksa ke poly kandungan. Karena menurut dari pemeriksaanku, dia sedang mengandung."
Angga terkejut menatapnya, ada binar kebahagiaan di wajahnya yang tidak dapat dia sembunyikan. Berpaling menatap kearah Rika yang tersenyum dan mengangguk kearahnya.
Ingin rasanya Angga merengkuh Rika dengan sayang dan menghunjami semua kecupan dan ciuman diwajahnya. Ia berdehem sesaat untuk menghalau euforia yang mengobrak-abrik jiwanya.
"Apa itu benar?" Tidak dapat menyembunyikan senyumnya.
Alvaro mengangguk. "Kemungkinan seperti itu, walaupun maghnya juga kambuh, tapi itu wajar seiring kehamilan seorang wanita. Aku tidak ingin berbicara terlalu banyak mengenai ini karena untuk memastikannya kalian harus membawanya ke dokter kandungan. Aku tidak ingin kalian kecewa karena diagnosaku salah."
Angga dan Rika mengangguk. Dengan cepat Angga menggandeng tangan Rika setelah mengucapkan terima kasihnya.
Alvaro hanya bisa menatap kepergian mereka dengan tatapan sendu. Tidak dapat di bohongi kalau hatinya sakit melihat mereka yang terlihat mesra. Tapi ia juga merasa sangat senang setelah mengetahui kalau Angga memperlakukan Rika dengan penuh cinta.
"Iya. Selamat atas kehamilan istri anda. Saat ini usianya baru menjalani 8 minggu. Saat ini tanda-tanda kehamilan mulai terlihat, seperti sensitifnya penciuman, muntah-muntah bahkan ngidam."
Angga mengangguk, ia menggenggam erat tangan Rika yang sejak tafi hanya bungkam saja karena setiap kali ia ingin berbicara, rasa mual seketika langsung menderanya.
"Oh iya, berikan makanan yang sehat dan bergizi untuk perkembangan embrionya. Dan juga makan dengan porsi sedikit tapi sering. Kalau ada sesuatu pemicu mual sebaiknya dihindari." Dokter wanita tersebut memberikan wejangan kepada mereka yang baru saja mendapati kabar gembira tersebut.
"Untuk hubungan suami istri, sebaiknya untuk 2 bulan kedepan frekuensinya dikurangi. Sepertinya kalian pasangan yang baru saja menikah."
"Air mani yang masuk kedalam rahim wanita menyebabkan kontraksi dan kemungkinan bisa menyebabkan keguguran. Kalaupun kalian ingin melakukannya, sebaiknya pelan-pelan saja dan juga batasi frekuensinya."
Wajah Rika seketika memerah saat ia mengingat adegan mereka tadi malam dan tadi pagi. Bahkan mereka melakukannya hingga berulang kali. Ia mendelik kearah Angga yang tampak mengangguk saja sejak tadi, senyum itu selalu terbit di bibirnya seolah dia baru saja mendapatkan air ditengah oase.
"Ini ada resep suplemen untuk istrimu dan juga obat mual. Di minum setiap kali mual saja atau setidaknya 3 kali sehari." Menyerahkan resep obat dan hasil USG kehadapan Angga.
__ADS_1
"Makasih, dok!" Meraih semua yang ada dihadapannya. Ia berdiri membawa Rika keluar dari rumah sakit tersebut menuju kearah apotek.
"Sayang, sebaiknya bodyguard kita saja yang mengantri di apotek. Kamu pasti kecapean dan mual," menatap Rika dengan tatapan hangat.
Rika mengangguk saja karena kepalanya terasa berputar-putar saat terkena sinar matahari. Ia berjalan mengekori Angga menuju kearah mobil mereka.
"Kita pulang sekarang, kamu harus banyak istirahat. Ingat! Didalam sini ada anak kita." Membelai perut rata Rika dengan sayang.
Rika segera turun dari mobil yang mereka tumpangi setibanya mereka di rumah Angga yang sangat besar.
Tiba-tiba ia bergerak berjalan kearah samping mansion dan menuju kearah belakang. Angga merasa heran dengan istrinya, dengan cepat ia mengekori dan meraih tubuh istrinya.
"Ada apa sayang?" Menatap penuh cinta. Rika menggelengkan kepalanya.
"Katakan saja. Aku pasti akan mengabulkan semua keinginanmu!"
Rika menatap ragu terhadap Angga. Haruskah permintaannya yang satu ini harus segera dikabulkan.
"Katakan saja," kembali menatap Rika dengan lembut sembari tangannya membelai punggung tangan milik istrinya.
"Kita kebelakang mansion. Aku ingin mencium sesuatu yang wangi disana." Tersenyum dengan gayanya yang sedikit manja. Membuat Angga terkejut mendengarnya, tapi tidak dapat dipungkiri kalau hatinya begitu senang mendapati istrinya berlaku seperti itu.
Ayo, aku gendong!" Angga ingin meraih tubuh Rika tapi Rika justru menolaknya. Ia tidak ingin terlihat seperti anak kecil dihadapan seluruh bodyguard mereka yang selalu mengintili mereka.
"Sebaiknya kita segera kesana, sebelum wanginya hilang."
Angga mengernyit dan berusaha menciumi udara yang ada di sekeliling mereka. Ia tidak dapat merasakannya. Mungkinkah wangi bunga mawar yang dimaksud oleh Rika. Karena hanya kebun bunga yang terdapat di belakang mansion mereka.
Rika melangkah dengan ringan menuju kearah sumber bau yang sangat disukainya. Bahkan ia sejak tadi sudah membuang masker miliknya. Beberapa kali Angga memperingatinya untuk berjalan dengan hati-hati.
•
•
__ADS_1
•
*******