
Adrian kini tengah berdiri tepat di depan pintu ruang inap Afika. Dengan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskan secara perlahan. Adrian memutuskan untuk masuk ke dalam.
Baby, Farah, dan juga Junisah yang tentunya mereka sudah tahu jika Adrian berada di depan sana, memutuskan untuk keluar dari ruang inap Afika. Satu persatu mereka keluar dengan berbagai alasan, awalnya Afika terlihat dengan tenang, namun saat pintu ruangan terbuka, dan Afika melihat siapa yang masuk, membuat Afika terdiam dengan membulatkan matanya. Pantas saja, semua yang berada di dalam kamar inapnya satu persatu keluar karena inilah alasannya.
Adrian berjalan menghampiri Afika dengan senyum yang terukir di wajah, sambil membawa bunga di tangan kanannya.
"Maafkan aku." Kata Adrian, lalu meletakkan bunga di atas pangkuan Afika. Afika hanya diam saja melihat bunga yang di letakkan Adrian. "Maafkan aku." Ulang Adrian dengan nada yang lembut dan sangat tulus dalam berkata, namun hasilnya tetap sama, Afika masih saja terdiam.
Lalu Adrian berlutut di lantai.
__ADS_1
"Maafkan aku Afika. Maafkan aku." Kata Adrian dengan tangan yang menggenggam tangan Afika. "Aku menyesal, maafkan aku." Lirihnya.
Suara Adrian spontan membuat Lion yang berada di dalam box, menggeliat..
"Jangan berisik, Lion ku sedang tidur." Ucap Afika, sehingga membuat Adrian melirik ke arah Lion yang saat ini sedang terbaring di dalam box bayi.
Lalu Adrian berdiri dan berjalan menghampiri box Lion. Adrian tersenyum sambil menitihkan air matanya, saat melihat Lion yang begitu sangat mirip dengan dirinya. "Maafkan daddy sayang. Maaf." Kata Adrian sambil mengusap wajah Lion dengan jari telunjuknya. "Maaf. Sudah membuat mu menderita. Maafkan daddy." Ulang Adrian lalu mengusap air matanya. Afika yang menyaksikan langsung pun ikut menitihkan air matanya.
"Apa boleh aku menggendong Lion?" Tanya Adrian. Dan Afika pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban ia. Namun, karena ini yang pertama kali bagi Adrian sehingga ia sangat takut jika dirinya salah dalam menggendong Lion, Adrian yang kebingungan hanya tersenyum tipis. "Maafkan daddy sayang, daddy sangat ingin menggendongmu hanya saja daddy takut jika kau terjatuh." Kata Adrian sambil terus mengusap wajah halus Lion, lalu kemudian Lion menggenggam telunjuk Adrian. "Lion memegangku, kau lihat sendiri sayang? Sepertinya dia tahu jika aku daddy nya." Dengan sangat bahagian Adrian berkata demikian sampai tidak menyangkah jika memanggil Afika dengan sebutan sayang.
__ADS_1
"Ya, dia mengenalmu. Mengenal orang yang telah menyakitinya dan mengenal orang yang tidak ingin melihatnya lahir di bumi ini." Ucap Afika namun hanya di dalam hatinya saja. Sungguh Afika ingin sekali mengutarakan isi hatinya namun, ada Lion di antara mereka dan Afika tidak ingin mengganggu Lion, dengan pertengkaran yang akan terjadi jika Afika mengutarakan isi hatinya.
"Sayang, lihat lah. Lion memegang jariku dengan sangat erat." Ucap Adrian.
"Adrian, sudah cukup." Kata Afika lalu Afika turun dari brangkarnya dan meletakkan bunga tepat di atas tempat tidurnya. Lalu Afika berjalan menuju pintu, dan membuka pintu. "Sudah cukup Adrian. Keluarlah, aku dan Lion ku ingin istirahat." Kata Afika yang membuat senyum di wajah Adrian langsung memudar. Sungguh Adrian tidak menyangkah jika Afika akan setegah ini mengusir dirinya. Padahal Adrian betul-betul sangat rindu dan ingin meminta maaf dengan tulus. Belum lagi, Adrian masih ingin melihat putranya. "Mengertilah Adrian, aku ingin istirahat." Ucap Afika.
Andrian mengembuskan nafasanya. Ia benar-benar belum siap keluar dari kamar inap Afika, namun apa boleh buat, ini sudah menjadi permintaan dari orang yang sudah telah mengisih hatinya. Secara perlahan Adrian melepaskan jari telunjuknya dari genggaman tangan mungil Lion. "Maafkan daddy sayang. Daddy harus keluar dulu." Ucap Adrian, lalu Adriang mengecup wajah Lion hingga beberapa kali.
Saat Adrian melangkah keluar, kaki Adrian terhenti tepat di depan Afika. "Aku akan menunggu di luar sampai kapan pun. Asal kau mau memaafkan ku." Ucap Adrian.
__ADS_1
"Keluarlah."