
"Aku mencintaimu Afika, hari ini dan selamanya." Ucap Adrian dan mampu membuat Afika menitihkan air matanya. "Jangan pergi, jangan pernah tinggalkan aku sendiri. Aku menyayangi kalian berdua."
Kini Afika langsung berjalan mendekat pada Adrian, ia tidak menyangkah jika Adrian akan sadar hanya karena dirinya mengancam akan pergi bersama dengan Lion, dan tidak akan pernah kembali lagi.
"Adrian." Panggil Afika. Adrian tersenyum dan berusaha mencoba untuk duduk, namun dengan cepat Afika menahan Adrian. "Jangan, kau baru sadar. Tunggu, aku panggil dokter." Kata Afika lalu ingin mencoba melangkah namun bajunya di tarik oleh Adrian.
"Aku tidak butuh dokter. Aku hanya butuh kamu sayang, dan juga Lion putra kita." Ucap Adrian masih dengan suara yang lemah.
Afika langsung duduk di samping brangkar Adrian dan membaringkan Lion di samping Adrian. "Lihat Lion, dia sudah besar. Kau terlalu nyaman dengan tidurmu."
"Maafkan aku." Kata Adrian, ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa mendampingi Afika menjaga Lion, selama dirinya tidak sadarkan diri. "Maaf atas kesalahan ku dahulu. Dan juga, maaf karena aku tidak membantumu menjaga Lion." Adrian mencoba mengusap pipi mulua Afika. Dan Afika yang mendapatkan usapan halus, tidak bergeming. Dia tetap menerima usapan dari Adrian. "Maaf, sudah membuatmu menunggu, maaf, sudah membuat mu menangis."
••••
Di mension...
Hari pertama berada di mension, membuat Adrian merasa begitu bahagia. Bagaimana tidak bahagia, kini Afika bersifat lembut dan hangat padanya. Adrian sudah mendapatkan maaf dari Afika dan kini Adrian hanya perlu membuktikan jika memang dirinya sangat mencintai Afika.
__ADS_1
"Kenapa hanya diam saja, apa kau tidak ingin membantuku?" tanya Afika saat menyadari jika Adrian hanya terus memperhatikan dirinya tanpa mau membantunya mengurus Lion.
"Maaf." Kata Adrian lalu mendekat ke arah Lion dan Afika. "Biar aku yang memakaikan baju untuk Lion. Biarkan ini menjadi tugasku." Pinta Adrian membuat Afika tersenyum. "Oh ya, kita sudah baikan. Maksudku, kau sudah memaafkan ku sayang. Jadi, bagaimana nanti malam, apa kau akan tidur di kamar ku, kamar kita maksudku."
"Jangan berharap lebih." Kata Afika, sambil memberikan setelan baju pada Adrian agar di kenakan pada Lion. "Aku akan ke bawah, membantu Sri menyiapkan makan malam. Jadi tolong jaga Lion."
"Baiklah."
"Kau lihat itu jagoan. Mommy mu pasti malu, sebenarnya dia ingin tidur dengan daddy, hanya saja dia masih malu dan tidak mau mengakuinya." Kata Adrian tepat di hadapan Lion membuat Lion tertawa. Namun tanpa sadar, perkataan Adrian terdengar jelas oleh Afika.
"Siapa yang malu. Jangan mengada-ngada." Kini Afika keluar dari kamar, dan membuat Adrian tersenyum.
•••
"Kak Adrian, kenapa wajah kakak seperti itu?"
"Seperti apa?" tanya Adrian.
__ADS_1
"Kakak seperti anak SMA saja, yang sedang jatuh cinta. Wajah kakak, telihat berseri-seri, atau jangan-jangan kak Adrian dan kak Afika sudah..." Ucapan Baby menggantung karena Adrian langsung menyelah.
"Baby stop! Jangan berbicara yang tidak-tidak."
Afika hanya tersenyum menanggapi kakak beradik yang terus saja berdebat, karena Baby yang selalu menggoda Adrian. Hingga semua terdiam saat Baby mengatakan sesuatu yang membuat Adrian terdiam.
"Kak, aku ingin Nadi menjadi asisten pribadiku." Pinta Baby.
"Kak Adrian, apa kakak dengar? Kenapa hanya diam saja. Aku ingin Nadi menjadi asistenku."
"Baby." Seru Adrian. Jujur Adrian merasa aman jika Nadi menjadi asisten Baby, karena otomatis Nadi akan menjaga Baby seperti menjaga nyawanya sendiri, hanya saja Adrian tidak ingin membuat Nadi tidak nyaman dengan tingkah laku Baby yang berisfar random. Yang sering berubah tidak mengenal situasi. Kadang, menjadi dewasa dan kadang menjadi seperti seorang anak. Kadang cerewet, kadang galak, kadang baik, dan bahkan kadang tiba-tiba menangis.
"Kak, aku ingin Nadi menjadi asisten ku, titik!" Ucapnya lalu menghentikan makannya dan berlalu dari sana.
Adrian menghelah nafas, sungguh permintaan Baby membuatnya menjadi pusing. Adrian takut, sesuatu akan terjadi pada Nadi, jika terus berada di dekat Baby. Bukan Adrian tidak suka, hanya saja. Baby yah Baby, dan sampai kapan pun, Baby hanya seorang anak bayi di mata Adrian.
"Nanti aku akan berbicara pada Nadi." Kata Afika.
__ADS_1
"Terima kasih sayang." Ucap Adrian sambil menggenggam tangan Afika.