Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Di Hadang


__ADS_3

"Ai, nanti bagaimana kalau kita singgah dulu di rumah makan baru pulang ke rumah?" tanya Daffian dalam perjalanan pulang.


"Boleh juga. Soalnya aku juga sudah lapar," sahut Aina.


"Lapar?" tanya Daffian dengan menggoda.


Aina melirik kearahnya dan mengangguk sekilas.


"Kenapa?" tanya Aina.


Daffian tersenyum jahil karenanya.


"Lapar yang bagaimana?" godanya lagi.


"Tentu saja lapar!" sahut Aina.


"Lapar mau makan aku kah?"


Aina terkejut mendengarnya, pipinya merona.


"Dasar Daffian mesum," Aina menggumam.


"Aku mendengarnya, Ai...." Daffian berpaling dan menatap Aina yang menatap kearah luar jendela mobil.


"Siapa mereka dan mengapa mobil mereka menghalangi jalan kita?"


Daffian menghentikan mobilnya. Tadinya dia masih ingin menggoda Aina lagi tetapi urung karena jalan mereka sedang di hadang oleh sebuah mobil.


"Ada apa, Daffian?" Aina berpaling dan menatap mobil di depan mereka.


"Sepertinya mobil mereka sedang mogok," sahut Daffian.


Ia melepaskan seatbelt yang melilit di badannya, ingin membuka pintu mobil tetapi urung setelah di tahan oleh Aina.


"Jangan keluar. Aku mempunyai firasat yang buruk mengenai ini. Lebih baik kita putar arah dan mencari jalan alternatif yang lain," saran Aina.


Daffian menatap kearah Aina. Ia tidak tega melihat kekhawatiran wanita itu. Sekali lagi ia melihat mobil di depan mereka, terdapat beberapa penumpang di dalamnya. Mungkin saja benar apa yang di katakan oleh Aina.


Daffian mengangguk, ia menghidupkan kembali mesin mobilnya. Berbalik dan mencari jalan alternatif lainnya.


"Daffian, mereka mengikuti kita!"


Daffian melirik melalui kaca spion, benar saja mobil tadi mengikuti mereka.


"Aku akan menghubungi polisi!"


Aina sudah meraih handphone miliknya dan menelpon polisi untuk meminta bantuan.


"Mungkinkah mereka begal? Tapi seharusnya mereka tadi langsung menyeret kami, bukankah di sana ada kesempatan? Ataukah bukan begal?" Aina membatin. Ia terlihat sangat gelisah dan tegang.


Daffian memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, jalanan juga terlihat sangat sepi. Bahkan sunyi penduduk, karena yang ada sepanjang jalan hanyalah hutan.


Ciiiitttttt.


Mobil yang di tumpangi oleh Daffian dan Aina berdecit karena Daffian mengerem mobilnya mendadak. Beruntungnya Aina sudah bersiap sejak tadi. Mobil asing tersebut sudah berhenti tepat di hadapan mereka, kembali menghadang mobil mereka.


"Keluar!!"


Beberapa orang mengelilingi mobil mereka, menggedor-gedor dengan sangat kuat. Membuat Aina semakin tegang dan berkeringat dingin.


"Daffian. Jangan keluar. Kalau kamu keluar maka aku tidak akan pernah mema'afkanmu!!" ucap Aina mengurungkan pergerakan Daffian.


"Tapi Ai, mereka menyuruh keluar. Kalau aku tidak keluar maka kita tidak akan tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi."


"Daffian, aku mohon. Urungkan niatmu itu. Jangan pernah kamu keluar. Aku tidak akan mema'afkanmu kalau kamu keluar!" tegas Aina sekali lagi.


Daffian terkejut mendengarnya, menatap Aina yang mengepalkan kedua belah tangannya. Wanita ini, begitu khawatir padanya.


"Percayalah padaku, Ai. Aku baik-baik saja kalau menghadapi mereka dan dengan bicara baik-baik."


Aina menggeleng. "Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Apakah kamu tega padaku kalau terjadi sesuatu. Aku tidak ingin kehilamganmu, aku sangat mencintaimu. Dan aku tidak akan mema'afkan diriku sendiri kalau kamu sampai celaka."


Tanpa sadar Aina sudah mencengkeram baju Daffian.


"Ai, aku tidak akan meninggalkanmu, percayalah!"


Aina memeluk Daffian dengan erat, ia tampak bergetar apalagi gedoran di mobil mereka semakin keras.


"Tunggu bantuan datang!" ucap Aina.


Daffian hanya menatapnya dalam. Sebesar inikah cinta Aina padanya. Tetapi ia tetap akan melindungi Aina bagaimanapun caranya.


"Buka pintunya! Kami hanya ingin berbicara sedikit denganmu! Kalau tidak maka kaca mobil ini akan kami pecahkan!" ucap salah satu diantara mereka.


"Ai, aku akan menghadapi mereka. Percayalah padaku," Daffian melepaskan pelukan Aina.

__ADS_1


Dengan terpaksa Aina mengangguk karena gedoran tersebut semakin keras.


Daffian menurunkan kaca mobilnya, sebuah tinju melayang kearahnya. Namun, ia berhasil berkelit hingga tinju tersebut tidak mengenainya.


"Apa yang kalian lakukan, dan apa yang kalian inginkan dari kami!!" teriak Aina marah.


Mereka yang berjumlah 4 orang tersebut tertawa. Menatap Daffian dan Aina dengan remeh.


"Kalian ingin tahu apa yang kami inginkan?" ejek lelaki itu.


"Tentu saja kami ingin mengambil wanita itu dan membawanya pergi!!"


Lelaki tersebut kembali melayangkan tinjunya kearah Daffian. Tapi kali ini Daffian tidak tinggal diam. Ia menangkap tangan tersebut dan nemelintirnya. Dia sangat marah mendengar ucapan mereka barusan.


Daffian keluar mobil dan melayani mereka dalam adu kekuatan. Sedangkan Aina tampak berpikir keras untuk membantu Daffian.


"Aku punya ide." Aina merogoh tas miliknya, mengeluarkan sebuah injeksi miliknya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna kuning kecoklatan yang berisi obat bius.


"Aku sengaja membawa ini untuk berjaga-jaga. Pada akhirnya semua ini akan terpakai juga."


Aina terkejut saat pintu di sampingnya terbuka. Ia menyembunyikan injeksi miliknya. Saat lelaki itu ingin menggapainya, ia menancapkannya di lengan lelaki tersebut dan mencabutnya segera setelah anestesi tersebut di suntikkannya.


"Kenapa reaksinya lama sekali," gumam Aina tidak sabar saat mendapati lelaki itu masih berusaha menariknya keluar. Tetapi lelaki itu tampak kesakitan pada bekas suntikan tersebut.


"Seharusnya aku menggunakan cairan Chloroform saja."


Aina kembali menggapai isi tasnya tetapi gagal karena lelaki itu berhasil menariknya.


Setelah Aina keluar, lelaki itu pun tumbang. Aina menatap kearah Daffian yang berusaha menumbangkan mereka. Ternyata jumlah mereka tidak hanya 4 orang tetapi 8 orang.


"Bagaimana caranya aku membantu?"


Aina meraih Chloroform miliknya dan menuangkannya di sapu tangan. Ia menutup wajahnya dengan masker terlebih dahulu.


"Hei! Apa yang kamu lakukan dengan temanku!" salah satu diantaranya kembali mendatangi Aina. Membuat wanita itu waspada.


"Aku tidak tahu, mungkin saja dia sedang tidur karena kelelahan!" sahut Aina asal.


"Tidak mungkin. pasti ada sesuatu yang salah, yang sudah kamu lakukan padanya!!" teriak lelaki itu murka.


Aina menatapnya dengan tatapan mengejek.


"Memangnya aku bisa apa?" sahut Aina mengejek.


Lelaki itu menarik bahu Aina dan membawanya keluar mobil. Aina pura-pura lemah saat kembali ada lelaki yang menariknya. Ia membiarkan saja tubuhnya di tarik, tetapi setelah dekat dengan tubuh lelaki tersebut, tangan kanannya langsung menutup sapu tangan tersebut ke hidung lelaki tersebut. Membuat lelaki tersebut langsung pingsan.


"Ternyata efeknya lebih cepat bereaksi di bandingkan dengam injeksi."


Aina menyingkir dari lelaki yang sudah pingsan karenanya.


"Tangkap wanita itu, bukankah dia yang sedang kita incar!!" teriak salah seorang diantara mereka.


Daffian berlari kearah Aina, ia tidak mau Aina kenapa-napa.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada mereka berdua?" Daffian terbelalak saat melihat 2 orang preman pingsan di sisi mobilnya.


"Memangnya apa yang tidak bisa di lakukan seorang dokter!" sahut Aina tenang.


"Kita hadapi mereka bersama," tambah Aina lagi saat mereka sudah di kelilingi oleh preman yang tersisa 6 orang tersebut.


"Menyerahlah. Kami hanya ingin membawa wanita ini saja!" ucap preman yang lebih muda usianya, mungkin sebagai pemimpin diantara mereka.


"Aku tidak akan pernah menyerahkannya pada kalian!" Daffian memegang tangan Aina erat.


"Daffian. Kamu tenang saja. Tidak akan terjadi apapun padaku, percayalah."


Aina menatap jam yang melingkar di pergelangannya. Mencoba kembali mengulur-ulur waktu hingga bantuan datang.


"Jangan bicara sombong kamu anak muda. Kamu hanya tidak tahu kekuasaan dan kehebatan kami seperti apa!"


"Hajar dia!" Perintahnya marah.


Daffian kembali bergulat dengan mereka, ia menumbangkan 2 diantaranya. Sedangkan Aina bersikap waspada saat salah satu diantara mereka mencoba mendekatinya.


Dor!!!


"Jangan bergerak!!"


Terdengar letusan tembakan di udara. Membuat semua yang ada disana membeku.


"Akhirnya bantuan datang!!" Aina bernapas lega.


Pihak polisi akhirnya meringkus mereka. Dan membawanya ke kantor polisi untuk interogasi dan penyelidikan.


"Terima kasih karena kalian datang tepat waktu!" Aina menjabat tangan salah satu polisi.

__ADS_1


"Itu sudah menjadi tugas dan kewajiban kami, Dok!" sambutnya.


"Kalau begitu, Dokter dan Tuan sebaiknya ikut kami ke kantor polisi untuk memberi laporan."


"Baiklah!" sahut Daffian.


***


"Kalian tidak apa-apakan?"


Rika memeluk Aina dan Daffian bergantian. Ia langsung ke kantor polisi setelah mendapat telpon dari pihak kepolisian.


"Kami baik-baik saja, Ma," sahut Daffian.


"Baguslah. Orang yang cerdas harus pandai menggunakan otaknya untuk melihat suasana dan situasi," sahut Angga.


"Lain kali kalau kalian ingin bepergian sebaiknya membawa beberapa bodyguard untuk berjaga-jaga," tambah Angga lagi.


"Pa. Tidak perlu di perpanjang masalah ini. Aku pikir semuanya sudah selesai," sahut Daffi.


"Semuanya baru saja di mulai. Bukankah begitu, Aina?" tanya Angga.


"Apa maksud papa?" tanya Daffi.


"Mereka hanyalah suruhan seseorang. Pemain utamanya masih menyembunyikan dirinya. Jadi, papa harap setelah ini kalian akan lebih waspada lagi."


Daffi mengangguk.


"Dan juga, kalian harus membawa sedikitnya 2 orang bodyguard untuk berjaga." Angga berbalik dan menarik Rika ke sisinya.


"Dan tidak ada penolakan!"


Daffi lamgsung terdiam mendengar keputusan ayahnya. Ia tidak bisa menolak lagi kali ini. Benar saja yang di katakan oleh ayahnya kalau mereka sedang di incar oleh seseorang. Tidak. Lebih tepatnya adalah Aina yang di incar.


"Benar yang di katakan papamu. Kami tidak ingin terjadi sesuatu yang membuat kami khawatir!" sahut Alvaro yang baru memasuki kantor polisi.


Ia juga mendapatkan telpon dari pihak kepolisian.


Angga segera meraih Rika dan memeluk pinggangnya posesif. Menatap Alvaro tajam saat mendapati lelaki itu melirik pada istrinya.


"Aina. Bagaimana keadaanmu? Dan kamu juga Daffian?"


Alvaro meraih Aina dan memeluknya.


"Papa segera kesini setelah mendapat telpon dari kantor polisi. Papa pikir sesuatu yang besar terjadi padamu. Papa sangat mengkhawatirkan kalian."


"Kami baik-baik saja, Pa. Ma'af kalau sudah membuat kalian semua mengkhawatirkan kami. Setelah ini kami akan tetap waspada," sahut Aina menyudahi pelukannya.


"Kalau begitu, lebih baik kita pulang saja sekarang. Bagaimanapun juga, kalian harus tetap di rumah. Bukankah pernikahan kalian tinggal beberapa hari lagi."


Angga terdengar mendesah.


"Benar yang di katakan oleh Sam, sebaiknya kalian perbanyak istirahat dan kurangi keluar rumah. Kamu Daffian, obati juga luka-lukamu. Apakah kamu ingin terlihat jelek saat berada di atas pelaminan, di hari bahagiamu? Bisa-bisa seluruh tamu menduga kalau kamu sudah melakukan kekerasan fisik karena tidak mau menikah." Angga menatap Daffian.


"Papa jangan berkata seperti itu. Semuanya pasti akan sembuh sebelum hari H nya. Calon istriku kan seorang dokter!" Daffian membanggakan Aina.


"Tapi itu bisa kita bicarakan di rumah saja lagi. Sekarang kita pulang dulu," sahut Rika.


"Baiklah. Kita pulang sekarang, tapi aku akan mengantar aina terlebih dahulu," sahut Daffian. Ia ingin meraih tangan Aina.


Alvaro mencegah tangan Daffian yang ingin menggapai Aina. Membuat lelaki itu mengernyit bingung.


"Ad apa, Om?"


"Aina pulang bersamaku. Kamu pulanglah bersama kedua orang tuamu!" ucap Sam tenang.


"Tapi, Om...."


"Tidak ada tapi-tapian Daffian. Ikuti saja kemauan kami. Kalian di pingit mulai sekarang!" sahut Rika.


Para orang tua ini benar-benar kompak untuk membuatnya sengsara selama beberapa hari.


Daffian terbelalak mendengarnya. Menatap Aina yang terkekeh karenanya.


"Jangan mengejekku, sayang. Kamu akan menerima hukumannya nanti saat kita bertemu lagi," bisik Daffian sekaligus memberikan kecupan di pipi Aina.


Bertemu lagi? Itu artinya ia di hukum saat pernikahan mereka. "Oh... jangan sampai itu terjadi," Aina membatin.





***

__ADS_1


__ADS_2