
Hari ini Baby memutuskan untuk ke mension yang berada di dalam hutan, untuk mengambil barang yang dahulu di berikan oleh Afika kedapa dirinya. Saat Baby masuk ke dalam mension, ia langsung menitihkan air matanya. Di mension ini, telah menjadi tempat saksi bisu, tempat dimana dirinya yang begitu egois, meminta pada kakaknya untuk menyiksa Afika dan memenjarakan Afika.
"Non Baby." Sapa Bi Sri yang memang masih berada di mension yang di tugaskan untuk menjaga dan merawat sekaligus memberi kabar jika suatu waktu Afika kembali datang ke mension. "Non, apa nyonya Afika sudah kembali?" Tanya Sri yang begitu sangat penasaran. Sri berharap bahwa Afika kini sudah kembali dengan keadaan yang sehat.
"Belum bi." Jawab Baby dengan lesu. "Oh ya Bi, aku hanya mampir untuk mengambil barang milik Afika." Kata Baby sambil melanjutkan langkahnya menuju lantai dua, dimana kamar Afika berada. Saat Baby masuk ke dalam kamar, kesedihan kembali menghampiri, Baby ingat betul dulu dirinya sering masuk ke kamar ini.
"Semua barang nyonya sudah saya rapikan." Kata Sri yang juga ikut masuk ke dalam kamar.
"Bi.." Lirih Baby. "Apa kak Adrian sama sekali tidak pernah datang ke sini?" Tanya Baby, sambil melihat satu persatu barang Afika yang berada di dalam kamar.
"Tuan, tidak pernah singgah non. Tapi hampir tiap jam tuan menghubungiku dan menanyakan apakah nyonya sudah kembali." Jawan Sri.
Mension yang mengah yang dulunya sepi kini semakin sepi, mension yang dulunya banyak menyimpan kenangan masa kecil antara Baby dan Adrian, kini berubah menjadi mension yang penuh dengan kenangan yang pilu. Kenangan yang telah membuat Afika pergi entah kemana membawa perih dan sakit, serta juga meninggalkan kesedihan dan rasa bersalah kepada pemilik mension.
__ADS_1
Baby tahu, alasan kenapa Adrian tidak ingin datang ke mension ini. Baby tahu, jika Adrian begitu sangat-sangat menyesal dan mension adalah tempat Adrian melakukan kesalahan yang sehingga membuat Afika pergi.
Baby mengusap air matanya, lalu meraih ponsel di dalam tasnya, mencoba menghubungi Adrian yang sudah berada di kota.
"Kak." Sapa Baby saat panggilan terhubung.
"Ada apa?"
"Mampirlah ke mension hutan."
"Kak."
"Baby!"
__ADS_1
Baby terdiam sejenak.
"Jika tidak ada hal lain yang ingin kau katakan, kakak akan memutuskan panggilan ini."
"Kak. Afika punya kado ulang tahun untukmu." Ucap Baby dengan cepat agar Adrian tidak memutuskan panggilannya.
"Apa maksudmu? Kado apa? Katakan!"
"Datanglah ke mension dan lihat sendiri kado pemberian Afika untuk kakak." Ucap Baby dan langsung memutuskan sambungannya.
Adrian yang begitu penasaran langsung bergegas menuju mension hutan tanpa memperdulikan lelah sama sekali. Adrian sangat penasaran dengan hadiah apa yang di maksud Baby padanya. Padahal jelas sekali dahulu saat dirinya sedang berulang tahun tidak ada sama sekali kado pemberian dari Afika.
••••
__ADS_1
Perasaan sedih, bersalah dan hancur semua bercampur menjadi satu, Adrian menaraik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secarala perlahan. Adrian lalu membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam mension. Mension tempat dulu dirinya mengurung dan menyiksa Afika. Sekelibat, banyangan-banyangan Afika langsung menghantui dirinya.
"Bi Sri, aku lapar. Bi Sri masak apa?" tanya Afika saat berada di dapur. Adrian yang mendengar langsung berjalan menuju dapur dan langsung menangis serta tersenyum melihat Afika, dengan perasaan yang bercampur aduk, Adrian langsung berjalan dengan cepat dan langsung ingin memeluk tubuh Afika, namun sayang seketika Afika langsung menghilang dari hadapan Adrian.