Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Teguran


__ADS_3

Selepas dari kantornya, Angga menyambangi kediaman Daffa dan Anggia. Ia hanya ingin memastikan saja kejadian yang barusan di lihatnya pagi tadi.


"Papa! Kenapa tidak mengabariku terlebih dahulu mau datang kemari?" ucap Daffa terkejut menatap ayahnya.


"Dimana istrimu, rumah kalian sepertinya sepi sekali?" tanya Angga.


Matanya memindai keseluruh ruangan yang ada di rumah Daffa.


"Apa dia belum pulang?" gumam Angga dalam hati.


"Oh Anggia. Dia sedang keluar pa. Katanya ada perlu dengan sepupunya dan juga ibunya," sahut Daffa.


Ia mengetahuinya karena Anggia baru saja menghubunginya melalui telpon.


"Daff, kamu jangan terlalu membiarkan istrimu berkeliaran di luar. Apalagi bersama seorang lelaki, walaupun itu sepupunya."


"Maksud papa apa?" tanya Daffa.


"Papa mau tanya perasaan kamu padanya. Kalau Anggia dekat dengan sepupunya seperti pasangan kekasih, apakah kamu tidak menyimpan rasa cemburumu untuknya?" tanya Angga.


Daffa terdiam mendengarnya. Selama ini ia merasa kalau Anggia adalah wanita yang berarti dalam hidupnya dan hanya Anggia satu-satunya wanita yang dekat dengannya.


"Pa, kenapa papa justru menanyakan hal ini padaku?" Daffa terkekeh.


"Papa tidak sedang melucu Daffa. Papa serius," sahut Angga.


"Pa, aku tidak tahu seperti apa rasa cemburu karena Anggia selalu menjaga jarak dengan lelaki lain di depanku."


"Dan bagaimana kalau dia berada di belakangmu? Apa perasaanmu saat mendapati dirinya saling memegang tangan dengan sepupunya?" tanya Angga.


Daffa terdiam, ia tidak mampu untuk menjawabnya.


"Baiklah kalau begitu. Keterdiamanmu sudah cukup memberi jawaban pada papa atas semua pertanyaan papa." Menatap Daffa.


"Kedepannya papa ingin kamu menegur istrimu agar bersikap selayaknya jika di belakangmu apalagi di depan publik. Kamu tahukan seperti apa keluarga kita?"


Angga mengangkat badannya.


"Papa pulang. Tolong di ingat ucapan papa tadi. Papa tidak ingin kejadian hari ini kembali terulang di lain hari, apalagi papa melihatnya secara langsung!"


Daffa terdiam menatap Angga yang meninggalkan kediamannya dengan perasaan kecewa.


Setelah Angga pulang, tidak lama kemudian Anggia datang.

__ADS_1


"Darimana saja kamu hingga selama ini meninggalkan rumah?" tanya Daffa dingin.


Matanya memindai penampilan Anggia yang terlihat glamour. Tidak biasanya.


"Aku habis mengunjungi mama bersama Alfa!" sahut Anggia berjalan mendekati Daffa.


"Benarkah? Sebelum mengunjungi kediaman mama, kamu singgah dimana?"


Anggia berpaling setelah mendengar ucapan Daffa yang mencurigainya. Apakah Daffa sedang menguntit dirinya? Ataukah dia tidak mempercayai Anggia lagi.


"Sebaiknya aku hati-hati dalam bertindak. Hanya dalam hitungan hari saja kami menikah, Daffa sudah mulai tidak mempercayaiku." Anggia membatin.


"Tapi tidak harus setiap harikan? Kita masih dalam masa berbulan madu," sahut Daffa.


"Daff, ibuku perlu bantuanku, aku tidak bisa tidak melihatnya dalam waktu yang lama. Ibuku hidup sendirian, Daff. Apakah kamu melarangku untuk bertemu dengan ibuku?" sahut Anggia kesal.


"Aku tidak melarangmu untuk bertemu dengannya, tapi kamu harus bisa membagi waktumu dan kurangi frekuensinya keluar rumah."


"Kamu sudah punya aku, jadi kamu bisa memintaku untuk pergi bersama ketempat ibumu, tidak perlu kamu selalu meminta sepupumu itu."


Anggia melotot mendengarnya.


"Lagi pula ibumu benar-benar tidak sendirian kan di rumah? Setahuku ibumu mempunyai banyak pembantu di rumah. Mereka bisa mengabarimu melalui telpon seandainya ada yang kamu khawarirkan."


"Daff, pembantu itu berstatus orang lain dengan ibuku. Sedangkan aku berstatus anaknya. Aku tidak ingin menjadi anak durhaka."


"Daff, aku lelah dan aku ingin istirahat. Jangan terus mendebatku!"


"Sayang, aku tidak bermaksud mendebatmu. Aku hanya ingin mengingatkan saja kalau kamu itu sudah punya suami."


"Iya. Aku tahu kalau aku sudah menikah. Aku sadar akan hal itu kalau aku sekarang punya tanggung jawab yang lain."


Anggia berjalan melewati Daffa yang menatapnya dengan intens.


"Aku tidak nyaman dengan keluargaku. Aku menikah denganmu juga menentang larangan orang tuaku. Seandainya kamu tahu kalau ayahku sudah melihat hal lain tentang dirimu," sambung Daffa pada dirinya sendiri setelah Anggia berada di lantai atas.


Daffa melangkah mengikuti langkah Anggia.


"Daff, aku ingin istirahat," Anggia menolak secara halus saat Daffa memeluknya dan menciumi tengkuknya.


"Tapi seharian ini kamu lebih banyak menghabiskan waktumu di luar daripada menghabiskan waktu bersamaku," sahut Daffa.


"Aku keluar itu bukan jalan-jalan atau belanja dan buang-buang waktu ataupun uang Daffa. Aku keluar karena aku mengunjungi ibuku," sahut Anggia.

__ADS_1


Ia benar-benar kesal dengan Daffa yang sejak tadi terus-menerus mendebatnya.


"Aku tidak mengatakan seperti itu. Aku hanya ingin kamu meluangkan waktu lebih banyak untukku. Itu saja!" sahut Daffa.


"Aku di rumah juga tidak akan lama, masa cutiku tinggal beberapa hari lagi. Kamu tahukan kalau aku sudah kerja, bahkan pulang malam juga larut. Makanya aku ingin menghabiskan waktu bersamamu," ucap Daffa lagi.


"Sayang, ma'afkan aku. Lain kali aku janji akan membagi waktu untukmu," sahut Anggia melunak.


"Ya sudah. Sebagai permintaan ma'afku bagaimana kalau kita pergi kedapur saja. Aku akan memasakkan makanan spesial untukmu," bujuk Anggia.


Daffa tersenyum mendengarnya. "Baiklah, ayo kita memasak bersama!" sahut Daffa senang mengingat hal romantis yang akan mereka lakukan di dapur.


"Sayang, berapa anak yang kamu inginkan dalam pernikahan kita nantinya?"


Gerakan Anggia terhenti, ia berbalik dan menatap Daffa dengan intens.


"Berapapun yang kamu mau, aku akan menyanggupinya," sahut Anggia.


"Benarkah? Bagaimana kalau kita membuatnya disini dulu, diatas meja makan?"


Anggia terkekeh mendengarnya. "Jangan aneh-aneh Daffa. Di rumah ini tidak hanya kita berdua penghuninya. Masih ada bi Nur yang suka berkeliaran di dapur," sahut Anggia.


"Oh jadi kamu menginginkan waktu kita berdua saja?" goda Daffa.


"Atau kita berangkat berbulan madu saja agar selalu berduaan?"


Anggia menggeleng samar. "Tidak perlu Daff, buang-buang waktu dan uang saja. Lebih baik kita di rumah saja menghabiskan waktu dengan hal manis seperti ini," sahut Anggia.


Tangannya bergerak mengaduk adonan kue bolu yang sedang mereka buat bersama.


"Tapi aku akan selalu kesepian setiap kali kamu keluar rumah!" sahut Daffa.


Anggia melirik, ia begitu sensitif setiap kali Daffa menyinggung soal kegiatannya di luar rumah.


"Aku tidak ingin kata-katamu justru membuat suasana tidak nyaman diantara kita!" sahut Anggia.


"Santai saja sayang. Aku tadi hanya bercanda saja!"


"Baiklah. Lain kali kalau aku pergi keluar, aku akan mengajakmu!"


"Iya sayang!!"


Daffa meraih adonan bolu tersebut dan menyapunya di hidung Anggia hingga hidungnya menyisakan adonan tepung tersebut.

__ADS_1


Anggia membalas hal tersebut hingga terjadilah perang adonan tepung diantara mereka dan mengotori seluruh area dapur.


Bi Nur yang kebetulan lewat hanya tersenyum senang melihat pasangan muda yang baru menikah itu terlihat bahagia.


__ADS_2