
Aina sedang berada di tempat yang sama dengan Anggia dan ia tanpa sengaja menguping pembicaraan mereka. Bergegas ia menyudahi makannya dan menelpon Daffian.
"Yan, temui aku di restoran biasa kita bertemu."
"Baiklah!" sahut Daffi.
Cukup lama Aina menunggu kehadiran Daffi, bahkan ia terlihat begitu gelisah.
"Daffian! Kenapa kamu lama sekali?" tanya Anggia setelah melihat kedatangan Daffian.
"Kamu tahukan kalau siang hari apalagi jam seperti ini, pastilah jalanan sedang ramai-ramainya." Menarik kursi di depannya dan duduk dengan tenang.
"Iya-iya ma'af." Aina terkekeh.
"Memangnya ada apa kamu memanggilku kesini? Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?"
"Ataukah ini mengenai jawabanmu atas pernyataan cintaku?"
Senyum Daffian mengembang, alisnya naik turun menggoda Aina.
Aina berdecak sambil menggeleng samar.
"Bukan itu yang ingin aku bicarakan. Ini sangat penting dan lebih penting daripada itu."
Daffi merubah tatapannya menjadi serius.
"Tentang apa?"
"Anggia!" sahut Aina.
"Memangnya ada hal apalagi yang kamu tahu mengenai dirinya?"
"Dia hamil__,"
Belum sempat Aina meneruskan ucapannya, seorang gadis tampak berteriak dan marah terhadapa Daffian.
Aina seketika melupakan ucapannya dan memperhatikan penampilan gadis tomboy tersebut.
"Ayo ikut aku pria brengs*k!! Kamu harus bertanggung jawab!!" ucap Febry keras. Sehingga mereka menjadi pusat perhatian seluruh penghuni restoran.
"Aku?" beo Daffi menunjuk pada dirinya sendiri.
"Aku tidak mengenalmu!" sahutnya lagi.
"Aina. Sebaiknya kita pergi saja dari sini. Aku tidak ingin ada berita besar besok mengenai ini," ucap Daffi lagi.
"Baiklah!" sahut Aina dengan ragu. Matanya menatap gadis tomboy itu dengan penuh selidik.
"Hei. Mau kemana kamu!!" teriak Febry tetapi tidak di hiraukan oleh mereka berdua.
"Dasar pria brengs*k, aku akan membuatmu sakit kalau kamu menolak ajakanku. Dan sekarang kamu ingin memanfaatkan wanita itu setelah kamu menodai sahabatku. Tidak akan kubiarkan itu terjadi lagi," gumam Febry.
Febry berlari kembali menghampiri mereka yang sudah berada di halaman restoran.
Hei! Tunggu!!" teriak seorang gadis yang berjalan dengan cepat kearah Daffi dan Aina.
Daffi dan Aina berbalik secara bersamaan. Daffi menghembuskan napasnya kasar saat melihat gadis yang tidak tahu malu itu kembali mendatanginya.
"Siapa sebenarnya gadis itu? Apakah dia mantan pacarmu yang sudah kamu campakkan?" tanya Aina.
"Aku tidak sebrengs*k itu Aina. Bahkan kamu tahu sendiri kalau aku tidak pernah dekat dengan wanita lain kecuali kamu," sahutnya.
"Lalu dia?"
"Mungkin saja dia terpesona padaku sehingga mencari perhatianku dengan cara seperti itu!" menatap gadis yang sudah berdiri di hadapannya.
"Apa kamu bilang? Aku mendekatimu? Yang ada aku akan mencincangmu!!" geram Febry.
"Kamu!! Kamukan yang sudah memperkosa sahabatku!!"
Bicara dengan ketus dan menunjuk wajah Daffi dengan kasar.
"Apa!!?" Aku tidak pernah melakukan hal sehina itu!" terkejut dan membelalakkan matanya, beralih menatap Aina yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.
"Kenapa kamu tidak mengaku. Nyata-nyata kamu yang melakukannya!!" teriak gadis itu hingga membuat mereka kembali di tatap beberapa orang yang lewat.
"Sumpah! Aku tidak tahu apa yang kamu maksud ini dan aku tidak tahu siapa gadis yang kamu bicarakan!"
"Jangan bohong!!" teriaknya lagi. Tangannya melayang dan menampar pipi Daffian hingga tertoleh kekanan dan berbekas memerah.
"Daffi... pipi kamu...,"
Daffi memgangkat tangannya menyuruh Aina untuk diam. Rasanya harga dirinya sebagai lelaki sudah di injak-injak.
"Sekarang kamu ikut aku dan bertanggung jawab atas perbuatanmu itu!"
Gadis berpenampilan tomboy itu menarik tangan Daffian dengan kasar hingga Daffian mau tidak mau harus mengikutinya. Ia menatap kearah Aina yang masih menatapnya dengan bingung.
"Tunggu! Aku akan ikut kalian!"
Aina berlari dan mengejar mereka.
__ADS_1
Hening. Tidak ada yang mampu berbicara selama di mobil. Daffian melirik kearah gadis yang membawanya dengan wajah emosi. Bahkan gadis itu terlihat seperti gadis berandal.
"Jangan menatapku! Kalau tidak ingin matamu masih ingin melihat!!" gertaknya.
"Dasar gadis berandal!" sahut Daffi kembali memindai penampilannya.
Daffi melirik kearah Aina yang juga memperhatikan gadis didepan mereka yang sedang menyetir.
Febry hanya melotot kearah Daffi.
"Apa yang membuatmu membawa dirinya? Apa kamu seorang penculik dengan modus tadi?" tanya Aina.
"Aku bukan penculik. Aku gadis baik-baik. Jaga mulut kalian berdua." Tangannya menekan klakson panjang hingga memekakkan telinga.
"Dasar gadis gila!!" Daffa mengumpat.
"Nanti akan kuhajar kamu!!" ucap Febry kembali emosi.
"Kamu mau membawaku kemana?" tanya Daffi.
"Jangan banyak tanya. Ikuti saja keinginanku!!" masih dengan nada ketus.
Mereka terdiam, padahal Aina masih ingin mengajukan banyak pertanyaan tetapi di tahannya setelah melihat emosi gadis yang tidak stabil.
Sesampainya mereka di tempat tujuan, tatapan mereka teralih pada sebuah rumah sederhana yang ada di depan mereka. Rumah mungil bercat hijau tua.
"Cepat turun!!" gertaknya lagi.
Aina dan Daffian segera turun dari mobil, berjalan mengikuti gadis tomboy tersebut.
"Bar-bar!!" umpat Daffi lagi.
"Apa yang akan kita lakukan disini? Apakah kamu mengajakku untuk menemui gadis itu? Ataukah itu hanya alasanmu saja untuk mencari perhatianku?" tanya Daffian dengan senyum menggoda.
Gadis tomboy itu berbalik dan menatap Daffi dengan mata melotot. Kemudian ia membuka pintu rumah tersebut tanpa menghiraukan godaan Daffian.
Aina dan Daffi melongok kedalam, suasana rumah tersebut tampak apik, dan sangat bersih walaupun sederhana.
"Azza! Aku membawa lelaki brengs*k itu. Cepat kamu keluar dan melihatnya!" teriak gadis tomboy tersebut.
Tidak ada jawaban sama sekali.
"Azza!! Keluar!! Kalau tidak maka pintu ini tidak akan berbentuk lagi!!" teriaknya lagi.
Aina dan Daffi saling menatap.
Hanya dalam hitungan detik, pintu kamar yang ada di depan mereka terbuka. Keluar seorang gadis manis dengan usia 18 tahun.
Matanya yang hampir tenggelam berpaut dengan mata Daffian yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
Cukup lama gadis itu menatap Daffian hingga Daffian membuka suara.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini, aku sama sekali tidak mengerti kenapa aku sampai dibawa kemari?" ucap Daffi tanpa mengalihkan tatapan matanya.
"Dan siapa dia, kenapa dia sangat jelek sekali?" tanya Daffian blak-blakkan.
"Sudah aku bilangkan kalau kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah kamu lakukan padanya!" teriak gadis tomboy tersebut merasa sangat geram.
"Apa yang sudah aku lakukan padanya. Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Bahkan ini yang pertama kalinya aku melihatnya," bantah Daffian.
"Jangan pura-pura lupa kamu. Setelah kamu melecehkannya, lalu kamu ingin meninggalkannya begitu saja!" teriaknya.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!!" marah Febry.
"Aku--," belum sempat Daffi berbicara, kata-kata sudah di potong oleh Azza.
"Bukan. Bukan dia orang yang sudah menodaiku malam itu," ucap Azza memotong kalimat Daffian. Azza menggeleng lemah.
"Bukankah dia orangnya yang kamu tunjuk waktu kita berada di restoran siang kemarin?" ucap Febry.
"Kamu begitu ketakutan saat melihat dirinya dan kamu bilang kalau memang dia yang melakukannya. Lalu sekarang kenapa kamu membelanya?" Febry menatap kecewa terhadap sahabatnya.
"Za. Katakan saja kalau dialah lelaki jahanam itu. Kamu jangan melindunginya. Aku masih mengingat dengan jelas wajahnya kemarin. Dia orangnya Za!!" tunjuk Febry tepat di wajah Daffi.
"Bukan. Dia bukan orangnya. Aku yakin kalau dia orang yang berbeda," sahut Azza.
"Aku masih ingat. Matanya sangat tajam, tidak seperti mata dirinya. Bentuknya berbeda. Bahkan suaranya juga berbeda," sahut Azza.
Febry terdiam mendengarnya. Ia berpaling kearah Daffi dan memperhatikan mata Daffi dengan seksama.
"Aku tidak memperhatikan matanya kemarin," Febry mendesah frustasi.
"Tunggu dulu. Yang sedang kalian bicarakan ini apa? Bisakah kalian menceritakannya dari awal?" tanya Aina menatap mereka satu-persatu.
Febry menatap Azza, ia tampak ragu.
"Percayalah padaku. Aku akan membantu kalian untuk menemukan pelakunya," Aina meyakinkan.
"Baiklah. Aku akan menceritakannya pada kalian. Tapi kalian harus berjanji terlebih dahulu untuk membantu kami mencari pelakunya," sahut Febry melunak.
Sedangkan Azza, ia hanya diam saja bahkan matanya kembali menatap kosong kedepan. Menerawang masa-masa kelam malam itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Dffian yang sejak tadi memperhatikan wajah gadis yang terlihat begitu memprihatinkan di matanya.
Selesai bercerita, Febry menatap Aina dan Daffian bergantian.
"Aku tahu siapa pelakunya," sahut Daffi tiba-tiba.
Daffian menggertakkan rahangnya. Ia terlihat begitu emosi bahkan tangannya terkepal. Dengan tergesa ia melangkah dan meninggalkan mereka semua yang berada disana.
***
Daffian meraih handphone miliknya dan menelpon sopirnya untuk segera menjemputnya di alamat yang sudah di kirimkannya.
Sesampainya di kantor Daffa, ia masuk tanpa mengetok pintu terlebih dahulu. Bahkan tangannya sudah melayang ke wajah Daffa saat ia sudah berdiri di hadapan kembarannya. Dan menghadiahinya beberapa bogeman mentah.
"Apa yang kamu lakukan padaku!?" ucap Daffa di sela keterkejutannya.
"Aku yang harusnya bertanya, ada apa dengan dirimu?" tunjuk Daffia tepat di wajah kembarannya.
Zainal berusaha menenangkan Daffian yanv terlihat sangat emosi. Tetapi sia-sia, lelaki itu terlalu kuat dalam memberontak.
"Aku? Seperti yang kamu lihat!" Sahut Daffa tenang.
"Kamu brengs*k Daffa. Kamu sudah menikah tapi kenapa kamu justru memperkosa seorang gadis yang tidak bersalah!" pekik Daffian.
Daffa terkejut mendengarnya. Ia menunduk dan meremas rambutnya.
"Ada apa dengan rumah tanggamu sehingga kamu melampiaskannya pada gadis yang tidak bersalah!" ucap Daffi dengan nada kecewa.
"Darimana kamu tahu? Apakah mama dan papa yang memberitahumu?" tanya Daffa.
"Oh, jadi kamu sudah memberitahukan hal ini pada mama dan papa. Lalu kenapa kamu membiarkan gadis itu dalam keadaan memprihatinkan?" berdesis.
"Apakah kamu ingin melihatnya bunuh diri?" teriak Daffi.
"Daffian! Daffa juga sedang berusaha mencari keberadaannya. Tapi sampai hari ini ia tidak menemukan petunjuk sama sekali!" sahut Zainal.
"Bahkan kami baru saja sedang membicarakannya sebelum kamu masuk!" tambah Zainal lagi.
"Dimana gadis itu? Bawa aku padanya," timpal Daffa.
Bahkan sejak dimana hari ia memperkosa Azza dalam pengaruh obat. Daffa masih mengingat apa yang terjadi pada mereka. Rasa itu melekat cukup kuat di ingatannya.
Dan penyesalan itu begitu mendalam. Ia juga menyesal sudah meminum air laknat tersebut.
"Mencari gadis seperti itu saja kamu tidak bisa!!" bicara ketus.
"Ayolah. Bawa aku padanya." Mohon Daffa lagi.
"Baiklah. Ikuti aku!" ucap Daffi dingin.
Daffa berjalan cepat bersama Zainal. Bahkan beberapa karyawan tampak terkejut menatap keadaan Daffa yang tampak lebam dan berantakan.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara, bahkan Daffi tampak memalingkan wajahnya karena ia masih menyimpan sisa-sisa kemarahannya pada saudaranya.
"Daffa, apa yang akan kamu lakukan kalau kamu sudah menemui gadis itu?" tanya Zainal.
"Aku akan menikahinya!" jawab Daffa tegas.
Daffi berbalik dan menatap Daffa. "Kamu ingin menjadikan dirinya sebagai simpananmu!" berbicara ketus.
Daffa terdiam sesaat. Ia menatap kearah jendela, memperhatikan pohon yang tampak berjejer dan terlihat bergerak mengikuti mobil mereka.
"Tidak. Aku akan menikahinya sah secara agama dan negara!" sahut Daffa.
"Lalu, bagaimana dengan istrimu? Apa yang akan terjadi kalau dia mengetahuinya!" tanya Daffi lagi.
"Aku akan menceraikannya nanti karena dia sekarang sedang hamil."
Daffi terbelalak mendengarnya.
"Kamu ingin menceraikannya setelah di melahirkan!!? Kamu benar-benar brengs*k Daffa!!" geram Daffi.
"Dia sudah mengkhianatiku sejak awal. Bahkan ia merencanakan hal yang tidak wajar terhadap keluarga kita!" sahut Daffa.
"Dan karena dialah semua ini terjadi," sambungnya lagi.
Daffa memejamkan matanya sesaat menghalau rasa sakit saat teringat perselingkuhan istrinya.
Daffi terdiam mendengarnya. Tidak di sangka bahwa kecurigaannya selama ini benar kalau Anggia bukanlah wanita yang baik-baik.
Daffa terlalu di butakan oleh cinta sehingga ia tidak mampu untuk melihat sisi buruk wanita itu.
Daffi hanya terdiam saja mendengarnya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa karena ini adalah urusan keluarga kembarannya.
•
•
•
*****
__ADS_1