
Junisah mengetuk pintu kamar Afika, dan saat mendapat jawaban dari dalam sana Junisah langsung membuka pintu secara perlahan. "Maaf, karena tante mengganggumu." Kata Junisah.
"Tidak! Tante sama sekali tidak menggangguku." Ucap Afika dengan lembut, lalu kemudian Afika menepuk tepi tempat tidur agar Junisah duduk tepat di sebelahnya. "Ada apa? Apa yang ingin tante katakan?"
"Sudah seminggu kau berada di rumah ini. Apa kau tidak ingin pergi menemani tante untuk berbelanja bulanan? Atau, mungkin lebih baik kita mengontrol kandungan mu. Mengecek kondisi bayimu."
Afika tersenyum. Tentu ia sangat ingin pergi ke dokter, agar bisa tahu kondisi sang anak dan tentunya Afika pun ingin sekali keluar berjalan-jalan agar bisa menghirup udara segar. Namun, di balik keinginan besar itu, Afika merasa takut. Takut jika ia keluar dari tempat persembunyiannya maka Adrian akan menemukan dirinya dan kembali membawanya ke mension dan menyiksa dirinya. Afika takut, jika hal yang sama akan kembali terjadi saat dirinya keluar dari rumah yang saat ini ia tempati. "Tante," Lirih Afika.
"Ada apa sayang?"
"Maaf, tapi aku tidak ingin keluar dari rumah ini. Aku ingin tetap berada di rumah ini."
__ADS_1
"Tante tahu sayang ini rumah mu. Tapi tante hanya ingin mengajak mu jalan keluar dan memeriksa kandunganmu. Bukan untuk pergi selamanya dari rumah mu ini." Ucap Junisah perlahan menjelaskan dengan Afika bahwa tidak ada sedikit pun niat buruk dalam dirinya untuk mengeluarkan Afika dari dalam rumah ini. "Maaf, jika tante memaksamu." Ucap Junisah lalu berdiri dari duduknya. Kemudian Afika langsung memegang tangan Junisah.
"Tolong, jangan katakan pada siapa pun jika aku berada di rumah ini." Ucap Afika dengan mata yang menatap sedih pada Junisah. Ya, Afika takut jika Junisah mengatakan kepada orang di luar sana jika dirinya berada di rumah ini. Karena Afika yakin saat ini Adrian dan juga para pengawalnya pasti sedang sibuk mencari dirinya. Mendengar ucapan itu, spontan membuat Junisah kembali duduk tepat di samping Afika. Semenjak seminggu lebih berada di rumah ini, Junisah belum sama sekali berani menanyakan tentang dimana Afika selama ini berada dan di mana suami Afika. Namun kali ini Junisah memantapkan diri, karena takut jika sesuatu telah terjadi, mengingat Afika mengatakan untuk tidak memberi tahu siap pun tentang keberadaan dirinya.
"Apa yang terjadi? Ceritakan semua pada tente. Dan.." Halisah menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan lalu melihat perut Afika. "Mana ayah dari bayi yang sedang kau kandung."
Seketika Afika menangis, membuat Junisah menjadi khawatir dan langsung memeluk tubuh Afika. Saat Afika sudah mulai tenang, perlahan Junisah melerai pelukannya lalu mengusap sisa air mata di pipi Afika.
"Jika belum siap untuk menceritakan pada tante, tidak apa. Tapi, suatu saat kau harus cerita semuanya."
Saat mendengar cerita dari Afika, Junisah terus saja menangis. Entah kenapa di balik cerita Afika begitu banyak luka yang mampu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengar kisahnya. Di balik kesedihan ada rasa amarah yang di tunjukkan, marah karena tahu bahwa ternyata ada pria yang begitu kejam di luar sana. Dan yang paling parahnya lagi, pria itu adalah Adrian Maganta, pria yang dulu sempat di jodohkan dengan Afika saat kedua orang tua mereka masih hidup.
__ADS_1
Setelah cukup lama menangis, kini Junisah sudah bisa mengontrol perasaannya. Junisah langsung menggenggam kedua tangan Afika. "Tante janji, akan selalu menjaga mu."
••••••
Hari demi hari berlalu. Dan tidak terasa kini usia kandungan Afika menginjak sembilan bulan. Hari-hari Afika lalui dengan penuh bahagia, dengan kehadiran bayi di dalam kandungannya yang sering sekali di ajak berinteraksi membuat Afika begitu bahagia. Belum lagi, Junisah memperlakukan Afika dengan sangat baik. Namun, di balik kebahagian Afika, kadang ia merasa sedih. Ia takut, jika kelak anaknya lahir dan tumbuh dewasa, maka sang anak akan mencari sosok sang ayah. Dan ia pun juga takut, di era sekarang banyak sekali terjadi pembullyan terhadap anak yang menjalani hidup sebagai broken home. Namun, kehadiran Junisa membuat rasa khawatit Afika sedikit berkurang, karena Junisah dapat menunjukkan jika walau pun dirinya hidup sebatang kara hingga sampai saat ini, namun dirinya bisa hidup dengan bahagia. Tanpa memperdulikan ucapan-ucapan orang di luar sana. Justru ucapan itu, yang membuat Junisah bisa hidup semakin kuat.
"Mungkin ini sudah waktunya kau menghubungi Siti, ibu pantimu." Ucap Junisah saat melihat Afika yang saat ini sedang melamun. "Biar Siti bisa tahu kabarmu."
"Tapi tante."
"Jika memang pria itu mencarimu, pasti dari dulu dia sudah menemukan dirimu. Tapi lihatlah, sampai sekarang kau masih aman di rumah ini." Junisah kini duduk di samping Afika sambil mengusap perut Afika yang terlihat buncit. "Adrian orang yang paling berpengaruh. Bahkan sembunyi di lubang semut pun, tante yakin dia akan menemukanmu. Tapi lihatlah, sampai sekarang dia sama sekali tidak menemukan dirimu." Ucapan Junisah mampu membuat Afika terdiam sejenak. Jujur Afika begitu sangat merindukan panti, merindukan ibu Siti, Farah dan juga anak-anak panti lainnya.
__ADS_1
"Tante, hari ini aku ingin jalan keluar." Ucap Afika membuat Junisah tentunya sangat kaget, namun juga bahagia. Karena setelah beberapa bulan lamanya mengurung diri di dalam rumah, kini Afika meminta dengan sendirinya untuk keluar dari tempat dia bersembunyi.
"Kau yakin?" Tanya Junisah, dan Afika menganggukkan kepalanya.