
Sesampainya mereka di kediaman Azza, Daffi bergegas berjalan masuk ke rumah sederhana itu di ikuti oleh saudara kembarannya.
Azza membelalakkan matanya saat pintu terbuka dan munculnya sosok Daffa di balik pintu . Begitu juga dengan Febry yang menatap Daffa dan Daffi secara bergantian.
"Kalian... kembar!!?" tanya Febry masih menatap Daffa dan Daffi dengan mata melotot.
Perhatian Daffa teralih pada sosok gadis yang penampilannya berantakan bahkan ia menunduk dalam saat melihat keberadaannya disana.
"Jangan mendekat. Jangan mendekat!" gumam Azza. Ia semakin meringkuk saat Daffa berjalan mendekatinya.
"Tenanglah. Aku tidak akan mengulanginya lagi dan tidak akan menyakitimu juga," ucap Daffa.
"Aku kesini hanya ingin memberitahumu bahwa kita akan segera menikah. Aku akan bertanggung jawab penuh atas dirimu," ucap Daffa.
Azza menggeleng, matanya masih tidak berani menatap Daffa. Ia begitu ketakutan.
"Aku tidak mau!" sahut Azza ketakutan. Ia meringkuk dan memeluknya dirinya sendiri. Bahkan ia beringsut dengan perlahan.
"Tenanglah. Aku masih ada di sini!"
Febry si gadis tomboy merangkul sahabatnya dan menenangkannya. Ia menatap miris Azza yang tampak trauma.
"Benar apa yang di katakan oleh Daffa. Sebaiknya kalian menikah saja sebelum janin tumbuh di rahimmu," bujuk Aina.
Azza terdiam. Ia menunduk dan meraba perut ratanya.
"Benarkah dia akan hamil?" tanya Febry membeo. "Bukankah mereka melakukannya cuma satu kali, juga dengan paksaan, mana ada benih yang muncul?" sahutnya lagi dengan mencicit di ujung kalimatnya.
"Bisa jadi dia akan hamil. Tergantung dari kondisinya saat itu, apakah saat masa subur atau tidak," sahut Aina.
"Bagaimana ini?" gumam Febry. "Ayolah Za, jangan menolaknya. Setidaknya ini hanya untuk membuat status dari anakmu seandainya kamu hamil nanti. Urusan cinta belakangan, yang penting dia lelaki yang bertanggung jawab."
Azza hanya bergumam tidak jelas sambil menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya. Ia menangis dan sesenggukan.
"Bagaimana? Apakah kamu mau menikah denganku?" Daffa menunduk dan bersimpuh di hadapan Azza. Membuat gadis manis itu menyentak kedua kakinya. Ia bergetar ketakutan.
"Za, terima saja. Itu lebih baik daripada dia tumbuh dan lahir tanpa seorang ayah." Bujuk Febry lagi.
Azza masih terdiam. Ia kembali berpikir. Apakah ia harus terima dan hidup bersama lelaki yang sudah merenggut kehormatannya sedangkan dirinya sangat takut dengan Daffa.
"Bagaiman?" tanya Daffa sekali lagi. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi mendengar jawaban gadis didepannya itu.
Azza masih diam, ia tetap pada posisinya.
"Za, kamu terima saja. Cukup dirimu saja yang hidup sebatang kara tanpa orangtua. Jangan kamu buat anakmu seperti dirimu juga," ucap Febry lagi.
Azza mengangkat kepalanya menatap sahabatnya yang mengangguk padanya. Matanya beralih menatap Daffa yang masih menunggu jawabannya.
"Aku tidak yakin bisa hidup baik dengannya, belum kenal saja dia sudah memperlakukanku dengan sangat hina," sahut Azza.
"Ma'afkan aku, aku khilaf waktu itu. Dan selama kita menikah, aku tidak akan menyakitimu seperti yang kamu pikirkan," ucap Daffa.
Azza kembali berpikir, ia menatap seluruh penghuni di ruangan itu yang berharap untuk mengiyakan jawabannya. Akhirnya ia menyerah dengan keputusannya di awal.
"Baiklah aku akan menikah denganmu tapi aku tidak mau serumah denganmu," ucap Azza menatap sekilas wajah Daffa. "Aku takut padamu!" ucapnya di akhir kalimat.
"Baiklah kalau itu maumu. Kita akan menikah sekarang juga!" sahut Daffa.
__ADS_1
Azza membelalakkan matanya terkejut. Begitu juga dengan semua yang ada disana.
"Zainal, segera siapkan penghulu dan juga saksi untuk pernikahan kami. Jangan lupa kamu siapkan wali untuk gadis ini!?" perintah Daffa.
"Baik," Zainal bergegas keluar dan melaksanakan perintah Daffa.
"Apa kamu punya kerabat?" tanya Daffa lagi.
"Tidak. Dia tidak punya siapa-siapa selain diriku dan juga keluargaku," sahut Febry.
"Baiklah. Berarti wali hakim yang akan menikahkanmu denganku!" sahut Daffa.
Matanya beralih menatap Azza yang tampak gelisah, bahkan gadis itu sesekali menggigit bibirnya. Membuat Daffa gemas dan teringat malam panjang itu. Ia berdehem sesaat.
"Biarkan aku merias sahabatku dahulu sebelum ia menikah denganmu," pinta Febry.
Daffa mengangguk.
"Aku juga ikut!" sahut Aina yang mengikuti kedua gadis itu masuk kedalam kamarnya.
"Daffian, tolong hubungi papa dan mama untuk hadir kesini!" pinta Daffa lagi.
Daffi mengangguk dan segera menelpon kedua orang tua mereka.
***
Azza keluar dalam balutan gaun kebaya putih. Gaun itu sengaja di beli oleh Rika saat ia di beritahu oleh Daffian di telpon tadi.
Bahkan Rika juga sempat membeli peralatan yang akan di berikan kepada calon menantunya sebagai bentuk hantaran. Ia juga membelikan cincin emas untuk pernikahan dadakan tersebut.
Dengan ragu Azza duduk di samping Daffa yang sudah duduk di hadapan penghulu. Mata Azza beralih menatap semua yang hadir disana, beberapa orang tampak begitu asing di matanya.
"Ibu," bisik Azza saat melihat keberadaan Ambar. Wanita yang selama ini di anggapnya sebagai orang tuanya sendiri.
Ambar hanya mengangguk saja sambil mengulas senyum tipisnya. Ia duduk berdempetan dengan Rika di ruang tamu mungil tersebut.
"Jadi Daffa adalah anakmu dengan Angga?" tanya Ambar.
"Iya. Kami begitu banyak mengalami ujian dalam rumah tangga. Dan beruntungnya kami bisa melewatinya dengan baik."
"Ma'afkan aku saat itu tidak berada di sampingmu. Kami di pindah tugaskan keluar pulau oleh pemilik perusahaan tempat suamiku bekerja. Dan kami juga berada di pulau terpencil sehingga sinyal susah di dapat," ucap Ambar.
"Tidak apa-apa. Sekarang aku bahagia karena sudah kembali bisa melihatmu dan duduk berdampingan seperti ini."
"Aku juga!" sahut Ambar. Mereka berpelukan sesaat.
"Ehemm!! Ma, acaranya sudah mau di mulai tapi kalian berdua justru bernostalgia," gumam Daffi.
"Coba lihat Daffa ma, dia kelihatan gugup padahal ini kali kedua dia menikah. Lagi pula hanya di hadiri beberapa orang saja!" sambungnya lagi.
"Daffi diam. Kamu tidak merasakan berada di posisi Daffa makanya kamu bicara begitu," sahut Rika.
Daffi terdiam mendengarnya, ucapan ibunya bagai sindiran untuknya.
Azza menundukkan kepalanya saat Daffa selesai mengucapkan ijab kabulnya. Ia menunduk dan meremas kedua belah tangannya, sekarang ia resmi menjadi istri dari lelaki yang sudah mengambil keperawanannya secara paksa.
Dengan ragu ia menyodorkan tangannya agar mempermudah Daffa untuk menyematkan cincin di jari manisnya. Sebaliknya, Azza juga menyematkan cincin perak di jari manis Daffa.
__ADS_1
Azza meraih tangan Daffa yang sudah menggantung di hadapannya cukup lama, dan menciumnya dengan takzim. Berbeda dengan Daffa, ia merasakan perasaan yang lega bahkan rasa bersalahnya menghilang sudah.
Ia juga sudah melepaskan cincin pernikahannya bersama Anggia setelah mengetahui tentang perselingkuhan istrinya tersebut.
Ia akan berusaha hidup baik bersama Azza dan melupakan cintanya pada Anggia.
"Sayang! Kamu harus ikut dengan suamimu. Tinggallah serumah dengannya," ucap Ambar selepas pernikahan dadakan mereka selesai.
Ia juga hadir di pernikahan mereka karena Febry yang menelpon dan memberitahunya.
Azza hanya diam menunduk, ia melirik sesaat kearah Daffa.
"Tenanglah. Kalau terjadi sesuatu padamu. Kamu bilang saja pada ibu, ibu akan menolongmu dan menjewer telinganya!" ucap Ambar lagi.
"Lagi pula mertuamu bukanlah orang lain bagi ibu, dia adalah sabahat ibu. Yang sudah ibu anggap sebagai saudara ibu sendiri!"
Azza menatap Ambar kemudian beralih menatap Rika yang tersenyum kearahnya. Ia mengangguk samar. Ia tidak menyangka kalau ibunya begitu akrab dengan keluarga suaminya.
"Kamu tinggal serumah dengan mama dan papa, kalau kamu tidak mau serumah dengan Daffa. Kalau Daffa macam-macam sama kamu, biar nanti mama yang memukulnya," sahut Rika mrnambahkan.
Ia menatap Ambar dan tersenyum, mereka begitu kompak.
"Mama apa-apaan sih. Daffa janji tidak akan macam-macam dengannya, hanya semacam saja," sahut Daffa.
"Kamu apa-apaan sih," gumam Rika sambil menjewer telinga anaknya.
"Ampun ma!" ucap Daffa pura-pura kesakitan.
Matanya menatap kearah Azza, begitupun dengan Azza. Mata mereka terpaut selama beberapa detik, dengan segera Azza mengalihkan pandangannya kesembarang arah.
"Baiklah. Aku akan ikut dengan kalian!" sahut Azza menunduk.
Sedangkan Aina, ia bahkan sejak tadi hanya menatap Azza dengan tatapan sendu. Ia begitu penasaran dengan sosok Azza yang sedikit menyerupai wajah ibunya.
"Apakah benar?" Aina terhanyut dalam lamunannya.
"Sekarang kita pulang saja. Urusan barangmu biar bibi nanti yang membereskannya!" ucap Rika.
"Za, aku pasti akan sering menghubungimu. Kamu baik-baik disana. Kalau ada apa-apa hubungi aku!" sahut Febry.
Ia memeluknya sahabatnya cukup lama. Bahkan ia juga sedikit meneteskan airmatanya.
"Ternyata gadis tomboy bisa cengeng juga ya!!" sindir Daffi.
Febry melotot mendengarnya, menatap Daffi dengan tajam.
"Ampun deh ampun!" ucap Daffi berlari saat Febry sudah ingin memukulnya.
Semua yang ada disana tampak tertawa bahagia.
•
•
•
*****
__ADS_1