
Happy reading 😊
Nadira bersandar di di pinggiran kasur sembari menatap seluruh isi ruangan tersebut yang tampak asing di benaknya dia mengernyitkan dahi bingung saat melihat kamar alex bukan kamarnya karena diingatnya tadi malam ia tidur di kamarnya.
"Kapan dia membawaku ke sini?" pikir Nadira mulai beranjak dari tempat tidur dan langsung merapikannya.
Mata Nadira membelalak saat ia menemukan testpack yang terselip di pinggiran ranjang jantungnya berdebar kencang saat melihat testpack tersebut yang sangat persis dengan miliknya.
Nadira meremas testpack tersebut erat lalu berlari ke kamarnya dan mulai mencari dan membuka laci yang diingatnya ia menyimpannya di sana. namun ia tidak menemukannya.
Nadira memejamkan matanya sejenak saat tubuhnya mulai bergetar alhasil membuatnya terjatuh mengenai lantai rasa takut mulai menghantuinya ingatan masa lalu mulai terbayang bayang di benaknya.
tubuhnya mulai bercucuran keringat air matanya mulai mengalir tampak ia masih menatap lekat testpack tersebut.
"Tidak! ini tidak bisa terjadi lagi." ucap Nadira mulai bangkit dari posisinya sembari mengusap pipinya berusaha tegar dengan kondisinya sekarang
"Aku harus cepat pergi dari sini!, jika tidak mungkin dia akan menyuruh ku membunuh anak ini" ucapnya mulai membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam tas lalu berjalan mengendap-endap sambil mengawasi suasana Nadira tersentak saat mendapatkan tepukan di bahunya akibat keterkejutan itu alhasil testpack yang disimpan di sakunya terjatuh tanpa sepengetahuannya.
"Maaf nyonya saya mengejutkan Anda!,ini saya bawakan sarapan untuk anda" ucap pelayan itu menunduk
Nadira tersenyum tipis "Terima kasih tapi aku tidak berselera!, Buk Sumi dimana? apa bodyguard Alex ada didepan? " tanya Nadira was-was sembari menatap sekelilingnya.
"Buk sumi sedang di luar nyonya berbelanja perlengkapan dapur.kalau bodyguard mungkin ada beberapa didepan tapi sebagian pergi bersama buk Sumi" jelasnya
Nadira menyunggingkan senyumnya"terima kasih" ucapnya lalu berjalan dengan cepat sembari mengawasi sekelilingnya
pelayan tersebut hanya mematung melihat kepergian Nadira dilain sisi dia juga tidak berani bertanya ataupun mencegahnya karena ia baru beberapa hari kerja di sana.
Nadira menghela nafas lega saat tak melihat para bodyguard Alex di sana ia pun buru-buru langsung berlari ke tepi jalan dan mulai mencari taksi.
30 menit berlalu
__ADS_1
Sumi datang dengan beberapa bodyguard di sampingnya
"Bagaimana apa dia sudah makan?" tanya Sumi pada pelayan tersebut yang terlihat gugup dengan keberadaannya.
"Nyonya bilang dia tidak berselera! jadi makanannya aku bawa kembali"
"Ganti makanan dengan yang baru,biar aku yang berikan" tegas Sumi takut jika penyakit Nadira kambuh lagi karena jika kambuh lagi dia yang akan kena amukan Alex.
"ta.. pi? " gugupnya
"Ada apa kenapa kau terlihat sangat gelisah?"
"Nyonya tidak ada, dia baru saja pergi sepertinya dia juga membawa pakaiannya"
"Apa yang kau katakan!! jika kau tahu seperti itu kenapa kau tak mencegahnya atau menghubungi ku!!" marah Sumi tak habis pikir dengan pemikiran pelayan tersebut
"Aku benar-benar minta maaf"
Sumi berdesis jengkel menatap pelayan tersebut tajam sembari sibuk mencari kontak Alex di ponselnya
"Dasar bodoh!! kenapa dia bisa pergi?!!" suara Alex menggema di ruangan itu
Yang membuat semua orang di sana diam membisu
"Menjaga satu orang saja kalian tidak becus! apa gunanya kalian hidup?! bukankah kalian lebih baik mati?!"
"Kenapa kalian semua diam apa kalian tidak punya mulut!!"
"Jawab!!"
Sumi menelan ludahnya kasar dan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuh sedikit gemetar karena takut apalagi umurnya yang sudah rentan terkena serangan jantung.
__ADS_1
"Oh! jadi kau yang membiarkannya pergi!!?" bentak Alex menatap pelayan baru itu dan mulai mencengkram dagunya tampak pelayanan itu mulai memekik kesakitan dan berlinang air mata.
"Kenapa kau membiarkannya pergi ha? " tanya Alex emosinya semakin menjadi-jadi
"Maafkan aku tuan, aku benar-benar tidak sengaja" ucapnya terbata
setelah mendengarnya Alex langsung melepas cengkeramannya
"Lucas hentikan semua akses lalu lintas.bila perlu hentikan semua aktivitas semua orang yang ada di kota ini"
"Cepat! temukan dia aku rasa dia masih di kota ini"
"Maaf tuan! mungkin untuk saat ini kita tidak bisa melakukannya apalagi isu isu tersebut telah menyebarkan luas" jelas Lucas
Alex terdiam, pikirannya bercabang memikirkan ucapan Lucas yang memang terdengar masuk akal. Namun Alex tak ingin ambil pusing, meski dalam hati kecilnya ia menjadi bimbang dengan perasaannya sendiri.
"Apa maksudmu? jadi menurutmu aku hanya diam saja membiarkan dia pergi begitu?" amuknya
Lucas menghembuskan nafas kasar " iya tuan, biarkan saja dia pergi lagi pula anda tidak mencintainya lebih baik kita mengurus permasalahan kantor " ucap Lucas berusaha tenang saat mengatakannya
"Tutup mulut mu! kau tak berhak mengaturku cepat kau lakukan saja perintah ku" tekannya membuat Lucas hanya bisa menghela nafas
Masalah yang menimpa Alex kali ini benar-benar menguji kesabaran nya . Ia tak tahu harus apa sekarang, ia ingin menuntaskan masalah kantornya namun ia juga tidak bisa melakukannya. Buktinya dirinya hanya fokus memikirkan Nadira, bahkan menyuruh Lucas mencari keberadaan wanita itu
"Maaf tuan tadi saya tak sengaja menemukan di dekat kamar anda"
Alex langsung menoleh dan menatap testpack tersebut
"Dimana kau menemukannya?"
"saya menemukannya di lorong dekat kamar anda tuan"
__ADS_1
Bagaimana bisa aku kan menyimpannya di dalam kamar bagaimana bisa tiba tiba di lorong itu?
Apa dia menjatuhkannya? atau jangan-jangan dia benar hamil anakku? itu sebabnya dia pergi Dasar wanita sialan berani-beraninya kau pergi setelah mengandung anakku batinnya marah