Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Meminta bantuan


__ADS_3

Happy reading 😊


Alex kini berada di kantor Indra ayahnya. Dia memilih menunggu pria paru bayah itu di ruangan nya saja, karena pada saat masuk tadi ternyata Ayahnya itu sedang ada rapat dengan beberapa kliennya.


Alex terlihat memejamkan matanya sembari bersandar pada punggung sofa.


Pria itu hampir kehilangan kesadarannya jika, Indra tidak masuk tepat waktu yang terlihat terkejut atas kedatangan putranya secara mendadak itu. Namun seketika pria paru bayah itu paham maksud kedatangan putranya itu.


"Ada apa nak? Kenapa hari ini kau datang ke kantor papa ?" tanya Indra basa basi yang membuat Alex menghela nafas panjang.


"Aku butuh bantuan mu pa"


Alis Indra menukik naik keatas. Tumben sekali Alex meminta bantuan nya meskipun ia tahu masalah yang di hadapi anaknya sekarang begitu sulit. meskipun ia tahu begitu ia tak mau ikut campur ke dalamnya apalagi ia tahu putra sulungnya itu tidak suka ada yang ikut campur dalam bisnisnya tanpa di minta.


Tapi lihat sekarang ia meminta bantuan ku apa itu begitu sulit baginya? pikiran Indra mulai bercabang


"Papa tahu semua yang terjadi dengan perusahaan mu, tapi meminta bantuan ku sepertinya itu bukan tipe mu? "


Alex memijat pelan pangkal hidungnya, ia tak tahu harus bicara dengan indra mulai dari mana. Ia takut Ayah nya akan salah paham, dan bisa jadi menyudutkannya.


"Aku tahu, itu bukan tipe ku tapi kali ini aku benar-benar butuh bantuan mu pa"


Indra mengangguk, "Apa yang bisa papa lakukan untuk membantu mu. Mencari wanita itu? "


"Papa tahu Nadira menghilang?"


"Apa yang tidak papa tahu tentang mu nak, papa tahu semuanya! Kau tampak berantakan dengan hilangnya wanita itu lihat kau bahkan tak sanggup menangani masalah kantor mu karena wanita itu kan? "


Alex terdiam tidak tahu berkomentar apa yang jelas di katakan ayahnya persis dengan perasaannya sekarang ia seperti orang kehilangan arah saat mendapat masalah tersebut sekaligus.


"Kau harus menangani isu itu terlebih dahulu, kalau tidak mungkin kantor yang kau dirikan sejak lama itu akan hancur, masalah wanita itu kau tak perlu pikirkan biarkan saja dulu seperti itu setelah masalah kantornya selesai baru kau mencarinya"

__ADS_1


Alex terdiam sejenak, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam, "Aku tidak bisa pa, aku harus mencari Nadira aku tidak perduli apa yang terjadi dengan perusahaan itu"


"Jangan bodoh Alex! Kau harus pintar dalam bertindak usaha mu selama ini akan sia-sia jika kau lebih mementingkan wanita itu dari pada perusahaan itu"


" Aku tahu! tapi aku mencintai Nadira pa, terlebih lagi saat ini Nadira mengandung anak ku" ucap Alex terlihat sangat prustasi


Indra terdiam, matanya sama sekali tak bergerak membuat Alex menjadi was-was dengan tanggapan Ayahnya nanti.


"Coba ulangi Alex ..," pinta Indra dengan suara rendah namun terkesan menyeramkan, yang membuat Alex memejamkan matanya pelan.


"Aku mencintai Nadira, terlebih lagi dia sedang mengandung cucu mu. Pa"


Indra menghela nafas panjang sembari menatap putra sulungnya


"Papa tak habis pikir dengan jalan pikirmu jika kau memang mencintai wanita itu bagaimana bisa dia pergi begitu saja meninggalkan mu? Bukankah wanita itu sangat menyukai mu? "


Alex terdiam saat ingatannya di masa lalu terlintas dipikirannya


" Ini semua salah ku pa, pasti Nadira pergi karena takut aku akan membunuh anak dalam kandungannya itu sebabnya dia menyembunyikan kehamilannya"


"Kenapa dia takut bukankah itu berita bagus, makanya kau harus jaga sikap sudah lupakan semua tentang balas dendam mu fokus lah pada wanita itu dan cucuku"


"Cari lah wanita itu, masalah kantormu biar papa yang handle, tapi ingat jika terjadi apa-apa dengan cucuku kau akan berurusan dengan ku" ancam Indra


Alex menggeleng cepat, ia tahu itu tidak semudah perkataan ayahnya apalagi ia tidak tahu keberadaan Nadira saat ini. Memikirkannya kembali membuat kepala Alex berdenyut sakit.


"Terima kasih pa, tanpa papa minta pun aku akan menjaga anak itu dengan tangan ku sendiri"


Indra tersenyum miring, ia pikir Alex hanya orang keras kepala yang terkadang punya sisi sifat kekanak-kanakan tapi ternyata putranya ini sudah dewasa begitupun dengan pikirannya.


"Pergi lah nak, jangan buat papa dan mama kecewa" ucap indra menepuk pundak putranya tersebut.

__ADS_1


Semenjak kedatangan Nadira dalam hidupnya memang membuat banyak perubahan dan Alex merasakan semua itu. Mulai dari hari hari yang dipenuhi dengan wajah Nadira, senyumannya serta sapaan manis wanita itu ketika pergi dan pulang dari kantor. Hal yang kecil namun berkesan melekat dalam pikirannya, membuat Alex begitu nyaman jika berdekatan dengan Nadira Walaupun terkadang ia menyembunyikan.


Wanita itulah yang pertama kali membuat Alex se frustasi ini, meskipun dulunya Alex ada di fase tersebut tapi hati dan pikirannya tidak se kacau ini saat kehilangan wanita itu.


Alex tengah berjalan menuju ruangan kerjanya, tepat didepan sana ada Lucas yang berdiri menyambut kedatangan nya.


"Apa ada perkembangan?"


Lucas mengangguk ingin bercerita tapi Alex langsung memotongnya


"Ceritakan didalam"


Lucas mengangguk lalu menyusul Alex masuk kedalam ruangannya membuat pria itu langsung duduk di kursi kebesarannya.


"Kami menemukan tas ini di bandara tuan " sembari menunjukkan tas ransel berukuran agak besar kepadanya. Alex menatap lekat tas ransel tersebut


"Apa ini? " bingung


"Saya menemukannya di bandara tuan sepertinya ini milik nona Nadira terlihat dari beberapa pakaian dan ponsel didalamnya persis seperti miliknya"


"Apa yang terjadi mengapa dia bisa meninggalkan barang penting ini di bandara? Apa terjadi sesuatu?"


"Saya rasa nona Nadira panik tuan itu sebabnya ia meninggalnya di bandara terlebih lagi beberapa bodyguard banyak disana pada saat itu "


"Cepat kau periksa cctv disana itu bisa kita buat jadi petunjuk " tegasnya


Lucas mengangguk pelan, "Baik Tuan, kalau


begitu saya permisi!"


Alex menatap punggung Lucas menjauh dari ruangannya membuat pria itu menghela nafas panjang. Lalu mengeluarkan kan sepuntung rokok dari Lacinya dan mengisapnya sembari bersandar di kursinya. Sudah menjadi kebiasaannya mengisap rokok di saat ada masalah.

__ADS_1


"Aku harap kau baik baik saja Nadira"


__ADS_2