
Kebodohanku saat tak sempat menghiraukan keadaanmu dahulu
______________________________________
"Pagi, sayang!" Angga menyapa Rika saat istrinya sudah membuka matanya. Senyumnya langsung terbit saat mendapati Rika yang terlihat masih enggan untuk membuka matanya.
"Pagi...," sahut Rika serak dan kembali menarik selimut hingga sebatas lehernya menutupi tubuh telanjangnya. Ia membelalakkan matanya saat tib-tiba selimut yang dipakainya disentak oleh Angga sehingga terbuka hingga pahanya.
Dengan cepat Rika menutupi tubuhnya dengan bantal yang dipakai oleh Angga. Ia berusaha menutupi akses berharga miliknya dari tatapan mesum suaminya. Rasanya ia sangat lelah mengimbangi permainan suaminya tadi malam. Bahkan Angga terlihat sangat mendominasi dan sangat bergairah dalam melakukannya hingga berulang-ulang.
"Sayang! Ayo kita mandi! Tapi kiss morning dulu!" tunjuk Angga pada pipi dan bibirnya.
Rika mengintip di balik bantal yang menutupi wajahnya. Ia menggeleng beberapa kali. Bahkan ia kemabli menutupi wajahnya.
Angga melempar asal bantal-bantal tersebut. Menindih kembali tubuh Rika dengan pelan.
"Mas! Katanya mau mandi?" Rika berusaha mengelak. Ia memberikan ciuman dikedua pipi dan mengecup singkat bibir suaminya.
"Ayo. Kita bangun!" Rika menggeliat berusaha menurunkan Angga dari atas tubuhnya. Bukannya turun, Angga justru semakin mempererat pelukannya.
"Kita akan mandi nanti, sayang. Tapi kita mandi keringat dulu, setelah itu baru mandi wajib!"
Angga sudah memasukkan kembali miliknya dan menekannya hingga tenggelam penuh, membuat Rika hanya pasrah saja menerima. Semua rasa manis kembali mereka reguk hingga 1 jam kemudian.
"Turun!" Menutup hidung dan juga mulutnya. Angga begitu enggan menurutinya, karena dia masih menginginkan 1 ronde lagi. Namun ia tidak tega saat melihat Rika yang tampak ingin muntah.
Rika bergegas berlari kekamar mandi. Dia bahkan berlari dalam keadaan telanjang, tanpa sadar. Di kamar mandi, Rika muntah berkali-kali. Tapi yang keluar hanya cairan bening saja.
"Kamu kenapa?" Angga menepuk-nepuk dengan pelan bahu Rika saat ia sudah memeriksa keadaan istrinya. Rika muntah tanpa suara sehingga ia tidak tahu tentang itu.
Rika hanya menggeleng saja. Tangannya melambai untuk mengusir Angga yang berada didekatnya. Sungguh ia tidak tahan mencium bau keringat suaminya.
"Kamu bauuu!" Rika kembali muntah untuk yang kesekian kalinya.
Angga tidak tega melihat keadaan istrinya. Ia segera berjalan mundur dan menghidupkan shower. Beberapa kali ia terlihat menyapu kepalanya dengan tangannya sambil kembali menatap Rika yang tampak terduduk lemas di wastafel. Dia juga menggosok ketiaknya untuk menghilangkan bau yang dimaksud oleh istrinya.
__ADS_1
"Ayo kita mandi bersama. Aku sudah wangi!!" Angga mencium badannya yang basah diguyur air dan tersenyum mesum kearah Rika.
Rika melotot menatap kearah Angga, apa dia sedang bercanda. Mandi bersama? Sepertinya bukan mandi yang sebenarnya yang dimaksud oleh Angga, tapi seperti sebuah ajakan untuk melakukan sesuatu yang lain. Mereka baru saja selesai melakukannya, kenapa bisa minta jatah lagi.
"Sayang. Aku hanya bercanda. Bagaimana keadaanmu sekarang, apa lebih baik?" Angga berjalan kearah Rika sambil membawa bathrub ditangannya.
Dengan perlahan ia membalut tubuh telanjang Rika dengan bathrub, begitupun dengan dirinya yang sudah selesai mengguyur tubuhnya dibawah kucuran air tanpa sabun sama sekali.
Angga mengangkat tubuh Rika keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di tempat tidur. Menyelimuti hingga kedadanya. Tangannya tergerak kearah helaian rambut panjang milik Rika. Membelainya dengan lembut hingga membuat Rika sesikit terbuai.
"Aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu." Mengakhiri belaiannya. Rasanya ia tidak tahan lagi saat melihat wajah Rika yang terlihat pasrah, membuatnya ingin menerkam sekali lagi. Angga menggeleng dengan pikiran mesumnya.
"Jangan. Aku baik-baik saja. Mungkin sedang masuk angin."
Angga menatap kearah Rika dengan wajah yang terlihat khawatir. Bagaimana ia tidak khawatir, keadaannya saja sungguh memprihatinkan. Mandi seperti seekor bebek yang hanya dibasahi air tanpa sabun. Rasanya seperti kehujanan saja. Semua itu karena hidung istrinya.
"Apanya yang baik-baik saja. Sejak kemarin kamu kebauan dengan diriku kalau tidak di guyur air. Bahkan kamu juga menolak bau sabun dan juga parfum." Angga menjawil hidung istrinya.
"Apaan sih mas, itu hanya kebetulan saja. Mungkin maghku sedang naik keulu hati."
Rika tidak bisa berkutik lagi apabila mendengar kata-kata tegas suaminya. Ia hanya bisa pasrah dan mengangguk. Menolak pun percuma, karena ia sangat tahu dengan tabiat suaminya yang cenderung keras kepala.
"Sekarang kamu istirahat dan aku ingin ke kantor." Melangkah menuju kearah walk in closet.
Rika menatap pergerakan Angga yang menjauhinya. Ia merasa tidak nyaman dengan badannya, rasanya sangat bau, terlebih bagian ketiak dan juga ***********. Bergegas ia berlari kearah kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya.
Dengan setelan pakaian kantornya Angga keluar dari walk in closet. Dahinya berkerut halus saat melihat keberadaan istrinya yang menghilang dari atas ranjang. Ia mendengar gemericik air dari kamar mandi. Bergegas ia berdiri di pintu kamar mandi untuk menunggui istrinya keluar.
"Sayang. Kamu tidak apa-apakan?" Menatap khawatir saat pintu kamar mandi terbuka.
"Aku baru selesai mandi!" Rika menatap heran kearah Angga.
"Cepat kamu berpakaian, setelah itu kita sarapan. Biar bibi yang antar sarapanmu kekamar."
"Mas. Sebaiknya kita makan dibawah saja, ibu pasti sudah menunggu kita."
__ADS_1
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi bagaimana dengan keadaanmu?" Terlihat masih khawatir.
"Mas, aku baik-baik saja!" Rika berjalan meninggalkan Angga untuk berpakaian.
Setelah 15 menit kemudian, mereka keluar kamar dan menuju kearah ruang makan. Baru saja mereka mencapai pintu ruang makan, Rika sudah berlari menjauh dan menuju kearah ruang keluarga.
"Ada apa sayang?" Angga mengikuti dan merasa sangat khawatir. Entah perasaannya sajakah kalau akhir-akhir ini Rika sedikit berbeda dan terlihat aneh.
"Bauuu. Aku tidak sanggup. Makanannya sangat bau. Terlebih lagi bawang merah dan bawang putih. Aku tidak sanggup menciumnya."
"Bagaimana kalau kita periksa ke dokter THT saja. Sepertinya hidungmu sedang bermasalah."
Rika melitot mendengar ucapan suaminya barusan. Rasanya ia tidak terima kalau hidungnya yang normal dikatakan bermasalah.
"Mas. Hidung aku tuh normal, hanya saja sangat peka. Menurutku itu wajar saja." Sedikit kesal dan mrnyilangkan tangan didada.
"Kalian berdua, kenapa pergi begitu saja dari ruang makan?"
Rika dan Angga menoleh secara bersamaan kearah sumber suara. Rani berdiri dihadapan mereka. Tadinya dirinya sedang menunggu Angga dan Rika untuk sarapan bersama. Mereka justru pergi sebelum mencapai pintu.
"Ini ma, Rika sedang kebauan. Apa saja dikatakannya bau. Bahkan masakan yang sebenarnya wangi juga dikatakannya bau. Sabun juga."
Rani beralih menatap kearah Rika, berjalan dan duduk tepat disampingnya.
"Nak, kamu kenapa? Apa magh kronismu sedang kambuh? Sebaiknya kita ke dokter tapi setelah sarapan terlebih dahulu."
Angga mengangguk membenarkan ucapan ibunya. Ia yang akan menemani istrinya untuk berperiksa.
•
•
•
******
__ADS_1